Tanggapan KH Alawi untuk KH Kholil Nafis

sunni-shiaLiputanIslam.com — Pernyataan KH Kholil Nafis yang menyebut sejumlah aliran radikal akan menghabisi NU pada 2030 ditanggapi tegas oleh ulama muda NU, KH Alawi Nurul Alam Al-Bantani. Menurutnya, acara itu tidak mengatasnamakan NU secara umum, sehingga tidak bisa dijadikan rujukan.

[Catatan redaktur: judul dan paragraf pertama artikel ini telah diedit pada 23/12, sesuai konfirmasi ulang LI dengan KH Alawi, selengkapnya baca rubrik wawancara]

Seperti dilaporkan situs muslimmedianews.com yang mengaku mengutip dari antarajatim.com, dalam seminar bertajuk Menyikapi Konflik Sunni-Syiah dalam Bingkai NKRI” diadakan Aswaja Center PWNU Jatim di Surabaya, Kamis (18/12), Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Dr KH Kholil Nafis Lc MA mengingatkan bahwa aliran Wahabi, Syiah, dan aliran radikal lainnya bisa menghancurkan NU sebagai aliran moderat pada 2030.

“Mereka punya uang dan menargetkan NU akan habis pada 2030, karena kelompok Syiah saat ini sudah memiliki 61 organisasi di Jawa dan 23 organisasi di luar Jawa,” kata Kholil.
Menurut Kyai Alawi, yang merupakan anggota Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini, memang ada pihak-pihak di dalam tubuh NU, yang menjalin koalisi dengan Salafi Wahabi, dengan mengatasnamakan NU. Sementara di lain pihak, NU sendiri sangat konsisten untuk menahan laju ideologi Salafi Wahabi yang kian marak di tanah air.

Dalam berbagai kesempatan, Kyai Alawi menyampaikan bahwa kerukunan Sunni dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara kedua madzhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam. Menurutnya, perpecahan itu memang sengaja didesain agar umat Islam selalu ribut di antara sesamanya dan melupakan urusan yang lebih penting, yaitu memegang pos-pos penting di pemerintahan. (baca: Nahdliyin Jangan Mau Diperalat Takfiri)

 

 

 

Dalam berbagai kesempatan, Kyai Alawi menyampaikan bahwa kerukunan Sunni dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara kedua madzhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam. Menurutnya, perpecahan itu memang sengaja didesain agar umat Islam selalu ribut di antara sesamanya dan melupakan urusan yang lebih penting, yaitu memegang pos-pos penting di pemerintahan. (Baca: Persatuan Sunni Syiah Dalam Risalah Amman)

Kyai Alawi 1Dan dalam buku terbarunya, Kyai Alawi ‘menggandeng’ para ulama dan tokoh Syiah untuk bersatu melawan pemahaman Salafi Wahabi, yang telah terbukti melahirkan para penjahat kemanusiaan yang mengklaim perbuatannya tersebut sebagai perwujudan nilai-nilai Islam. Dalam beberapa waktu terakhir, dunia telah menyaksikan kebiadaban yang dilakukan oleh teroris seperti ISIS, Al-Nusra, Boko Haram, Taliban, dll, yang memporak-porandakan Timur Tengah dan Afrika. Ironisnya, semua teroris tersebut menyatakan tengah memperjuangkan Islam. (Baca: Kyai NU dan Ulam Syiah Memutilasi Salafi Wahabi)

“Yang urgent hari ini adalah, membentengi diri dari ideologi radikal yang diusung oleh kelompok Salafi Wahabi, yang mudah menyesatkan, mengkafirkan, atau yang paling mengerikan, saat pemikiran radikal ini bermanifestasi sebagai kelompok-kelompok teroris transnasional yang kini tengah beroperasi di Timur Tengah,” demikian tulis Kyai Alawi.

Kyai Alawi juga menuturkan betapa dekatnya kultur antara NU dan Syiah. Berbagai macam amalan yang sering dilakukan oleh warga NU, ternyata juga dilakukan oleh muslim Syiah. Misalnya; tawassul, tabbaruk, tahlilan. Jika Syiah mencintai Ahlul Bait, maka begitu pula halnya dengan NU, yang termaktub dalam syair, tarian, hikayat, cerita kepahlawanan keluarga Nabi Saw, peringatan Asyura, hingga rebo wekasan.

“Membina persatuan antara sesama ummat Islam dalam bingkai NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika lebih bermanfaat daripada terus menerus saling mempertentangkan isu Sunni-Syiah,” tambah dia.

Lebih lanjut, Kyai Alawi menyatakan bahwa pihak yang sering mengadu domba dan menghembuskan fitnah Sunni-Syiah itu berbeda dan harus saling bermusuhan, sesungguhnya menghendaki perpecahan dalam tubuh Islam, sehingga memudahkan mereka untuk menggapai tujuannya. Seperti diketahui, maraknya sentimen Sunni-Syiah sendiri tidak terlepas dari gejolak yang terjadi di Timur Tengah. (Baca: Ummat Islam Dipecah Belah, Alamnya Dikeruk)

“Menurut penelitian, 50 tahun lagi minyak di Arab Saudi itu habis. Tahun 1954 Arab Saudi pernah dibantu Inggris untuk menginvasi Suriah. Namun tidak berhasil. Sekarang mereka mencoba lagi, dengan menggunakan boneka-bonekanya. Yang mendanai persenjataan oposisi di Suriah kan Arab Saudi? Dan Negara-negara Barat berada dibalik itu. Sebab kita tahu, AS dan negara-negara Barat tidak memiliki kekayaan bumi yang memadai. Krisis minyak di Arab Saudi yang diperkirakan 50 tahun lagi, jelas sangat mengkhawatirkan mereka. Makanya mereka mencari lahan baru lagi. Nah, inilah salah satu tujuan dibentuknya ISIS itu. Tapi banyak yang tidak sadar,” papar dia.

“Untuk mengambil sumber daya alam itu, maka cara yang paling mudah dan klasik adalah dengan mengadu domba negara-negara tersebut,” jelas Kyai Alawi.

Untuk itu, menurut Kyai Alawi, ummat Islam harus bersatu dan menghentikan kejahatan ini dengan segala cara. Ia juga berharap, agar ummat Islam menyadari bahwa sesungguhnya musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti untuk menghancurkan dan melemahkan kaum muslimin.

“Solusinya selain mengerahkan serdadu untuk menghentikan mereka, kita juga harus bertempur dalam dunia pemikiran, dengan menghadang syubhat-syubhat mereka. Yang bisa menulis, menulislah. Untuk memberikan penyadaran dan pencerahan pada masyarakat luas akan kondisi yang sebenarnya. Dan ulama-ulama harus menyadari tanggungjawabnya dalam menyadarkan ummat,” ujar dia, memberi saran.

Sumber : Liputan islam

%d blogger menyukai ini: