Sepuluh Andalan Takfiri yang Anti Syiah

Ismail Amin

Kelompok takfiri semakin brutal, mencoba segala cara dengan mengarang cerita fitnah untuk memecah belah umat Islam, khususnya Sunnah Syiah. Mereka juga membuat seminar dimana-mana, membentuk organisasi takfiri seperti LPAS yang menggunakan seragam loreng. Tak lupa membuat aliansi yang orangnya itu-itu juga, menyebutnya Aliansi Nasional Anti Syiah, yang paling tepat disingkat NA’AS. Berikut ini jawaban atas 10 Andalan kelompok takfiri ini [lppimakassar.net]


Kita bisa adu argumen, kelompok anti syiah itu mengandalkan apa untuk menyebut syiah itu sesat bahkan bukan Islam?

Ini sepuluh diantaranya yang menjadi andalan mereka.

Pertama, mengandalkan buku Panduan MUI Pusat “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di indonesia.” Buku tipis yang tidak berstempel MUI dan tidak pula ditandatangani pejabat MUI Pusat, sebagaimana buku-buku resmi MUI lainnya.

Kedua, mengandalkan fatwa MUI Jatim. Fatwa bersifat lokal tapi dipaksakan untuk diberlakukan diseluruh Indonesia.

Ketiga, mengandalkan ucapan Imam Syafi’i rahimahullah dan Imam-imam mazhab lainnya, yang menyebutkan syiah sesat, pendusta bahkan kafir. Padahal di teks aslinya adalah rafidah, bukan syiah. Bahkan sebagian ulama Syiah sendiri menganggap sesat kelompok rafidah.  Mengandalkan ayat-ayat al-Qur’an yang mereka tafsirkan sesuai dengan kepentingan mereka, dan menafikan adanya penafsiran lain yang juga absah. Mengandalkan hadits-hadits dan riwayat yang lemah, padahal tidak sedikit hadits dan riwayat shahih yang justru terdapat dalam literature muktabar  Ahlus Sunnah sendiri yang menjustifikasi kebenaran mazhab Syiah. Seperti hadits 12 khalifah, hadits Gadir Khum, hadist Ashab al Kisa, hadits sujud diatas tanah dan seterusnya.

Keempat, mengandalkan fatwa ulama-ulama Saudi atau ulama-ulama yang berafiliasi pada mazhab yang berkembang di Saudi. Padahal ulama-ulama lain juga punya fatwa, utamanya ulama-ulama al Azhar Mesir yang menyebutkan Syiah adalah mazhab sah dalam Islam.

Kelima, mengandalkan kesepakatan 200 orang yang berkumpul di Bandung dan kota lainnya, yang katanya kesemuanya adalah ulama yang telah mendeklarasikan ANAS, Aliansi Nasional Anti Syiah dan menyerukan kesesatan dan kekafiran Syiah. Sementara Risalah Amman di Yordania ditandatangani kurang lebih 500 ulama Sunni dan Syiah dan menyepakati mazhab-mazhab yang sah dalam Islam termasuk Syiah.

Keenam, mengandalkan ucapan ulama-ulama dan tokoh-tokoh Indonesia yang anti Syiah termasuk tokoh NU dan Muhammadiyah. Padahal ulama dan tokoh-tokoh Indonesia yang mengakui keberadaan Syiah sebagai mazhab Islam jauh lebih banyak, lebih populer dan lebih tinggi dari sisi keilmuan, ketawadhuan, pengalaman, kharismatik dan posisi jabatan strukturalnya, bahkan lebih banyak karya-karyanya. Diantara mereka ada Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ketua Umum MUI Pusat, Ketua Umum PB Nahdatul Ulama, pejabat Kementerian Agama, Rektor dan guru-guru besar UIN se Indonesia dan seterusnya, bahkan mereka telah berkali-kali mengunjungi Iran yang dikenal sebagai pusat pendidikan mazhab Syiah dan berdialog dengan ulama-ulama besar Syiah.

Sementara yang anti Syiah, mengandalkan buku-buku anti Syiah yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia yang tidak pernah mengunjungi langsung pusat pendidikan Syiah di Qom dan di Najaf, tidak pernah menghadiri majelis ulama-ulama Syiah dan tidak pernah pula melakukan dialog langsung dengan satupun ulama marja Syiah. Jadi wajar kalau kesimpulan yang diambil malah bias, dan tidak obyektif.

Ketujuh, mengandalkan konflik di Suriah, bahwa rezim Bashar Asad yang Syiah telah melakukan pembantaian dan pembunuhan keji kepada rakyatnya yang Ahlus Sunnah. Padahal kenyataannya, Suriah malah memberikan pengungsian kepada warga Palestina yang Ahlus Sunnah di camp Yarmouk, mengizinkan pendirian kantor HAMAS di Damaskus yang di Indonesia saja dilarang dan berkali-kali melakukan kontak senjata langsung dengan militer Israel. Dan terbukti pula, bahwa kelompok-kelompok militan yang melakukan agresi ke Suriah dan hendak menjatuhkan Bashar Asad adalah kelompok-kelompok teroris, yang bahkan dengan bangga memamerkan aksi-aksi kekejiannya lewat video-video amatir. ISIS telah difatwakan oleh ulama bahkan termasuk ulama Arab Saudi sendiri sebagai kelompok yang telah keluar dari Islam.

Kedelapan, mengandalkan buku, mengapa saya keluar dari Syiah karya Sayyid Husain Musawi. Katanya penulisnya adalah ulama Syiah dan keturunan Ahlulbait, tapi tidak disebutkan silsilahnya, orangtuanya, guru-muridnya, murid-muridnya, bahkan karya-karyanya kecuali buku tipis 153 halaman tersebut. Padahal sudah menjadi kelaziman kesemuanya itu harus disebutkan dalam catatan biografi seorang ulama. Bahkan pada  penjelasan dalam bukunya dia memperkenalkan diri sebagai seseorang yang memiliki kedudukan istimewa disisi Imam Khomeini, dan juga pernah ketemu dengan Sayid Daldar Ali penulis kitab Asas al-ushul, ulama Syiah abad 19 yang 100 tahun sebelumnya telah wafat sebelum penulis buku ini lahir.

Buku ini edisi terjemahan bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan tahun 2002, dan masih juga diandalkan sampai sekarang [sudah 12 tahun, mestinya ada ulama Syiah lain yang juga terpengaruh dan keluar dari Syiah, atau minimal mantan murid-muridnya], meski telah mendapatkan bantahan dan telah dibuktikan kedustaannya. Di Timur Tengah sendiri buku ini tidak laku, dan tidak lagi mengalami proses naik cetak secara resmi, kecuali dicetak secara indie, untuk mengelabui masyarakat awam.

Kesembilan, mengandalkan foto-foto editan, kisah-kisah palsu dan berita-berita bohong. Diantara foto editan yang paling sering diandalkan adalah foto prosesi pemakaman Imam Khomeini yang katanya kain kafan dan mayatnya sampai tercabik-cabik dan dipermalukan. Foto ini dibantah dengan video prosesi pemakaman jenazah Imam Khomeini, yang bahkan pada hari Hnya disiarkan secara live di seluruh dunia. Kisah palsu yang diandalkan adalah kisah pertemuan Syaikh Ahmad Deedat dengan ulama-ulama Syiah di Iran, setelah Kisah Pasien Terakhir tidak lagi bisa diandalkan karena telalu vulgar kepalsuannya.

Syaikh Ahmad Deedat tidak tanggung-tanggung dibawa-bawa untuk menjadi aktor sebuah drama palsu. Padahal kisah tersebut, caplokan dari kitab “Munazharat fil-Imamah” Juz ke-3, karya Syaikh Abdullah Al-Hasan. Adapun judul asli dari kisah itu adalah, “Munazharat Ats-Tsaminah wa Khamsun: Munazharat Al-‘Allamah Hilli Ma’al ‘Ulama Al-Madzahib Al-Arba’ah bi Mahdhar-i Syah Khuda Bandeh” yang artinya Perdebatan yang ke-58: Perdebatan Allamah Hilli bersama Para Ulama Empat Mazhab dengan Kehadiran Syah Khuda Bandeh. Tapi kemudian, dengan mengatasnamakan Syaikh Ahmad Deedat rahimahullah, kisah itu diputar balikkan. Syaikh sendiri pernah ke Iran tanggal 3 Maret 1982, justru bukan untuk berdebat tapi menyampaikan pidato yang menegaskan pentingnya persatuan Islam, begini diantara kutipannya:

“Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima saudara Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah dia (Syiah) mengatakan kepada Anda bahwa dia ingin bersatu dengan Anda. Dia tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Dia berteriak “Tidak ada Sunni atau Syiah, hanya ada satu hal, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah kita. Bisakah Anda membayangkan, kita Sunni adalah 90% dari muslim dunia dan 10% adalah Syiah yang ingin menjadi rekan saudara satu iman tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka yang seharusnya ketakutan.”

[Download Pidato: http://www.inminds.com/ra/deedat.ra Cuplikan Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=6kJB72972Q8 ]

Kalau berita-berita bohong, terlalu banyak yang harus diklarifikasi. Mereka membuat-buat dan menyebarkannya dengan begitu ringannya seakan-akan kelak tidak dimintai pertanggungjawaban. Wallahu al Mustaan.

Kesepuluh, mengandalkan , fitnah, prasangkaan, kecurigaan, kebencian, fanatisme buta, umpatan, kata-kata kasar dan ancaman bunuh. Ketika semua fakta telah diajukan, argumentasi telah diberikan, hujjah telah dipaparkan, dan bukti-bukti tidak lagi bisa mereka bantah, maka mereka akan mengandalkan kebencian untuk tetap menunjukkan permusuhan.

Kata-kata laknat, makian, umpatan dan ancaman mati menjadi santapan sehari-hari bagi mereka yang diklaim Syiah. Argumentasi apapun yang diberikan, mental dihadapan mereka, dengan alasan Syiah itu pendusta, pembohong dan tidak layak untuk dipercaya dan didengar kata-katanya. Buku-buku penulis Syiah, hatta itu bukan tema keagamaan tetap harus diwaspadai, dicurigai dan sangat membahayakan bagi mereka. Mereka bahkan sampai repot-repot untuk membuat list daftar buku-buku Syiah yang harus dijauhi dan terlarang untuk dibaca.

Mereka menyebar fitnah, Syiah al-Qur’annya beda, melakukan praktik nikah mut’ah meskipun dengan istri orang lain, meski tanpa izin wali dan tanpa membutuhkan masa iddah, melaknat dan mencaci maki sahabat dan istri-istri Nabi, pendusta dan melukai diri dengan berdarah-darah di hari Asyura. Ini semua sudah saya bantah, dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Intinya, kalau bukan muslim, mengapa mereka yang Syiah tetap dibolehkan memasuki Haramain?, sementara konsideran agama kita jelas, bahwa orang-orang kafir dan musyrik diharamkan untuk memasuki Haramain. Syiah bahkan diberikan izin dan perlakuan khusus untuk bisa menjalankan tradisi-trasisi khas mereka di tanah haram pada musim haji dan umrah.

Sumber mereka buku-buku anti Syiah, akun-akun palsu di Twiter dan Fesbuk, video-video yang tidak jelas sumbernya di Youtube, ceramah-ceramah ulama Syiah yang tidak muktabar dan mengorek-ngorek fatwa-fatwa ulama Syiah tempo dulu yang sudah tidak berlaku.

Sumber mereka buku-buku anti Syiah, akun-akun palsu di Twiter dan Fesbuk, video-video yang tidak jelas sumbernya di Youtube, ceramah-ceramah ulama Syiah yang tidak muktabar dan mengorek-ngorek fatwa-fatwa ulama Syiah tempo dulu yang sudah tidak berlaku.

Ini sepuluh andalan mereka yang anti Syiah untuk mempropagandakan kepada masyarakat muslim Indonesia, bahwa Syiah itu sesat, kafir dan sangat membahayakan eksistensi NKRI. Sesuatu yang tidak terbukti, sebab Syiah sudah ada di nusantara ini, jauh sebelum republik ini terbentuk.

Wallahu’alam Bishshawwab

[Ismail Amin, sementara menetap di Qom-Iran]

 

Sumber :

http://www.lppimakassar.net/takfiri/sepuluh-andalan-takfiri-yang-anti-syiah

Iklan

Situs Takfiri Khawarij “Islam”pos Sebarkan Cerita Palsu Tentang : Orang Syiah Suka Curi Sandal di Zaman Nabi Saw Adalah Kisah Palsu!

Surat Terbuka untuk Arrahmah.com

Assalamu’alaikum Arrahmah.com,

Saya masih bisa membaca berita Anda, yang dirilis pada tanggal 30 Maret 2013. Kala itu, pertempuran di Suriah berlangsung sengit. Dan berbagai faksi anti-Assad pun bermunculan. Setidaknya, ada FSA (Free Syrian Army) dan Jahbah Al-Nusra (link Al-Qaeda di Suriah) yang melakukan penyerangan untuk menggulingkan Bashar al-Assad. Tentu saja, saat itu, faksi-faksi yang berbeda ideologi itu masih bersatu, karena memiliki kepentingan yang sama. Anda pun menyebut FSA sebagai “Mujahidin”. Berikut ini saya kutipkan artikel Anda:

Mujahidin Brigade Syuhada’ Dauma FSA dalam pernyataan resminya pada Jum’at (29/3/2013) mengumumkan berita gembira kepada seluruh rakyat muslim Suriah akan tewasnya sang taghut durjana, Bashar Assad. Assad dinyatakan tewas dalam koordinasi operasi militer antara Brigade Syuhada’ Dauma dan para “perwira mulia” dalam Istana Kepresidenan Suriah, laporan Kantor Media Revolusi Kota Binnisy. (Arrahmah, 30 Maret 2013, lihat screenshoot)

Dalam artikel itu, tidak hanya sekedar memberikan predikat Mujahidin kepada FSA, Anda juga menyebarkan informasi palsu. Anda katakan Bashar al-Assad telah tewas, padahal tidak. Bahkan, Juni 2014, Bashar Al-Assad terpilih kembali menjadi Presiden Suriah dengan kemenangan 88,7 persen. Tentunya, sosok al-Assad yang terpilih itu bukan mayat yang bangkit dari kubur bukan?

Tapi kemudian, apa daya, keserakahan dan ketidak sepahaman dalam tujuan, membuyarkan ikatan yang awalnya erat. Antara Al-Nusra dan FSA terjadi ketidak-sepahaman, dan mereka pun berpecah. Arah pemberitaan Anda pun seketika berubah, dan tanpa ragu-ragu lagi, Anda kabarkan bahwa Al-Nusra, menangkap Komandan FSA – yang dulunya Anda sebut sebagai Mujahidin. Berikut cuplikannya:

Mujahidin Jabhah Nushrah telah menangkap seorang komandan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di provinsi Deraa beberapa hari setelah dia mengumumkan pembentukan kelompok FSA terbaru yang didedikasikan untuk memerangi “ekstrimis”. Beberapa aktivis Suriah di Deraa juga menyalahkannya karena diduga ia telah merekayasa penculikan para pejuang dari faksi lain dalam kolusi dengan rezim, serta mengambil dana yang seharusnya dialokasikan untuk pejuang dan peralatan militer. ( Arrahmah, 5 Mei 2014, lihat screenshoot)

Anda lantas menuduh, bahwa FSA tengah melakukan konspirasi dengan Rezim Bashar al-Assad, dan karenanya ia pantas ditangkap. Anda juga menuduh, Komandan FSA tersebut merampas dana yang seharusnya digunakan untuk para pejuang. Bukankah ini sungguh absurd, bagaimana tidak, pihak yang dulu Anda kabarkan sebagai Mujahidin yang berhasil menewaskan al-Assad, setahun kemudian Anda tuduh dia melakukan konspirasi dan korupsi.

Tuan Arrahmah yang terhormat,

Hal serupa saya temukan tentang bagaimana Anda menilai kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Saat ISIS memasuki medan pertempuran di Suriah, Anda juga menyebutnya sebagai Mujahidin. Bersama ISIS, yang saat itu masih diakui sebagai link Al-Qaeda, berbahu-bahu dengan teroris lainnya menaklukkan wilayah demi wilayah. Hingga Raqqah, berhasil direbut dan Anda katakan, syariat Islam kini tengah ditegakkan di kota itu.

Saya tidak akan menyinggung kejahatan apa saja yang dilakukan ISIS di Suriah. Apalagi, saat itu, Anda begitu mengagung-agungkannya. Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa dulu, Anda sebut ISIS sebagai pendakwah yang disambut dengan antusias oleh penduduk di sana, termasuk anak-anak. Berikut cuplikannya:

Di antara safari dakwah Mujahidin Daulah Islam Irak dan Syam atau Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) adalah di provinsi Raqqah. Kegiatan dakwah ISIS di Raqqah ini didokumentasikan dalam video “Nawafidz ‘Ala Ardhil Malahim” seri ke-33 yang dirilis oleh Yayasan Al-I’tisham, sayap media Departemen Informasi ISIS.

Dalam video yang berdurasi 9 menit 45 detik ini, menunjukkan ratusan warga Muslim Raqqah, baik orang-orang tua dan kaum muda, bahkan anak-anak, hadir dalam acara dakwah yang digelar oleh Mujahidin ISIS. Selain itu, acara dakwah ini juga diselingi dengan acara khusus untuk anak-anak yang disambut secara antusias. (Arrahmah, 17 Desember 2013, lihat screenshoot dibawah)

Namun sayang, lagi-lagi Anda tertipu. Keledai saja, bahkan tidak akan jatuh kepada lubang yang sama. Tetapi entah mengapa, Anda kembali mengulangi kekeliruan yang sama persis. Tidak butuh waktu setahun untuk Anda kembali menjilat ludah, atas puja-puji Anda sebelumnya kepada ISIS. Karena pada akhirnya, Anda melihat bahwa ISIS tidaklah lebih dari kawanan pembunuh yang mengatasnamakan agama.

Anda begitu geram, melihat faksi teroris yang Anda dukung, kini menjadi korban kekejaman ISIS. Anda perlihatkan foto horor, seorang yang Anda sebut Mujahidin tengah digorok di depan kamera oleh ISIS.

“Addurar As-Syamiyah melaporkan Abu Al-Miqdam telah syahid, in syaa Allah, hari ini. Ia adalah komandan Brigade Artileri dan Roket Harakah Ahrarus Syam Al-Islamiyah yang bernaung di bawah Jabhah Islamiyah. Ia dibunuh dengan cara yang sangat keji, yakni disembelih oleh tentara Daulah Islam Irak dan Syam atau Islamic State of Irak and Sham (ISIS). Sumber terpercaya Addurar menyebutkan bahwa Abu Al-Miqdam yang dikenal dengan nama “Sang Pemburu Tank” sedang dalam perjalanan pulang dari Qalamoun Timur menuju Idlib, kemudian sekelompok pasukan ISIS menyergapnya di pedesaan Hammah Selatan.” (Arrahmah, 17 Mei 2014, lihat screenshot dibawah)

Tuan Arrahmah yang terhormat.

Surat saya ini, sesungguhnya hanya mewakili kegalauan hati teman-teman saya. Juga kegalauan rakyat Indonesia yang membaca berita-berita Anda. Saya, mereka, tentunya bertanya-tanya, mengapa begitu mudah Anda memuja, lalu mencaci maki? Begitu mudah Anda sebut FSA dan ISIS sebagai Mujahidin, tapi tak lama berselang Anda jatuhkan mereka kembali. Apakah predikat Mujahidin itu memiliki batas waktu? Dan apa jaminannya, bahwa Al-Nusra, tidak akan Anda jatuhkan sebagaimana FSA dan ISIS? Melihat rekam jejak Anda, tidak menutup kemungkinan Al-Nusra pun akan Anda caci maki, atau Anda katakan mereka keji.

Lalu, yang mana dong yang benar-benar Mujahidin? Berita Anda: Mujahidin menangkap Mujahidin,  Mujahidin menyembelih Mujahidin. Ini membingungkan, lho….

[ba]

 

Arrahmah, 30 Maret 2013 Sebut FSA sebagai Mujahidin

 

Arrahmah, kali ini menangkap komandan FSA dengan tuduhan konspirasi dan kolusi

 

Arrahmah menyebut ISIS sebagai Mujahidin

Kini Arrahmah sebut ISIS menyembelih Mujahidin

 


Ini Dia, Musuh Sunni – Syiah Menurut Habib Ali al-Jufri

Foto: Muslimedianews

LiputanIslam.com – Menyikapi krisis Irak yang didesain membenturkan Sunni-Syiah, Habib Ali al-Jufri, ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, menyatakan dengan tegas, bahwa Sunni – Syiah memiliki musuh. Siapa?

“Kepada seluruh Ahlussunnah (Sunni) dan Syiah di Irak: Musuh kalian yang sebenarnya (hakiki) adalah mereka yang menyakinkan kalian bahwa kalian (Sunni-Syi’ah) adalah bermusuhan,” ucapnya di akun twitter-nya @alhabibali.

Dikutip dari Muslimedianews, kicauan ulama kelahiran Jeddah itu di favoritkan oleh lebih dari 400 pengguna twitter dan retweet oleh lebih dari 700 pengguna, serta mendapat reaksi yang beragam.

Habib Ali al-Jufri atau Habib Ali Zain al-`Abideen al-Jufri adalah seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikenal santun, ramah dan penuh senyuman dan dakwahnya menyejukkan.

Dan pernyataannya, merupakan angin segar bagi dunia Islam, lantaran saat ini, media-media acapkali membuat propaganda bahwa krisis Irak terjadi karena adanya pertikaian Sunni-Syiah. Kelompok teroris transnasional ISIS, seringkali disebut-sebut sebagai “pejuang Sunni” sedangkan Tentara Nasional Irak, disebut Tentara Syiah Maliki, untuk menggiring opini masyarakat, bahwa di Irak terjadi perang sekterian.

Contoh propaganda media, bisa disimak di tautan berikut ini:

  1. http://liputanislam.com/multimedia/seruan-ulama-sunni-di-basra-lawan-teroris-takfiri/
  2. http://liputanislam.com/tabayun/membongkar-propaganda-wall-street-journal/
  3. http://liputanislam.com/berita/internasional/timur-tengah/majelis-ulama-ahlussunnah-irak-keluarkan-fatwa-perang-terhadap-isis/
  4. http://liputanislam.com/berita/internasional/timur-tengah/pm-irak-jangan-gunakan-istilah-sunni-syiah/
  5. http://liputanislam.com/berita/internasional/timur-tengah/majelis-ulama-ahlussunnah-irak-keluarkan-fatwa-perang-terhadap-isis/
  6. http://liputanislam.com/tabayun/detik-com-malas-atau-sengaja/
  7. http://liputanislam.com/berita/internasional/timur-tengah/universitas-al-azhar-islam-berlepas-diri-dari-isis-seperti-serigala-berlepas-diri-dosa-anak-anak-yakub-as/
  8. http://liputanislam.com/tabayun/membongkar-propaganda-vivanews-atas-irak/
  9. http://liputanislam.com/analisis/dan-kini-muslim-sunni-pun-difitnah/
  10. http://liputanislam.com/berita/fokus/ini-dia-kiat-media-anti-irak-menyokong-isis/
  11. http://liputanislam.com/tabayun/propaganda-arrahmah-dan-tempo-atas-krisis-irak/
  12. http://liputanislam.com/tabayun/propaganda-republika-dan-antaranews-atas-krisis-irak/
  13. http://liputanislam.com/berita/fokus/trend-media-arab-bercorak-wahabi-di-tengah-fenomena-isis/

Walau ISIS berpredikat “pejuang Sunni” ternyata, keberadaannya ditolak oleh ulama, lembaga dan Muslim Sunni itu sendiri. Salah satu penolakan, datang dari Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Ia, yang merupakan seorang Nahdliyin, dan kader PPP, mengajak umat Muslim di Indonesia untuk mencegah penyebaran pengaruh ISIS. Menurutnya, organisasi tersebut harus dilawan karena bertentangan dengan Pancasila.

“ISIS itu suatu organisasi pergerakan yang berpaham radikal, yang gunakan kekerasan demi memperjuangkan apa yang diyakini. Mereka ingin perjuangkan negara Islam di Irak dan Suriah. Umat Islam Indonesia tak perlu terpengaruh dan ikut-ikutan,” kata Lukman.

Ia juga mengajak ummat Islam untuk menunjukkan sikap Islam yang toleran.“Saya berharap dalam memanfaatkan momentum Idul Fitri ini, setiap ormas Islam dengan bimbingan dan arahan ulamanya masing-masing mampu lebih mengintensifkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, yang menebarkan kemaslahatan bagi sesama dalam bingkai keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya. (ba)

http://liputanislam.com/tabayun/ini-dia-musuh-sunni-syiah-menurut-habib-ali-al-jufri/

KEBENCIAN MEDIA TAKFIRI “BUMISYAM.COM” PADA ACARA WILADAH FATIMAH AZ ZAHRA

LiputanIslam.com – Siapa yang tidak mengenal Sayyidah Fatimah? Putri Rasulullah Saw – yang merupakan penghulu wanita di surga. Kemuliaan akhlaknya terabadikan dalam lembaran kitab-kitab, menembus hingga ke hati. Sehingga wajar saja jika kemudian – kaum muslimin menempatkan Sayyidah Fatimah di posisi yang sangat istimewa. Kelahirannya diperingati, jalan hidupnya diteladani, dan kematiannya ditangisi.

kue ultah sy fatimah

Peringatan wiladah Sayyidah Fatimah, mungkin tidak marak dilakukan oleh kaum muslimin, namun bukan berarti acara tersebut tidak pernah ada. Dari situs Kementrian Agama Republik Indonesia, Gubernur Jateng dalam sambutan tertulisnya — pada peringatan kelahiran Sayyidah Fatimah Az Zahra Binti Nabi Muhammad SAW, yang dibacakan Kabag Agama Biro Kesra Pemprov Jateng, Suwondo, di Masjid Agung Jateng, menyatakan bahwa berbagai musibah yang menimpa bangsa Indonesia dikhawatirkan akan membuat masyarakat menjadi depresi, karena bisa mengikis keimanan, ketakwaan, melunturkan norma, kaidah agama, tatanan sosial, dan mengeringkan mental masyarakat. (http://www.kemenag.go.id/ 18 Juli 2006)

Pondok Pesantren Babul Khairat Lawang Malang,pada tahun 2011 juga mengunggah kegiatan yang diadakannya dalam menyambut wiladah Sayidah Fatimah. Kue-kue yang lucu dan bertuliskan “Kue Ulang Tahun Untuk Sayidah Fatimah az-Zahra” menghiasi perayaan tersebut.

Tidak hanya di Indonesia Sayidah Fatimah dikenang dan diperingati kelahirannya. Di Mesir, peringatan serupa itu juga dijumpai. Dari halaman Suara Al-Azhar, peringatan Maulid Sayyidah Fatimah dilangsungkan bersama Syeikh Yusri Rusydi, pada Jumat malam (18/4).

Syeikh Yusri Rusydi mengadakan peringatan Maulid Sayyidah Fatimah binti Rasulullah sallallahu alaihi sallam di masjid Sidi Ahmad Badawi, kota Tanta, Propinsi Gharbiyyah, Mesir. Jamaah yang mengikuti acara tersebut berangkat dari Kairo dengan 5 armada bus, yang terdiri dari warga Mesir, mahasiswa Indonesia, Malaysia, Pakistan dan Rusia. Pada acara tersebut, Syeikh Yusri menghatamkan kitab “Aqdullul min siratil Zahra al-batul” karangan Syekh Muhammad bin Hasan bin Alawi al-haddad, yang berisi biografi dan sifat-sifat terpuji putri kesayangan Rasulullah itu. Selain menghatamkan kitab dan ziarah di makam Sidi Ahmad Badawi, beliau beserta jamaah juga ziarah ke beberapa makam ulama dan auliya di Tanta.

foto: ahlul bait indonesia

Tahun ini, bertepatan dengan hari kelahiran Sayyidah Fatimah, ditemukan dua pemandangan yang sangat kontras. ABI , organisasi muslim Syiah Indonesia memperingati wiladah beliau ra dengan bagi –bagi bunga, sementara di pihak lain, kelompok Anti-Syiah mengadakan acara Deklarasi Anti-Syiah Nasional.

Lalu Bumisyam, salah satu media Islam online, mempublikasikan berita dengan judul yang amat provokatif. Link :http://www.bumisyam.com/2014/04/abi-bagikan-mawar-beracun-di-cfd-jakarta.html/. Dalam tulisan tersebut, Bumisyam keberatan dengan acara yang diadakan “agama Syiah” berupa peringatan wiladah Sayyidah Fatimah karena umat Islam tidak merayakannya – dan inilah sebagai salah satu bukti bahwa Syiah bukan Islam.

Tentang perayaan oleh ABI, mereka tentu punya alasannya –mengapa harus bagi-bagi bunga dsb, silahkan konfirmasi langsung kepada pihak penyelenggara acara tersebut. Namun jika yang kemudian dinyatakan bahwa wiladah Sayyidah Fatimah hanya diperingati oleh “agama Syiah”, tentunya akan muncul tanda tanya,  Kementerian Agama Indonesia, Pesantren Babul Khairat hingga Syeikh Yusri Rusydi, apakah mereka juga “beragama Syiah”? (ba/LiputanIslam.com)

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/penganut-agama-syiah-dari-kemenag-hingga-syeikh-yusri-rusydi/

HADITS PALSU YANG DIKUMANDANGKAN EKS PEMBESAR DI/TII/NII DALAM MEMUSUHI SYIAH

 

hadis

Dalam acara Deklarasi Anti-Syiah, salah satu orator bernama Abu Jibril menyatakan ada hadis Rasulullah yang mengharuskan pembunuhan terhadap orang Syiah. (Lihat video orasi Abu Jibril)

Kemudian, di jejaring sosial, beredar foto hadis di atas, yang secara sepintas, isi teksnya memang membenarkan pembunuhan kepada orang Syiah.

Sebagai upaya tabayun, kami menghubungi Dr. Muhammad Anis, pakar Politik Islam dari UIN Sunan Kalijaga. Berikut ini penjelasan beliau:

Setelah saya coba telusuri hadis tersebut, ternyata tidak satu pun menyebut kata “Syiah”, melainkan hanya “Rafidhah”. Kata “Rafidhah” ini -seperti saya sebutkan tadi– sebenarnya hanyalah label yang disematkan oleh orang-orang tertentu kepada mereka yang meninggalkan Zaid bin Ali disebabkan berbeda pendapat dengannya. Namun anehnya, sebutan ini kemudian dikait-kaitkan dengan Syiah. Sehingga, istilah ini kemudian digunakan oleh sebagian orang sebagai sebutan cemoohan kepada Syiah.

Dari penelusuran singkat saya, hadis-hadis tentang Rafidhah ini pun ternyata lemah (dha’if). Hal ini disebabkan adanya perawi dha’if dan munkar di dalamnya, seperti: Yahya bin Mutawakkil, Katsir bin Isma’il an-Nawa’, Muhammad bin As’ad at-Taghlabi, Suwar bin Mush’ab, Fadhl bin Ghanim, Hajaj bin Tamim, ‘Imran bin Zaid, dan sebagainya.

Khusus tentang hadis riwayat Thabrani, yang dinukil oleh Al-Haitsami dalam kitabnya “Majma’ az-Zawa’id” itu, maka hadis itu terbukti lemah dan sudah semestinya ditolak, disebabkan adanya Hajjaj bin Tamim. Berkata Al’Aqili dalam kitabnya “Adh-Dhu’afa’” bahwa riwayat Hajjaj tentang Rafidhah sama sekali tidak bernilai hadis, yang tidak seharusnya diikuti. Ibn ‘Adi dalam kitabnya “Al-Kamil fi Dhu’afa’” mengatakan bahwa riwayat Hajjaj (tentang Rafidhah) itu sama sekali tidak lurus. Adz-Dzahabi dalam kitabnya “Mizan al-I’tidal” mengatakan bahwa hadis-hadis Hajjaj lemah. Ibn Hajar al-Asqalani dan An-Nasa’i juga menilai Hajjaj sebagai perawi dha’if.

Bukti lainnya adalah pengakuan dari ulama dan masyarakat Sunni terhadap kemusliman Syiah di sepanjang sejarah hingga detik ini, yang bahkan tertuang pula dalam Risalah Amman 2005. Selain itu, banyak pula perawi Syiah yang riwayat-riwayatnya diambil di kitab-kitab hadis Sunni, termasuk di kitab hadis Bukhari-Muslim.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada masalah dalam hubungan Sunni dan Syiah sejak dulu. Yang menjadi masalah justru saat kaum Takfiri muncul belakangan, dengan membawa semangat kebencian, sektarianisme, dan intoleransi. (dw/LiputanIslam.com)

Tambahan: dari status FB Zen Husein:

Ad-Dzahabi didalam Mȋzȃn al-I’tidȃl menuliskan:

عمرو بن مخرم عن يزيد عن خالد الحذاء عن عكرمة عن ابن عباس مرفوعاً: )يكون في آخر أمتي الرافضة ينتحلون حب أهل بيتي و هم كاذبون، علامة كذبهم شتمهم ابا بكر وعمر ومن أدركهم منكم فليقتلهم فإنهم مشركون)

Dari Amru bin Mukhram dari Yazȋd dari Khȃlid Al-hadzdza dari ikrimah dari Ibn Abbas secara marfu’ : akan ada di akhir zaman salah satu dari umatku yang rafidhah yang menganut mazhab ahlulbaitku, dan mereka para pembohong, dan tanda-tanda kebohongan mereka adalah cacian mereka kepada Abu Bakar dan Umar jikalau kalian bertemu dengan mereka maka bunuhlah karena mereka adalah orang-orang musyrik[1].

Hadits ini adalah dhoif menurut ulama rijal ahlussunnah sekalipun:

1. Riwayat dari Amru bin Mukhram dari Yazid palsu

عمرو بن مخرم بصري عن يزيد بن زريع، وابن عيينة بالبواطيل

Riwayat Amru bin makhrum basri yang diriwayatkan dari Yazid bin Zarȋ’ dan Ibn ‘Uyainah adalah palsu.[2]

عمرو بن مخرم بصري يروي عن يزيد بن زريع ليس بثقة

Amru Ibn Mukhram basri meriwayatkan dari Yazid bin Zarȋ’ bukan tsiqat[3].

2. Ikrimah seorang Kazzab

سمعت بن عمر يقول لنافع اتق الله ويحك يا نافع ولا تكذب علي كما كذب عكرمة على بن عباس

Aku mendengar Ibn Umar berkata kepada Nȃfi’ bertakwalah kepada Allah dan berhati-hatilah, janganlah engkau berbohong kepadaku seperti halnya ikrimah berbohong kepada Ibn Abbas[4].

Dan Begitupun hadits yang serupa nadanya yang mana para ulama ahlussunnahpun mengatakan hadits tersebut dhoif dan palsu.

[1] Ad-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad, Mizȃn Al-I’tidal fi naqd Ar-Rijȃl: 5/344 , penerbit: Dȃr Al-Kutub Al-Ilmiyyah- Beirut, cetakan pertama, tahun 1995 M.

[2] Idem.

[3] Ad-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin ahmad bin utsman, al-Mughni fi Ad-Dhu’afa:2/73, no. 4707, , tahqiq : Nȗruddin ‘Itrun, penerbit: Idȃratu ihyai at-Turats al-Islȃmi – Qatar.

[4] Al-’Asqalȃni, Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar, Tahdzib at-Tahdzib: 7/237, Penerbit : Dȃr al-Fikr – Beirut, tahun 1404 H.

 

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/benarkah-syiah-halal-darahnya/

MENJAWAB FITNAH MEDIA TAKFIRI KHAWARIJ VOA-“ISLAM”: KATANYA KAUM SUNNI DILARANG MENDIRIKAN MASJID DI IRAN, BENARKAH ?

masjid sunni iran 4Beberapa waktu yang lalu, liputanislam.com (selanjutnya ditulis LI) memberikan kritikan kepada situs voa-islam.com (selanjutnya ditulis VOA saja) karena memberikan informasi yang keliru tentang perkembangan masyarakat ahlussunnah di Iran. Ternyata, informasi yang valid dari LI ditanggapi dengan reaksional oleh VOA dengan menurunkan artikel  berjudul  ”Liputan Islam yang Mengelak“ dengan menunjukkan data-data yang jauh dari memadai, dan hanya sekedar komentar miring oleh segelintir orang. Termasuk tentang tidak adanya masjid di Iran. Namun, sebagaimana visi LI, maka pada kesempatan ini kami akan menurunkan kembali informasi dengan data-data yang tajam, berimbang, dan terpercaya dengan sumber yang valid dari hasil penelitian oleh lembaga dunia. Data-data di liputan ini berdasarkan laporan penelitian yang dilakukan oleh Majma’ al-Taqrib Bayna al-Mazhahib al-Islamiyah (Lembaga Pendekatan Antar Mazhab dalam Islam).

 voa

VOA menyatakan :

“Namun, apakah ulama Ahlussunnah yang pernah mengunjungi Iran, lebih khusus Teheran dan mengatakan tidak ada masjid khusus buat Ahlussunnah di Teheran adalah dusta. Di antara Ulama Ahlussunnah yang mengatakan demikian adalah Syaikh Musa Jarullah. Ulama Sunni asal Rusia yang mencoba melakukan taqrib antara Sunni dan Syiah. Dalam upaya taqrid ini, ia mengunjungi wilayah-wilayah terdapat populasi mayoritas Syiah dan juga menjalin komunikasi dengan Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi.

Namun subhanallah, Allah pun menyingkap tabir syiah. dalam proses taqrib itu, al-Mousawi menulis buku berjudul “Abu Hurairah” yang di dalamnya melecehkan sahabat Nabi yang agung tersebut. Dan setelah mengkaji secara observasi dan studi pustaka, maka Syaikh Musa pun menulis buku tentang syiah yang berjudul “al-Wasyi’ah fi Naqdi ‘Aqaidisy Syiah”. Maka dari itu, Dr Raghib As-Sirjany yang kami wawancarai mengatakan bahwa tidak ada satu masjid di Teheran. Apakah Dr Raghib As-Sirjany berdusta?

“Jika belum puas, maka kami sarankan agar Liputan Islam mengunjungi situs resmi Ahlussunnah Iran yang diampu oleh Syaikh Abdul Hamid (http://arabic.sunnionline.us/). Dalam jumpa pers beliau dengan jelas mengatakan bahwa Ahlussunnah sangat membutuhkan masjid untuk melaksanakan shalat fardhu. Kalau memang ada masjid, mengapa ulama Ahlussunnah yang moderat dan menjadi rujukan di Iran ini mengatakan kalau Ahlussunnah membutuhklan masjid.” (lihat : ”Liputan Islam yang Mengelak“)

Tanggapan LI :

Walaupun syiah dan Iran punya pengalaman dicurangi, yang mana banyak penulis buku tentang syiah melakukan manipulasi dan kedustaan seperti halnya Husain al-Musawi al-Kadzab yang menulis buku Lillahi Tsumma Li at-Tarikh (edisi Indonesia berjudul “Mengapa Saya Keluar dari Syiah”), tetapi, untuk menyatakan dusta atau tidak sebuah informasi maka harus dilakukan validasi dan kofirmasi data. Misalnya, yang sedang kita dibahas ini, yakni kasus tentang Masjid Sunni di Teheran. Ada dua informasi yang muncul (1). Voa menyatakan “Tidak ada masjid sunni di Teheran”; (2) LI menyatakan “Ada 9 Masjid Sunni di Teheran”. Sekarang mari kita badingkan kedua informasi tersebut.

VOA yang menyatakan “Tidak ada masjid sunni di Teheran” berpegang pada pernyataan ulama yang katanya datang ke Iran yakni Musa Jarullah dan Raghib as-Sirjani, dan juga situs Syaikh Abdul Hamid.

Sedangkan LI menyatakan “Terdapat 9 buah Masjid di Teheran” berpegang situs syiah yang memberikan data nama-nama kesembilan masjid tersebut disertai dengan alamatnya. Dari sisi ini LI memberikan data yang lebih tajam, berimbang, dan terpercaya, karena informasi itu disertai detail lokasi masjidnya. Artinya, informasi itu didasari atas penelusuran langsung di lapangan untuk mengetahui masjid-masjid tersebut. Dan informasi yang dilakukan dengan penelusuran lapangan secara detil (investigasi) jelas lebih valid dari informasi yang tidak berdasarkan penelusuran yang memadai. Dari sisi ini informasi LI jauh lebih valid dari informasi VOA. Dan jika VOA ingin menolak informasi LI, semestinya VOA menelusuri informasi tersebut, dan membuktikan di lapangan apakah informasi itu benar atau tidak. Tanpa penelusuran yang memadai, VOA tidak layak menolak informasi tersebut.

Adapun menggunakan Musa Jarullah sebagai informasi juga tidak memadai, karena Musa Jarullah mengemukakannya hal itu puluhan tahun silam. Jadi, dari sisi ini, VOA menggunakan informasi yang ketinggalan zaman, alias “sudah basi”. Anggap saja Musa Jarullah benar datang ke Iran dan menyatakan tidak menemukan masjid sunni di Iran, tetapi apakah informasinya itu masih berlaku sampai sekarang setelah puluhan tahun kemudian? Bahkan Musa Jarullah, dalam menulis buku tentang syiah juga banyak melakukan kekeliruan dan manipulasi sebagaimana dibuktikan oleh Sayid Syarafuddin al-Musawi dalam bukunya yang berjudul Ujubah Masail Jarullah.

Begitu pula informasi Raghib as-Sirjani juga tidak bisa dijadikan pegangan, karena apakah beliau telah mengelilingi seluruh Iran dan melakukan penelitian tentang masjid-masjid sunni di sana? Kalau hanya sekedar kunjungan singkat dan hanya melihat-lihat sekedarnya saja, maka tentu informasi yang diberikan oleh LI dengan menyebutkan lokasi tempat tersebut lebih valid. Selain itu, data yang dikeluarkan oleh Majma al-Taqrib berdasarkan penelitian data pada tahun 1997 terdapat lebih dari 12.000 masjid sunni di Iran yang tersebar di seluruh Iran (dalam kesempatan ini, LI nantinya akan membawakan keseluruhan data tersebut dan wilayah-wilayah dimana saja masjid itu berada, dan sekarang ini tahun 2014 diperkirakan ada lebih dari 15.000 masjid sunni. Bandingkan dengan Indonesia, ada berapa masjid komunitas syiah di Indonesia ini?, dan apakah VOA akan mendukung jika komunitas syiah Indoensia mendirikan masjid untuk mereka?). Dari sini tentu kita bisa menyimpulkan data yang dilakukan dengan penelitian oleh lembaga dunia tentang kondisi masjid sunni di Iran, sembari menyebutkan wilayah-wilayahnya dan jumlahnya secara detil lebih dapat dipercaya dari sekedar kunjungan singkat saja. Jadi, mungkin saja Raghib Sirjani tidak berdusta, hanya saja beliau kurang informasi saja, seperti VOA yang kurang informasi, sehingga cenderung memprovokasi.

Adapun VOA yang membawakan situs Syaikh Abdul Hamid yang membutuhkan Masjid di Teheran, bukan berarti menafikan adanya masjid di Teheran. Mungkin saja kaum sunni merasa memang membutuhkan masjid lebih banyak di Teheran dari yang sudah ada yakni 9 masjid, tetapi sampai kini belum dibangun. Beda antara tidak ada masjid dengan membutuhkan lebih banyak masjid. Agar lebih jelas, LI akan menurunkan data-data tentang kondisi masyarakat, pelajar agama, sekolah agama dan masjid sunni di Iran. (cr/liputanislam.com)

# Bersambung kebagian kedua berikut ini : http://liputanislam.com/tabayun/info-untuk-voa-islam-di-iran-sunni-memiliki-12-000-lebih-masjid-2/

Sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/info-untuk-voa-islam-di-iran-sunni-memiliki-12-000-lebih-masjid-1/

MEDIA-MEDIA SYIAH BIKINAN KAUM NASHIBI & ZIONIS RUJUKAN KAUM SALAFI WAHABI UNTUK MENGHANCURKAN SYIAH

Voa-Islam dalam artikel berjudul “Liputan Islam yang Mengelak” menulis tanggapan atas tulisan Liputan Islam yang berjudul “Menjawab Teguran Voa Islam”. Sebagai upaya tabayun, untuk mengklarifikasi berbagai tuduhan, kami memutuskan untuk menjawabnya dan karena jawabanya sangat panjang, kami membaginya dalam 4 bagian. Berikut ini bagian keempat.

Televisi Yasser Dibiarkan, Al Manar Dibungkam

Ada bukti lain yang menunjukkan bahwa Yasser al-Habib memang di-backing Inggris dan Zionis: televisinya (Fadak TV) dibiarkan tayang dengan alasan kebebasan pers. Padahal di saat yang sama, televisi Al Manar (Lebanon), televisi Al Aqsa (milik Hamas), dan Press TV (Iran) yang gencar menyuarakan perlawanan terhadap Zionis Israel dibungkam, tidak bisa tayang di Eropa.

FadakTV bukan satu-satunya channel yang jelas-jelas menyebarluaskan fitnah dan perpecahan di kalangan muslim. Masih ada lagi televisi-televisi lain yang menebar kebencian atapun penebar paham-paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, yang dibiarkan bebas beroperasi di Inggris dan Amerika Serikat. Berikut ini di antaranya (kami kutip dari situs IslamTimes):

1. Ahl-e-Bait TV (www.ahl-e-bait.com)

TV ini dipimpin oleh warga Afganistan bernama Hasan Allahyari.  Sejak awal lahirnya, TV ini menonjolkan perbedaan antar mazhab Islam, bahkan menyelenggarakan acara pesta Idul Zahra sebagai perayaan atas meninggalnya Khalifah Umar bin Khathab. Padahal tradisi Idul Zahra tidak dikenal oleh kaum Syiah umumnya, termasuk di Iran. Stasiun TV ini juga menyebarluaskan upacara pukul kepala dan badan dengan senjata tajam untuk memperingati perjuangan Imam Husain as. Padahal, para ulama besar Syiah seperti Ayatullah al Uzhma Sayyid Ali Khamenei melarangnya.

Allahyari dalam pernyataannya menyatakan, stasiun TV ini didukung oleh para marji taqlid, tapi pernyataan ini ditolak tegas oleh para ulama, bahkan Ayatullah Qurbanali Muhaqiq Kabuli marji’ taklid Afganistan yang tinggal di Qom dan yang semula mendukung stasiun ini, setahun setelah mengetahui substansinya yang memecah belah umat mengeluarkan pernyataan resmi tentang pentingnya persatuan umat Islam.

Ayatullah Qurbanali menegaskan, “Kepada seluruh pengikut Ahli Bait as dan Syiah, sesungguhnya kami mohon dengan sangat untuk sama sekali tidak memberikan bantuan materi dan maknawi kepada Ahl-e-Bait TV. Menurut kami, pemberian bantuan kepada stasiun ini atau stasiun-stasiun serupa dan acara lain –apa pun namanya- yang beraktivitas memecah belah umat bukan hanya tidak sah menurut syariat Islam, bahkan terhitung sebagai perbuatan membantu tindakan dosa dan melampaui batas.”

Hasan Allahyari berdomisili di Amerika. Perlu diketahui bahwa di Amerika ada undang-undang yang menyebutkan bahwa bila stasiun TV –yang disiarkan melalui parabola-melakukan pelecehan terhadap hal-hal yang sakral menurut kelompok mazhab, pemikiran, atau sosial tertentu, stasiun itu akan dibubarkan dan surat izinnya dicabut. Tapi untuk stasiun Ahl-e-Bait TV pemerintah AS tidak membubarkannya dan tidak juga mencabut surat izinnya. Pemerintah Iran sendiri telah memerintahkan penyegelan kantor stasiun TV itu di kota Qom. Sebagai reaksi atas penyegelan itu, televisi itu pun semakin gencar menjelek-jelekkan Republik Islam Iran.

2. Salaam TV (http://www.salaamtv.org/)

Direktur Salaam TV membentuk jaringan atas nama “Kelompok Ruhaniawan Tradisional Iran Kontemporer” dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan keras yang mendukung kerusuhan-kerusuhan di Republik Islam Iran.

Stasiun TV ini disiarkan melalui Satelit Hotbird yang tentu saja menuntut biaya sewa yang tinggi. Ditambah lagi dengan biaya pendirian dan pengelolaannya sehingga mampu mencakup seluruh benua, padahal iklan yang masuk sangat terbatas, dipastikan televisi ini memiliki sumber dana besar. Mereka secara terbuka meminta donasi dari pemirsa, yang bisa disalurkan ke sekian banyak nomor rekening di negara-negara seperti Amerika, Jerman, Australia, dan Dubai. Namun, tetap saja, sulit dibantah bahwa biaya operasional mereka tidak mungkin ditutupi oleh donasi pemirsa saja. Dan sampai sekarang, direktur dan administratornya tidak memberikan penjelasan yang transparan mengenai hal ini.

Salah satu propaganda Salaam TV ini adalah memperkenalkan aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam sebagai salah satu tradisi Islam. Di salah satu acara itu, Muhammad Hidayati Direktur TV Salaam yang sekaligus merupakan ahli agama di Voice of Amerika mengatakan, “Berdasarkan ayat-ayat Al-Quran, ternyata aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam ini mempunyai latar belakang yang kuat di dalam Al-Quran”.

Ruhaniawan palsu ini memutarbalikkan ayat Al-Quran berusaha mengatasnamakan aksi itu sebagai ajaran Al-Quran. Sedemikian salah kaprahnya argumentasi Hidayati sampai-sampai ahli agama di ‘kandang’ yang sama tidak tahan untuk berdiam diri. Mahdi Khalaji, ‘ulama’ yang juga bermarkas di AS mengkritik Hidayati, “Apa yang dikatakan oleh Hidayati betul-betul salah kaprah dan merupakan pemalsuan terhadap Al-Quran.”

Salaam TV juga menekanan sekularisme atau pemisahan agama dari politik, dan menentang sistem pemerintahan Islam Iran. Televisi ini juga gencar mengobarkan perpecahan antar mazhab dan melakukan pelecehan terhadap Ahli Sunnah.

Nah, masih mau percaya pada televisi yang di-backing oleh pihak-pihak (terutama Barat dan Zionis) yang memang menginginkan perpecahan umat Islam? Pliiis deh Om Voa, emang dibayar berapa sih ? :D(ba/dw/LiputanIslam.com)

 sumber :

http://liputanislam.com/tabayun/jawaban-untuk-voa-islam-4-perang-media/

INILAH YASSER AL HABIB “ULAMA SYIAH” BIKINAN MI-6 KEBANGGAAN TAKFIRI KHAWARIJ UNTUK MENYERANG SYIAH

yasir habib antek zionis

Voa-Islam dalam artikel berjudul “Liputan Islam yang Mengelak” menulis tanggapan atas tulisan Liputan Islam yang berjudul “Menjawab Teguran Voa Islam”. Sebagai upaya tabayun, untuk mengklarifikasi berbagai tuduhan, kami memutuskan untuk menjawabnya dan karena jawabanya sangat panjang, kami membaginya dalam 4 bagian. Berikut ini bagian ketiga.

Yasser Habib: Ulama yang Bukan Ulama

Voa- Islam menulis:

“Dalam sebuah video yang diunggah di youtube, Yasir Habib menuntum seorang untuk masuk agama syiah dengan syahadat yang berbeda. Pada kesempatan itu ia mengakui bahwa sebagaian syiah tidak tasyayyu’ haqiqi, namun tasyayyu’ siyasi. Dan tidak mengherankan, karena syiah imamiyyah memiliki akidah taqiyyah untuk menyembunyikan akidahnya. Memang ada ulama syiah yang jelas-jelas tidak mencela sahabat seperti Syaikh Fazlullah. Namun beliau pun menjadi bahan “serang” oleh ulama-ulama syiah lain. Maka silahkan lihat ulama-ulama syiah saling menghujat dan bahkan mengkafirkan”

Jawaban kami:

Pertama, emang siapa tuh Yasser Habib? Dalam penelitian ilmiah ‘sekuler’-pun, kita musti merujuk pendapat para pakar, bukan orang di pinggir jalan. Contohnya, apa mungkin meneliti masalah sistem politik Indonesia dengan merujuk pendapat penjual tahu di pasar? Tentu tidak, kita musti mencari narasumber yang sudah diakui kepakaran, misalnya ilmuwan politik dari LIPI. Apalagi masalah agama.

Dalam mazhab Syiah, yang dianggap ‘pakar’ dan rujukan yang valid adalah para Ayatullah (sudah setingkat profesor), dan posisi tertinggi di antara mereka adalah Rahbar atau Wali Faqih, yaitu Ayatullah Al Uzhma, Sayyid Ali Khamenei. Beliau mengatakan, “Syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.”

Nah, siapa itu yang dimaksud ‘propagandis Syiah dari London’ ? Tak lain, Yasser Habib.

Kedua, Mari Kenalan Dulu dengan Yasser al-Habib

Dia dilahirkan di Kuwait pada tahun 1979—masih muda untuk jadi ukuran ulama “terkemuka”. Dia adalah lulusan Ilmu Politik Universitas Kuwait, artinya tidak ada latar belakang keilmuan hauzah ilmiah. Pandangannya dalam agama sangat ekstrim, termasuk mengenai sejarah wafatnya Fatimah putri Nabi saw. yang kerap kali kecaman dialamatkan kepada Khalifah Abu Bakar, Umar serta Ummul Mukminin Aisyah ra. Makiannya yang dilakukan dalam sebuah ceramah tertutup ternyata tersebar dan membuatnya dipenjarakan oleh pemerintah Kuwait pada tahun 2003.

Belum setahun, ia dibebaskan di bawah pengampunan Amir Kuwait (menurut pengakuannya dia bertawasul kepada Abul Fadhl Abbas), namun beberapa hari kemudian ditangkap lagi. Sebelum dijatuhi hukuman selama 25 tahun, ia pergi meninggalkan Kuwait. Karena tidak mendapat izin dari pemerintah untuk tinggal di Irak dan Iran, ia mendapat suaka dari pemerintah Inggris.

Sejak berada di Kuwait, ia sudah memimpin Organisasi Khaddam Al-Mahdi. Setelah mendapat suaka dari pemerintah Inggris, entah bagaimana organisasinya semakin “makmur”. Punya kantor, koran, hauzah (semacam pesantren), majelis, yayasan dan juga website sendiri. Karena perkembangannya yang cepat inilah muncul kecurigaan bantuan dana dari pemerintah Inggris. Kita semakin curiga, karena pemerintah Kuwait berulang kali meminta agar Yasser Al-Habib ditangkap namun ditolak oleh Interpol.

Hubungan Yasser Habib dengan Mesir, Iran, dan sebagian besar ulama Syiah nampaknya tidak harmonis. Dalam situsnya, ia kerap kali mengecam ulama rujukan sekelas Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei, bahkan tidak menganggapnya sebagai mujtahid dan marja’. Jadi bisa dikatakan bahwa Yasser Al-Habib sangat tidak merepresentasikan mayoritas ulama Syiah yang menghendaki persatuan dan perbaikan umat muslim. Tidak adil jika Anda mengutip pendapatnya dan menuliskan bahwa itu adalah pandangan (mayoritas) pengikut Syiah, padahal hanyalah pandangan pribadinya. Dan karena itu kita perlu waspada dan mengetahui mengenai rancangan CIA dalam menciptakan “ulama-ulama” palsu.

Ayatullah Makarim Shirazi: Yasser Al Habib itu Tidak Tahu Apa-apa, dan Wahabi Lebih Bodoh Lagi

Grand Ayatullah Nasir Makarim Shirazi

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al-Uzhma Makarim Shirazi dalam perkuliahannya (tanggal 3/10) menyikapi munculnya fitnah terbaru yang dihadapi umat Syiah dengan keberadaan Yasser al Habib yang mengatasnamakan Syiah telah melakukan penghinaan terhadap istri Nabi Ummul Mukminin Aisyah ra. Beliau berkata, “Apakah kamu mendengar ada seseorang yang tidak tahu apa-apa namun menyebut diri sebagai ulama Syiah yang sekarang menetap di London yang telah mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak sepantasnya disematkan kepada istri Nabi saww?”

Beliau menegaskan bahwa individu tersebut (Yasser Habib-red) tidak layak mengatasnamakan diri sebagai ulama Syiah sebab tidak memiliki kapasitas apa-apa, “Orang itu memang tidak tahu apa-apa, atau memang sedang tidak waras, namun lebih bodoh dari itu adalah ulama-ulama Wahabi yang bersandar dengan ucapan-ucapan Yasser dengan mengatakan, “Syiah telah menampakkan hakekat aslinya.” Ini menunjukkan mereka berdalil dengan sesuatu yang tidak logis sebab hanya menyandarkan pendapatnya pada satu orang yang tidak dikenal, dan tidak bersandar pada pendapat ulama-ulama Syiah lainnya. Saya menulis sekitar 140 kitab mengenai aqidah, tafsir, dan ilmu-ilmu lainnya dan tidak satupun dalam kitab saya, saya menulis penghinaan terhadap istri Nabi, sementara Yasser tidak menghasilkan karya apapun dan berbicara tanpa sanad.”

Ulama besar yang merupakan marja taklid (ulama yang diikuti fatwa-fatwanya) dalam dunia Syiah ini melanjutkan, “Kami mengatakan bahwa ucapan orang tersebut adalah perkataan buruk dan bohong besar, dan ia tidak tahu apa-apa namun ulama-ulama Wahabi justru bersandar pada ucapannya. Ada kemungkinan ceramah-ceramah tidak senonoh dari orang yang bermukim di London ini adalah sebuah konspirasi, dan Wahabi yang berada di Hijaz memanfaatkan ceramah-ceramah itu untuk merusak citra Syiah dan menimbulkan kebingungan di kalangan umat Islam sampai mereka mendapatkan keuntungan pribadi dari tipu muslihat ini.”

Ayatullah Shirazi melanjutkan, “Di antara syubhat lainnya, yang ulama-ulama Wahabi lontarkan, mereka berkata, kalau memang perbuatan Yasser tersebut sesuatu yang terlaknat lantas mengapa Ayatullah-ayatullah kalian tidak mengatakan apa-apa?  Mereka melontarkan syubhat tersebut dengan terus bertanya padahl kami telah mengutuk perbuatan tersebut dan mengatakan bahwa kita tidak mengenal bentuk penghinaan apapun terhadap istri-istri Nabi, yang kita tahu, penghinaan terhadap istri-istri Nabi sama halnya menghina Nabi sendiri.”

“Apakah Wahabi lupa mengenai fatwa mati Imam Khomeini terhadap Salman Rusdi yang telah menghina Islam dan menyatakan bahwa ia telah murtad dari Islam? Apa mereka ulama-ulama Wahabi itu tidak mengetahui bahwa Salman Rusdi dalam buku Ayat-ayat Syaitan-nya itu bukan hanya menghina Nabi namun juga melakukan penghinaan terhadap istri-istri Nabi tetapi mengapa mereka berdiam saja dan tidak mengeluarkan kutukan apapun terhadap Salman Rusdi sementara Imam Khomeini melakukannya? Ini menunjukkan bahwa mereka bukan ahli logika dan tidak lagi mampu berpikir sehat. Berseberangan dengan mereka, di antara ulama-ulama Sunni mengetahui fatwa-fatwa dan pengecaman kami (ulama-ulama Syiah) dan mereka menyatakan kegembiraannya dengan itu,” tegasnya.

Ayatullah Shirazi di akhir pembicaraannya mengatakan, “Kita harus lebih waspada dan berhati-hati dalam setiap diskusi dan dialog, jawablah setiap pertanyaan dengan dalil dan hujjah yang tegas, dengan argumen-argumen yang sehat dan kuat dan jangan melakukan hal-hal yang dapat memicu perselisihan dan semakin memperlebar jurang perpecahan. Saya yakin umat Islam pada akhirnya akan bergandengan tangan satu sama lain dan tidak terjebak dalam fitnah perpecahan yang gencar dihembuskan musuh-musuh Islam.”

Yasser al-Habib Salah Kostum

Penampilan Yasser al Habib memang seperti ulama: ia menggunakan pakaian yang merupakan ciri khas pakaian ulama Syiah. Namun sesungguhnya itu adalah pakaian khusus yang hanya boleh dikenakan oleh lulusan atau alumni dari Hauzah Ilmiyah; padahal Yasser bukanlah lulusan Hauzah Ilmiyyah manapun.

Yasser al Habib selama bulan Ramadhan kemarin dengan provokatif mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu pertikaian dengan menyematkan hal-hal yang tidak pantas kepada Ummul Mukminin Aisyah. Ulama-ulama Syiah dari Arab Saudi dan Kuwait di antaranya, Syaikh Amri, Syaikh Husain Mu’tawaq, Syaikh Hasan Safaar, Syaikh Al al-Muhsin, Syaikh Hasyim as Salman dan lain-lain telah mengecam keras pernyataan-pernyataan Yasser al Habib yang dianggap telah melukai hati umat Islam.

Sesuatu yang mengherankan, di tengah kecaman kaum muslimin dan para ulama, baik Sunni maupun Syiah, Yasser al Habib justru mendapat perlindungan dan pembelaan dari pemerintah Inggris. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Ayatullah Khamenei : Syiah yang dipropagandakan melalui media massa di London maupun Amerika adalah Syiah yang tidak berada di jalur sesungguhnya. Inilah mereka yang berkedok Syiah padahal sesungguhnya antek Zionis.

Gaya Yasser Habib dan Gaya Voa-Islam

Ada fakta yang aneh tapi nyata di sini: Yasser Habib mengaku Syiah, tapi perilakunya berlawanan dengan fatwa-fatwa dan nasehat para ulama besar Syiah. Hasilnya: muncul perpecahan dan kebencian di antara kaum muslimin. Di sisi lain, Voa-Islam dan media sejenisnya selalu berkeras kepala menyebarluaskan ucapan-ucapan seorang Yasser Habib, tanpa peduli pada tabayun yang kami lakukan (dan dilakukan oleh banyak pihak lainnya). Hasilnya: kebencian dan perpecahan di tengah muslim Indonesia.

Lho..lho.. kok output ‘gaya’ Yaser Habib dan Voa-Islam (dkk) sama ya? Apa mereka berada di barisan yang sama? :D

Ini bukan cuma penilaian LI lho ya… Syafi’ Alielha, pemimpin redaksi NU Online, mendampingi Direktur Eksekutif Matriks Indonesia Agus Sudibyo, pun pernah mendaftar situs-situs Islam yang menebar kebencian, “Setidaknya ada empat situs yang sangat tinggi rate-nya di dunia maya: ar-rahmah.com, dakwatuna.com, voa.islam.com, hidayatullah.com,” paparnya.http://www.muslimedianews.com/2014/03/inilah-4-situs-islam-penebar-kebencian.html#ixzz2yI7nmqpX

SUMBER :

http://liputanislam.com/tabayun/jawaban-untuk-voa-islam-3-yasser-habib-kok-didengar/

Blog di WordPress.com.

Atas ↑