Menjawab Propaganda Media Pro Al Qaeda ” Arrahmah.Com” Iran Pemicu PD III (2)

Dalam artikelnya yang berjudul ‘Nauzubillah, Mari Waspadai Propaganda Syiah Iran Dalam Perang Akhir Jaman’ Arrahmah memaparkan ulasan dari Divisi Fatwa dan Pengkajian Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), DR. H. Abdul Chair Ramadhan, S.H., M.H., M.M. (Baca juga: Bantahan untuk Arrahmah bagian pertama)

Arrahmah menulis,

Kita ketahui, bahwa syiah Iran tengah mengembangkan proyek nuklir sebagai deterrence effect di kawasan Timur Tengah. Iran juga berambisi untuk menjadikan Yaman sebagai Negara bagiannya sebagaimana Lebanon dengan peranan Hizbullat sebagai non state actor. Yaman sangat strategis dalam lalu lintas minyak dunia, mengingat keberadaan laut Kaspia yang menghubungkan ke berbagai benua. Yaman diyakini juga memiliki kandungan minyak yang besar. Selain itu, ada suatu agenda besar mengapa Iran ingin menguasai Yaman, yakni karena Yaman berbatasan dengan Saudi Arabia.

Iran memang bermaksud akan menginvansi Saudi Arabia. Hal inilah yang menjadi alasan utama Arab Saudi melakukan penyerangan kepada pemberontak Hautsi. Iran menganggap pesaingnya di Timur Tengah hanya tinggal satu Negara yakni Saudi Arabia. Untuk itu, gerakan hate speech selalu dialamatkan kepada Saudi sebagai personifikasi Bani Umayyah, tegasnya kaum mustakhbirin yang mengusung paham Wahabi. Bicara Wahabi tidak lain dimaksudkan juga sebagai kaum Nawashib-Khawarij. Lanjut, dalam upaya memantapkan perjuangan Syiah Iran ini, maka penguatan basis ideologi di berbagai Negara target dilakukan secara masif dan ofensif, termasuk Indonesia.

Tanggapan,

Memang benar, Republik Islam Iran memang mengayakan nuklir, namun harus digaris bawahi bahwa proyek ini semata-mata untuk tujuan damai. Program nuklir Iran merupakan salah satu masalah internasional, karena mendapatkan penentangan dari banyak pihak, seperti Amerika Serikat dan Israel. Akibatnya, Iran dijatuhi berbagai sanksi, dimata-matai, bahkan ilmuwan nuklir Iran dibunuh.

Jika Arrahmah turut khawatir terhadap program nuklir Iran, maka posisi masing-masing sangat jelas terbaca. Arrahmah berada di barisan Israel dkk, yang begitu ketakutan atas program nuklir Iran ini. Deal?

 

 

Padahal kita ketahui bersama, bahwa Israel juga memiliki senjata nuklir. Mengapa Arrahmah tidak merasa khwatir bahwa program nuklir Israel juga bisa menjadi sebagai deterrence effect di kawasan Timur Tengah? Perhatikan kutipan berikut:

“Pemerintah Israel enggan untuk mengesahkan atau menyangkal secara resmi bahwa Israel mempunyai program senjata nuklir, dan tidak menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons – NPT). Pada tahun 1998, mantan Perdana Menteri Israel Shimon Peres mengakui secara terbuka bahwa Israel “membangun pilihan nuklir, bukannya untuk Hiroshima tetapi untuk Oslo.” Pilihan nuklir” bisa merujuk kepada senjata nuklir atau reaktor nuklir di Dimona, yang dikatakan oleh pihak Israel untuk penyelidikan ilmiah.

Pengungkapan pertama kepemilikan nuklir Israel datang dari Sunday Times yang berpusat di London pada 5 Oktober 1986, yang mencetak maklumat yang diungkapkan oleh Mordechai Vanunu, bekas pekerja di Pusat Penyelidikan Nuklir Negev, terletak di gurun Negev selatan Dimona. Disebabkan pengungkapannya, Vanunu diculik oleh Mossad dan dihukum penjara selama 18 tahun, 12 tahun dalam penahanan terisolasi (solitary).

Walaupun terdapat banyak spekulasi sebelum pengungkapan Vanunu tentang Dimona menciptakan senjata nuklir, maklumat Vanunu menunjukkan bahwa Israel juga menciptakan senjata termonuklir. Menurut Inisiatif Ancaman Nuklir (Nuclear Threat Initiative), berdasarkan maklumat Vanunu, Israel mempunyai anggaran 100–200 peranti bahan ledakan nuklir dan sistem pengangkut peluru kendali Jericho. Laporan Kantor Pertahanan Amerika Serikat yang diterbitkan pada 2004 meletakkan jumlah senjata pada 82. Perbedaan mungkin terletak pada jumlah bahan yang dimiliki Israel berbanding jumlah senjata yang siap.

Bagaimanapun juga, Iran menujukkan itikad baik dengan melakukan perundingan dalam jangka waktu yang panjang dengan negara-negara besar dunia. Dan puncaknya Iran dan negara-negara P5+1 berhasil mencapai kesepahaman bersama, yang menjadi awal dari babak baru. Dengan kesepahaman ini, sanksi-sanksi atas Iran akan dicabut.

Sedangkan Israel, sampai hari ini masih bertindak sebagai provokator yang menggunakan segala cara untuk menghalangi nuklir Iran. Bukankah hal ini adalah sebuah kontradiksi?

Dengan demikian, kekhawatiran akan program nuklir tidaklah beralasan. Ketika negara-negara berpengaruh saja sudah ‘legowo dan memberi restu’, mengapa Arrahmah harus khawatir berlebihan, sebagaimana yang ditunjukkan Israel? Apakah Arrahmah ingin menunjukkan kepada ummat Islam bahwasanya ia tengah bertransformasi menjadi corong Israel?

Yaman jadi Negara Bagian Iran?

Arrahmah menulis, “Iran juga berambisi untuk menjadikan Yaman sebagai Negara bagiannya sebagaimana Lebanon dengan peranan Hizbullat sebagai non-state actor.

Pernyataan di atas harus diluruskan terlebih dahulu. Pertama, Lebanon bukan negara bagian Iran. Kedua, peranan Hizbullah di Lebanon adalah sebagai kelompok perlawanan/ resistensi terhadap Israel. Sejarah mencatat, Hizbullah merupakan garda terdepan dalam melawan Israel yang berulang kali mencoba menginvansi Lebanon, misalnya pada tahun 2006, Hizbullah memenangkan pertempuran selama 33 hari. Hingga hari ini, antara Israel dan Hizbullah masih kerap terjadi baku hantam, dan yang terakhir adalah ketika Israel menyerang pasukan Hizbullah di Golan, yang lalu dibalas Hizbullah dengan Operasi Shebaa Farms pada Januari 2015.

Hizbullah bukanlah organisasi sekterian, dan kelompok ini didukung oleh rakyat Lebanon, terlepas dari agama ataupun mazhabnya. Muqawwama ini juga tidak mengincar kekuasaan, dan fokus untuk melindungi masyarakat. Jadi, tuduhan bahwa Lebanon adalah negara bagian Iran amatlah mengada-ada. Lantas, apakah Iran berambisi menjadikan Yaman sebagaimana Lebanon?

Terkait Yaman, pengamat Timur Tengah Dina Y. Sulaeman telah menuliskan pemetaan konfliknya di sini.

Pangkalan militer AS di Saudi

Pangkalan militer AS di Saudi

Iran akan menginvansi Arab Saudi?

Lebih lanjut muncul tuduhan bahwa Iran akan menginvansi Arab Saudi. Tuduhan ini hanya akan menjadi tuduhan kosong jika tanpa disertai bukti-bukti. Iran tidak pernah menyatakan akan menyerang Arab Saudi, sebaliknya, justru Arab Saudi yang nyata-nyata menyerang Yaman, dengan dalih memerangi pejuang revolusioner Ansarullah. Laporan PBB pada 10 April 2015 menunjukkan, bahwa serangan Arab Saudi telah menghancurkan infrastruktrur Yaman, dan korban perang pun bertambah menjadi 643 orang tewas dan 2.226 lainnya mengalami luka-luka.

Arrahmah juga melupakan fakta bahwa Arab Saudi memiliki 5 pangkapan udara Amerika Serikat, yaitu Eskan Village Air Base, Saudi Arabia King Abdul Aziz Air Base, Dhahran, Saudi Arabia King Fahd Air Base, Taif, Saudi Arabia King Khalid Air Base, Khamis Mushayt, Saudi Arabia Riyadh Air Base, Riyadh. Ini merupakan bukti yang sangat nyata bahwa Arab Saudi merupakan sekutu dekat AS. Melalui pangkalan udaranya di Arab Saudi, AS menginvansi negara-negara di Timur Tengah, seperti yang dilakukannya dalam Perang Teluk ataupun terhadap Afghanistan.

Di satu sisi, kita melihat bagagimana benci dan antipati Arrahmah terhadap AS, namun di sisi lain, media ini seolah mendukung Arab Saudi yang tak lebih merupakan ‘anjing penjaga’ kepentingan AS di kawasan.

Arrahmah, adakah satu saja pangkalan militer AS di Iran? (ba)

Baca selanjutnya: Menjawab Arrahmah, Benarkah Iran Pemicu Perang Dunia 3?

 

sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: