MENGOYAK EPISTEMOLOGI KAUM KIRI

Koreksi terhadap Konsepsi/Tashawwur Teori Empirikal Pegangan Kaum Marxis-Komunis

Oleh : Ayatullah Udzma Baqir Shadr

Bismillahirrahmanirrahim

Alahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ali Muhammad wa ajil farajahum

 

 

Teori empirikal mengatakan bahwa penginderaan adalah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan, dan (bahwa potensi mental akal budi) adalah potensi yang tercerminkan dalam berbagai persepsi inderawi.  Jadi, ketika kita mengiderai sesuatu, kita dapat memiliki suatu konsepsi (pengetahuan sederhana/Tashawwur) tentangnya —– yakni menangkap form dari sesuatu itu dalam akal budi kita. Adapun gagasan-gagasan yang tidak terjangkau oleh indera, tidak dapat diciptakan oleh jiwa, tak pula dapat dibangunnya secara esensial dan dalam bentuk yang berdiri sendiri.

 

Akal-Budi, berdasarkan teori ini, hanyalah mengelola konsepsi-konsepsi gagasan-gagasan inderawi. Hal itu dilakukannya dengan menyusun konsepsi-konsepsi tersebut atau membagi-baginya.  Dengan begitu, ia mengkonsepsikan  “sebungkul gunung emas”, atau membagi-bagi  “pohon” kepada potongan-potongan  dan bagian-bagian, atau dengan abstraksi dan universalisasi, misalnya dengan memisahkan  sifat-sifat dan bentuk-bentuk itu, dan mengabstraksikan  bentuk itu dari sifat-sifatnya  yang tertentu agar darinya akal dapat membentuk suatu gagasan universal.

Hal ini dapat dicontohkan  dengan upaya mengkonsepsikan Zayd, dan mengurangkan setiap kekhasan yang membedakannya  dari Amir. Dengan proses substraksi (pengurangan) ini, akal menyarikan suatu gagasan  abstrak yang berlaku,  baik atas Zayd maupun Amir.

 

Tokoh yang pertama menganut teori empirisme ini adalah  John Locke,  filosof besar Inggris yang muncul ketika konsep Descrates tentang ide-ide fitri  sedang mengalami pasang naik. Ia pun menyerang konsep-konsep itu. Untuk itu, ia membuat studi tersendiri tentang pengetahuan manusia dalam bukunya Essay on Human Understanding (Esai tentang Pemahaman Manusia). Dalam buku itu, ia berusaha mengembalikan segala konsepsi dan ide kepada indera.  Belakangan, teori ini tersebar luas di kalangan filsosf-filosof Eropa dan bahkan, sampai batas-batas tertentu, ia mampu menggugurkan teori “ide-ide fitri”. beberapa filosof kemudian mengikuti teori Jhon Locke itu sampai ke bentuknya yang ekstrem, sehingga mengarah pada filsafat-filsafat yang sangat berbahaya, seperti filsafat Berkeley  dan  Davide Hume.

 

Marxisme Komunisme sendiri mencangkok teori ini dalam menjelaskan pengetahuan manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat marxisme tentang  kesadaran manusia sebagai cerminan realitas obyektif. Jadi (menurut Teori Empirikal yang dianut Marxisme), setiap pengetahuan dapat dinisbahkan  kepada cerminan realitas tertentu. Cerminan itu terjadi melalui penginderaan. Pengetahuan atau pemikiran tidak mungkin dihubungkan dengan apa yang berada di luar batas-batas cerminan inderawi itu. Kita tidak dapat mengkonsepsikan apa pun kecuali persepsi inderawi kita, menunjukkan kepada kita realitas obyektif yang ada di alam eksternal.        

 

Kata para Marxian tentang konsepsi

 

George Politzer (Intelektual marxis dan aktifis  Komunis Perancis) berkata :

“Tetapi, apakah titik mula kesadaran atau pikiran itu ? itulah sensasi (penginderaan). Lebih jauh, sumber penginderaan yang dialami manusia berakar pada kebutuhan alaminya”  Ia juga berkata; ” jadi, pendapat marxisme  dapat berarti   bahwa tak ada sumber bagi kandungan  kesadaran kita selain partikular-partikular obyektif yang disodorkan kepada kita oleh kondisi-kondisi  eksternal tempat kita hidup. Partikular-partikular ini diberikan kepada kita lewat persepsi-persepsi inderawi”.

 

Mao Tse Tung (Ketua Partai Komunis China dan pendiri RRC) berkata :

Sumber segala pengetahuan  itu tersembunyi dalam penginderaan oleh organ-organ  penginderaan  dalam jasmani  manusia terhadap alam obyektif yang mengelilinginya. Jadi, langkah pertama dalam proses mendapatkan pengetahuan  adalah  hubungan primer  dengan lingkungan luar —– inilah tahap penginderaan —– Langkah kedua ialah akumulasi —– yakni pengurutan dan pengorganisasian —– semua pengetahuan yang telah kita dapatkan dari persepsi-persepsi inderawi

 

 

 

Teori Empirikal Menopangkan dirinya pada  Eksperimentasi

 

Teori empirikal berdasarkan atas eksperimentasi. Eksperimen-eksperimen ilmiah telah menunjukkan bahwa indera adalah yang memberikan kepada kita persepsi-persepsi (pengetahuan) yang menghasilkan konsepsi-konsepsi. Seseorang yang tidak memiliki satu macam indera tertentu tidak dapat mengkonsepsikan pengertian-pengertian yang mempunyai hubungan dengan indera tertentu tersebut .

 

Eksperimen-eksperimen tadi, jika benar, hanya membuktikan secara ilmiah bahwa indera adalah sumber pokok konsepsi. Tanpa inderawi, tidak adalah konsepsi di dalam akal manusia.

 

Kritik terhadap pandnagan diatas adalah, bahwa, eksperimen-eksperimen itu tidak menafikkan kemampuan akal budi melahirkan pengertian-pengertian baru —– yang tidak diketahui inderawi—–dari gagasan-gagasan inderawi. Jadi, tidaklah harus  bahwa semua konsepsi sederhana dilakukan oleh penginderaan terhadap gagasan-gagasannya,  seperti yang diduga oleh Teori Empirikal.

 

Dengan demikian, indera, berdasarkan eksperimen-eksperimen  tadi, adalah struktur pokok yang di atasnya konsepsi manusia dibangun.  Tetapi, ide ini tidak berarti bahwa akal hampa dari agensi dan penciptaan konsepsi-konsepsi baru berdasarkan konsepsi-konsepsi yang diturunkan dari indera.

 

Kita dapat menjelaskan kegagalan teori empirikal dalam upaya mengembalikan konsepsi-konsepsi manusia kepada indera berdasarkan studi mengenai beberapa konsep akal manusia seprti konsep-konsep kemestian, kesatuan, kebergandaan (multiplicity), wujud dan tak wujud, serta konsep-konsep serupa lainnya.

 

Kita semua tahu bahwa indera menangkap sebab dan akibat. Dengan begitu, melalui pengnglihatan kita, kita mengetahui jatuhnya pena ke atas tanah, apabila meja tempat pena itu diletakkan dijungkirkan. Kita dapat mengetahui panasnya air dengan indera raba, ketika air itu di jerang diatas api. Begitu pula kita mengetahui memuainya  benda-benda logam di udara panas. Dalam contoh-contoh itu, kita mempersepsi dua gejala yang beriringan, dan tidak mempersepsi hubungan tertentu antara  keduanya. Hubungan inilah yang kita namakan kausalitas. Yang kita maksudkan dengan Kausalitas adalah  pengaruh satu gejala  terhadap gejala lainnya dan kebutuhan gejala terakhir itu akan gejala pertama agar ia maujud.

 

Upaya-upaya untuk memperluas wilayah indera hingga mencakup kausalitas itu sendiri dan menganggapnya sebagai prinsip empirikal, adalah berdasarkan (upaya) menghindari kedalaman dan presisi dalam mengetahui lapangan indera dan apa yang dimuat olehnya, yaitu gagasan-gagasan dan batasan-batasan. Meskipun kaum empirisis berseru bahwa eksperimen-eksperimen (pengalaman-pengalaman) manusia dan eksperimental, yang berdasarkan indera, adalah yang menjelaskan prinsip kausalitas dan yang membuat kita menyadari cara keluarnya beberapa gejala material tertentu dari gejala-gejala lain yang serupa, saya berkata mereka tidak akan berhasil, selama kita mengetahui bahwa eksperimen ilmiah tak dapat mengungkapkan apa-apa dengan indera selain gejala yang beriringan.

 

Dengan meletakkan air diatas api , kita dapat mengetahui bahwa air akan semakin bertambah panas, hingga akhirnya kita mempersepsi mendidihnya air itu. Adapun bahwa mendidih itu karena suhu mencapai derajat tertentu, itu tidak dijelaskan oleh sisi empirikal eksperimen. Kalau eksperimen-eksperimen empirikal kita tak dapat mengungkapkan konsep kausalitas, lalu bagaimana pula konsep (kausalitas) itu muncul dalam akal manusia sehingga kita mengkonsepsikan serta memikirkannya ?

 

David Hume –salah seorang tokoh empirisme- lebih akurat daripada lainnya di dalam menerapkan teori empirikal. Ia mendifinisikan bahwa kausalitas, dalam arti yang sebenarnya, tak mungkin diketahui oleh inderawi. Karenanya, ia mengingkari prinsip kausalitas dan mengembalikannya kepada  “Kebiasaan pengasosiasian ide-ide”. Ia  berkata, “aku melihat bola bilyard bergerak dan menabrak bola lain yang lantas bergerak. Tapi, dalam gerak bola yang pertama, tak ada yang menampakkan kepadaku keharusan gerak bola yang kedua. Indera batin menunjukkan kepadaku bahwa gerak anggota tubuh itu mengikuti perintah kehendak. Tetapi, hal itu tidak memberikan kepadaku pengetahuan langsung mengenai hubungan yang mesti antara gerak dan perintah itu.”

 

Tetapi, mengingkari prinsip kausalitas sama sekali tidak memecahkan problema yang dihadapi empirisme. Mengingkari prinsip ini sebagai suatu realitas obyektif berarti bahwa kita tidak membenarkan kausalitas sebagai suatu hukum di antar hukum-hukum realitas obyektif, dan kita tidak dapat mengetahui apakah fenomena-fenomena dihubungkan oleh hubungan-hubungan yang mesti yang menyebabkan yang satu mempengaruhi yang lain. Tapi, prinsip kausalitas sebagai ide yang disepakati adalah sesuatu, dan prinsip kausalitas sebagai ide konseptual adalah sesuatu yang lain.

 

Anggaplah kita tidak membenarkan bahwa suatu benda menyebabkan benda terinderai yang lain, dan kita tak menyetujui konsep kausalitas itu. Apakah dengan demikian kita tidak mengkonsepsikan prinsip kausalitas juga? Nah, jika demikian, maka kita tidak memiliki konsepsi mengenai prinsip kausalitas. Jika kita tak memiliki konsepsi seperti itu, lantas apa yang dinafikkan David Hume itu ? dapatkan orang menafikkan sesuatu yang tidak dikonsepsikannya?

 

Fakta yang tak dapat di ingkari adalah bahwa kita mengkonsepsikan suatu prinsip kausalitas, baik kita benarkan atau tidak. Konsepsi kausalitas bukanlah terdiri atas konsepsi-konsepsi mengenai dua hal yang saling beriringan. Ketika kita mengkonsepsikan hubungan sebab akibat berkenaan dengan derajat suhu tertentu bagi pendidihan, kita tidak mengartikan kausasu itu sebagai suatu komposisi buatan antara dua ide: suhu dan mendidih. Melainkan, kita memaksudkan ide ke tiga di antara kedua ide tersebut, Nah, dari mana datangnya ide ketiga yang tidak diketahui oleh inderawi itu, kalau akal tidak memiliki kekuatan mencipta ide-ide tak terinderai ?

 

Kita menghadapi kemusykilan yang sama tentang konsep-konsep lain yang telah kami kemukakan tadi mengingat kesemuannya itu bukanlah konse-konsep terinderai. Karena itu, penafsiran konsepsi manusia secara empirikal murni harus ditolak, dan kita mesti  menganut teori nazhariyyah al-intiza’(teori disposesi). []

 

 Sumber : dikutip dari postingan di facebook

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: