Bantahan Fitnah Terhadap Imam Khomaini : ( Imam Khomeini Aslinya India dan Beragama Sikh)

1429981630868594248
Begini, ditiap negara bagaimanapun seorang tokoh dielu-elukan dan dipuja, ada saja segelintir orang yang menaruh kebencian dan permusuhan, baik itu dari dalam negeri, maupun dari pihak asing. Dan agar kecintaan dan loyalitas rakyat menjadi luntur atas ketokohannya, maka dirasa perlu untuk dibuatkan fitnah dan isu yang membuat martabat dan kehormatannya jatuh dimata pendukungnya. Apapun dan bagaimanapun cara yang ditempuh. Kalau ide-ide dan pemikirannya tidak bisa dilemahkan, maka yang diserang adalah pribadinya, tampilan fisiknya, cara berpakaian dan logat bicaranya. Namun jika dari kepribadiannya pun tidak ditemukan titik cacatnya, maka yang dihantam adalah silsilah keluarganya. Kita ingat, meskipun Prabowo tetap mendapatkan black campaigne dari kubu rivalnya, namun tidak seseram apa yang didapat oleh Jokowi. Silsilah keluarganya, dipreteli. Ia disebut keturunan PKI, keturunan Tionghoa bahkan aslinya beragama Kristen. Tentu saja untuk meyakinkan, maka dibuatlah data-data dan kesaksian-kesaksian yang katannya orang terdekat. Meski sampai sekarang kecinaan’nya tidak terbukti, tidak sedikit yang mempercayainya. Saking ‘ilmiah’nya fakta-fakta yang disodorkan, bahkan termasuk kealumnian Jokowi dari UGM pun diragukan kebenarannya. Prabowo dibuatkan isu punya pacar orang Thailand, dengan data-data yang seolah akurat. Begitupun dengan SBY, setelah terpilih jadi Presiden, baru status istrinya, Ani Yudoyono diungkit sebagai bukan istri pertama SBY melainkan yang kedua. Kejadian seperti ini tidak hanya ada di Indonesia. Masa kampanye presiden AS, Obama diisukan gay. Bahkan istrinya disebut aslinya laki-laki yang bernama Michael Robinson yang kemudian melakukan operasi transgender. Anak-anaknya bukanlah anak kandung, melainkan sekedar anak yang mereka pungut dan asuh. Bukti-bukti ‘otentik’ disodorkan. Foto-foto Michael sebelum berubah menjadi Michelle disebar kepublik. Kesaksian dan pengakuan dari orang dalam Istana disodorkan, sehingga isu itu betul-betul tampak sangat meyakinkan. Nah, terlebih lagi di Iran. Ahmadi Nejad oleh tim kampanye rivalnya, dibuatkan isu bahwa ia keturunan Yahudi dan bukan berkebangsaan asli Iran, tapi usaha itu tidak berhasil, karena ia terpilih sampai dua periode menjadi presiden Iran. Imam Ali Khamenei diterpa tudingan bahwa dengan posisinya sebagai pimpinan tertinggi Iran, ia hidup korup, glamour dan bermewah-mewahan, meski akhirnya terbukti, kursi tamunya yang dipakai sejak 20 tahun lalu, masih terpakai sampai sekarang, dan hanya berganti cat saja, saking sederhananya. Berkenaan dengan Imam Khomeini, musuhnya bukan hanya dari orang dalam Iran, namun juga orang luar yang kepentingannya atas Iran diputus dan diluluh lantakkan. Meski rakyat yang sepakat Iran menjadi Republik Islam dengan Imam Khomeini sebagai pemimpin tertingginya, sebanyak 98,2 %, namun tetap saja ada segelintir orang yang anti Revolusi Islam dan anti Imam Khomeini, khususnya dari sisa-sisa partisipan Syah Pahlevi. Merekalah yang bekerja under ground menyebar isu-isu yang tidak sedap mengenai Imam Khomeini. Mulai dari pembajakan revolusi yang katanya direbut dari kelompok kiri, maupun menyerang kepribadian Imam Khomeini. Karya-karyanya dipelintir, pernyataan-pernyataannya di salah artikan, sampai dibuatkan buku yang seolah ilmiah dan faktual, Lillahi, Tsumma li Tarikh yang mengaku sebagai muridnya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul yang provokatif, Mengapa Saya Keluar dari Syiah.

Lanjutkan membaca

POTRER KEHIDUPAN SUNNI DI IRAN


anak-anak sunni shalat di kebun

Sambil mendengar suara Ghana bu Hamdan yang melantunkan lagu U’tuna Tufulah dengan syahdu, saya membaca artikel dari detik dot com tentang nasib Sunni Di Negeri Syiah Iran. Saya menangis terharu mendengar Ghana menyanyikan lagu itu sambil tertawa ngakak baca artikel detik itu. Yah. Dunia memang panggung sandiwara.

Sepertinya penulis kurang piknik dan kurang ngopi. Padahal kalau dia mau goggling saja, dia kan menemukan banyak sekali data tentang imam jumat Sunni, dan khususnya di sanandaj. Coba ketikan امام جمعه اهل سنت سنندج maka akan muncul link tentang imam-imam jumat ahli Sunnah di Sanandaj. Silahkan anda berselancar dan cari informasi sampai ngos ngosan.

 

Lanjutkan membaca

Menjawab Fitnah Alwi Alatas Di Situs Hidayatullah.

dina2Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan “Ada Banyak Al Nimr di Iran” yang ditulis Alwi Alatas (AA). Di judul AA menyebut “banyak”, tetapi di dalam artikel, dia menyebut “ribuan”. Saya akan memulai tulisan ini dengan mengutip pidato Ayatullah Khamenei yang dikritisi AA di akhir tulisannya, karena inilah poin terpenting dalam tulisan AA maupun tulisan ini.

The Almighty God shall not ignore the innocents’ blood and the unjustly spilled blood will backfire on the politicians and the executives of this regime very quickly. The Muslim world and the entire world must feel responsible towards this issue,” kata Ayatullah Khamenei, dikutip AA dari situs berbahasa Inggris.

AA berkomentar, ““Tuan Khamena’i, apakah Anda tidak merasa bertanggung jawab atas tumpahnya ribuan ‘darah tak berdosa’ di Iran, di bawah pemerintahan Anda sendiri? Darah-darah itu pada satu hari nanti akan memercik juga ke wajah Anda, di dunia ini, di dalam lembaran-lembaran Sejarah.”

AA tidak mengutip lanjutan perkataan Khamenei, “این عالمِ مظلوم نه مردم را به حرکت مسلحانه تشویق می‌کرد و نه به صورت پنهانی اقدام به توطئه کرده بود، بلکه تنها کار او، انتقاد علنی و امر به معروف و نهی از منکرِ برخاسته از تعصب و غیرت دینی بود.” (Ulama mazlum ini [Syekh Nimr] tidak memprovokasi rakyat untuk melakukan gerakan bersenjata, dan tidak pula secara sembunyi-sembunyi melakukan konspirasi; satu-satunya yang dilakukannya adalah mengkritik secara terang-terangan, serta amar ma’ruf nahi munkar yang didasari kecintaan pada agama).[1]

Di sinilah POIN PENTING-nya: Iran tidak mengkritik model hukuman mati, tetapi ALASAN Syekh Nimr dihukum mati. Iran menerapkan hukuman mati, seperti juga di Arab Saudi, Indonesia, atau AS (ada 58 negara di dunia yang menerapkan hukuman mati).

Kemudian, AA mengambil rujukan utamanya dari Iran Human Rights. Dalam situsnya, IHR menyatakan Iran Human Rights condemns the death penalty for any crime (IHR mengutuk hukuman mati untuk SEMUA KEJAHATAN). [2] Artinya, dalam pandangan IHR, kejahatan terorisme, upaya kudeta, pembunuhan, bandar narkoba, atau apapun, tidak boleh dihukum mati. Dan karena AA mengakui IHR sebagai sumber valid, seharusnya dia tak perlu menulis “Terlepas dari tepat tidaknya eksekusi yang dilakukan pemerintah Saudi,…”. AA seharusnya tak perlu malu-malu mengakui bahwa dia sepakat dengan IHR: Arab Saudi salah karena menghukum mati Syekh Nimr.

 

Lanjutkan membaca

Kritik untuk Fimadani.com

LiputanIslam.com — Fimadani.com, dalam laporannya menyebutkan bahwa Han Monis, pria yang melakukan penyanderaan terhadap Lindt Chocolate Cafe di Australia pada Senin, 15 Desember 2014 adalah seorang ulama Syiah asal Iran.

“Teroris Sydney adalah Ulama Syiah Asal Iran,” demikian judul artikel yang dirilis fimadani.com.

Namun isi artikel tersebut ternyata tidak relevan dengan judul, karena fimadani menyebutkan, bahwa Moris hanya tampil (berpakaian) layaknya ulama Syiah di media.

“Dalam berbagai situs, Man Haron Monis, tampil sebagai seorang ulama Syiah yang mengenakan turbah berwarna putih yang mengindikasikan bahwa ia adalah seorang ulama bukan dari kalangan Ahlul Bait,” sebut fimadani.com.

Perhatikan dua foto berikut:

Moris tampil layaknya ulama Syiah

Monis tampil layaknya ulama Syiah

Monis tampil layaknya ulama Sunni

Monis tampil layaknya ulama Sunni

Lanjutkan membaca

Tanggapan KH Alawi untuk KH Kholil Nafis

sunni-shiaLiputanIslam.com — Pernyataan KH Kholil Nafis yang menyebut sejumlah aliran radikal akan menghabisi NU pada 2030 ditanggapi tegas oleh ulama muda NU, KH Alawi Nurul Alam Al-Bantani. Menurutnya, acara itu tidak mengatasnamakan NU secara umum, sehingga tidak bisa dijadikan rujukan.

[Catatan redaktur: judul dan paragraf pertama artikel ini telah diedit pada 23/12, sesuai konfirmasi ulang LI dengan KH Alawi, selengkapnya baca rubrik wawancara]

Seperti dilaporkan situs muslimmedianews.com yang mengaku mengutip dari antarajatim.com, dalam seminar bertajuk Menyikapi Konflik Sunni-Syiah dalam Bingkai NKRI” diadakan Aswaja Center PWNU Jatim di Surabaya, Kamis (18/12), Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Dr KH Kholil Nafis Lc MA mengingatkan bahwa aliran Wahabi, Syiah, dan aliran radikal lainnya bisa menghancurkan NU sebagai aliran moderat pada 2030.

“Mereka punya uang dan menargetkan NU akan habis pada 2030, karena kelompok Syiah saat ini sudah memiliki 61 organisasi di Jawa dan 23 organisasi di luar Jawa,” kata Kholil.
Menurut Kyai Alawi, yang merupakan anggota Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini, memang ada pihak-pihak di dalam tubuh NU, yang menjalin koalisi dengan Salafi Wahabi, dengan mengatasnamakan NU. Sementara di lain pihak, NU sendiri sangat konsisten untuk menahan laju ideologi Salafi Wahabi yang kian marak di tanah air.

Dalam berbagai kesempatan, Kyai Alawi menyampaikan bahwa kerukunan Sunni dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara kedua madzhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam. Menurutnya, perpecahan itu memang sengaja didesain agar umat Islam selalu ribut di antara sesamanya dan melupakan urusan yang lebih penting, yaitu memegang pos-pos penting di pemerintahan. (baca: Nahdliyin Jangan Mau Diperalat Takfiri)

Lanjutkan membaca

Jurnalis Mesir, Menjawab Fitnah Media Intoleran atas Iran

sunni shia unitedLiputanIslam.com — Seperti yang telah dijabarkan di sini, dalam terminologi agama, fitnah itu memiliki dua pengertian. Pertama, berarti tuduhan-besar tanpa fakta. Kedua, berarti situasi kacau yang menekan. Fitnah dalam pengertian yang pertama dipastikan akan menimbulkan fitnah dalam pengertian kedua. Tuduhan palsu pastilah menekan di tertuduh. Karena itu, seorang manusia yang normal tentu tak suka difitnah. Tak ada yang suka dituduh sebagai pembunuh atau mencuri, ketika ia memang bukan pelakunya.

Fitnah jelas bertentangan dengan kebaikan, sekaligus bertabrakan dengan sejumlah pilar etika dalam Islam. Bahkan, dalam sejumlah literatur Islam, dikatakan bahwa keburukan fitnah lebih dahsyat (asyadd) daripada pembunuhan. Fitnah memang bisa membunuh karakter, menghancurkan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun, mengancam kehidupan ekonomi (fitnah bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaan), menyuburkan dendam kesumat, serta mengancam keselamatan jiwa. Yang terancam bukan hanya jiwa orang yang difitnah, melainkan juga keluarga dan kelompok. Itulah mungkin makna dari pernyataan Allah bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Fitnah memang menakutkan. Sejarah mencatat bagaimana fitnah telah mencabik-cabik persatuan dan melemahkan ummat Islam. Bagaimana pula ribuan nyawa manusia melayang gara-gara fitnah. Lihatlah berbagai macam perang saudara yang terjadi di abad pertama sejarah Islam. Semuanya meletup menyusul adanya tuduhan yang dilontarkan.

Sebagian dari fitnah itu tetap menjadi misteri. Tapi sebagiannya lagi kemudian terungkap. Tapi, seandainyapun terungkap, prosesnya berlangsung sangat lama,sehingga banyak di antaranya terasa sia-sia karena sang tertuduh keburu meninggal, sebelum namanya sempat direhabilitasi. Benar-benar membuat miris!

Dan ingatlah, ketika nahimunkar.com menulis,

Bicara soal Sunni di Iran, jelas penuh tragedi sejak Khomeini menang di Iran 1979. Para ulama Sunni disembelihi atau dibunuh, masjid-masjid Sunni dihancurkan, madrasah-madrasah Sunni ditutup. Bahkan di Teheran, ibukota Iran, tidak ada masjid Sunni sampai sekarang. Kalau Muslimin Ahlus Sunnah (Sunni) berjum’atan di hari Jumat, maka khabarnya mereka ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Islam di Teheran. Sedangkan sinagog Yahudi dan gereja Nasrani menurut berita-berita, di Teheran itu banyak. Ini apa artinya, permusuhan Syiah terhadap Islam jelas nyata, melebihi negeri-negeri yang sering orang sebut sebagai kafir sekalipun. Misalnya London ibukota Inggris. Bahkan ada surat kabar Barat sendiri menyebut “ada Mekkah” di London, karena setiap Jum’at, kaum Muslimin yang berjum’atan tidak tertampung, hingga mereka shalat di jalan-jalan yang membelah pergedungan tinggi di kawasan perkotaan.

Juga ketika arrahmah.com menulis,

Ketika ummat Islam di Suriah dibantai rezim Syiah, dan ketika ummat Islam di Iran dibantai dan mengalami perlakuan diskriminatif oleh para penguasa Syiah, saat itu pula di Indonesia misionaris Syiah leluasa menjajakan paham sesatnya di radio, surat kabar, televisi, hingga ke perguruan tinggi Islam seperti UIN dan IAIN.

Kalangan Syiah itu tidak perlu menunggu jadi mayoritas lebih dulu untuk menjadi penguasa di suatu kawasan, karena dalam posisi sebagai minoritas pun mereka bisa merebut kekuasaan dari tangan kaum Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Salah satu sebabnya, mereka ditopang kekuatan negara-negara kafir yang memusuhi Islam.

Ketika kompasislam.com menulis,

Menurut Habib Zein, propaganda Syiah di Indonesia sangat kontradiktif, mereka mengajak persatuan antara Syiah dan Ahlus Sunnah padahal di negara asalnya yaitu Iran, Syiah membantai Ahlussunnah yang tertindas.

“Tokoh-tokoh Ahlussunnah dibantai oleh rezim Khomeini, banyak ulama Ahlussunnah yang mendekam di penjara-penjara di Iran sampai hari ini, masjid-masjid Ahlussunnah dihancurkan, bahkan dibeberapa kota dilarang membangun masjid,” terangnya.

“Kalau kita ke Teheran tidak akan mendapatkan masjid Ahlussunnah tapi kita akan dengan mudah mendapatkan tempat-tempat peribadatan orang Yahudi dan Nasara. Padahal jumlah Ahlussunnah di Iran sekira 20 juta atau sepertiga dari penduduk Iran.” tambahnya.

”Mereka membantai dan mendzolimi saudara kita di Iran dan Iraq, tapi anehnya mereka di Indonesia mengajak ukhuwah Islamiyah. ” tegasnya.

Lanjutkan membaca

Mengungkap Penyesatan Felix Siauw: Perbaikan atau Penghancuran?

mekkah 5LiputanIslam.com – Ustadz Felix Siauw, tokoh dari kelompok transnasional Hizbut Tahrir Indonesia melalui media sosial menyatakan dukungannya terhadap ‘perbaikan’ yang dilakukan rezim Arab Saudi terhadap kota suci Mekkah.

“Perbaikan itu memang tak nyaman, karena engkau mengubah dirimu, dan apa yang biasa tampak padamu. Perbaikan itu selalu tak enak, itu yang terlihat apalagi yang tak terlihat, prosesnya lebih rumit dan detail. Perbaikan itu seringkali mengundang protes, kritik, komplain, ejekan dan komentar pedas dan menyakitkan, namun ingatlah karena siapa engkau memperbaiki diri,” tulisnya.

Berbenah itu tak mudah, namun niscaya agar beroleh berkah, juga terhindar dari musibah, dalam perbaikan ada beberapa yang tertinggal, banyak lagi yang diubah, tapi lebih banyak lagi yang ditambahproses itu kadang tak enak, namun setelah selesai perbaikan, kita akan lebih bermanfaat dan menemukan banyak hal lagi yang perlu kita perbaiki. Maka lakukanlah semua karena Allah, maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah,” tambahnya lagi.

Dalam statusnya tersebut, Ustadz Felix Siauw mengunggah foto perluasan, dan pembangunan gedung mewah di sekitar Ka’bah dan menyebutkan kata ‘perbaikan’ berulang-ulang, lalu kata ‘berbenah’ dan ‘bermanfaat’, yang sepertinya hendak menekankan, bahwa yang terjadi di Mekkah adalah sebuah proses, sebuah perbaikan, sebuah fase yang menuju kepada sesuatu yang bermanfaat/ mashalat…

Namun sayang, Ustadz Felix Siauw tidak mengungkapkan kehancuran lain dibalik ‘perbaikan’ tersebut. Laporan republika.co.id, 17 Maret 2013 menunjukkan, beberapa situs paling suci bagi umat Islam, di Mekkah, terancam punah. Setelah Rezim Saudi setuju dengan pembangunan Masjidil Haram menjadi kawasan megapolitan, maka beberapa peninggalan sejarah Rasul Muhammad Saw dinyatakan hilang.

 

Lanjutkan membaca

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.