KERAJAAN WAHABI SAUDI SIAP BAYARI KAUM TAKFIRI UNTUK MENCIPTAKAN PERMUSUHAN SUNNI & SYIAH

LPPI Makassar

Klik untuk memperbesar

Oleh: Putu Heri

Ketika media-media di seluruh dunia mengekspos eksekusi mati rezim Arab Saudi terhadap Syaikh Nimr Baqir al-Nimr pada tanggal 2 Januari 2015, ternyata di hari yang sama muncul ‘berita tandingan’ yang tak kalah masifnya. Di media sosial, masif beredar berita hoax bahwa Ahlussunah dibantai di Iran. Media-media mapan juga merilis berita bahwa Iran-pun melakukan eksekusi mati terhadap Muslim Sunni. Bahkan Detik.com, turut menggoreng isu sekterian dengan memuat berita bohong perihal kehidupan Muslim Sunni di negeri Iran.

Pakar Timur Tengah Dina Y. Sulaeman pun mengungkapkan keheranannya. Kader-kader dan situs-situs PKS (yang berhaluan Ikhwanum Muslimin), mati-matian membela Arab Saudi. Bukankah IM telah ditetapkan sebagai organisasi teroris pada tahun 2014? [1]

Untuk memahami fenomena ini, sepertinya kita harus kembali melihat ke belakang. Bulan Mei 2015, kelompok hacker Yaman berhasil meretas jaringan milik Kementrian Luar Negeri, Kementrian Pertahanan dan Kementrian Dalam Negeri Arab Saudi. Dari pembobolan ini, ratusan ribu dokumen rahasia dan informasi penting Arab Saudi pun didapat, dan beberapa diantaranya telah dikuak di media. [2]

Misalnya, ketika MTV Lebanon meminta Arab Saudi membayar $20 juta untuk melakukan propaganda pro-kerajaan. Disebutkan, bahwa MTV harus menyajikan berita untuk melayani kepentingan Arab Saudi. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Kerajaan harus didukung. MTV juga harus mengimbangi pemberitaan media-media yang ‘memusuhi’ Arab Saudi. Dengan kata lain, jika ada media yang mengungkap kebusukan rezim Saudi, maka MTV harus melakukan propaganda untuk membela Saudi, ataupun mengalihkan perhatian publik, sehingga kepentingan Saudi tetap terlindungi.

Untuk melaksanakan propaganda sejenis itu, MTV meminta bayaran sebesar $20 juta. Namun permintaan itu ditolak, karena dinilai terlalu besar. Menurut rezim Saudi, $5 juta saja sudah cukup. [3]

Artinya: Arab Saudi membayar media-media untuk melakukan propaganda.

Namun, apakah negara agresor ini hanya membayar media-media mapan? Tentu tidak. Arab Saudi memahami bahwa saat ini, penyebaran informasi sudah sedemikian pesat, tak terkecuali informasi yang berasal dari media sosial ataupun blog. Untuk itu, Arab Saudi juga membayar para pengguna media sosial.

Buktinya, silahkan lihat foto di pojok kiri atas.

 

 

 

Percakapan di atas terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika seorang Facebooker (atas nama Ilham Kadir) mengaku telah menerima dana 2 juta tiap bulannya dari Kedubes Arab Saudi untuk mengelola website LPPIMakassar.com. Tulisan-tulisan di situs tersebut, lantas dibagikan di grup-grup Facebook. Ia juga aktif berdebat untuk menyerang Syiah, atau membuktikan bahwa Syiah adalah aliran sesat yang harus diwaspadai. [4]

Tentu saja, Facebooker seperti Ilham Kadir tidaklah sendirian. Pembela dan pemuja fanatik Arab Saudi bisa kita temukan berkeliaran dimana-mana. Arab Saudi ketika salah pun tetap dibela, meskipun harus dengan menggunakan informasi palsu, foto-foto palsu ataupun video palsu.

Kemana riyal bertiup, ke situlah berita berhembus. Arab Saudi menggelontorkan banyak dana untuk mengontrol media, sehingga media pun bertekuk lutut dan bersedia menulis berita sesuai dengan pesanan. Sehingga, jika kita melihat propaganda yang masif, apalagi yang berbau sekterian, itu artinya riyal Saudi tengah bekerja.

Di saat yang sama, Arab Saudi juga membungkam media-media yang melakukan perlawanan. Website Al-Manar dan saluran televisi Al-Mayadeen misalnya, telah diblokir sehingga tidak bisa diakses di seluruh wilayah Kerajaan. (LiputanIslam.com)

Referensi:

[1] http://liputanislam.com/opini/setujukah-jika-pengritik-pemerintah-dijatuhi-hukuman-pancung/
[2] http://en.farsnews.com/newstext.aspx?nn=13940231000544
[3] http://en.farsnews.com/newstext.aspx?nn=13940330001328
[4] http://liputanislam.com/tabayun/hobby-baru-takfiri-obral-predikat-syiah/

Sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: