DOA DAN PENDERITAAN

Oleh. KH. Dr. Jalaludin Rahmat, M.Sc

 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ali Muhammad wa ajil farajahum

 

Alkisah, ada seorang sufi berkunjung kepada temannya yang sufi. Temannya itu kebetulan sakit dan ia mengeluh tentang sakit yang dideritanya. Sufi yang datang menengok itu berkata, “Bukan seorang pecinta sejati bila ia mengeluhkan penyakit yang diberikan kekasihnya”. Lalu sufi yang sakit itu menjawab, “Bukan seorang pecinta sejati bila ia tidak menikmati pemberian kekasih sejati“.

 

Dari cerita diatas kita dapat menarik pelajaran berharga  bahwa hendaknya kita harus mengubah persepsi tentang sakit yang pernah kita alami. Persepsi kita selama ini adalah menganggap sakit itu sebagai suatu penderitaan yang diberikan Allah kepada kita. Dari anggapan ini  kita berkesimpulan bahwa Allah tidak mencintai kita lagi. Sikap yang bijak adalah menikmati keindahan sakit seperti yang dialami sufi tadi.

Menikmati bukan berarti berdiam, pasrah tanpa tindakan, tapi merenung lebih dalam akan hakekat sakit yang diberikan Allah. Proses perenungan ini akan menghasilkan nilai atau pandangan yang akan mendatangkan kenikmatan bagi kita. Dan kita akan tahu betapa nikmatnya merasakan cinta Allah dalam bentuk sakit.

 

Sufi itu juga mengajarkan kepada kita  hendaknya tabah dalam menerima cobaan Allah. Penderitaan akan mengantarkan kita pada posisi mendekati Allah dan membuka pintu kasih sayang Allah, bukankah Imam ja’far ash shadiq sa pernah berkata, Kalau seseorang dalam kesedihan, bergegaslah berdoa. Karena pada saat itulah Allah akan mengijabah doa orang itu”.

 

Rahmat Allah datang mendekat ketika kita sedang didera derita. Timpaan derita perlahan-lahan akan membuat hati kita menjadi lebih lembut dan dekat dengan Allah. Jika pada kondisi seperti ini kita berdoa, Insya Allah Tuhan membuka pintu ijabah-Nya.

 

Kadang kita tidak tahan dengan penderitaan yang menimpa. Kita tidak sabar sehingga kita menganggap Allah tidak adil. Kita mencerca Allah dan berkata Allah sedang menjauhkan kasih sayang-Nya dari kita. Dalam ilmu jiwa, hal semacam ini disebut sebagai orang yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah. Kesabaran atau emosi orang itu lemah. Kita tuding Allah dengan emosi kekesalan. Kita tidak menilai Allah dengan kelembutan cinta dan hati yang bersih. Tidak tahukah kita, bahwa kasih sayang dan keadilan Allah sungguh lebih besar dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya ?.

 

Pernah suatu hari Rasul bersama para sahabat dalam perjalanan kembali dari perang melihat seorang ibu lari menyeruak ke tengah-tengah bekas pertempuran. Ia gelisah. Di wajahnya tersimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia sedang mencari puteranya. Ia berlari dihadang debu yang berterbangan disapu angin. Akhirnya ia menemukan putranya itu. Ia dekap putranya dengan kerinduan dan kecemasan. Diberinya air minum. Matahari menyengat panas mengenai kulit anak itu. Dengan perlahan ibu itu menggerakkan tubuhnya, ia hadang sengatan matahari itu dengan punggungnya. Rasul menyaksikan kejadian itu, lalu beliau saaw bersabda pada sahabat, “Lihat betapa sayangnya ibu ini kepada anaknya. Mungkinkah ibu itu melemparkan anaknya ke api neraka ?” Para sahabat menjawab; “Tidak mungkin, ya Rasulullah”, Lalu Rasulullah saaw bersabda; “Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu”.

 

Rasulullah saaw pernah didatangi oleh seorang sahabt. Ia berkata, “Ya Rasulullah, harta saya hilang dan tubuh saya sakit.”  Lalu Nabi saaw berkata;  Tidak ada baiknya orang yang tidak  pernah hilang hartanya dan sakit badannya. Sesungguhnya jika Allah mencintai hambanya ia akan coba hambanya dengan berbagai penderitaan”.  Orang yang pernah kehilangan dan kesakitan menurut Rasulullah saaw ada nilai kebaikan di dalamnya. Kebaikan bisa berarti tambah lembutnya hati dan mengantarkan kita untuk terus berdoa, Allah berfirmandalam hadits qudsi; “Rintihan seorang mukmin lebih disukai Allah daripada gemuruh suara tasbih.”

 

Setiap saat kita mengalami penderitaan atau memerlukan sesuatu pada Allah. Doa adalah sarana utama untuk mencapai dan mengangkat keinginan kita itu. Jika kita menyelidiki doa-doa dalam wacana kehidupan manusia, ada keterkaitan yang erat antara doa dan penderitaan.

 

Doa juga memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri ini menjadikan doa memiliki jenis atau tingkatan tertentu. Di sisi lain jenis doa menunjukkan tingkat perkembangan ruhani seseorang. Jenis doa itu adalah, Pertama, doa yang paling rendah tingkatannya yaitu doa yang berisi tentang sesuat yang berhubungan dengan diri manusia yang sifatnya khusus. Seperti doa: Ya Allah kayakan aku, sehatkan badanku, dan bukakan pintu keberuntungan untukku. Isi doa itu berkenaan dengan dengan kepentingan pribadi. Biasanya doa jenis  ini  bercirikan adanya kalimat perintah kepada Allah agar Dia berkhidmat kepadanya. Kebanyakan di antara kita menerapkan jenis doa seperti ini. Doa ini secara langsung mengidentifikasi tingkat ruhani kita yang masih rendah. Kita letakkan kepentingan kita di atas segalanya di hadapan Allah. Kita lupa bahwa mengagungkan Allah jauh lebih penting didahulukan daripada kepentingan pribadi.

 

jenis doa kedua, adalah jenis doa yang menunjukkan adanya pengakuan kehinaan diri dan mengagungkan Allah. Jenis  ini seperti doa Nabi Yunus as : “Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yan zalim.” (QS. Al Anbiya:87) atau Doa Nabi Adam as : “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscayalah kami termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Al A’raf:23).

 

Doa jenis Ketiga adalah doa yang menunjukkan adanya cinta kasih hamba kepada Allah. Doa ini dipenuhi oleh jeritan rindu hamba kepada kekasihnya. Doanya berisi penyerahan total segala curahan jiwa yang ia khususkan untuk Allah saja. Jenis doa ini, seperti yang kita ketahui, banyak dilantunkan oleh bibir-bibir suci Ahlul Bait Nabi saaw. Simaklah doa Imam Ali Zaenal Abidin dalam Shahifah Sajjadiyah, pada   doa penempuh jalan tarekat :

 

Ya Allah

untuk-Mu  saja segala tercurah himmahku

kepada-Mu jua terpusat hasratku

hanya Engkaulah  tempat kedambaanku, tidak yang lain

Karena-Mu saja aku tegak terjaga, tidak karena yang lain

Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku

Pertemuan dengan-Mu kecintaan diriku

kepada-Mu kedambaanku

pada cinta-Mu tumpuanku

pada kasih-Mu seluruh rinduku

 

Isi doa diatas menunjukkan betapa kepentingan pribadi ia letakkan pada tempat yang paling bawah dari kerinduan cinta dan keagungan kekasihnya, Allah swt. Jelaslah bahwa orang seperti dia maqam ruhaninya sangat dekat dengan Allah.

 

Jenis doa kedua dan ketiga terkadang menyatu dalam satu doa. Di dalamnya menunjukkan adanya pengakuan kelemahan dan kehinaan diri, pengagungan kepada kekasihnya, dan cinta kasih seorang hamba yang ia khususkan tidak kepada selain Allah. Hal ini dapat dilihat lagi dalam doa Imam sajjad dalam shahifah sajjadiyyah:

 

Ya Allah

kepada-Mu terpaut hati yang dipenuhi cinta

untuk mengenal-Mu dihimpunkan semua akal yang berbeda

Tidak tenang kalbu kecuali dengan mengingat-Mu

Tidak tentram  jiwa kecuali dengan memandang-Mu

Engkaulah yang ditasbihkan di semua tempat

yang disembah di setiap zaman

yang maujud diseluruh waktu

yang diseru oleh setiap lisan

yang dibesarkan dalam setiap hati

 

Ada orang diantara kita yang tidak pernah merasa menderita. Ia malu mengakui penderitaanya dihadapan Allah. Ia merasa cukup akan keadaan dirinya. Bahkan ia tidak menyeru Allah dalam kondisi yang mengkhawatirkannya. Biasanya orang seperti ini hatinya keras membatu. Orang seperti ini kalau berdoa tidak akan pernah khusyuk karena dirinya selalu merasa cukup.

 

Sikap yang paling baik adalah membiasakan diri kita untuk mengakui kelemahan kita dihadapan-Nya dan belajar untuk lebih dekat merasakan penderitaan orang-orang yang lapar, tertindas, yatim piatu, dan orang yang terpenjara karena menegakkan amar makruf nahi munkar.

 

Melalui proses belajar inilah kita akan diantar ke arah lembutnya hati, yang ketika berdoa, Allah akan membuka pintu ijabah-Nya. Kita raih cinta Allah lewat belajar berempati agar ketika kita berdoa, kita dapat mengucapkan :

 

Ya Allah

Jadikanlah aku pecinta sejati kepada-Mu

Bukalah tabir penutup cintaku pada-Mu dengan ampunan-Mu

 

Kita berucap seperti ucapan yang ditulis dalam syair Ibnu Farid;

 

BIla aku mati karena cinta-Nya, aku hidup karena Dia

lewat penyangkalan diri

dan melimpahnya kemiskinanku

inilah cinta

nafsuku bukan benda nyata

dam ia yang fana mesti memilih-Nya

jika seang tergila-gila

Hidup adalah lamunan bebas

bagi cinta dan duka

Mula-mula terasa sakit, lalu mati

namun maut adalah milik nafsu cinta

ia hidup dimana kekasihku melimpahkan berkah

sebagai rahmat

Jika perpisahan adalah upah yang kuperoleh darimu

dan tiada jarak lagi diantara kita

kau sebut perpisahan sebagai persatuan

Tiada penolakan selain cinta

selama kau tak membencinya

dan rasa enggan, kesukaran apa pun

akan mudah dipikul

derita yang menyiksa kita terasa nikmat

ketakadilan yang diperbuat cinta adalah keadilan

dan kesabaranku

tanpa kau dan denganmu

akan menjadikan yang pahit terasa manis bagiku

 

Melihat tingkatan jenis doa di atas kita akan tahu di mana posisi kita. Karena dengan indikasi doa diatas, kita akan mengenal di mana tingkatan ruhani kita yang sedang kita pijak. Doa menunjukkan tingkatan seseorang dalam mengembangkan potensi ruhani mendekati Allah. Jika seseorang sudah dapat mengembangkan potensi ruhaninya  dengan baik, dengan menempatkan doa kita  sebagai curahan kerendahan diri serta pengakuan akan keagungan Allah maka cinta Allah akan mudah kita capai karena tingkat ruhani kita mengarah kepada-Nya lebih dekat. Dengan kata lain, perlakukanlah Allah dengan doa-doa yang akan menebarkan cinta-Nya kepada kita [].

 

di kutip dari postingan di facebook

Iklan

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: