DIALOG TENTANG KETUHANAN Seri kecerdasan Imam Ahlul Bait sa #001

Dari Salman al Farisi, dikatakan bahwa ketika Rasulullah Muhammad saaw wafat dan tampuk kepemimpinan berada pada tangan Khalifah Abu Bakr, datang sekelompok kaum Nasrani ke Madinah dengan dipimpin oleh seorang tokoh mereka yang pandai tentang teologi dan hafal Kitab Taurat (perjanjian lama) dan Injil (perjanjian baru).

Tokoh Nasrani itu berkata :
“Tunjukkanlah kepadaku orang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku”.

Imam Ali bin Abi Thalib :
“Tanyalah, wahai orang Nasrani. Demi Yang membelah biji-bijian dan menciptakan makhluk, engkau tidak bertanya tentang yang lampau dan yang akan datang kecuali aku beritahu kamu tentangnya dari Nabi Muhammad saaw”.

Tokoh Nasrani berkata :
“Beritahukan kepadaku, apakah kamu beriman menurut Allah atau beriman menurut dirimu sendiri ?”.

Imam Ali bin Abi Thalib :
“Aku beriman menurut Allah sebagaimana aku beriman dalam keyakinanku”.

Tokoh Nasrani :
“Allahu Akbar, ini ungkapan orang yang kokoh akan agamanya dan meyakini kebenaran keyakinannya. Maka beritahukan kepadaku sekarang tentang bagaimana kedudukanmu di surga ?”.

Imam Ali bin Abi Thalib
“Kedudukanku bersama Nabi di surga Firdaus yang paling tinggi. Aku tidak bimbang dengan itu dan tidak ragu dengan janji Tuhanku”.

Tokoh Nasrani :
“Dengan apa kamu mengetahui janji akan kedudukan yang kamu sebutkan tadi ?”

Imam Ali bin Abi Thalib :
“Dengan kitab yang diturunkan dan kebenaran Nabi yang di utus”.

Tokoh Nasrani :
“Lalu dengan apa kamu meyakini kebenaran nabimu ?”

Imam Ali bin Abi Thalib :
“Dengan tanda-tanda yang menakjubkan dan mukjizat-mukjizat yang jelas”.

Tokoh Nasrani :
“Inilah cara berdalil, beritahukan kepadaku tentang Allah dimana sekarang ?”

Imam Ali bin Abi Thalib :
“Wahai orang Nasrani, sesungguhnya Allah SWT jauh dari “mana” dan suci dari tempat. Dia sejak azal (tidak bermula) tidak bertempat dan sampai saat ini seperti itu. Tidak berubah dari satu keadaan ke keadaan lain”.

Tokoh Nasrani :
“Benar dan baik, wahai orang pandai, engkau menjawab secara ringkas tetapi padat. Beritahukan kepadaku apakah menurutmu DIA dapat dijangkau dengan indera, sehingga seseorang akan mencari-Nya dengan menggunakan indera atau bagaimana cara mengetahui-Nya, jika tidak mungkin dengan indera ?” (lanjutnya penasaran).

Imam Ali bin Abi Thalib :
“Yang Maha Raja dan Maha Berkuasa sangat suci untuk disifati dengan ukuran atau dijangkau oleh indera atau disamakan dengan manusia. Jalan untuk mengenal-Nya adalah ciptaan-ciptaan-Nya yang menakjubkan akal dan memberi petunjuk bagi orang-orang yang berfikir.”

Tokoh Nasrani :
“Engkau benar, demi Allah itulah yang haq. Banyak orang tersesat dalam kebodohan-kebodohan,” (komentar orang nasrani itu). Sekarang beritahu aku seperti yang dikatakan Nabimu tentang al-Masih, bahwa al-Masih adalah makhluk, darimana Muhammad membuktikannya ? Muhammad menafikkan ketuhanan al-Masih dan menetapkan kekurangannya (karena Tuhan sama sekali tidak mempunyai kekurangan), padahal engkau tahu bahwa banyak dari kaum beragama meyakini tentang al-Masih sebagai tuhan ?”.

Imam Ali bin Abi Thalib :
“Nabi Muhammad saaw membuktikan dengan takdir yang harus dia hadapi dengan perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain dan dengan bertambah-berkurang yang tidak lepas darinya. Aku tidak mengingkari kenabian al Masih dan tidak mengeluarkannya dari kemaksuman, kesempurnaan, dan bantuan (dari Allah). Telah disebutkan oleh Allah SWT bahwa al Masih seperti Adam yang diciptakan dari tanah kemudian dikatakan padanya. ‘Jadilah’ maka jadi”.

Tokoh Nasrani :
“kamu benar, demi Allah yang mengutus al-Masih. aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah dan kamu adalah washi Rasulullah saaw serta orang yang paling berhak menduduki tempatnya.

Maka orang-orang yang ikut bersamanya masuk Islam juga.[SN/14]

————–
Sumber :
Kitab Saluni Qabla Antafqiduni, Karya Muhammad Ridha Al-Hakimi, halaman 23-27.

 

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: