pks piyungan.com berdusta atas nama Shalahuddin al-Ayyubi

Salahudin Al AyubiOleh: Ismail Amin, Mahasiswa Musthafa International University

Kenapa Raja Salman tidak menyerang Israel untuk membebaskan Palestina, dan malah menyerang Yaman? PKS Piyungan menukil status FB Syekh Abdullah al-Ramadhany, menurutnya, jawaban pertanyaan tersebut ada pada kisah Shalahuddin al Ayyubi.

Disebut bersumber dari Kitab tarikh al-Bidayah wa al-Nihayah oleh Imam Ibnu Katsir, meski tidak ditulis alamatnya secara jelas. Bahwa ketika Shalahuddin al-Ayyubi memutuskan untuk menghancurkan kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-’Ubaidiyyah di Mesir, ada yang bertanya, “Mengapa Anda memerangi kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-’Ubaidiyyah di Mesir, tapi membiarkan kaum Romawi Salibis (Kristen) menguasai Baitul Maqdis dan wilayah Palestina?”

Shalahuddin al-Ayyubi menjawab, “Aku tidak akan memerangi kaum Salibis lalu membiarkan ‘punggung’ku tersingkap di hadapan kaum Syiah!”

Maka beliau pun membasmi Daulah Syiah al-’Ubaidiyah di Mesir, Maghrib dan Syam. Setelah itu, beliau pun memimpin penaklukan kembali Baitul Maqdis, membersihkan Masjid al-Aqsha dari kenistaan kaum Salibis dan mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Islam.

 

Tanggapan penulis:

Yang harus diketahui, Shalahuddin al Ayyubi adalah orang dalam Dinasti Fatimiyyah. Pamannya Asaduddin Syirkuh adalah Perdana Menteri Khalifah. Najmuddin Ayyub ayahnya Gubernur wilayah Balbek Lebanon. Setelah pamannya meninggal, perdana menteri khalifah dipegang oleh Shalahuddin al Ayyubi.

Setelah khalifah Al-‘Adid yang merupakan khalifah terakhir dinasti Fatimiyyah wafat, kekuasaan atas Mesir dipegang oleh Shalahuddin al Ayyubi atas perintah Sultan Nuruddin [raja Sunni], yang menguasai Suriah saat itu. Peralihan ini terjadi secara damai, tanpa perang dan pertumpahan darah, hanya dari sebuah khutbah Jum’at tanggal 10 Dzulhijjah 565 H yang disampaikan oleh Shalahuddin al Ayyubi, yang juga mendeklarasikan diri sebagai sultan pengganti, dan Daulah Mesir menyatakan baiat atas kekuasaan kekhalifaan Abbasiyah di Baghdad, sehingga otomatis Mesir menjadi bagian dari kekuasaan Abbasiyah, dan kerajaan Fatimiyyah runtuh dengan sendirinya.

Kebijakan pertama Shalahuddin adalah mengganti semua hakim yang syiah dengan hakim pilihannya yang bermazhab Sunni Syafii, dan secara resmi menetapkan mazhab daulah Mesir adalah Sunni Syafii. Termasuk mengambil alih Universitas al Azhar dengan mengganti semua pengajar yang Syiah dan mengubah kurikulum.

Meski menguasai Mesir, Shalahuddin tetap sebagai bawahan Sultan Nuruddin Zengi. Pasca Sultan Nuruddin wafat yang mewariskan kepemimpinan yang lemah, dan terjadi perebutan kekuasaan. Shalahuddin al Ayyubi kemudian memadamkan konflik sekaligus menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mosul, Irak bagian utara dan mendirikan Dinasti Ayyubiyah.

Kesimpulannya, Dinasti Fatimiyyah meski bermazhab Syiah, tapi tetap mengangkat tokoh-tokoh Sunni untuk menduduki jabatan politis yang tinggi di pemerintahan.

Shalahuddin al Ayyubi menaklukan kerajaan-kerajaan Islam [bukan hanya kerajaan Syiah, tapi juga kerajaan Sunni di Suriah] untuk mempersatukannya. Yang kemudian dengan semangat persatuan itu ia memimpin pasukan Islam menghadapi pasukan Salibis untuk membebaskan Jerusalem/Palestina.

Dan patut diketahui, fragmen yang ditulis di status FB Syekh Abdullah al-Ramadhany mengenai alasan Shalahuddin al Ayyubi lebih dulu menghancurkan Syiah dibanding menghadapi kaum Salibis, tidak sesuai fakta sejarah, dan memang tidak terdapat dalam kitab tarikh al-Bidayah wa al-Nihayahnya Ibnu Katsir [silahkan tunjukkan, kalau memang ada]… yang lebih dulu dilakukan Panglima Shalahuddin adalah mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam dibawah komandonya, untuk membebaskan Yerussalem.

***

Kemudian, PKS Piyungan menulis, “Maka beliau [Shalahuddin al Ayyubi] pun membasmi Daulah Syiah al-’Ubaidiyah di Mesir, Maghrib dan Syam.”

Tanggapan penulis:

Kekuasaan Daulah al-’Ubaidiyah dimasa Shalahuddin hanya tersisa di Mesir, Maghrib dan Syam adalah kesultanan Sunni. Penguasa di Syam adalah Sultan Nuruddin, yang karena mewariskan keturunan yang lemah dan hanya memikirkan perebutan kekuasaan, Shalahuddin al Ayyubi mengambil alih kekuasaan atas Syam. Sementara Maghrib, telah memisahkan diri sebelum Dinasti Fatimiyah runtuh atas pimpinan Ziriyah, gubernur Afrika Utara di masa Fatimiyyah yang bermazhab Sunni dan ketika melepaskan diri,  ia mendeklarasikan Maghrib sebagai kesultanan Sunni. Jadi, peralihan Daulah al Ubaidiyah [Fatimiyyah] yang Syiah menjadi kesultanan Sunni, bukan karena Shalahuddin basmi-basmian Syiah tapi karena melemahnya kontrol sejumlah khalifah terakhir dari Dinasti Fatimiyyah.

PKS Piyungan, demi kepentingan kelompok, kebesaran nama Shalahuddin al Ayyubi pun tidak jadi soal untuk dimanfaatkan untuk menyebar fitnah dan pembenaran agresi atas negara yang berdaulat. Wallahu ‘alam Bishshawwab…

Sumber : liputan islam

%d blogger menyukai ini: