Kemenangan CIA: Saat Sunni dan Syiah Saling Bunuh

Muslim Sunni dan Syah shalat bersama di teheran

Muslim Sunni dan Syah shalat bersama di teheran

LiputanIslam.comMichael Scheuer, mantan senior CIA dalam wawancaranya dengan Channel 4 News menyatakan, “Sungguh ideal ketika progres IS (kelompok terori takfiri ISIS) semakin maju di Baghdad, yang (disebabkan) karena Sunni membunuhi Syiah, dan itulah yang sesungguhnya kami butuhkan. Harapan terbesar kami saat ini adalah agar Sunni dan Syiah saling membunuh dan biarkan mereka saling menumpahkan darah satu sama lain.”

Siapa yang diuntungkan dengan adanya perpecahan dalam tubuh Islam?

Imam Khomeini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, melalui sikap-sikap politik dan sosialnya, selalu menekankan bahwa persatuan Islam merupakan solusi dalam melakukan perlawanan terhadap musuh. Namun sayangnya, hal ini telah diketahui dengan baik oleh musuh-musuh Islam, sehingga selama ratusan tahun pula, mereka memakai segala macam cara agar kaum Muslimin tetap terpecah belah.

 

 

Hanya dengan perpecahan Islam-lah, musuh-musuh Islam ini tetap mencengkramkan kukunya, dan menindas ummat Islam.

Dan sungguh menakjubkan, karena selama ratusan tahun pula kaum Muslimin tetap tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini, dan memilih untuk tetap terkotak-kotak. Alih-alih bergandengan tangan, berkasih sayang dan mencipta karya, justru saat ini marak disebarluaskan penyebaran kebencian antara Sunni-Syiah.

Tentu saja, perpecahan Islam adalah kemenangan bagi musuh. Dan siapakah yang berkontribusi turut memenangkan musuh? Tidak lain dan tidak bukan, adalah kelompok Takfiri, baik di dalam tubuh Sunni maupun Syiah.

Sikap takfiri atau gemar mengkafirkan golongan lainnya yang tidak sepaham, bisa dijumpai di dalam mazhab Sunni maupun Syiah. Mereka memiliki kemiripan, rekam jejak, dan cara-cara yang serupa dalam mempertahankan eksistensinya di masyarakat.

Apa ciri-ciri dari kelompok Sunni Takfiri maupun Syiah Takfiri ini?

Sunni Takfiri, mengkafirkan semua muslim Syiah, menghina marja-marja yang menjadi rujukan Syiah (terutama marja yang menyerukan persatuan), menggambarkan kelompok perlawanan Hizbullah sebagai musuh Islam. Menerima dana maupun senjata dari AS, juga fasilitas berobat dari Israel. Dengan perbuatan yang anarkis dan permusuhan kepada Ahlulbait, mereka menyediakan sarana yang dibutuhkan Syiah Takfiri untuk mengkafirkan seluruh Muslim Ahlussunah, dan memperburuk citra mereka dihadapan Muslim Syiah.

Sedangkan Syiah Takfiri, mengkafirkan semua muslim Ahlussunah, melecehkan dan menghina ulama-ulama dari empat mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali), menggambarkan kelompok-kelompok perjuangan Palestina seperti Hamas dan Jihad Islam yang melawan Israel sebagai musuh Islam. Mereka juga menerima dana tanpa batas dari Inggris untuk melancarkan propaganda dan menghasut umat. Dan dengan melecehkan simbol-simbol Ahlussunah, mereka menyediakan sarana yang diperlukan oleh Sunni Takfiri untuk mengkafirkan seluruh Muslim Syiah, dan memperburuk citra mereka di hadapan Ahlussunah.

Dan, siapakah pembentuk Syiah dan Sunni Takfiri?

Mereka dibentuk oleh tangan-tangan intelejen AS, Inggris, Israel, yang bertujuan memecah belah umat Islam, sehinga kaum Muslimin sibuk bertikai satu sama lain dan melupakan musuh mereka yang sebenarnya.  Dan untuk memecah-belah umat Islam, cara yang sangat efektif adalah dengan memicu konflik Sunni-Syiah, sebagaimana diakui oleh orang Palestina mantan agen Mossad. (Baca: Pengakuan Agen Mossad: Konflik Sunni-Syiah Diciptakan oleh Aliansi Zionis)

Yasser Habib, salah satu Syiah Takfiri, melakukan pelecehan terhadap sahabat dan istri-istri Nabi, yang pernyataannya tidak diterima oleh siapapun, baik ulama maupun masyarakat awam. Tidak hanya itu, ia juga menghujat ulama-ulama terkemukan Syiah yang menyerukan persatuan, semisal Sayyid Ali Khamenei, Sayyid Behjat, Sayyid Ali Sistani, dan Sayyid Hasan Nasrallah. (Baca: Yassir Habib si Ulama Palsu)

Sesuatu yang mengherankan, di tengah kecaman kaum muslimin dan para ulama, baik Sunni maupun Syiah, Yasser Habib justru mendapat perlindungan dan pembelaan dari pemerintah Inggris. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Sayyid Ali Khamenei: Syiah yang dipropagandakan melalui media massa di London maupun Amerika adalah Syiah yang tidak berada di jalur sesungguhnya. Inilah mereka yang berkedok Syiah padahal sesungguhnya antek Zionis.

Di lain sisi, Sunni Takfiri juga dimanfaatkan untuk menggapai kepentingan AS dan sekutunya, dengan menebarkan teror di banyak negara. Mereka mengkafirkan, lantas membunuhi siapa saja – termasuk ulama dan rakyat sipil yang tidak mendukung mereka. Dan dengan berbagai aksi keji yang mereka lakukan, mereka mengklaim diri  Ahlussunah sejati, padahal tidak demikian adanya. Kelompok-kelompok ini, oleh Syeikh Usamah Sayyid Azhari, dinyatakan sama sekali tidak meneladani Rasulullah Saw. (Baca: Syeikh Azhari: ISIS adalah Kejahatan Terhadap Agama)

Sayyid Ali Khamenei pernah berkata, bahwa mereka yang menebarkan fitnah dan perpecahan di dalam kaum Muslimin, bukanlah bagian dari Sunni ataupun Syiah sejati. Sedangkan Sayyid Hasan Nasrallah juga mengecam kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai Ahlussunah, namun faktanya, mereka telah melakukan aksi teror keji di wilayah-wilayah mayoritas berpenduduk Muslim Sunni. Mereka membunuh lebih banyak ulama Sunni daripada ulama Syiah, dan mereka juga membunuh lebih banyak Muslim Sunni daripada Muslim Syiah. Mereka lebih banyak menghancurkan masjid-masjid Sunni daripada masjid Syiah, dan kekejaman mereka bisa kita saksikan di Suriah. (Baca juga: Teroris itu Tidak Memiliki Agama)

Habib Ali al-Jufri, juga turut angkat bicara.  Menyikapi krisis Irak yang didesain membenturkan Sunni-Syiah, ia selaku ulama Ahlussunnahmenyatakan dengan tegas, bahwa Sunni – Syiah memang memiliki musuh. Siapa?

“Kepada seluruh Ahlussunnah dan Syiah di Irak: Musuh kalian yang sebenarnya (hakiki) adalah mereka yang menyakinkan kalian bahwa kalian (Sunni-Syiah) adalah bermusuhan,” ucapnya di akun Twitter-nya, @alhabibali. (Baca juga: Inilah Musuh Sunni Syiah Menurut Habib Ali al-Jufri)

KH Alawi Al Bantani, ulama muda NU saat menyampaikan pengajian bertema persatuan Sunni dan Syiah berdasarkan Deklarasi Amman,  beliau menyatakan bahwa kerukunan Sunni dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara kedua mazhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam.

Sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: