MENINJAU EPISTEMOLOGI PLATO TENTANG “AL TASHAWWUR” (KONSEPSI)

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ali Muhamad wa ajil farajahum

 

————–

Salah satu perdebatan besar adalah diskusi yang mempersoalkan sumber-sumber dan asalu-usul pengetahuan. Dengan itu, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya; bagaimana pengetahuan itu muncul dalam diri manusia ? Bagaimana kehidupan intelektualnya tercipta, termasuk setiap pemikiran dan konsep-konsep (notions) yang muncul sejak dini ? Dan apakah sumber yang memberikan kepada manusia arus pemikiran dan pengetahuan ini ?

————-

 

Setiap manusia tentu mengetahui berbagai hal dalam kehidupan, dan dalam dirinya terdapat bermacam-macam pemikiran dan pengetahuan. Dan tidak diragukan lagi bahwa benyak pengetahuan manusia itu muncul dari pengetahuan lainnya. Karena itu, ia akan meminta bantuan pengetahuan terdahulu (yang sudah dimiliki) untuk menciptakan pengetahuan baru. Permasalahnnya adalah bagaimana kita “meletakkan tangan kita” diatas “garis-garis primer” pemikiran dan atas sumber umum pengetahuan pada umumnya.

Bahwa pengetahuan (persepsi)  itu terbagi, secara garis besar, menjadi dua. Pertama, Konsepsi (persepsi, Al Thasawwur, bentuk) atau pengetahuan sederhana, yaitu, pengetahuan tanpa penilaian, atau, penangkapan suatu obyek tanpa menilai obyek itu.  Kedua, Al tashdiq (assent atau pembenaran), yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian (lebih jauh dapat dilihat di pandangan Ibnu Sina tentang konsepsi dan tashdiq  pada buku Remark and Admonitions, pada bagian pertama, “Logic”).

 

Konsepsi dapat dicontohkan dengan penangkapan kita terhadap pengertian panas, atau cahaya atau suara. Tashdiq dapat dicontohkan dengan penilaian kita bahwa panas adalah energi yang datang dari matahari dan bahwa matahari lebih bercahaya daripada bulan dan bahawa atom itu dapat meledak dan sebagainya.

 

Konsespsi dan sumber-sumber pokoknya

 

Yang dimaksudkan dengan kata “Pokok” (Primer) diatas adalah sumber hakiki bagi konsepsi atau pengetahuan-pengetahuan sederhana. Pikiran manusia mengandung dua konsepsi. Pertama, pengertian-pengertian konseptual sederhana, seperti pengertian “wujud”, “unitas”, “panas”, “putih” dan konsep-konsep tunggal lainnya. Kedua, pengertian-pengertian majemuk. Yakni konsepsi yang merupakan hasil kombinasi antara konsepsi-konsepsi sederhana. Kita, misalnya, mengkonsepsikan “sebungkul gunung dari tanah” dan mengkonsepsikan “sepotong emas”, kemudian kita kombinasikan dua konsepsi itu. Dari kombinasi itu lahirlah konsep ketiga yaitu konsepsi “sebungkul gunung emas.”

 

Konsepsi ketiga ini, pada dasarnya, adalah kombinasi dari dua konsepsi tadi. Demikianlah, semua konsepsi majemuk itu (dapat) disusutkan menjadi unit-unit konseptual sederhana. Permasalahannya adalah, upaya mengetahui sumber-sumber hakiki unit-unit tersebut dan sebab timbulnya konsepsi-konsepsi sederhana itu dalam persepsi manusia.

 

Permasalahan ini memiliki sejarah yang penting dalam semua periode filsafat Yunani, Islam dan Eropa. Dalam perjalanan sejarah filsafat, permasalahan itu telag menghasilkan beberapa pemecahan yang terangkum dalam teori-teori, salah satunya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato  tentang  Pengingatan Kembali

 

Teori Plato tentang Pengingatan Kembali

 

Teori Plato tentang pengingatan kembali adalah teori yang berpendapat bahwa pengetahuan adalah fungsi mengingat kembali informasi-informasi yang telah lebih dulu diperoleh (untuk teori pengetahuan sebagai pengingatan kembali, lihat Plato, di bukunya, Meno 81c, 85d, 98a; Philebus 34c; Theaetus 198d).

 

Teori ini diciptakan oleh Plat (abad ke-5 SM). Ia mendasarkannya pada filsafat tertentunya tentang “alam ide”( Mutsul atau Plato menyebutnya dengan Archetype)  dan “keazalian jiwa”.  Plato yakin bahwa jiwa manusia ada dalam bentuk berdiri sendiri, terlepas dari badan, sebelum badan itu ada.  Karena wujud jiwa itu bebas sebebas-bebasnya dari materi, ia berhubungan dengan alam ide – realitas-realitas yang bebas dari materi – dan dapat mengetahuinya. Ketika ia harus turun dari alam immaterialnya untuk disatukan dengan badan dan dikaitkan dengannya di alam materi, hilanglah semua yang telah diketahuinya dari alam ide dan realitas-realitas yang tetap, serta lupa sama sekali akan realitas-realitas tadi. Tetapi ia kemudian memulai memulihkan pengetahuan-pengetahuannya melalui penginderaan gagasan-gagasan (ide-ide) tertentu dalam hak-hal partikular.

 

Sebab, semua konsep dan hal-hal partikular itu adalah bayangan dan pantula dari alam ide dan realitas-realitas azali (abadi) di dunia yang di dalamnya jiwa itu pernah hidup.  Jika ia mengindera suatu ide tertentu, pindahlah ia seketika ke realitas ideal yang telah diketahuinya sebelum ia dikaitkan dengan badan. Berdasarkan itu, pengetahuan mengenai  manusia universal- yaitu ide tentang manusia secara universal – tak lain adalah  pengingatan kembali realitas abstrak yang telah kita lupakan. Kita hanya mengingatnya kembali dengan menginderai manusia tertentu atau individu tertentu yan mencerminkan realitas abstrak itu di alam materi.

 

Jadi, Konsepsi-konsepsi umum itu mendahului penginderaan. Penginderaan tidak akan terlaksana kecuali dengan proses melacak dan mengingat kembali konsepsi-konsepsi tadi. Pengatahuan-pengetahuan rasional tidak berkaitan dengan hal-hal partikular dalam alam indera. Tetapi, ia hanya berkaitan dengan realitas-realitas universal abstrak tersebut.

 

Teori ini berdasarkan atas dua proposisi berikut : Pertama; bahwa  jiwa sudah ada sebelum adanya badan di alam yang lebih tinggi daripada alam materi. Kedua; bahwa pengetahuan rasional tidak lain adalah pengetahuan tentang realitas-realitas yang tetap di alam yang lebih tinggi, yang oleh Plato disebut dengan archetypes.

 

Kedua proposisi itu salah, seperti diterangkan oleh para kritikus filsafat Plato. Jiwa, dalam arti filosofis rasional, bukanlah sesuatu yang maujud secara terpisah dalam bentuk abstarak sebelum adanya badan. Ia adalah hasil gerak substansial di dalam materi. Mula-mula jiwa mulai dengan gerak ini sebagai materi dengan sifat-sifat materi dan tunduk kepada hukum-hukum materi. Dengan sarana gerak dan proses menyempurna ini, ia menjadi wujud immaterial, tidak lagi bersifat material, dan tidak tunduk kepada hukum-hukum materi, meskipun tunduk kepada kepada hukum-hukum wujud. Konsep filsafat jiwa inilah satu-satunya konsep yang dapat menjelaskan persoalan dan dapat menafsirkan secara rasional hubungan antara jiwa dan materi, antara jiwa dan badan. Sedangkan konsep Platonik yang mengasumsikan jiwa sebagai sudah ada sebelum badan adalah konsep yang paling lemah dalam menafsirkan hubungan antara badan dan jiwa tersebut. Juga, ia tidak dapat menjelaskan kondisi-kondisi yang membuat jiwa turun dari peringkatnya sendiri ke peringkat materi.

Disamping itu, pengetahuan rasional dapat dijelaskan – dengan menyisihkan pemikiran “alam ide” dari pembahasan -, Yaitu bahwa konsep-konsep inderawi itu sama dengan konsep-konsep universal yang diketahui oleh pikiran  sesudah mengabstraksikan karakteristik-karakteristik individualnya dan menyisihkan gagasan umumnya.  Manusia universal yang kita persepsikan bukanlah realitas ideal yang sudah kita saksikan di alam yang lebih tinggi. Tetapi ia adalah bentu (form atau shurah) manusia ini atau sesudah terkena proses abstarksi yang dengan cara itu gagasan universal disarikan darinya.

 

sumber : Share dalam Group Whatsapp

 

 

 

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: