Wahabi Muluskan Agenda Zionis Untuk Adu Domba Sunni-Syiah

 

Setelah Arab Saudi menggengam media dan ‘pasukan’ di media sosial, maka serangkaian kampanye pun masif dilakukan. Saat ini, yang paling trend adalah kampanye anti-Syiah dan Iran.

Dalam berbagai konflik yang terjadi, Syiah-lah yang selalu menjadi kambing hitam.

Di Suriah, mereka bilang, “Berjihadlah melawan Bashar al-Assad, Syiah Nushairiyah yang telah membantai Muslim Ahlussunah…”

Di Irak, mereka bilang, “Pemimpin Syiah Irak telah bekerjasama dengan AS untuk membantai Ahlussunah. Lihatlah penyair Ahmad Nu’aimi telah digantung karena syairnya..”

Di Iran, mereka bilang, “Lihatlah, Ahlussunah telah digantung di Iran. Masjid Ahlussunah ditutup, mereka hidup dalam penindasan…”

Di Nigeria, mereka bilang, “Gerombolan Syiah yang dipimpin Zakzaky telah menyerang militer Nigeria, wajar kalau mereka dibantai…”

Di Saudi, mereka bilang, “Syeikh Nimr merancang makar, terjadi baku tembak, wajar kalau Syiah seperti ini dipancung…”

Di Yaman, mereka bilang, “Arab Saudi menyerang Yaman untuk menyelamatkan Ahlussunah dari Syiah Houthi…”

Di Indonesia, mereka bilang, “Syiah akan membuat makar terhadap NKRI. 10.000 pasukan dan 200.000 pedang tajam telah disiapkan….”

Ketika terjadi tragedi Mina, mereka bilang, “Syiah dalangnya. Mereka sengaja melakukan konspirasi untuk membunuhi kaum Muslimin…”

Dan, pola-pola propaganda di atas terus berlanjut. Apapun konflik dan kasusnya, harus Syiah dan Iran yang disalahkan. Hal ini menunjukkan bahwa Arab Saudi paranoid terhadap Syiah.

 

 

Namun, apa penyebabnya?

Bulan Sabit Syiah

Bulan Sabit Syiah

Al-Manar memberikan jawaban yang menarik. Shia crescent atau bulan sabit Syiah adalah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan pengaruh Syiah di kawasan Timur Tengah yang membentang dari Yaman hingga Sinai.

Suka tak suka harus diakui, walau dikenai embargo puluhan tahun, Iran (yang mayoritas penduduknya menganut mazhab Syiah), malah menjadi negara yang maju dan sangat pesat perkembangannya di kawasan. Iran berpeluang memperbesar pengaruh, sehingga suatu ketika, bulan sabit Syiah akan berubah menjadi bulan purnama. Kekhawatiran tersebut setidaknya telah diungkapkan oleh Pangeran Muqrin (mantan Putera Mahkota Arab Saudi) kepada para diplomat Amerika Serikat, sebagaimana ditulis Angus McDowall dalam satu artikel di Reuters.

Apa yang ditakutkan dari Iran, dan Syiah?

Selama ini, Iran aktif menyerukan persatuan Islam. Salah satunya, dengan menggelar Konferensi Islam Internasional tiap tahun. Ulama, cendekiawan, budayawan dan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia Islam, berkumpul di Teheran, untuk mencari solusi atas permasalahan ummat.

Selain itu, Iran juga selalu mengutuk dan menyerukan perlawanan terhadap tirani. Revolusi Islam Iran sendiri lahir berkat ‘racikan’ ulama, yang berhasil menggerakkan jutaan rakyat untuk melawan penguasa. Syah Reza Pahlevi jatuh, dan kediktaktorannya pun berakhir. Apa jadinya, jika perlawanan terhadap tirani yang dilakukan oleh rakyat Iran, lantas menular ke negara-negara Arab monarkhi?

Di Arab Saudi, melakukan protes terhadap penguasa berarti maut menanti. Remaja usia 15 tahun yang ikut demo juga diancam hukum pancung. Blogger yang mengritik penguasa juga dipenjara. Kondisi serupa juga terjadi di negara-negara Arab lainnya. Berani bersuara berarti siap mati.

Tentu saja, tirani-tirani seperti Arab Saudi sangat khawatir pada suara-suara keadilan. Mereka khawatir, jika seluruh rakyat Arab Saudi turun ke jalan sebagaimana yang terjadi di Iran. Mereka tentu tidak mau bernasib seperti Syah Reza Pahlevi, yang harus melarikan diri ke luar negeri, sementara kekayaan dan istana megahnya dikuasai rakyat.

Untuk itulah, Iran dan Syiah harus disudutkan, harus dimusuhi, harus dikucilkan. Buatlah propaganda masif untuk menunjukkan bahwa Iran dan Syiah adalah makhluk menjijikkan, makhluk yang halal difitnah, atau makhluk yang darahnya halal ditumpahkan.

Iran menyerukan persatuan Islam, namun Arab Saudi menabuh genderang perang agar Sunni-Syiah berperang. Ummat disibukkan dengan masalah yang tak kunjung berakhir.

Dan hanya dengan begitu, maka rezim Arab Saudi bisa melanggengkan kekuasaannya dan mengangkangi Ka’bah milik ummat Islam. Sangat disayangkan, tidak ada suara yang cukup menggelegar untuk menggugat, ketika Ka’bah menjadi produk komersil.

Baca tulisan sebelumnya: Membongkar Bobrok Saudi (1): Ketika Riyal Mengontrol Media

 

sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: