BERDOA DENGAN KEBERADABAN

Oleh : Dr. Jalaludin Rahmat, Msc

 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ali Muhammad wa ajil farajahum

 

 

Kita akan berbicara tentang doa dalam prespektif kecintaan. Di dalamnya kita akan membicarakan hakikat doa, macam-macam doa, dan adab berdoa. Karena berhubungan dengan mahabbah (kecintaan), kita akan berbicara tentang doa dalam kaitannya dengan kita-kiat meraih cinta Tuhan. Belajar mencitai Allah. Kiat ini ada kaitannya juga dengan Tombo Ati-nya Emha Ainun Nadjib; mengurangi makan, banyak bergaul dengan orang saleh, dan lain-lain.  Ada lagi sebenarnya yang tak kalah penting, yaitu menjauhi banyak bicara.

 

 

Dalam bahasa arab, banyak bicara disebut dengan fudhul al-kalam. Fudhul artinya kelebihan. Kelebihan sesuatu disebut fadha’il atau fadhilah. Fudhul  al-mal artinya kelebihan harta. Fudhul al-kalam artinya kelebihan pembicaraan, yaitu memanjang-manjangkan perkataan tetapi isinya sedikit; penyakit yang diderita oleh orang seperti saya dan para mubaligh. Sangat sulit mendekati Tuhan dengan adanya fudhul al kalam ini.

 

Nabi saaw berabda

“Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan tanpa ada dzikrullah di dalamnya. Banyak berbicara tanpa zikir kepada Allah akan memperkeras hati. Manusia yang paling jauh dari Allah ialah yang hatinya keras. Salah satu penyebab hati menjadi keras adalah berbicara tanpa dzikrullah di dalamnya”

 

Di dalam Al Qur’an Allah swt berfirman, “Tidak ada baiknya obrlan kalian itu kecuali kalau dalam obrolan itu ada perintah untuk beramal shaleh (untuk bersedekah) dan untuk amar makruf nahi munkar. Di luar itu, tidak ad kebaikannya obrolan tersebut”

 

 

Di antara tanda para muhibbin (pencinta Allah) adalah muhasabah (mengoreksi diri).

 

Imam Musa al Kadzim sa  berkata ;

“Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menghisab (mengkoreksi) dirinya setiap hari. kalau beramal baik, dia mengharapkan kelebihannya dari Allah; kalau beramal jelek, dia meminta ampunan kepada Allah, dan dia bertobat kepada-Nya”.

 

Rasulullah saaw pernah menasehati Abu Dzar al Ghifari ra;

“Abu Dzar, seseorang belum menjadi orang yang bertakwa sebelum dia memeriksa dirinya lebih keras daripada seorang pedagang kepada mitra dagangnya, sehingga dia harus tahu dari mana dia memperoleh makanannya; dari mana dia memperoleh pakaiannya; dan dari mana dia memperoleh minumannya; apakah halal atau haram”.

 

 

Muhasabah  adalah proses pemeriksaan diri yang dilakukan secara teratur. Jadi, setiap hari kita harus muhasabah. Waktu terbaik dalam melakukan muhasabah adalah sebelum tidur pada malam hari. Kita memikirkan apa yang kita lakukan pada hari ini; kita periksa, kita timbang -mana yang lebih baik; amal baik atau amal buruk ? dalam sebuah hadis

 

Nabi saaw bersabda :

“Siapa saja yang sudah mencapai umur 40 tahun namun kebaikannya tidak melebihi kejelekannya, setan mencium diantara dahinya” (Dalam riwayat lain Nabi saaw berkata : “Siapkan tempat tinggalnya di neraka”)

 

Saya sudah mencapai 40 tahun lebih, dan mestinya saya harus menghitung-hitung, apakah kebaikan saya sama dengan kejelekan saya ? Kalau sama, berarti saya sudah dicium setan setiap hari. Kalau lebih jelek lagi, mungkin sudah tidak dicium setan lagi, tetapi sudah menjadi setan sekaligus.

 

 

Cukupkah muhasabah? tidak. Ada tingkatan berikutnya: muraqabah.  Namun, ada dua macam muraqabah di kalangan para muhibbin:

 

Kita mengabdi kepada Allah seakan-akan kita melihat Allah, atau kalau kita tidak merasa melihat-Nya, Allah memperhatikan kita. Kita membayangkan bahwa Tuhan selalu mengawasi kita. Mengawasi, dalam bahasa arabnya, raqaba. Dalam Al Qur’an ada kalimat : Wakanallahu ‘ala Kulli syaiy’in raqiba (Allah mengawasi segala sesuatu). Yang jadi persoalan ialah kita tidak merasa diawasi Allah swt. Oleh karena itu, teruslah berlatih bahwa kita selalu diperhatikan, selalu diawasi oleh Allah swt. Pada setiap saat, bahkan setiap kali kita menarik nafas.

 

Ada hadis indah ketika Allah berbicara kepada Rasulullah saaw  pada malam Mikraj. Hadis ini sering dijadikan rujukan para sufi karena mengajarkan bagaimana kita mencintai Allah. Hadis ini juga merupakan percakapan antara Tuhan dengan kekasih-Nya. terjemahan hadis itu sebagai berikut :

 

“Tuhan berfirman : “Ahmad, tahukah engkau tentang hidup yang paling bahagia dan yang paling kekal ?”

 

Rasulullah saaw menjawab, “Ya Allah, tidak”

 

Allah berfirman : “Hidup yang paling bahagia adalah kehidupan seseorang yang  tidak melupakan zikir kepada-KU, yang tidak melupakan nikmat-Ku dan yang tidak jahil dari-KU. Dia menggunakan siang dan malamnya untuk mencari ridha-KU. Sementara hidup yang abadi adalah kehidupan seseorang yang memandang dunia itu dengan rendah, sehingga dunia kecil di hadapan kedua matanya. Pada saat yang sama, ia membesarkan akherat. Orang itu juga mendahulukan kehendak-KU, daripada kehendaknya. Dia mencari ridha-KU, membesarkan hak-hak-KU, dan melakukan muraqabah siang dan malam dari setiap perbuatan jelek dan kemaksiatan yang dilakukannya. Dari hatinya dia menafikkan apa yang AKU benci. Dia membenci  setan dan segala godaannya. Dia tidak memberikan jalan bagi iblis  dalam hatinya sebagai penguasa. Bahkan, dia memberikan jalan masuk dalam hatinya untuk cinta,sehingga AKU menjadikan seluruh hatinya terpaut kepada-KU; sibuk dengan diri-KU; dan lidahnya bergumam dengan segala anugerah-KU yang Aku berikan kepada setiap kecintaan-KU di antara makhluk-makhluk-KU. AKU membuka mata hati dan pendengarannya, sampai dia mendengar dan melihat dengan mata hatinya pada kebesaran-KU…”

 

 

Yang terakhir, yang ada hubungannya dengan doa, ialah adab kita kepada Allah. Kita harus mempunyai adab tertentu di hadapan Allah.

 

Nabi Isa as  diriwayatkan pernah bersabda:

“Janganlah kamu berkata bahwa ilmu itu ada di langit, sehingga yang naik ke langit pasti mendapat ilmu itu; janganlah pula kamu berfikir ilmu itu ada di perut bumi, siapa saja yang masuk ke dalamnya akan memperoleh ilmu itu. Ilmu itu tersembunyi di dalam hati nuranimu. Beradablah dihadapan Allah dengan adab kaum ruhaniyyin. Berakhlaklah di hadapan Allah dengan akhlak kaum shiddiqin. Kelak ilmu akan memancar dari hatimu. Allah akan memberikan ilmu kepadamu dan memenuhi hatimu dengan ilmu”

 

 

Melihat riwayat diatas, secara tidak langsung adab adalah perintah Allah. Beradablah di hadapan Allah swt. Apa tanda beradab di hadapan Allah ? Ada sebuah hadis Qudsi yang mengejutkan saya ketika saya membacanya;

 

“Hamba-KU, apakah memang perbuatan kamu, menyuruh AKU tetapi perhatianmu ke kanan dan ke kiri. Kemudian kamu berbicara dengan sesama hamba-KU yang lain, mengarahkan seluruh perhatianmu kepadanya dan meninggalkan AKU?”

 

Adab kepada Allah ialah sebagaimana kita beradab dalam berbicara dengan sesama manusia. Ketika berbicara dengan sesama, kita akan memusatkan perhatian kita padanya dan tidak melihat kekanan dan kekiri. Sebaliknya, ketika kita bermunajat kepada Allah swt, perhatian kita kemana-mana, perhatian kita tercurah kepada makhluk lain dan lupa kepada Sang Khalik yang kita hadapi. Elokkah kita menghadap  Tuhan sementara perhatian kita kesana-kemari ?

 

 

Diriwayatkan bahwapada  suatu Nabi keluar untuk meninjau ternak dan gembalanya. Ada seorang gembala di situ yang melepaskan pakaiannya. Begitu melihat Nabi datang, dia buru-buru memakai bajunya kembali, Lalu Nabi berkata, “Teruskan saja, Kami ini Ahlul Bait. Kami tidak akan memperkerjakan orang yang tidak beradab dihadapan Allah dan tidak malu dalam kesendirianya di hadapan Allah”.

 

Bagi orang itu, malu itu kalau ada orang saja; sementara di hadapan Allah dia tidak malu. Hal ini juga ada hubungannya dengan yang kita bicarakan di sini, yakni adab dalam berdoa.

 

 

Al Quran memberikan contoh adab dalam berdo’a. Misalnya, doa Nabi Ayyub as ketika menderita sebuah penyakit. Do’a Nabi Ayyub as, “Tuhanku, kesengsaraan menimpaku sekarang ini, sementara Engkau Maha Pengasih dari segala yang mengasihi”.

 

 

Itulah doa Nabi Ayyub. Lihatlah, dalam doa itu Nabi Ayyub tidak mengatakan, “Tuhanku, Engkau menimpakan kepadaku penderitaan ini. Sayangilah aku.”

Tidak ada kata perintah dalam doa itu. Itulah adab berdoa.Tidak ada kalimat perintah kepada Allah swt. Tidak ada fi’il amr di situ, tetapi yang disebut adalah nama Allah. Walaupun yang menguji Allah, Nabi Ayyub tidak langsung berdoa dengan menuduh, “Tuhanku, Engkau menimpakan penderitaan kepadaku”.

 

 

Ada juga doa Nabi Ibrahim, “Apabila aku sakit, DIAlah yang memberikan kesembuhan”. Nabi Ibrahim tidak mengatakan, “Kalau Engkau yang menimpakan sakit kepadaku, Engkaulah yang menyembuhkanku”. Beliau hanya menyebutkan, “Kalau aku sakit,…”

 

 

Lihat juga doa Nabi Adam as, “Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi”.

 

 

Tidak ada kalimat perintah dalam doa-doa  para panutan kita itu. Dan, itulah doa yang beradab. Di Indonesia , kita sering mendengar doa-doa resmi dalam acara di kantor-kantor yang seluruhnya berisi perintah kepada Tuhan. Maklum, yang berdoa para pejabat di kantor, sehingga dia menganggap Tuhan anak buahnya yang harus diperintah. “Tuhan, lunakkan hati para inspektur, sehingga Bandung dapat memperoleh Satya Purna Karya Nugraha”. Kita akan segera membahas hal ini.

 

 

Salahkah doa seperti itu ? Tidak, Itu tidak salah, tetapi kurang beradab. Termasuk adab dalam berdoa ialah tidak meminta hal-hal yang sangat spesifik, mendikte Tuhan bahwa itulah yang paling baik bagi kita. Misalnya, jangan dikatakan, “Tuhan, sembuhkanlah saya”, tetapi katakanlah, “Duhai Sang Maha Penyembuh”.

 

 

Bahkan, katanya, lebih beradab lagi kalau kita berdoa dengan hal-hal yang bersifat umum dan kita memasukkan ke dalam doa itu bukan saja diri kita sendiri, tetapi juga kaum muslimin dan muslimah seluruhnya.

 

 

Kata doa berasal dari kata da’a, yad’u, du’a’an, atau da’watan. Da’wah juga artinya doa, karena baik doa maupun dakwah artinya panggilan, seruan, atau bisa juga berarti undangan. Karena hubungan kita dengan Allah itu sama-hal ini pernah diceritakan bahwa Tuhan memanggil kita dan kita pun memanggil DIA-maka hakekat doa adalah saling memanggil di antara dua kekasih

 

 

Macam-Macam Doa

Ada beragam tingkatan dalam doa. Yang paling awal, tentu saja, doa orang-orang awam. Doa ini ditandai dengan perintah-perintah, seperti yang kita lihat di muka. Yang diharapkan dari doa itu isinya : (1) Agar diberi sesuatu, mengharapkan sesuatu, atau takut pada sesuatu; (2)  agar dilindungi. Doa macam ini berbunyi, kurang lebih, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-MU surga dan berlindung kepada-MU dari api neraka”.

 

 

Doa pada tingkat ini  mengharapkan ganjaran dan dijauhkan dari siksaan; mengharapkan keberuntungan dan dijauhkan dari bencana; mengharapkan harta yang banyak dan depositonya diselamatkan. Jadi, seluruhnya berada di atara ganjaran dan hukuman.

 

 

Beribadah dengan mengharapkan ganjaran atau takut siksa sebetulnya boleh-boleh saja (Al Qur’an dan hadis juga sering mengiming-imingi kita dengan pahala dan siksa). Misalnya, barangsiapa membaca surah Ya Sin, dia akn memperoleh penjagaan dan keberuntungan; barang siapa yang berangkat dari rumah dalam keadaan wudhu, kemudian shalat dua rekaat di masjid Quba, maka nilai ibadahnya sama dengan orang yang umrah bersama Rasulullah saaw. Dalam surah Ali Imran ayat 133 Allah menawarkan surga kepada kita :

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertakwa” (QS Ali Imran : 133)

 

 

Namun, semua itu tidak lebih sebagai pemantik. Sebagaiamana usia dan mental seseorang yang terus mengalami pendewasaan, sikap keberagamaan kita pun mestinya meningkat. Jika pada tingkat awam semula apa yang kita kerjakan karena tergiur ganjaran, maka pada tingkat selanjutnya kita melakukan sesuatu karena sadar dan mengharapkan lebih dari sekedar ganjaran atau hukuman. Bahkan pada tingkat khawas atau tingkatan spiritual paling tinggi, semua bentuk amal yang kita lakukan untuk melayani kepentingan sendiri adalah kemusyrikan. Istilah musyrik di sini tidak mengerikan seperti musyrik yang biasa kita sebutkan. Biasanya kita menggunakan kata musyrik untuk mengeluarkan orang yang berbeda paham dengan kita.

 

 

 

Musyrik berasal dari kata syaraka yang berarti menyekutukan. Ketika kita meletakkan apa pun selain Allah di dalam ibadah-ibadah kita, maka kita telak melakukan perbuatan syirik. Begitu juga ketika mengikutsertakan kepentingan-kepentingan lain dalam ibadah kita, seperti kepentingan untuk mendapatkan pahala atau surga. Dalam buku  Imam Khomaini mereka disebut sebagai orang yang belum keluar dari “rumah”nya. Pada Bab pertama buku itu dikutip : man yakhruju minbatihi, muhajiran ila Allahi wa rasulihi; Barangsiapa yang keluar dari rumahnya menuju Allah dan rasul-Nya (QS. An Nisa:100).

 

 

“Rumah” yang paling berat kita tinggalkan adalah ego kita. Kepentingan-kepentingan keakuan kita. Dalam ibadah pun egoisme kita tampak dengan sangat jelas, sebagaimana tampak pada penggunaan kata-kata perintah, fiil amar, dalam doa-doa kita.

 

 

Sara Sviri, menulis sebuah buku berjudul  The Taste of Hidden Thing. Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana merasakan hal-hal yang tersembunyi. Dia bercerita bahwa dalam perjalanan kita menuju Allah swt, pada saat kita sudah masuk pintu masuk ke rumah DIA, kita selalu bertubrukan dengan ego kita di pintu itu. Setelah bekerja keras untuk menggapai pintu itu, kita sampai disitu, namun kita bertubrukan dengan ego kita, dan kita terpental lagi dari sana. Jadi, ego kita itu selalu menyertai kita kemanapun. Kita sangat sulit untuk meninggalkannya. Jika masih seperti itu, kita tidak bisa berjumpa dengan Allah swt.

 

 

Egoisme dalam ibadah muncul ketika kita beribadah untuk memenuhi keinginan-keinginan kita. Tetapi syirik dalam arti ini merupakan salah satu perjalanan yang harus kita lewati. jadi, kita juga harus melewati pola beribadah untuk memperoleh pahala dan menghindari siksa itu. Namun, seiring perjalanan  usia dan kematangan pola pikir seyogyanya sikap kita dalam beribadah pun meningkat.

 

 

Dalam doa Tawaf, ada doa yang berbunyi “Allahumma inni as’aluka ridhaka wal jannah. Aku memohonkan kepada-MU ridha-MU dan surga.”  Hanya saja, kita melupakan bahwa ridha Allah mesti didahulukan dari surga. Semestinya surga menjadi tujuan kedua; tujuan utamanya adalah ridha Allah. Dan jika yang kita harapkan hanya ridha Allah, maka hubungan kita dengan Allah menjadi hubungan cinta. Inilah doa macam kedua, doa yang sudah tidak lagi memikirkan lagi pemberian TUhan, tidak memikirkan lagi ancaman Tuhan. Karena itu, doa itu berbunyi , “Aku berlindung dengan rida-Mu dari kemurkaan-MU”. Jadi, sekarang bukan masalah surga dan neraka  lagi, tetapi masalah rida dan kemurkaan Tuhan.

 

 

Yang ada di tingkat puncak adalah doa, ‘Aku berlindung kepada-MU dari diri-MU”.  Dalam salah satu doa Imam Ali Zaynal Abidin dituturkan, “Aku melarikan diri dari-MU menuju-MU”.

 

Doa jenis ini adalah doa yang lebih berisi pengakuan akan kehinaan dan kekecilan diri kita. Jadi, ia hanya merupakan obrolan kepada Allah yang menceritakan betapa lemahnya diri kita. Kita mengadukan diri kita kepada Allah swt, seperti contoh doa Nabi Adam as :

 

Ya Allah,

Kami telah menganiaya diri kami sendiri

sekiranya Engkau tidak mengampuni kami

pasti kami menjadi orang yang rugi

 

Semua itu adalah pengaduan. Kita tentu saja boleh mengadu kepada Allah swt, mengadukan kehinaan kita di hadapan-Nya. Saya sering membayangkan, doa-doa seperti itu agak sulit diaminkan.  Tapi, doa yang menggunakan kata perintah atau berisi perintah mudah sekali diaminkan. Sebab, doa yang isinya perintah itu ditujukan hanya untuk dirinya sendiri, sangat egois, ” Tuhanku, ampunilah aku, sayangi aku, tingkatkan derajatku, dan beri aku rezeki”. Ujungnya “aku” semua. Tentu saja, doa seperti itu tidak salah, tetapi itu adalah jenis doa orang awam. Namun kita jangan sombong, merasa diri sudah tinggi, padahal masih awam. Yang saya maksudkan, kita meningkatkan seluruh daya kita untuk menjalin hubungan dengan Allah sebagai hubungan cinta.

 

 

Sementara itu, doa yang berisi pengakuan sangat sulit untuk diaminkan. Misalnya, Imam Ali Zaynal Abidin berdoa, “Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,” lalu, “Amin,” mislnya, agak sulit. Tampaknya kita hanya mendengarkan saja doa itu, kita ikuti saja dalam hati.  Dan tidak usah diaminkan dengan verbal. Mengaminkan cukup dengan cara mengikuti seluruh hati kita.

 

 “Tuhanku,

kepada diri-MU kuadukan diriku,

yang memerintahkan kejelekan;

yangbergegas melakukan kesalahan

yang tengelam dalam kemasiatan kepada-MU

yang menjadikan aku orang yang celaka, yang terhina…

 

Doa yang paling tinggi adalah doa yang merupakan bisikan cinta. Doa ini berisi rayuan seorang pecinta kepada kekasihnya. Dia merayu kekasihnya supaya tetap memelihara cintanya. Munajat Imam Ali Zaynal Abidin dipenuhi rayuan-rayuan. jadi, misalnya, walaupun ada kata perintah, ia berisi rayuan, berisi ungkapan cinta. Seperti perintah Majnun kepada Layla :

 

“Aku turut berbahagia atas pernikahanmu.

Aku tidak meminta apapun

kecuali engkau mengenang

bahwa di suatu tempat

ada seseorang

yang sekiranya tubuhnya dicabik-cabik oleh binatang buas,

dia masih menyebut namamu”.

 

Itu perintah juga, tetapi perintah sangat halus, perintah yang sangat beradab. Kita pernah membaca salah satu doa Imam Ali Zaenal Abidin yang merupakan ungkapa cinta :

 

Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku

Pertemuan dengan-Mu kecintaaku

kepada-MUkerinduanku

Pada kekasihku gelora rinduku

Ridha-Mu tujuanku

Melihat-Mu keperluanku

Mendampingi-Mu keinginanku

Mendekat kepada-Mu puncak permohonanku

 

Doa-doa Rabi’ah al-‘Adawiyah kepada Tuhan juga berisikan cinta. Doanya terkenal, Satu doa sudah diterjemahkan Taufiq Ismail  dan menjadi puisi, Rabiah bertutur :

 

Tuhanku

kalau aku mengabdi kepada-Mu lantaran takut akan api neraka

masukkan aku dalam neraka itu

sehingga tidak ada tempat lagi dineraka itu

buat hamba-hamba-Mu yang lain

 

Kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-MU

berikan surga itu kepada hamba-hamba-MU yang lain

bagiku Engkau saja sudah cukup

 

Itu terjemahan Taufiq Ismail. Sangat bagus . Sekali lagi, itulah doa yang sampai pada tingkat cinta, Doa itu isinya hanya bisikan cinta. Karena doa itu menjadi bisikan cinta, orang merasa enak. Kita sedang merayu yang kita cintai. Ketika kita mengungkapkan ungkapan cinta kita kepada-Nya. berbicara panjangpun enak. Jadi, salah satu ukuran bahwa doa kita sudah berisi bisikan cinta ialah apakah kita tahan dengan doa yang panjang, yang isinya ungkapan cinta ? Bagi saya, saya akan menjawab pertanyaan itu, “Tidak.” Saya belum bisa, belum dapat merasakan nikmatnya membaca doa panjang seperti itu. []

 

————-

Ditulis oleh :

Dr. Jalaludi Rahmat, M.Sc pada sebuah buku

Doa Bukan Lampu Aladin halaman 22-42

 

sumber : Dikutip dari share sebuah group whatsapp

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: