Mengungkap Penyesatan Felix Siauw: Perbaikan atau Penghancuran?

mekkah 5LiputanIslam.com – Ustadz Felix Siauw, tokoh dari kelompok transnasional Hizbut Tahrir Indonesia melalui media sosial menyatakan dukungannya terhadap ‘perbaikan’ yang dilakukan rezim Arab Saudi terhadap kota suci Mekkah.

“Perbaikan itu memang tak nyaman, karena engkau mengubah dirimu, dan apa yang biasa tampak padamu. Perbaikan itu selalu tak enak, itu yang terlihat apalagi yang tak terlihat, prosesnya lebih rumit dan detail. Perbaikan itu seringkali mengundang protes, kritik, komplain, ejekan dan komentar pedas dan menyakitkan, namun ingatlah karena siapa engkau memperbaiki diri,” tulisnya.

Berbenah itu tak mudah, namun niscaya agar beroleh berkah, juga terhindar dari musibah, dalam perbaikan ada beberapa yang tertinggal, banyak lagi yang diubah, tapi lebih banyak lagi yang ditambahproses itu kadang tak enak, namun setelah selesai perbaikan, kita akan lebih bermanfaat dan menemukan banyak hal lagi yang perlu kita perbaiki. Maka lakukanlah semua karena Allah, maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah,” tambahnya lagi.

Dalam statusnya tersebut, Ustadz Felix Siauw mengunggah foto perluasan, dan pembangunan gedung mewah di sekitar Ka’bah dan menyebutkan kata ‘perbaikan’ berulang-ulang, lalu kata ‘berbenah’ dan ‘bermanfaat’, yang sepertinya hendak menekankan, bahwa yang terjadi di Mekkah adalah sebuah proses, sebuah perbaikan, sebuah fase yang menuju kepada sesuatu yang bermanfaat/ mashalat…

Namun sayang, Ustadz Felix Siauw tidak mengungkapkan kehancuran lain dibalik ‘perbaikan’ tersebut. Laporan republika.co.id, 17 Maret 2013 menunjukkan, beberapa situs paling suci bagi umat Islam, di Mekkah, terancam punah. Setelah Rezim Saudi setuju dengan pembangunan Masjidil Haram menjadi kawasan megapolitan, maka beberapa peninggalan sejarah Rasul Muhammad Saw dinyatakan hilang.

 

 

Dikatakan, situs yang telah hancur adalah tempat Rasul Muhammad mengawali perjalanan Isra’ Mi’raj (620 M). Situs lain yang ikut dihancurkan adalah kolom peninggalan Dinasti Ottoman dan Dinasti Abbasiyah. Di tempat-tempat tersebut, menyimpan segudang peninggalan kejayaan Islam berupa dokumentasi kaligrafi (seni menulis ayat-ayat suci Al-quran) tertua di dunia. Tempat-tempat yang babak belur itu juga mengandung sejarah bagi masa Khulafaur Rasyidin (632 – 661 M). Saban tahunnya, miliaran dolar digelontorkan untuk ekspansi dan perluasan. Kerajaan berdalih ekspansi tersebut adalah untuk peningkatan layanan dan daya tampung peziarah.

Direktur Islamic Heritage Research Foundation,  Irfan al-Alawi, mengatakan Kerajaan Saudi melakukan kecerobohan dalam pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan kawasan semestinya tidak menjadikan situs-situs sejarah tersebut sebagai objek penghancuran.

“Penghancuran situs penting ummat Islam kali ini adalah langkah signifikan menuju penghancuran situs-situs Islam berikutnya. Kerajaan Saudi sedang menghapus catatan sejarah kaum Muslimin,” tudingnya.

Kritikus sejarah peradaban Islam lainnya mengatakan, penghancuran situs-situs Islam adalah penghinaan. Aktivitas penghancuran tersebut sebagai bagian dari agenda terselubung untuk menghilangkan rekam sejarah agama samawi terbesar ini.

Pesan dari seorang panglima perang bangsa China, Sun Tzu,  berbagi tentang strategi menghancurkan sebuah bangsa, sepertinya layak untuk direnungkan kembali. Ia berpesan, “…untuk mengalahkan bangsa yang besar tidak dengan mengirimkan pasukan perang, tetapi dengan cara menghapus pengetahuan mereka atas kejayaan para leluhurnya, maka mereka akan hancur dengan sendirinya…” (The Art of War)

Jika di Arab Saudi terjadi penghancuran situs-situs bersejarah peninggalan Islam dilakukan dengan dalih ‘perbaikan’, maka penghancuran serupa juga terjadi di tempat lainnya, seperti Suriah dan Irak. Berbagai situs-situs kuno, masjid, dan makam-makam para sahabat Nabi yang mulia seperti Hujr bin Adi ra, Ammar bin Yassir ra, dengan dalih melindungi ummat dari kesyirikan dan menegakkan tauhid.

Apapun alasan yang digunakan, yang pasti, semua itu berujung pada penghancuran bukti otentik, dan catatan agama Islam. Apakah hal itu baik? Semoga ummat Islam sadar akan hal ini, dan tidak turut mengaminkan dan mendukung ‘perbaikan’ ala Ustadz Felix Siauw.

sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: