Menjawab Propaganda Media Pro Al Qaeda ” Arrahmah.Com” Iran Pemicu PD III (3)

menjawab ArrahmahLiputanIslam.com — Setelah blokir terhadap situs pendukung kelompok radikal Arrahmah.com dicabut oleh pemerintah, maka media ini pun kembali memainkan peran sebagai corong penyesatan informasi, propaganda, dan hate speech. Dan terulang kembali, Republik Islam Iran menjadi bulan-bulanan, sebagaimana yang telah pernah diulas sebelumnya, di sini.

Dalam artikelnya yang berjudul ‘Nauzubillah, Mari Waspadai Propaganda Syiah Iran Dalam Perang Akhir Jaman’ Arrahmah memaparkan ulasan dari Divisi Fatwa dan Pengkajian Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), DR. H. Abdul Chair Ramadhan, S.H., M.H., M.M. (Baca juga: Bantahan untuk Arrahmah bagian kedua)

Arrahmah menulis,

Iran menganggap pesaingnya di Timur Tengah hanya tinggal satu Negara yakni Saudi Arabia. Untuk itu, gerakan hate speech selalu dialamatkan kepada Saudi sebagai personifikasi Bani Umayyah, tegasnya kaum mustakhbirin yang mengusung paham Wahabi. Bicara Wahabi tidak lain dimaksudkan juga sebagai kaum Nawashib-Khawarij. Lanjut, dalam upaya memantapkan perjuangan syiah Iran ini, maka penguatan basis ideologi di berbagai Negara target dilakukan secara masif dan ofensif, termasuk Indonesia.

 

 

Tanggapan,

Terkait Iran yang dituduh melakukan hate speech terhadap Arab Saudi, di sini Arrahmah tengah memutar-balikkan fakta yang sebenarnya. Justru, Kerajaan Arab Saudi yang telah menggelontorkan miliaran dollar untuk menyebarkan kebencian terhadap Syiah.

Perhatikan kesaksian dari orang-orang Palestina yang menjadi agen Mossad yang tertangkap oleh Badan Intelijen Palestina, sebagaimana telah diulas di sini.

Telah dicetak puluhan judul; buku-buku yang menyerang Syiah dengan cara menjijikkan, dan buku lain yang menyerang Sunnah dengan cara yang sama. Dan dimanfaatkan juga orang-orang yang fanatik dari kedua belah pihak dengan dasar bahwa buku-buku tersebut dicetak oleh para dermawan Teluk dengan cetakan luks. Dan selebihnya, pekerjaan akan dilakukan oleh orang-orang yang tidak sadar dari para fanatik Salafy. Tujuan utama dari pencetakan dan penyebaran buku ini adalah menimbulkan fitnah dan kebencian serta saling mengkafirkan antar pihak dan menyibukkan mereka dengan pertarungan sampingan sesama mereka agar Israel dapat merealisasikan tujuan mereka, dengan menghancurkan Islam, menelan tanah air, menghapus identitas generasi muda baik dengan menjadikan mereka rendah moral, atau orang-orang yang tersingkir di luar kehidupan, fanatik dan keras kepala, hati mereka penuh dengan kebencian terhadap saudara mereka sesama muslim baik Sunnah atau Syiah.

Mossad telah berhasil banyak dalam hal ini. Anda dapat melihat kira-kira semua mesjid dan perkumpulan anak muda di Yaman, Pakistan, dan Palestina tenggelam dengan buku-buku ini, yang dicetak dan dibagikan secara gratis bahwa ini semua dibiayai oleh para donatur Saudi, padahal Mossad ada di belakang semua ini. Sayang sekali banyak orang-orang yang tak sadar, dan para imam mesjid, khatib-khatib, dan da’i-da’i yang menyibukkan diri secara ikhlas dan serius dengan menyebarkan buku-buku ini, yang minimal bisa dikatakan buku-buku lancang dan fitnah. Fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan. Karena pikiran mereka sempit, maka mereka tidak berfikir tentang tujuan sebenarnya dari penyebaran buku-buku ini yang meniupkan kebencian, perpecahan dan fitnah khususnya hari-hari ini.

Buku-buku ini telah mulai pengaruhnya di Pakistan di mana orang-orang Sunnah membentuk “Tentara Shahabat” dan menyerang kaum Syiah dalam ritual dan rumah-rumah mereka ketika shalat, membunuh mereka ketika sholat Shubuh. Sebuah pembantaian ganas yang menyedihkan meninggalkan ribuan mayat. Di lain pihak orang-orang Syiah membentuk “Tentara Muhammad” bereaksi dengan balasan yang lebih, ratusan orang terbunuh di kedua belah pihak tiap bulan, pembantaian berdarah, kedengkian, membuat-buat pertempuran sampingan, fitnah yang berbahaya dengan pahlawan “Khawarij” zaman sekarang, dimanfaatkan oleh Mossad untuk menyulut fanatisme, pengkafiran, pembunuhan, untuk melemahkan negara Islam pertama yang memiliki bom atom, Pakistan.

Sedangkan rencana mereka di Yaman, sampai saat ini pekerjaan masih berjalan dengan serius dan hasilnya sebentar lagi akan bisa dilihat, sangat disayangkan. Khusus tentang pemicuan fitnah di Palestina, seluruh tujuan tidak tercapai seperti di Pakistan dan Yaman.

Wawancara ini diterbitkan oleh tabloid An-Nas nomor 127 mengutip harian Al-Hayat. Tabloid al-Basya’ir edisi akhir Shafar 1424 H atau awal April 2003 yang terbit di Sana’a, Yaman, kembali menurunkan transkrip wawancara tersebut mengingat pentingnya fakta-fakta yang diungkapkan oleh agen ini. Wawancara di bawah ini, diterjemahkan oleh Jati Utomo Dwi Hatmoko, M.Sc. , mahasiswa Structural Engineering and Construction Management University of Newcastle Upon Tyne United Kingdom.

NU didirikan untuk melawan Wahabi

NU didirikan untuk melawan Wahabi

Kedua, terkait dengan ideologi Wahabi, Arrahmah juga mengabaikan fakta bahwa terbentuknya organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia, salah satu sebabnya adalah untuk menghadapi Wahabi.

“Ketua PBNU Masdar F Mas’udi menyatakan salah satu pemicu didirikannya NU adalah untuk menghadapi Wahabisme yang kalau itu mulai menguasai Arab Saudi. Sebuah utusan yang dinamakan Komite Hijaz dikirim ke Makkah untuk meminta diizinkannya kebebasan beribadah.

Dalam sejarahnya, pasca dinasti Saud yang merupakan pengikut setia Wahabi berkuasa, mereka menghancurkan berbagai peninggalan zaman Nabi melarang kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan madzab empat. ”Sayangnya, saat ini banyak orang yang tidak tahu sejarah tersebut dan mempertanyakan mengapa gerakan radikal tersebut harus dihadapi,” katanya.

Perhatikan juga wawancara berikut ini:

Apa dan Bagaimana langkah Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren mencegah pergerakan Wahabi Salafi di Indonesia yang masuk ke kampung-kampung dan desa? Untuk menjawab kegelisahan ini, Majalah Risalah NU melakukan wawancara dengan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj.

Bagaimana sebenarnya Wahabi di Indonesia?
Itu sebenarnya sudah lama, tapi eksisnya sejak tahun 80-an setelah Arab Saudi membuka LIPIA (Lembaga llmu Pengetahuan Islam dan Arab). Ketika itu direkturnya masih bujangan yang kawin dengan orang Bogor. Kemudian menampakkan kekuatannya, bahkan mereka membuka yayasan-yayasan. Setahu saya ada 12 yayasan yang pertama kali dibentuk. Antara lain As-Shafwah, Assunnah, Annida, Al-Fitrah, Ulil Albab, yang semuanya didanai oleh masyarakat Saudi, bukan oleh negaranya. Contoh, Assunnah dibangun oleh Yusuf Ba’isa di Cirebon, di Kali Tanjung, Kraksan. Sekarang ketuanya Prof. Salim Badjri, muridnya adalah Syarifuddin yang ngebom Polresta Cirebon beberapa waktu lalu. Dan satu lagi yang ngebom gereja Bethel di Solo namanya Ahmad Yusuf. Jadi, sebenarnya, Wahabi ajarannya bukan teroris, tapi bisa mencetak orang  jadi teroris karena menganggap ini- itu bid’ah, musyrik, lama-lama bagi orang yang diajari punya keyakinan, “Kalau begitu orang NU boleh dibunuh dong, kalau ada maulid nabi boleh dibom,” dan seterusnya.

Soal pemalsuan kitab-kitab Sunni, khususnya kitab yang jadi referensi NU, bagaimana?
Kita sudah berjuang sekuat tenaga untuk mengkounter pendapat mereka. Kita jangan minder dan merasa kalah. Kalau hanya dihujat maulid nabi gak ada dalilnya, atau ziarah kubur gak ada dalilnya, sudah banyak buku yang ditulis untuk membantahnya. Misalnya yang ditulis Pak Munawir-Yogya, Abdul Manan-Ketua PP LTM NU, Idrus santri Situbondo, Muhyiddin Abdus Somad dari Jember, dan lain sebagainya. Banyak yang menulis buku tentang dalil-dalil amaliah kita. Ziarah kubur dalilnya ini, maulid nabi dalilnya ini, tawassul dalilnya ini. Seperti saya sering mengatakan maulid nabi itu memuji-muji Nabi Muhammad, semua sahabat juga memuji Nabi Muhammad, setinggi langit bahkan. Nabi Muhammad diam saja tidak melarang. Tawassul, semua sahabat juga tawassul dengan Rasulullah. Tawassul dengan manusia, Rasulullah lho! Bukan Allahumma langsung, tapi saya minta tolong Rasullulah, sampai begitu! Litarhamna, rahmatilah kami. Labid bin Rabiah mengatakan, kami datang kepadamu wahai manusia yang paling mulia di atas bumi, agar engkau merahmati kami. Coba, minta rahmat kepada Rasulullah, kalau itu dilarang, kalau itu salah, Rasulullah pasti melarang, “Jangan minta ke saya, musyrik.” Tapi Enggak tuh!

Dalam Al-Quran juga ada dalil, walau annahum idz dzalamu anfusahum jauka fastaghfarullaha wastaghfara lahumurrasul lawajadullaha tawabarrahima (surat Ahzab). Seandainya mereka yang zalim datang kepada Muhammad, mereka istighfar, dan kamu pun (Muhammad) memintakan istighfar untuk mereka, pasti Allah mengampuni.

Bagaimana dengan kitab-kitab Wahabi?
Ya kan sudah banyak yang diterjemah, bahkan kalau ada orang pergi haji pulang dapat terjemahan. Itu dari kitab-kitab Wahabi semua.

Siapa pendiri Wahabi?
Begini, Muhammad bin Abd Wahab, pendiri Wahabi itu mengaku bermazhab Hambali, tapi Hambali versi Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah adalah pengikut Hambali yang ekstrim. Imam Hambali itu imam ahli sunnah yang empat yang selalu mendahulukan nash atau teks daripada akal, jadi banyak sekali menggunakan hadist ahad. Kalau Imam Hanafi kebalikannya, dekat dengan akal. Murid Imam Hambali lebih ekstrim, lahirlah Ibnu Taimiyah yang kemudian punya pengikut Muhammad bin Abd Wahab. Di sini menjadi luar biasa, malah dipraktekkan menjadi tindakan, bongkar kuburan. Sementara Ibnu Taimiyah masih teori dan wacana.

Asal usul Wahabi dari mana?
Bukan dari Mekkah, dari Najd, Riyadh. Orang Makkah asli, Madinah asli, Jeddah asli gak ada yang Wahabi, hanya tidak berani terang-terangan. Dulu hampir saja terjadi fitnah, ketika Mahkamah Syar’iyyah al ‘Ulya (Mahkamah Tinggi Syar’i) menghukumi Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki harus dibunuh karena melakukan kemusyrikan. Keputusannya sudah ditandatangani oleh Raja Khalid, tapi dimasukkan laci oleh Raja Fahd waktu itu putera mahkota, katakanlah dibekukan! Kalau terjadi, gempar itu!

Untuk membendung gerakan Wahabi, apa yang harus dilakukan NU?
Saya yakin kalau yang keluaran pesantren gak terpengaruh. Saya di sana 13 tahun, sedikitpun, malah berbalik benci. Semua yang keluaran dari NU ke sana, seperti pak Agil Munawar, Masyhuri Na’im, gak ada yang Wahabi. Semua keluaran sana gak ada yang Wahabi kalau dari sini bekalnya kuat. Atau bukan NU, seperti Muslim Nasution dari Wasliyah, pak Satria Efendi dari PERTI, gak Wahabi meskipun di sana belasan tahun sampai doktor. Pak Maghfur Usman, Muchit Abdul Fattah, pulang malah sangat anti, Wahabinya.

Insya Allah selama pesantren NU masih eksis, Wahabi gak akan masuk. Wahabi pertama kali dibawa Tuanku Imam Bonjol yang tokoh Padri.  Padri itu pasukan berjubah putih yang anti tahlil. Hanya waktu itu kekerasannya Imam Bonjol untuk menyerang Belanda. Padahal ke internal juga keras. Imam Bonjol itu anti ziarah kubur. Kuburannya di Manado. Waktu saya ke Menado ditawari, “Mau ziarah kubur gak?” Ya waktu hidupnya gak seneng ziarah kubur, masak saya ziarahin?

Tentang pengikut Wahabi yang banyak dari kalangan eksekutif?
Orang kalau sudah punya status sosiai, direktur, sudah dapat kedudukan, terhormat, kaya, yang kurang satu, ingin mendapatkan legitimasi sebagai orang soleh dan orang baik-baik. Nah, mereka kemudian mencari guru agama. Guru agama yang paling gampang ya mereka, ngajarinya gampang. Kalau ngaji sama orang NU kan sulit, detil. Kalau sama mereka yang penting ini Islam, ini kafir, ini halal, ini haram, doktrin hitam-putih. Sehingga di antara orang-orang terdidik terbawa oleh aliran mereka. Karena masih instan pemahaman agamanya. Kalau kita kan gak, kita paham agamanya sejak kecil.

Inti gerakan Wahabi itu di semua lini ya?
Harus diingat bahwa berdirinya NU itu adalah karena perilaku Wahabi. Wahabi mau bongkar kuburan Nabi Muhammad, KH Hasyim bikin Komite Hijaz. Waktu itu yang berangkat Kiai Wahab, Haji Hasan Dipo (ketua PBNU pertama), KH Zainul Arifin membawa suratnya Kiai Hasyim ketemu Raja Abdul Azis mohon, mengharap, atas nama umat Islam Jawi, mohon jangan dibongkar kuburan Nabi Muhammad. Pulang dari sana baru mendirikan Nahdlatul Ulama. Jadi memang dari awal kita ini sudah bentrok dengan Wahabi. Lahirnya NU didorong oleh gerakan Wahabi yang bongkar-bongkar kuburan, situs sejarah, mengkafir-kafirkan, membid’ah-bid’ahkan perilaku kita, amaliah kita. Tadinya diam saja, begitu yang mau dibongkar makam Nabi Muhammad, baru KH Hasyim perintah bentuk komite tersebut.

Seberapa kuat Wahabi sekarang?
Sebetulnya tidak kuat, sedikit. Tapi dananya itu yang luar biasa. Dan belum tentu orang yang ikut karena percaya Iho! Artinya kan semata-mata karena dapat uang. Uangnya luar biasa. Si Arab-arab itu, kan kebanyakan Arab bukan Habib. Jadi pada dasarnya mereka juga cari uang.

Ancamannya seberapa besar?
Yah, Kalau kita biarkan ya terancam. Kalau setiap hari radio MTA, TV Rodja ngantemin maulid nabi, ziarah kubur, lama-lama orang terpengaruh juga.

Sumber: Majalah Risalah NU No. 38/Tahun VI/1434H/2013

Dari keterangan kedua tokoh NU di atas bisa disimpulkan bahwa ideologi Wahabi dianggap berbahaya dan bisa mengarah pada tindakan radikal sehingga harus dilawan.

Seperti diketahui, Islam di Indonesia adalah Islam yang ramah, hangat dan toleran. Selain itu, Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Ada banyak agama dan aliran kepercayaan yang dilindungi oleh negara untuk tumbuh dan berkembang. Apa jadinya jika suatu kelompok radikal membolehkan melakukan bom bunuh diri, membongkar kuburan, menghancurkan peninggalan-peninggalan bersejarah dengan alasan menegakkan tauhid?

Berikut ini adalah daftar tindakan-tindakan anarkis yang dilakukan kelompok radikal di Indonesia:

  1. Riyanto, anggota Banser yang syahid saat menjaga perayaan Natal: http://www.tempo.co/read/news/2012/12/26/058450478/Mojokerto-Kenang-Riyanto-Banser-Korban-Bom-Natal
  2. Bom Bali: http://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2002
  3. Kelompok bercadar rusak makam kerabat keraton Yogyakarta: http://sp.beritasatu.com/home/kelompok-bercadar-rusak-makam-kerabat-kraton-yogyakarta/42164
  4. Terorisme di Poso: http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2157/1/teroris.poso

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa ancaman kelompok Wahabi Takfiri di Indonesia adalahnyata, dan telah merengut korban jiwa. Sedangkan ancaman atau bahaya Syiah dan Iran masih sebatas tuduhan yang tidak terbukti.

Dan, apakah Iran pemicu Perang Dunia 3? Untuk mengetahui jawabannya, kita harus menunggu sampai perang tersebut benar-benar terjadi. Hanya saja, melihat tercapainya kesepahaman program nuklir Iran, kemungkinan untuk hal itu sangatlah kecil. Logikanya, ketika berbagai sanksi sudah dicabut dan pengayaan nuklir sudah diperbolehkan, maka, apa gunanya mengobarkan perang? Pemerintahan yang rasional tentu akan memilih untuk mensejahterakan rakyat dan membangun negaranya.

Namun, ada hal yang patut dipertanyakan kepada Arrahmah. Jika Perang Dunia 3 benar-benar terjadi, maka, Arrahmah akan berada di barisan mana? Apakah mendukung Arab Saudi dan sekutunya, yaitu AS dan Israel?

sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: