TANGGAPA ULAMA-ULAMA ISLAM TERKAIT DAULAH NEO KHAWARIJ ISIS

Sumber foto: Facebook

LiputanIslam.com — Sosialisasi untuk mendukung tegakknya khilafah ala teroris transnasional Daulah Islam Irak dan Suriah atau ISIS kembali digelar, kali ini acaranya dilangsungkan di Malang.

Menurut Al-Mustaqbalnet, acara ini digelar guna mendukung dan mensosialisasikan “Khilafah Islamiyah” yang dideklarasikan ISIS pada awal Ramadhan, dengan Khalifah yang dibaiat yaitu Syeikh Abu Bakar Al-Baghdadi.

Acara penting ini diselenggarakan oleh Ansharul Khilafah Jatim, dan diadakan pada hari Ahad 22 Ramadhan 1435 H atau bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2014 di Masjid Ibnu Sina, Jalan Veteran (Barat Matos), Malang, mulai pukul 14.00 WIB hingga Maghrib (buka puasa bersama).

Acara ini gratis untuk ikhwan dan akhwat, serta berlaku untuk umum dan  akan menghadirkan beberapa pembicara, yaitu :

1. Ustadz M Fachry (Pimred Al-Mustaqbal Channel)

2. Ustadz Muhammad Syaifudin Umar (Surabaya)

3. Ustadz Abu Asybal Usamah (Jakarta – dalam konfirmasi)

Benarkah kaum Muslimin harus mendukung dan membaiat Khilafah Islamiyah ala ISIS? Berikut ini Liputan Islam kembali menyampaikan tanggapan dari ulama-ulama Ahlussunnah terkait ISIS dan deklarasi khilafah mereka.

 

Syekh. Dr. Mahmoud Muhanna: ISIS Tidak Mewakili Ahlussunah

Anggota Dewan Ulama Senior Universitas al-Azhar, Mesir, Syekh. Dr. Mahmoud Muhanna menegaskan bahwa kelompok Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah mencoreng citra Ahlussunnah dan karena itu jelas tidak merepresentasikan umat Islam Ahlussunnah.

“ISIS tidak mewakili Ahlussunnah karena mazhab Ahlussunnah tidak melanggarkan hal-hal yang diharamkan Allah dan tidak menganiaya orang-orang yang tak berdosa, apalagi umat Islam sendiri, sedangkan ISIS menghalalkan dan melakukan penumpahan darah orang-orang Islam dan non-Muslim,” ujar Muhanna, sebagaimana dilansir FNA Ahad (6/7/2014).

Dia menambahkan, “ISIS sangat mencoreng citra Ahlussunnah, sangat melecehkan Islam, dan memperkenalkan Islam sebagai agama main-main, sia-sia, pembunuhan dan pembantaian orang lain, sebab seorang Muslim tidak akan membunuh Muslim lainnya, dan hanya berperang dengan non-Muslim apabila pihak lawan memulai perang.”

 

Syekh Alawi Amin: Islam Berlepas Diri Dari ISIS

Syekh Alawi Amin, ulama dan guru besar Universitas al-Azhar, demikian dilaporkanTV al-Alam Selasa (17/6/2014). Mereka menilai ada konspirasi besar terhadap Irak yang dilancarkan melalui ISIS, kelompok yang diasuh dan dibesarkan oleh dana sejumlah negara Timur Tengah.

Syekh Alawi Amin, salah satu ulama dan guru besar Universitas al-Azhar menilai aksi ISIS di Irak tidak lepas dari agenda Amerika Serikat (AS) dan Zionisme internasional. “AS berada di balik barisan ini, sedangkan Zionisme internasional menggerakkan mereka yang menamakan dirinya ISIS dan mengaku Islam, padahal Islam berlepas diri dari mereka sebagaimana serigala berlepas diri dari dosa anak-anak Nabi Ya’kub as,” ujar Syekh Alawi.

Seperti diketahui, ungkapan ini mengacu pada kisah pencampakan Nabi Yusuf as ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Dalam kisah itu disebutkan bahwa ketika saudara-saudara Nabi Yusuf itu kembali kepada ayahnya, Nabi Ya’qub as,  mereka berbohong kepada Nabi Yabi Ya’qub bahwa Nabi Yusuf as hilang diterkam serigala.

Syekh Alawi Amin menambahkan, “Mereka bukan umat Islam, karena seandainya mereka memahami Islam maka mereka tidak akan berbuat sedemikian rupa. Mereka hanya meletakkan namaMuslim pada diri mereka, namun mereka sama sekali tidak memahami agama Islam yang hakiki.”

 

Dosen Universitas al-Azhar, Kairo, Ashraf Fahmi Musa: Umat Islam Harus Bersatu Melawan ISIS

“Tindakan ISIS mendeklarasikan kekhalifahan Islam dan penunjukan seorang khalifah bagi umat Islam tidaklah berlandaskan ajaran Islam dan tidak pula diterima oleh umat Islam di dunia,” ujar Ashraf, sebagaimana dilansir FNA Rabu (2/7/2014).

Mengenai alasan mengapa kekhalafihan dan pengangkatan itu tidak bisa diterima, Ashraf mengatakan bahwa Islam sama sekali tidak membenarkan kita melakukan aksi pemaksaan dan agresi terhadap rakyat serta penjarahan harta benda penduduk. “Tak syak lagi bahwa agama Islam berlepas tangan dari orang-orang demikian,” tutur Ashraf.

Dia menambahkan, “Orang yang dipilih ISIS sebagai khalifah bagi umat Islam adalah penjahat yang sedemikian banyak melakukan kejahatan sehingga dijuluki sebagai manusia pembunuh dan teroris sehingga sama sekali tidak patut dianggap sebagai khalifah umat Islam.”

Dosen Universitas al-Azhar ini lantas menyerukan kepada umat Islam supaya bersatu melawan ISIS yang, menurutnya, telah melakukan kejahatan terbesar terhadap Islam karena telah mencoreng citra agama ini. “Islam sama sekali bukan agama penganjur kekerasan, dan dalam penyebaran ajarannyapun Islam menghindari kekerasan dan pemaksaan,” tegas Ashraf.

 

Syekh Harist al-Dhari: Deklarasi Khilafah ISIS Memecah Belah Umat

Ketua Majelis Ulama (Ahlussunnah) Irak, Syekh Harist al-Dhari, mengecam deklarasi kekhalifan militan takfiri Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan menyebutnya sebagai tindakan yang menjurus pada pemecah belahan Irak. Kecaman terhadap deklarasi itu juga dilontarkan oleh Ashraf Fahmi Musa, dosen Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

Menurut laporan Shafaq News Rabu (2/7/2014), al-Dhari selaku ketua Majelis Ulama Irak dalam press rilisnya mengimbau semua pihak di Irak dan Suriah yang terlibat dalam deklarasi kekhalifahan supaya menarik deklarasi itu.

“Deklarasi sebuah pemerintahan (daulah), baik kekhalifahan ataupun bukan, tidak bisa dilakukan sebelum disediakan lahan untuk mencetak keberhasilan. Tanpa ini maka semua akan gagal dan kandas,” kata al-Dhari.

Al-Dhari menambahkan, “Baiat kepada kekhalifahan ini bukanlah kewajiban syariat bagi siapapun. Tindakan (deklarasi kekhalifahan) itu adalah dalih untuk memecah belah Irak serta mendatangkan kerugian dan petaka bagi rakyat negara ini.” (ba)

————–

http://liputanislam.com/tabayun/terkait-khilafah-isis-ini-tanggapan-ulama-ulama-islam/

Menjawab Eramuslim, Daulah Islam Tidak Perjuangkan Syariat Islam

Klik untuk memperbesar

LiputanIslam.com — Khilafah tegak, mereka bersorak.  Demikian yang terjadi pada Eramuslim. Menurutnya, interpretasi  Baghdadi tentang Islam telah diberlakukan di kota-kota di mana kelompok tersebut menguasai wilayah-wilayah baru. Di kota Suriah utara,  Raqqa, ISIS memiliki kontrol penuh, hukum syariah diberlakukan, hudud, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi penzinah, sholat berjamaah,  larangan alkohol dan rokok.

Tak hanya itu, Eramuslim juga menyatakan bahwa Daulah Islam ini merupakan “Khilafah Islam” yang baru terbentuk pasca jatuhnya Kekaisaran Ottoman.

Benarkah Daulah Islam memang murni memperjuangkan syariat Islam? Sayangnya tidak demikian jika kita melihat bocoran dokumen yang dipublikasikan oleh dcclothesline.com.

Sebuah dokumen rahasia terkuak, yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Qatar di Tripoli, ibukota Libya. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa Qatar sanggup untuk menerjunkan 1.800 jihadis dari Afrika Utara untuk berperang di Irak bersama-sama dengan ISIS.

Dokumen ini ditandatangani oleh Kedubes Qatar di Libya, Nayef Abdullah Al Emadi. Ia menulis, “ Para relawan (jihadis) telah menyelesaikan pelatihan militer dan pertempuran dengan menggunakan senjata berat, terutama di kamp-kamp Zintan, Misrata dan Zawiya di Libya.” Diungkap juga, mereka akan mengirim jihadis tersebut dalam tiga kelompok, melintasi Turki, daerah otonomi Kurdistan dan masuk ke Irak.

Menurut Emadi, kelompok-kelompok itu sudah siap [berangkat] minggu depan. Dan ia menyerukan untuk mempercepat koordinasi dengan Turki guna menerima jihadis di titik-titik yang telah disepakati, dan Emadi meminta kepastian tanggal untuk memberangkatkan kelompok jihadis.

Selain Qatar, Turki juga memiliki keterlibatan dalam membantu ISIS. Mengapa?

Di Suriah, beredar kabar bahwa Turki membantu ISIS untuk melakukan pencurian minyak Suriah yang kemudian dibeli Turki dengan harga yang murah. Kini, Turki mengulanginya di Irak, konsisten membantu kelompok-kelompok radikal dan membiarkan negaranya menjadi “tempat keluar masuk” sekaligus tempat latihan militer.

Bughot atau melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah, dilarang dalam Islam. Baca uraiannya di sini. Kemudian yang kita saksikan, ISIS berusaha mengontrol daerah-daerah yang kaya minyak. Salah satunya adalah ketika ISIS menguasai berbagai kota Irak. Media pendukungnya yang kegirangan berulang kali memberitakan bahwa kilang minyak Baiji dikotrol ISIS, meski kenyataannya tidak demikian, baca uraiannya di sini.

Artinya, ISIS memiliki keterkaitan dengan minyak Timur Tengah. Dan bisa kita saksikan, di setiap tempat yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, disitu pula terdapat berbagai kelompok teroris dengan nama yang berbeda-beda, menebar teror yang sama, dan sesungguhnya, tuan besar mereka sama. (ba)

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-eramuslim-daulah-islam-tidak-perjuangkan-syariat-islam/

DAGELAN ISIS : SOAL ISREL JANGAN, MEREKA KAWAN KAMI,… GANYANG SAJA ORANG ISLAM

Mengapa-menyebrangLiputanIslam.com — Pada awal-awal pemberontakan meletus di Suriah, berbagai ulama di seluruh menyerukan jihad ke Suriah. Dari Indonesia, Malaysia hingga Mesir, diadakan acara-acara yang bertemakan ‘derita rakyat Suriah’ untuk menggalang dana – dan mendoktrin para pemuda untuk turut angkat senjata menumbangkan Rezim Suriah yang disebut kejam, diktator, brutal, dan menindas rakyatnya.

Saya [redaktur] pernah bertanya seperti ini kepada pihak pendukung pemberontak, “Kenapa hanya menyerukan jihad ke Suriah? Mengapa tidak menyerukan jihad ke Palestina? Bukankah Palestina telah 60 tahun lebih lamanya berada dibawah penindasan Rezim Zionis Israel?”

Dan jawaban mereka, “Mujahidin [maksudnya pemberontak ] akan membebaskan Palestina setelah menaklukkan Suriah. “

Islampos.com menulis, “Sejarah mencatat ketika Shalahuddin Al-Ayyubi menaklukan Palestina setelah sekian lama di bawah Tentara Salib, tentara Shalahuddin ketika itu ada di Mesir dan ada di Syam (Suriah, Jordan, Lebanon), Palestina di kepung, di blokade, kemudian baru bisa di taklukkan. Maka dengan jatuhnya Suriah sekarang di bawah kubu Islamis maka era blokade untuk penaklukan Palestina makin dekat. Nas’alullah salamah.”

Argumentasi bahwa harus menguasai Suriah dulu  sebelum membebaskan Palestina, bertentangan dengan akal sehat. Siapapun yang memahami letak geografis dari Timur Tengah, niscaya akan menyadari keanehan alasan ini. (lihat gambar, klik untuk memperbesar)

Perang Israel vs Mesir

Lokasi Suriah, berbatasan dengan Lebanon, Yordania, Irak (tidak terlihat di peta). Sedangkan Israel, berbatasan langsung dengan Mesir, Yordania, Suriah dan Lebanon. Perhatikan baik-baik.

Jika Mujahidin ingin menyerang Israel, maka bisa masuk dari Yordania, Suriah, Mesir ataupun Lebanon [lihat tanda panah berwarna merah]. Namun argumen yang diulang-ulang selama ini adalah, Palestina hanya bisa dibebaskan setelah menaklukkan Suriah. Artinya, versi pemberontak dan pendukungnya,  pintu masuk ke Palestina hanya melalui Suriah.

Contoh alur  dari Mesir : Mesir => Yordania => Suriah=> Israel (untuk membebaskan Palestina)

atau Mesir =>Laut Mediterania => Suriah=> Israel (untuk membebaskan Palestina)

Mengapa menyeberang terlalu jauh? Padahal Mesir pernah berperang langsung melawan Israel, yaitu pada Perang Kemerdekaan, Perang 6 Hari, dan Perang Yom Kippur. Saat itu, Mesir dan  Israel bertempur di Sinai – dan  tidak ada skenario “harus ke Suriah dulu untuk memerangi Israel agar Palestina bisa dibebaskan”.  (ba/LiputanIslam.com)

 

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/mengapa-menyeberang-terlalu-jauh/

Dilema Iran: Saat Rakyat Tak Patuh

Sumber foto: Ismail Amin

LiputanIslam.com — Sejak kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979, Iran menjadi sebuah negara yang berlandaskan hukum-hukum Islam yang bermazhab Syiah. Hal tersebut merupakan hasil referendum yang diawasi oleh PBB – dan 98,2 % rakyat Iran memilih bentuk negara yang berdasarkan syariat Islam.

Tentunya, sesuai dengan aturan yang berlaku – maka untuk kaum hawa di Iran wajib menutup aurat dengan benar. Tentu, ada yang patuh pada aturan, dan ada yang tidak.

“Terkait baju, perempuan di Iran apapun agama dan bangsanya (termasuk turis asing yang Iran), wajib berjilbab. Namun, model jilbab yang dipakai akan sesuai dengan kesalehan masing-masing. Ada yang berjilbab dengan serius karena menyadari itu kewajiban, ada yang juga yang asal-asalan, yang penting ada kerudung nempel di kepala.” (Dina Y. Sulaeman, penulis dan pengamat Timur Tengah)

Dahlan Iskan Menteri BUMN  juga mengamati cara perempuan Iran berpakaian. Semua perempuan diwajibkan mengenakan kerudung (termasuk orang asing), tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Jadi berbeda dengan jilbab yang tidak memperbolehkan rambut terlihat sama sekali, ataupun burqa atau cadar yang menutup seluruh bagian wajah perempuan. Rambut perempuan Iran bagian depan ini pun punya gaya masing-masing yang menjadi mode tersendiri.

“Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqa, tapi juga tidak adaang berpakaian merangsang,”

Dan bagi wanita Iran yang melanggar aturan tersebut, maka akan ada polisi syariah yang menegurnya (lihat foto di samping).

Foto: Detik

Di Iran, Ada Pantai Khusus Wanita

Akibat peraturan harus menutup  aurat, wanita-wanita yang berada di Iran tidak bisa berenang atau berjemur di sembarang tempat. Untuk mengatasinya, Iran memberlakukan kebijakan khusus pada sebuah pantai, hanya bisa dimasuki oleh kaum wanita.

Pantai khusus wanita itu, terletak di  Pulau Kish dikawasan Teluk Persia yang dijaga dengan ketat oleh petugas perempuan. Hanya wanita yang boleh masuk. Tidak hanya itu, demi menjaga keamanan, para wanita ini juga tidak diperbolehkan membawa segala macam bentuk kamera.

Para wanita bisa bebas berenang tanpa takut terlihat orang lain karena ada tembok setinggi 3 meter yang memisahkan pantai ini dari pantai lain. Meski begitu, tetap ada petugas yang mengingatkan para turis saat sudah berenang terlalu jauh dari bibir pantai karena bisa terlihat orang lain. Di sini, para wanita bisa bebas melepas hijab dan mengenakan pakaian favorit mereka.

Upaya-upaya yang ditempuh oleh pemerintah Iran bertujuan untuk menegakkan syariat Islam, bukan untuk mengekang kebebasan wanita sebagaimana yang sering dipropagandakan oleh media Barat. Dilain pihak di kalangan umat Islam juga banyak yang mencemooh lantaran cara berpakaian wanita Iran masih belum syar’i.

“Kok masih kelihatan rambutnya?”

“Kok menggunakan celana ketat?”

Hal itu tak ada ubahnya dengan para muslimah di Indonesia, kendati menutup aurat telah diwajibkan, namun masih ada jutaan muslimah di negeri ini yang memilih untuk tidak menutupinya. (ba/LiputanIslam.com)

Catherine Ashton Petinggi Uni Eropa Berkerudung saat melawat ke Iran

LiputanIslam.com — Sebagaimana yang telah disinggung pada tulisan pertama, Republik Islam Iran memberlakukan aturan wajib menutup aurat kepada perempuan Iran, tidak ada pengecualian untuk siapapun. Bahkan kendatipun seorang turis, atau para pejabat asing yang melawat ke Iran, wajib mengenakan jilbab.

Meski demikian,  pasti ada pihak-pihak yang vokal menyuarakan penentangan mereka terhadap peraturan ini. Salah satunya adalah adalah seorang wartawan dan penulis asal Iran yang bernama Masih Alinejad. Dia adalah aktivis perempuan yang gigih mengajak perempuan Iran untuk melepas kerudung/ membuka aurat.

Para pria Iran tak mau kalah. Mereka lantas membalas dengan cara yang sangat unik. Kisah selengkapnya berikut ini, kami kutip dari media Islam Indonesia.

Awal bulan ini, lebih dari 30 ribu perempuan Iran menyatakan menentang jilbab dan ratusan perempuan telah memposting foto-foto tanpa jilbab mereka di jejaring sosial Facebook. Aksi ini sebagai upaya protes mereka terhadap aturan diwajibkannya memakai jilbab bagi perempuan. Hal ini kemudian memicu perdebatan berbagai pihak terkait kebebasan untuk memilih memakai jilbab atau tidak.

“Ini adalah Iran. Merasakan angin bertiup melalui setiap helai rambut adalah impian terbesar seorang perempuan,” tulis salah seorang pengguna Facebook, seperti dilansir situs berita Al Arabiya pada Rabu (28/05).

Seorang wanita lainnya memposting foto dirinya tengah mengemudi dan menulis : “Kebebasan saya tersembunyi saat mengemudi di jalan-jalan Teheran. Saya ingin merasakan angin bertiup di wajah saya.”

Adalah My Stealthy Freedom, sebuah kampanye di situs sosial media berbasis di London, yang didirikan oleh jurnalis Iran Masih Alinejad ini yang digunakan ribuan perempuan tersebut untuk mengekspresikan penentangannya atas jilbab.

Halaman Alinejad ini berisi ratusan gambar yang menunjukkan kondisi mereka saat diambil di berbagai tempat di Iran, dari jalan-jalan, taman, hingga pantai. Polisi agama Iran sering dikerahkan di jalan-jalan, untuk menindak mereka yang tidak mengenakan jilbab atau mereka yang menggunakan jilbab, namun tidak sesuai syariat Islam.

Kepada Guardian, Alinejad mengatakan ia telah menerima banyak pesan dan foto sejak meluncurkan kampanye tersebut.

“Aku hampir tidak tidur dalam tiga hari terakhir karena jumlah foto dan pesan yang saya terima,” katanya.

Alinejad menambahkan, bahwa ia melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa foto-foto yang dikirim itu asli dan meminta izin kepada mereka sebelum mempublikasikannya.

Namun, dia tidak mengungkapkan nama lengkap mereka.

“Saya tidak punya niat apapun untuk mendorong orang untuk menentang jilbab secara paksa atau berdiri melawan itu,” katanya. “Saya hanya ingin memberikan suara untuk ribuan perempuan Iran yang berpikir bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengungkapkan keinginan mereka.”

laki laki iran berhijab

Sementara itu, para kaum pria menanggapi aksi protes ini dengan meluncurkan gerakan memakai jilbab, yang dikemas dalam berbagai akun grup. Para laki-laki Republik Islam konservatif ini kemudian memposting foto mereka dengan mengenakan jilbab ke situs jejaring, untuk menentang kampanye yang dilakukan Alinejad.

Akun grup Facebook itu, di antaranya Men’s Stealthy Freedoms, yang mengolok-olok para perempuan dengan memposting foto-foto pria berjilbab. Ada juga, akun grup bernama Freedom Real Women Iran, yang diciptakan sebagai tanggapan terhadap halaman Alinejad itu. Juga, dua unjuk rasa kecil pro-hijab yang diselenggarakan di Teheran, seperti dilansir Telegraph.

“Salah seorang anggota menulis bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi perempuan—yang berarti bukan hak bagi mereka untuk memilih apakah akan memakainya atau tidak. Posting lainnya di halaman tersebut mengatakan mereka wajib melindungi kesopanan perempuan,” tulis surat kabar itu.

“Dalam suatu posting, kasus pemerkosaan telah ditulis di atas foto-foto dari tiga wartawan Iran terkemuka yang bekerja di luar negeri dan muncul secara resmi dalam siaran mereka. Hal ini menunjukkan pesan peringatan bahwa perempuan yang tidak memakai jilbab lebih mungkin untuk diperkosa,” katanya menambahkan. (ba/LiputanIslam.com)

http://liputanislam.com/tabayun/dilema-iran-saat-rakyat-tak-patuh/

 

Tangguhnya ISIS, “Berjihad” Dengan Senjata Israel

Senjata Israel Di Suriah Shotussalam

Senjata-senjata Israel “bergentayangan” di Suriah, sesungguhnya bukanlah berita baru. Sejak tahun 2012, ketika Tentara Suriah berhasil mengalahkan kelompok pemberontak di kota Homs, berbagai bentuk senjata dari Israel behasil mereka sita. Diantaranya: RPG, mortir, senjata anti – tank, dan senapan. Video lengkapnya  bisa dilihat dihttp://www.youtube.com/watch?v=Jv87JAoAyZI

Kemudian pada tahun 2013, saat  Tentara Suriah dan Hizbullah melakukan operasi pembebasan kota al-Qusayr, kembali ditemukan senjata-senjata dengan huruf Hebrew yang digunakan oleh para pemberontak Suriah. (Al-Alam, 8 Juni 2013)

Hanya saja, ketika kita mengungkapkan fakta ini kepada pendukung pemberontak, dengan tegas mereka akan menampik. Keterlibatan Israel membantu pihak anti-Assad, seterang apapun buktinya, akan selalu disangkal keras dengan argumen:”Itu fitnah dan proganda anti-Islam” .

Namun sepandai-pandainya menutupi bangkai, kelak bau busuknya akan tercium. Shotussalam, media pendukung ISIS, dengan bangga mengunggah foto-foto aktivitas ISIS di wilayah Homs, Suriah. Di kamp militer, ISIS tengah berlatih menggunakan mortir kaliber kecil dan ringan.

Senjata Israel di Suriah Al Alam

Entah disadari atau tidak, senjata yang digunakan ISIS ini lagi-lagi dihiasi dengan cetakan huruf Hebrew, yang semakin menguatkan bukti bahwa memang benar – Israel ada dibalik kubu anti-Assad, dan satu hal yang harus dicatat, informasi ini disampaikan langsung oleh Kantor Media Daulah Islam Iraq dan Syam, yang kemudian dikutip Shotussalam.

 

Israel Terjun ke Kancah Perang Suriah

Selain memberikan dukungan dalam bentuk senjata, Israel juga turun tangan langsung ke dalam konflik Suriah dengan berbagai serangan di titik-titik strategis. Pertama kali, Israel melancarkan serangan pada tanggal 31 Januari 2013, di Syrian Scientific Studies and Research Center, sebuah pusat penelitian terkait senjata biologi dan kimia, di Jamraya, beberapa mil barat laut dari ibukota Suriah Damaskus. Serangan itu menargetkan konvoi militer Tentara Suriah yang sedang parkir di area penelitian. Hari itu, Tentara Suriah hendak melakukan transfer senjata kepada Hizbullah. Namun akibat serangan Israel, rudal anti-pesawat buatan Rusia SA-17, dan senjata lainnya hancur – sedangkan bangunan luluh lantak.

Serangan kedua, dilancarkan pada tanggal 3 Mei 2013.  Israel menyerang Damascus International Airport, yaitu Bandara Internasional Damaskus — targetnya adalah untuk memusnahkan senjata canggih buatan Rusia dan Iran seperti Russian anti-aircraft missiles, Iranian Fateh 110 surface to surface missiles.

Berselang 2 hari, kembali Israel menyerang Suriah, dan serangan ketiga kali ini kembali memborbadir Syrian Scientific Studies and Research Center, yang telah diserang sebelumnya pada bulan Januari.

Lalu, serangan Israel di Latakia pada tanggal 5 Juli 2013.  Dari laporan intelejen diungkapkan bahwa serangan kali ini diluncurkan dari Turki. Target dari serangan itu adalah untuk menghancurkan persenjataan milik Suriah, namun beberapa senjata canggih, seperti rudal jelajah Yakhnot,  anti-kapal supersonik buatan Rusia,  telah dipindahkan ke tempat yang aman oleh Tentara Suriah.

Markas militer Suriah di Lattakia pada tanggal 31 Oktober 2013, kembali menjadi target serangan Israel yang kelima. Pesawat-pesawat tempur Israel memborbadir daerah Latakia Utara di sepanjang pantai Mediterania. Serangan ini diyakini menargetkan senjata canggih Rusia, agar tidak sampai jatuh kepada Hizbullah. (Kelima serangan ini dirangkum di ABC News, 31 Oktober 2013)

Mengapa ISIS menggunakan senjata buatan Israel? Dan mengapa Israel begitu aktif menyerang Suriah? Dengan fakta-fakta diatas, bagaimana sesungguhnya hubungan ISIS dengan Israel? Berteman, atau bermusuhan?  (ba/LiputanIslam.com)

 

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/tangguhnya-isis-berjihad-dengan-senjata-israel/

Laskar Netanyahu di Kerajaan Sang Ratu

Foto: Syrian Perspective

LiputanIslam.com — Perang Suriah yang telah berjalan tiga tahun bukan hanya terjadi di medan tempur, melainkan juga terjadi di media masa dan jejaring sosial. Masing-masing kubu memiliki “Cyber Army” yang tak kenal menyerah memberikan informasi-informasi terkini . Setiap kelompok, tentunya memiliki alasan masing-masing terhadap apa yang mereka kerjakan. Ada yang mengaku membela agama Allah, ada yang mengaku sedang mendukung penegakkan syariat Islam/ Khilafah, dan ada juga ‘bertempur’ karena cinta tanah air.

Syrian Perspective, sebuah halaman facebook yang pro pemerintah Suriah adalah salah satu pejuang yang habis-habisan membongkar tipudaya aliansi Zionis. Sejak didirikan setahun yang lalu, sudah 3 kali halaman tersebut dihapus oleh admin facebook. Namun mereka tidak putus asa untuk menyampaikan kebenaran. Setiap kali dihapus, mereka membuat halaman yang baru.

Netanyahu menyalami pemberontak Suriah

Syrian Perspective,  hari ini (2/6/2014) mengunggah sebuah foto menarik. Terlihat, seorang laki-laki memegang kertas yang bertuliskan kalimat,”A big thank you for Israel, for helping injured….[kata berikutnya tidak jelas].” Di belakangnya, terlihat beberapa orang yang membawa bendera Suriah saat masa mandat Perancis dulu yang berwarna putih, hijau, dan hitam dengan tiga bintang berwarna merah. Ada juga yang memegang bendera daerah istimewa Kurdi, dan sebuah bendera putih bergambar bintang David berwarna biru: bendera Israel.

Menurut Syrian Perspective, foto itu diambil di London, saat para pendukung pemberontak Suriah melakukan demonstrasi mendukung laskar Netanyahu yang bernama Free Syrian Army. Komandan baru FSA yaitu Abdul – Ilah al – Bashir, seperti dilansir Al-Alamnews, adalah seorang perwira hasil didikan Israel.

Selain melatih Komandan FSA, Israel juga “berbaik hati” telah membantu merawat ribuan pemberontak Suriah yang terluka di Rumah Sakit Dataran Tinggi Golan, hingga pemimpin oposisi Muhammad Badie, memuji peran Perdana Menteri Israel atas dukungannya kepada pihak pemberontak Suriah.

Bagi siapapun yang bersikap kritis, seharusnya bertanya-tanya dengan kejanggalan ini. Mengapa rezim Israel tanpa belas kasihan menyiksa rakyat Palestina, namun ringan tangan membantu pemberontak Suriah? (ba/LiputanIslam.com)

 

 

sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/laskar-netanyahu-di-kerajaan-sang-ratu/

Hamas dan Al-Qaeda, dari Mata Media Israel

Debka menyebut Hamas sebagai grup teroris

“If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed.”  Adolf Hitler

Kutipan Hitler yang terkenal diatas sepertinya telah memberikan insiprasi kepada Debkafile, media terkemuka Israel yang terkenal dengan isi berita  dan analisanya yang mendalam. Saya [redaktur] juga menemukan fakta bahwa Debkafile adalah media yang berkarakter nyinyir, merdeka, dan tidak segan-segan untuk menghujat negara-negara seperti Amerika Serikat – yang notabene adalah sekutu Israel.

Saya menemukan keanehan – ketika membandingkan 2 artikelnya yang berjudul “New pact restores Hamas to the Iranian fold with a $200m annual stipend and military aid”  (artikel pertama) dan “Obama about-turns on Syria: US military training and weapons for moderate Syrian rebels” (artikel kedua).

Debka tidak menyebut Al-Qaeda sebagai teroris

Pada artikel pertama, redaksi kalimat yang digunakan pada paragraf pertama “The Palestinian Hamas terrorist group” atau Hamas, kelompok teroris Palestina.  Semua pastinya mahfum, bahwasanya Hamas adalah salah satu gerakan perlawanan Palestina—yang sangat gigih melawan Israel. Dan karenanya, Israel melabel Hamas sebagai kelompok teroris. Itulah sebabnya, jika kita membaca media-media Israel, dalam menuliskan beberapa kelompok perlawanan seperti Hamas, Jihad Islam dan Hizbullah, akan disertai dengan predikat “kelompok teroris”.

Sedangkan pada artikel kedua, ketika menyebut kelompok Al-Qaeda, Debka hanya menyebut “al Qaeda elements”. Keanehannya, mengapa Debka tidak menyebut Al-Qaeda sebagai “Al-Qaeda terorist group?” Apakah Al-Qaeda bukan teroris?

Secara umum, disepakati bahwa terorisme adalah tindakan atau ancaman kekerasan, tidak peduli apapun motif dan tujuannya.  Terorisme terjadi untuk menjalankan agenda tindak kejahatan individu atau kolektif, yang menyebabkan teror di tengah masyarakat, rasa takut dengan melukai mereka atau mengancam kehidupan, kebebasan, atau keselamatan. Terorisme juga  bertujuan untuk menyebabkan kerusakan lingkungan atau aset pribadi maupun masyarakat,  atau menguasai dan merampasnya atau bertujuan untuk mengancam sumber daya nasional. (The Arab Convention on the Suppression of Terrorism)

Memang ada banyak keganjilan yang layak dipertanyakan atau dikritisi terkait sepak terjang Al-Qaeda menghancurkan berbagai negara di kawasan Timur Tengah dan terus mengembangkan jaringannya ke seluruh dunia. Di banyak negara yang subur dan memiliki kekayaan alam yang melimpah, seperti Suriah, Irak, Libya, hingga Nigeria, di sana kita temukan Al-Qaeda dengan nama yang berbeda-beda. Yang dilakukannya: mengancam, meneror, membunuh, dan merusakkan kestabilan negara. Kendati demikian, mereka mengklaim memiliki cita-cita mulia yaitu menegakkan syariat Islam, dan malangnya – aksi terorisme yang dilakukan kepada negara dan rakyatnya – mereka anggap sebagai jihad di jalan Allah.

Hanya saja, jika memang mereka adalah pejuang Islam, mengapa mereka tidak berusaha untuk membebaskan Al-Aqsa dari cengkraman Israel? Mengapa mereka membiarkan rakyat Palestina di Jalur Gaza terpenjara dan terisolasi bertahun-tahun lamanya? Mengapa mereka memerangi nengara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim dan membiarkan saja negara penjajah seperti Israel?

Dan mengapa – media nyinyir sekelas Debkafile—yang tidak ragu untuk berkata “Washington, Antara dan Yerusalem hanya meringkuk di pojok arena * — tidak menyebut Al-Qaeda sebagai teroris?

 

*) Keterangan: Debkafile dalam artikelnya yang berjudul “Syrian army and Hizballah capture Homs opening-way to Aleppo and decisive Assad victory” pernah menghujat Amerika Serikat, Turki dan Israel, yang begitu lamban mengambil keputusan terkait perang Suriah. Saat itu, pihak pemberontak sudah semakin terjepit, dan pertarungan besar terakhir adalah di Allepo. Debkafile meradang lantaran negara utama pendukung pemberontak hanya seperti meringkuk di arena [ketakutan] dan membiarkan SAA dan Hizbullah mendapatkan kemenangan.

(ba/LiputanIslam.com)

 

 

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/hamas-dan-al-qaeda-dari-mata-media-israel/

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.