MENGENAL ALLAH : TUHAN YANG DISAKSIKAN BUKAN TUHAN YANG DIDEFINISIKAN

Oleh : KH. Dr. Jalaludin Rahmat, M.Sc

 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ali Muhammad wa ajil farajahum

 

————–

 

Tuhan itu tak terbatas, tanpa ruang, dan tanpa waktu

Namun Dia menjadi kecil sesuai dengan pemahamanmu

Namun Dia akan datang sebatas kebutuhanmu

Namun KeluasanNya sebatas harapanmu

Namun pembicarannya sebatas keimananmu

Mereka yang yatim, Dia menjadi ayahnya dan ibunya

Mereka yang butuh saudara, Dia akan menjadi saudaranya

Mereka yang putus harapan, Dia menjadi harapan

Mereka yang tersesat, denganNya akan menemukan jalan

Mereka yang berada dalam kegelapan akan mendapatkan cahayaNya

Mereka yang sakit akan disembuhkanNya

Tuhan akan menjadi segalanya dan bersama seluruh manusia

Namun dengan syarat keyakinan, dengan syarat kesucian hati, dengan syarat kesucian ruh

Dengan syarat menjauhi perkawanan dengan setan

Cucilah hatimu dari segala keburukan

Cucilah pikiranmu dari segala pemikiran yang salah

Cucilah perkataanmu dari segala perkataan yang buruk

Karena Dia senantiasa menantimu & memanggilmu disetiap lorong-lorong keheningan malam

(Mulla Shadra)

————–

 

 

Alkisah, seorang Arab Badawi  bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulang kali  ia mencoba meletakkan karung itu di atas  punggung unta; dan berulang kali ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terkilas pada pikirannya pemecahan yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya  dengan pasir, ia merasa lega ketika kedua karung itu tergantung dengan seimbang pada kendaraannya. Segera ia berangkat ke pasar.

 

 

Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang asing yang berpakaian compang-camping dan berkaki telanjang. Ia diajak oleh orang asing itu untuk berhenti sejenak , beristirahat, dan berbincang-bincang. Sebentar saja, orang Badawi itu menyadari bahwa yang mengajaknay berbincang itu orang yang banyak pengetahuan. Ia sangat terkesan karenanya. Tiba-tiba, orang asing itu menyaksikan dua buah karung bergantung pada punggung unta.

 

“Bapak, katakan apa yang bapak angkut itu; kelihatannya sangat berat,” tanya orang asing itu. “Salah satu karung itu berisi gandum yang akan saya jual ke pasar. Satu lagi karung berisi pasir untuk menyeimbangkan keduannya pada punggung unta,” jawab orang Badawi. Sambil tertawa, orang pintar itu memberi nasehat, ” Mengapa  tidak ambil setengah dari karung yang satu dan memindahkannya ke karung yang lain. Dengan begitu, unta itu menanggung beban yang ringan dan ia dapat berjalan dengan cepat”.

 

 

Orang Badawi Takjub. Ia tidak pernah berpikir secerdik itu. Tetapi sejenak kemudian, ketakjubannya berubah menjadi kebingungan. Ia berkata, “Anda memang pintar. Tapi dengan segala kepintara ini, mengapa anda menggelandang seperti ini, tidak punya pekerjaan dan bahkan tidak punya sepatu. Mestinya kepandaian Anda yang dapat mengubah tembaga menjadi emas akan memberikan kekayaan kepada anda.”

 

 

Orang asing itu menarik napas panjang,  “jangankan sepatu, hari ini pun saya tidak punya uang sepeser pun untuk makan malam saya. Setiap hari, saya berjalan dengan kaki telanjang untuk mengemis sekerat atau dua kerat roti.”

 

 

“Lalu apa yang anda peroleh dengan seluruh kepandaian dan kecerdikan anda itu ?”. “Dari semua pelajaran dan pemikiran, aku hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa. Percayalah, semua itu hanya bercanda bagiku, bukan keberuntungan.”

 

 

Orang Badawi itu berdiri, melepaskan tali unta, dan siap-siap untuk pergi. Kepada filsuf yang kelaparan di pinggir jalan itu ia memberi nasehat, “Hai, orang yang tersesat. Menjauhlah dariku karena aku kuatir kemalanganmu akan menular kepadaku. Bawalah semua kepandaian itu sejauh-jauhnya dariku. Sekiranya dengan ilmumu kauambil satu jalan, aku akan mengambil jalan yang lain. Sekarung gandum dan sekarung pasir boleh jadi berat. tetapi itu lebih baik daripada kecerdikan yang sia-sia. Anda boleh jadi pandai, tetapi kepandaian anda itu hanya kutukan; saya boleh jadi bodoh, tetapi kebodohan saya mendatangkan berkah, karena walaupun saya tidak cerdik, tetapi hati saya dipenuhi rahmat-Nya dan jiwa saya berbakti kepada-Nya.”

 

 

Kisah Jalal al-Din Rumi, yang saya ceritakan kembali dalam bahasa saya itu, merupakan kritik halus kepada para filusuf yang berusaha mengetahui Tuhan dengan akalnya. Moral cerita itu ditutup dengan kuplet-kuplet berikut :

 

 

Jika engkau ingin derita

Benar-benar hilang dari hidupmu

Berjuanglah untuk melepaskan

‘kebijakan’ dari kepalamu

kebijakan yang lahir dari tabiat insani

tak menarik kamu lebih dari khayalan

karena kebijakan itu tidak diberkati

Yang mengalir cahaya kemuliannya

Pengetahuan dunia

hanya memberikan dugaan dan keraguan

pengetahuan tentang DIA, kebijakan rohani sejati

membuatmu naik ke atas dunia ini

Para Ilmuwan kini telah mengempaskan

semua pengorbanan diri dan kerendahan hati

Dalam kecerdikan dan permainan bahasa

Raja sejati adalah dia

Yang menguasai pikirannya

bukan dia yang pikirannya

menguasai dunia dan dirinya

 

 

Rumi menunjukkan bahwa intelek kita tidak akan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Intelek mempunyai kemampuan terbatas; dan karena itu, tidak akan mampu mencerap Tuhan yang tidak terbatas. Sekiranya intelek mencoba memahami Tuhan, ia akan memberikan batasan kepada-Nya. Tuhan para pemikir adalah Tuhan yang didefinisikan.

 

 

 

Rumi mewakili para sufi yang ingin mengetahui Tuhan melalui pengabdian, bukan pemikiran; melalui cinta, bukan kata, melalui takwa bukan hawa. Mereka tidak ingin mendifinsikan Tuhan; mereka ingin menyaksikan Tuhan. Dengan menggunakan intelek, kita hanya akan mencapai pengetahuan yang dipenuhi keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah  dan amal, kita dapat menyaksikan dengan penuh keyakinan.

 

 

Dalam Mastnawi, Daftar-e Sevon, Bait 1267, Rumi menyingkatkan pengetahuan hasil pemikiran: Az nazar keh guftesyan syud mukhtalif, an yeki dales laqb dad in alef. Karena ucapan mereka bertentangan, kata yang satu dal kata yang satu alif. Seperti kucing Schroedinger dalam fisika, pengamat menciptakan realitas. Tuhan menjadi satu konstruksi manusia. Tuhan dapat muncul dalam berbagai “bentuk” sesuai dengan siapa yang memahami-Nya.

 

 

Seperti Rumi, Ibnu ‘Arabi’  menunjukkan kekeliruan pengetahuan tentang Tuhan yang dilakukan oleh oleh para filusuf dan ahli kalam. Pemikiran tidak mungkin mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan; malahan pemikiran seperti itu hanya menghasilkan tipuan, khayalan, dan pertentangan. Ia menulis:

 

” Pengetahuan ahli ilmu kalam dan filsuf berkenaan dengan esensi Tuhan bukanlah cahaya. Tidak ada satu mazhab pun yang tidak punya pendukung. Mereka sendiri tidak  sepakat, tetapi mereka tetap juga digambarkan sebagai kaum Mu’tazilah atau Asy’ariyah, seperti itu juga pada filsuf dalam ajaran mereka tentang Tuhan dan apa yang harus dipercayainya. Mereka belum sepakat di antara mereka tidak pernah berikhtilaf dalam akar keimanan mereka pada Tuhan… Jadi, berpegang teguh kepada keimanan dan lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu dan ingat Tuhanmu pada waktu pagi dan seore (QS. Al A’raf : 205) dengan dzikir yang ditetapkan syariat kepadamu, baik dengan mengulangi la ilaha illa Allah (tahlil) atau tasbih dan takutlah kepada Tuhan. Jika al-Haqq berkehendak untuk memberikan kepadamu apa yang DIA inginkan berupa pengetahuan tentang DIA, hadirkan akalmu dan hatimu (lubb) apa yang DIA berikan dan anugerahkan kepadamu berupa pengetahuan tentang DIA. Sesungguhnya inilah pengetahuan yang bermanfaat dan cahaya yang dengan itu hatimu hidup, dan berjalan bersamamu di dunia ini. Dengannya kamu selamat dari kegelapan syubhat dan keraguan yang terjadi pada pengetahuan yang dihasilkan pada pemikiran (afkar)… saya sudah membimbingmu, saudara, bagaimana mencapai jalan yang lurus, ketahuilah bahwa Tuhan sudah membimbing tanganmu, memeliharamu dan telah mempersiapkan kamu untuk diri-Nya”.

 

 

Pada tempat lain Ibn ‘Arabi menulis :

 

 

“Diantara berbagai kelompok, tidak ada seorangpun yang lebih tinggi daripada orang yang memperoleh pengetahuan melalui takwa. Takwa terletak pada tingkat pencapaian pengetahuan yang paling tinggi. Ia saja yang memiliki keputusan yang pasti. Otoritasnya  berada di atas setiap keputusan yang ada dan di atas setiap orang yang membuat keputusan. Ia adalah qadhi yang baik. Pengetahuan ini tidak dapat diperoleh pada pengetahuan tingkat permulaan. Karena itu, hanya orang yang berilmu di antara orang beriman yang dipilih untuk memperolehnya; yakni, mereka yang tahu bahwa ada seseorang untuk kembali, dan menyaksikan-Nya dapat diraih. Jika mereka jahil dari pengetahuan ini, aspirasinya (himmah) akan sangat lemah sehingga sekiranya al-Haqq menampakkan diri-Nya (tajalli) kepada mereka, mereka akan menafikan-Nya dan menolak-Nya. Karena pandangan mereka dibatasi (muqayyad) oleh sesuatu. Selama faktor pembatas itu tidak ada pada waktu penampakan diri-Nya (tajalli) mereka pasti akan menolak bahwa itu adalah Tuhan, sekalipun berbicara kepada mereka secara langsung atau mereka mendengar ucapan bahwa DIA itu Tuhan. Karena tidak memperoleh ilham dan rasional mereka meyakinkan mereka bahwa siapa pun  tidak bisa melihat al-Haqq seperti para filusuf Mu’tazilah-bahkan sekiranya kita mengetahui-Nya, mereka niscaya menolak-Nya dalam penampakan-Nya kepada mereka. Diperlukan bagi orang yang beriman agar cahaya imannya membawanya kepada apa yang telah membawa Musa as ketika ia bertanya : ‘Ya Tuhanku, tampakkan diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu (QS. Al-A’raf:143)”.

 

 

 

Apa yang dikritik Ibn ‘Arabi’ dan para sufi lainnya bukan intelek dalam pengertian akal, tetapi salah satu fakultas (quwwah) di bawah kekuasaan akal. Kekuatan itu disebut daya pikir (quwwah mufakkirah).  Tidak mungkin kita membahas epistemologi Ibn ‘Arabi disini, baik karena keterbatasan waktu maupun karena adanya tulisan orang lain yang lebih lengkap. Tetapi secara singkat bisa kita katakan, bahwa Ibn ‘Arabi menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanya diperoleh bila intelek dihadapkan kepada hati dan mengambil pelajaran dari hati.

 

 

 

Sekali intelek diyakinkan tentang perlunya mengambil pelajaran dari hati, manusia memulai kelahiran baru dalam pelajaran panjuangnya. Ia akan beristirahat di tempat tinggalnya, berhenti di daerah-daerah pedesaan, merasa sesuatu baru setiap saat, menunggu dengan gairah apa yang bakal datang, tetapi dia tidak akan pernah sampai, karena pengetahuan tidak punya akhir dan tidak ada batasnya.

 

 

Pengetahuan yang diperoleh melalui hati adalah pengetahuan sejati. Pengetahuan ini tidak didasarkan pada pendifinisian Tuhan, tetapi pada penyaksian Tuhan.  Dalam Istilah Al Qur’an pengetahuan ini disebut pertemuan (liqa’). Bersama Ibn ‘Arabi, Al-Ghazali, Al Nasafi, dan tokoh-tokoh sufi lain sepanjang zaman kita diberi petunjuk bagaimana sampai kepada pertemuan agung ini.

 

 

 

Syaikh Ahmad Rifai al-Husayni, tokoh sufi yang hidup pada abad ke -6H, menuturkan :

 

 

“Kebanyakan orang mengetahui Tuhan melalui berita Tauhid yang dibawa dari Nabi Muhammad saaw, mereka membenarkannya dengan hati, mengamalkan dengan tubuh, tetapi mengotori diri mereka dengan dosa dan maksiat. Maka hiduplah mereka di dunia dalam kebodohan dan kekurangan. Mereka berada dalam bahaya besar kecuali yang disayang oleh Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.

 

 

Lebih tinggi dari itu, ada sekelompok manusia yang mengetahui Tuhan dengan pembuktian. Mereka adalah ahli pikir, nalar, dan akal. Mereka meyakini tauhid berdasarkan dalil, ayat-ayat, dan tanda-tanda ketuhanan. Mengetahui yang gaib atas dasar yang kongkret. Mereka meyakini kebenaran dalil. Mereka berada pada jalan yang benar, hanya saja, mereka terhalang tirai dari Allah dengan perhatian mereka kepada dalil-dalil mereka.

 

 

Ahli makrifat khusus mengetahuinya dengan keyakinan yang paling utama. Mereka tentram dalam pengetahuan mereka. Tidak merisaukan mereka dalil. Tidak memalingkan mereka sebab. Dalil mereka Rasulullah saaw, iman mereka Al Qur’an, cahaya menerangi di hadapan mereka.

 

 

Barangsiapa mengenal Allah swt, berdasarkan berita maka ia seperti saudara-saudara Yusuf as ketika mengetahui rupanya tetapi tidak menyadarinya, sehingga mereka dipermalukan di hadapannya, ketika mereka berkata : “Jika ia mencuri maka sesungguhnya saudaranya telah mencuri pula sebelum itu” (QS. Yusuf:77).

 

 

 

Barangsiapa mengenal Allah dengan dalil maka mereka seperti Ya’qub as ketika tahu bahwa Yusuf masih hidup, sehingga bertambah-tambah tangisan dan penderitaannya, sehingga ditanggungnya berbagai bala sampai putih matanya karena kesedihan, karena tahu Yusuf masih hidup, dan karena rindu untuk berjumpa dengannya. Ia berkata; “Pergilah selidiki keadaan Yusuf, aku sudah mencium bau Yusuf .” karena ucapannya itu orang-orang tidak tahu berkata : “Demi Allah sesungguhnya engkau dalam kesesatan terdahulu (QS. Yusuf :59). Mereka berkata : “Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang celaka”. (QS. Yusuf: 85).

 

 

 

Perumpamaan orang yang mengenal Tuhan melalui Tuhan adalah seperti Bunyamin yang diambil Yusuf untuk dirinya. Yusuf berkata : “Saudaraku, apakah kamu ingin menyaksikanku atau kembali kepada bapakmu?”, ia berkata : “Aku ingin menyaksikanmu”. Yusuf berkata :”Jika kamu menginginkan aku, bersabarlah atas ujianku”. Ia berkata : “Aku siap, karena engkau akan kupikul segala bencana asalkan aku tinggal bersamamu dan tidak berpisah denganmu”. Kemudian Yusuf mengeluarkan gandum dari kantung Bunyamin dan menuduh saudaranya mencuri. Seluruh penduduk mengecam dan mengejek Bunyamin. Saudara-saudaranya mempersalahkannya. Tetapi ia sendiri bergembira, tertawa dalam kesedihannya. Ia tidak takut pada ejekan orang-orang yang mengejeknya. Inilah perumpamaan ahlul yaqin dalam pengetahuan mereka tentang Tuhan.[]

 

————–

Ditulis oleh : KH. Prof. Dr. Jalaludin Rahamat, M.Sc dalam buku  Islam dan Pluralisme Akhlaq Qur’an menyikapi perbedaan, halaman 103-117

 Sumber : Share dari Group Whatsapp

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: