Islam Institute, dan Cover Both Side of Story yang Diabaikan

Artikel yang dirilis Islam Institute, klik untuk memperbesar

Artikel yang dirilis Islam Institute, klik untuk memperbesar

Jika dalam sebuah ayat  Allah memerintahkan agar ummat manusia menyelidiki kebenaran sebuah berita, maka dalam etika jurnalistik, kita mengenal konsep keseimbangan yang lazim disebut cover both side of story. Maka seharusnya, menjadi kewajiban bagi jurnalis di Indonesia untuk selalu mengingat hal ini. Pelanggaran terhadap aspek ini bukan hanya bisa merugikan pihak-pihak yang terkait langsung dalam pemberitaan, namun juga masyarakat atau publik yang tidak mendapatkan informasi secara utuh, sehingga bisa timbul salah persepsi terhadap isi berita.

Islam Institute, dalam tautan ini, mempublikasikan artikel yang berjudul ‘NU Harus Melindungi Kaum Aswaja (Ahlussunah wal Jamaah) Dari Pengaruh Paham Syiah dan Wahabi’. Artikel tersebut dituliskan oleh HM . Misbahus Salam, Pengasuh Yayasan Raudlah Darus Salam, Sukorejo Bangsalsari Jember.

HM Misbahus Salam, yang mengutip pernyataan yang disampaikan oleh Kyai Mustofa Ali Yakub, bahwa paham Syiah lebih berbahaya dari komunis. Kyai Mustofa menyebutkan, “Di Iran, masjid – masjid kaum Ahlussunnah wal Jama’ah sudah tidak ada dan tokoh-tokoh Sunni dibantai semua, tapi kalau di Rusia Masjid-Masjid Sunni masih ada.”

 

Tentu saja, selaku narasumber, Kyai Mustofa berhak menyampaikan apapun. Hanya saja, sebagai ummat Nabi Muhammad yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan, bukankah seharusnya kita meneliti terlebih dahulu kebenaran berita tersebut? Jika disebutkan bahwa tokoh-tokoh Sunni dibantai semua, maka, bisakah Kyai Ali Mustofa menyebutkan siapa tokoh Sunni yang dibantai tersebut?

Apakah Kyai Mustofa telah pernah ke Iran dan menyaksikan langsung di negara tersebut tidak ada satupun ulama Ahlussunah, ataupun masjid Ahlussunah?

Di lain sisi, Mustamin Arsyad , bersaksi

“Nama saya, Mustamin Arsyad, Ketua Umum MUI Makassar, dan pimpinan Tarekat Al-Syadzilia Makassar. Saya sangat berbahagia mendapat kehormatan untuk bisa mengunjungi Iran, karena saya sudah lama memendam keinginan untuk bisa kembali mengunjungi negara ini, khususnya ke kota Qom. Pada tahun 1987 saya pernah ke Iran, hanya saja tidak sempat ke Qom, dan hanya di Tehran saja. Sehingga tidak sempat bersilaturahmi kepada para ulama, maraji termasuk berziarah kemakam-makam Wali Allah yang berada di kota ini. Karenanya dengan adanya kesempatan yang diberikan ini, saya sangat berterimakasih. Dan dalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam.  Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

Syiah adalah mazhab yang tetap diakui sebagai bagian dari umat Islam. Di Universitas al Azhar, kami diperkenalkan prinsip tersebut, tidak ada pengajar disana yang menganggap Syiah itu kafir dan bukan Islam, meskipun tetap ada person-person yang tidak senang dengan keberadaan Syiah. Perbedaan memang ada, tapi bukan hal prinsip yang harus dipertentangkan. Saya sudah mengenal Iran dari teman-teman mahasiswa di Al Azhar yang berasal dari Iran. Meskipun Syiah, mereka tetap bisa menimba ilmu dengan tenang di Al Azhar karena memang Al Azhar moderat dalam hal ini.”

KH Mudrik al-Qari, Pimpinan Pondok Pesantren al-Ittifaqiyah Palembang, bersaksi;

“Harapan kami, keberadaan kami di sini (Iran) dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan baik tentang Syiah maupun tentang  Iran, yang kami kenal sejak kecil, bahwa di abad pertengahan, Persia sebagai sebuah imperium besar. Saya yakin, dengan adanya kerjasama Iran sebagai negara yang penduduk bermazhab Syiahnya terbesar dan Indonesia sebagai negara yang penduduk mazhab Sunninya terbesar di dunia, kedua negara ini akan menjadi negara yang disegani di dunia internasional. AS dan teman-temannya tidak akan berbuat macam-macam lagi terhadap dunia Islam.”

Professor Dr. Imam Suprayogo, Guru Besar UIN Malang, bersaksi;

Selama di Iran, selain mengunjungi Hauzah Ilmiah, madrasah, dan juga perguruan tinggi yang bermazhab Syiah, saya juga diundang untuk  bersilaturrahmi ke  pesantren pengikut mazhab Sunni. Memang dilihat dari mazhabnya,  masyarakat Iran bertolak belakang  dari masyarakat Islam di Indonesia. Mayoritas umat Islam di Iran  adalah  pengikut Syiah,  namun ada juga  sedikit  yang mengikut  mazhab Sunni. Sebaliknya  di  Indonesia, mayoritas  mengikuti madzhab  Sunni, tetapi  juga  ada, sekalipun jumlahnya tidak banyak, yang mengikuti mazhab Syiah.

Lembaga pendidikan Islam berupa pesantren pengikut Sunni yang saya kunjungi dimaksud adalah Darul Ulum lita’limil Qur’an wa Sunnah, berada di Khurasan, yaitu arah  timur  dari kota Teheran, berjarak kira-kira  900 km, sehingga  dapat ditempuh selama satu jam dengan pesawat terbang dan  masih harus  ditambah  perjalanan dengan mobil sekitar satu setengah jam lagi. Tempat di mana pesantren ini berada, lebih mengesankan sebagai wilayah pedesaan. Kesan saya, keadaan lembaga pendidikan Islam di Khurasan ini  terasa mirip dengan kebanyakan pesantren di Indonesia.

Di daerah Khurasan tidak semua umat Islam menjadi penganut Sunni. Sebagaimana umat Islam di Iran pada umumnya, adalah  mengikuti  mazhab Syiah. Namun demikian, hubungan di antara umat Islam yang berbeda mazhab tersebut terjalin dengan baik. Tatkala mendengar kabar  bahwa pondok pesantren Darul Ulum li Ta’limin Qur’an wa Sunnah kedatangan tamu dari Indonesia, maka ulama Syiah juga diundang dan hadir ke tempat itu untuk bersama-sama menyambut dan memberi penghormatan.

Perbedaan keyakinan tersebut tidak  melahirkan masalah. Keduanya berhasil memahami dan juga menghormati. Ketika umat Islam bermazhab Sunni memperingati hari kelahiran Nabi Muhammam pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, maka pengikut mazhab Syiah diundang dan juga datang. Demikian pula sebaliknya, ketika pengikut Madzhab Syiah memperingati hari kelahiran Rasulullah itu   pada tanggal 17 pada bulan yang sama, maka pengikut Madzhab  Sunni juga diundang dan hadir. Masing-masing mengetahui atas perbedaan itu, namun tidak menjadikan di antara mereka saling membenci dan apalagi memusuhi.Pengasuh pesantren pengikut  mazhab Sunni, sebagai tuan rumah  juga  menjelaskan bahwa, perbedaan mazhab di wilayah Khurazan  tidak menjadikan umat Islam berpecah belah. Sekalipun berbeda mazhab,  di antara mereka  berhasil menjalin kerukunan dan saling menghormati. Pimpinan pesantren ini memberikan contoh kerukunan itu, ialah misalnya  di  dalam memperingati  hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Menurut keyakinan mazhab Sunni, Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sementara mazhab Syiah meyakini bahwa, kelahiran  itu jatuh  pada tanggal 17  pada bulan yang sama.

Kyai Alawi Nurul Alam al-Bantani, ulama muda NU, bersaksi;

“Iran adalah sebuah negara yang didirikan oleh pendirinya untuk membangkitkan citra Islam. Terlepas bahwa penduduk mayoritas Iran adalah bermazhab Syiah, tapi yang diperjuangkan oleh Iran adalah bukan untuk mengembangkan mazhab Syiah, tapi untuk membangkitkan semangat perjuangan kaum muslimin.

Bahwa sesungguhnya musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti untuk menghancurkan dan melemahkan kaum muslimin dan kejayaan Islam. Dan ini yang tidak dimengerti oleh banyak orang. Itu disebabkan sibghah [celupan] Allah itu sudah hilang, sehingga ghirah atau semangat keislaman itu tidak ada. Dan jika ghirah sudah tidak ada jadi untuk berpikir Islamiah itu sudah tidak ada. Sehingga orang-orang kemudian sekedar disibukkan untuk menghidupi keluarga, yang dipikirkan hanya untuk kepentingan perut. Padahal sesungguhnya jika kita bertanya, apa yang telah dipersembahkan untuk Islam, maka jawabannya ada di Iran, sejak tahun 1979 sampai sekarang. Itu jawaban untuk pertanyaan yang pertama.

Yang kedua, tidak ada masalah terhadap mazhab Syiah sebetulnya. Selama kita bisa memahami kurikulum Syiah dari orang-orang yang memang terbaik dari kalangan Syiah. Sebab di Syiah sendiri ada takfirinya, sebagaimana di Sunni juga ada takfirinya. Perlakukan beberapa gelintir orang tidak bisa mewakili semuanya, bahkan pendapat ulama itu sendiri tidak serta mewakili semuanya. Bedanya di Iran atau di mazhab Syiah itu lembaga ulama lebih terstruktur sehingga dikenal ada istilah ulama marja dan sebagainya, beda dengan di Sunni yang lebih banyak corak pada pola berpikirnya.”

Syarief Hiedayat, mahasiswa Sunni asal Indonesia di Iran, bersaksi;

“Untuk yang saya ketahui dan saya tanyakan kepada masyarakat Iran yang bermazhab Sunni, nampaknya kabar bahwa kaum Sunni tertindas dan dibunuh dan tidak boleh beribadah hanyalah kabar bohong. Mereka ikhlas dan ridho berada di Iran, bahkan mereka selalu bilang bahwa mereka selalu siap mempertahankan revolusi Iran. Mereka juga selalu mempertahankan persatuan Sunni dan Syiah di Iran.

Saya tinggal di Iran udah tiga tahun lamanya. Saya belajar di Jami’atul Musthafa Gorgan yang kebanyakan mahasiswanya bermazhab Sunni. Madrasah ini dinamakan Madrasah Taqribi Baina Mazahib, tidak bisa juga kalau dikatakan Pesantren Sunni, karena ada juga santri yang berrmazhab Syiah, makanya lebih tepat disebut Madrasah Taqribi Baina Mazahib (pesantren pendekatan antar mazhab). Jadi kurang lebih pesantren tersebut adalah upaya dari pemerintah Iran untuk mengeratkan persatuan umat.”

Lalu benarkah di Iran tidak ada masjid bagi Ahlussunah? Dalam tulisan ini, Liputan Islam juga telah menyebutkan;

Masjid di Iran baik milik Ahlussunah maupun Syiah bergerak menyerukan persaudaraan, persatuan, cinta pada tanah air dan Islam. Jadi di samping ibadah ritual, masjid juga menjadi tempat ibadah sosial, politik, dan kebudayaan. Shalat Jumat dan berjamaah juga dilakukan di Masjid Ahlussunah yang bermazhab Syafi’i atau Hanafi yang tersebar di berbagai tempat di Iran. Sesuai dengan pendataan, di Iran, penganut Ahlussunah memiliki 12.222 masjid.

Pernyataan dari Kyai Mustofa telah dipublikasi luas oleh Islam Institute, tanpa melakukan cover both side of story. Padahal jika mau, sebelum merilis artikel, Islam Institute bisa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada Kedutaan Republik Indonesia yang berada di Iran, apakah kabar dari Kyai Mustofa ini memang benar adanya?

Atau, dengan pesatnya perkembangan tekhnologi seperti sekarang ini, tentunya, Islam Institute juga bisa mencari informasi melalui internet maupun media sosial. Pada akhirnya, setiap yang kita kerjakan akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Semoga saja, kita semua terselamatkan dari tipudaya setan yang tak henti-hentinya berusaha menyesatkan ummat manusia dengan berbagai cara, termasuk mengabarkan mengabarkan berita palsu yang memecah belah ummat.

Sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: