Kepentingan Israel di Tengah Ketegangan Iran – Saudi

Zoher andrawous israelOleh: Zoher Andrawous*

“Musuhnya musuh adalah kawan.” Demikianlah kiranya ungkapan untuk menyimpulkan kebijakan Israel terkait dengan ketegangan yang terjadi belakangan ini antara Arab Saudi dan Iran. Ini karena sudah kian terungkap rahasia adanya komunikasi informal antara Riyadh dan Tel Aviv dalam pertemuan-pertemuan antara Dirjen Kemlu Israel Dore Gold dengan Jenderal (Purn) Saudi Anwar Eshki yang sangat dekat dengan dinasti yang berkuasa di Saudi.

Di samping itu, mantan dubes Israel yang kini menjadi anggota Knesset, Michael Oren, dalam tulisan terbarunya menyebutkan bahwa mantan dubes Saudi yang kini menjadi menteri luar negeri, Adel al-Jubeir, selalu menjadi tamu dalam berbagai event yang diselenggarakan Oren di ibu kota Amerika Serikat (AS).

Kemudian, patut pula dicatat pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel berusaha menjalin hubungan erat dengan negara-negara “Arab Sunnni moderat” dalam gerakan kontra-terorisme dan upaya membendung eskalasi pengaruh Iran di Timteng. Netanyahu juga menyatakan bahwa interes Israel dan Saudi terbaur dalam kecemasan dan keprihatinan keduanya terhadap kesepakatan nuklir negara-negara besar dengan Republik Islam Iran.

 

Lebih jauh lagi, gejolak hubungan antara Riyadh dan Teheran pada akhirnya akan menguntungkan politik divide et impera Israel. Terpecah belahnya komunitas-komunitas masyarakat Arab, demikian pula masyarakat Iran, dengan nuansa sektarian mazhab, pada gilirannya adalah salah satu pijakan utama gerakan Zionisme untuk menguasai Timteng.

Bertolak dari semua alasan ini, Tel Aviv sudah pasti memandang memuncaknya ketegangan antara Saudi dan Iran sebagai momentum untuk menggairahkan lagi kerjasama Saudi – Israel di berbagai bidang yang menautkan kepentingan Tel Aviv – Riyadh di Timteng. Inilah yang kemudian menyebabkan pengungkapan apa yang semula tersembunyi di balik meja, terutama terkait permusuhan kolektif mereka terhadap Iran dan mengemukanya permusuhan ini di berbagai kancah regional.

Dalam konteks ini, situs Chanel 124 memuat artikel Dr. Ofer Israeli, guru besar ilmu hubungan internasional dan kebijakan luar negeri Akademi Pasukan Pertahanan Israel (IDF), yang berbicara mengenai peluang emas yang sudah tersuguh di depan Israel menyusul eskalasi konflik Saudi – Iran. Menurutnya, ketegangan ini membesar menyusul eksekusi Syeikh Nimr al-Nimr dan ini menjadi titik transformasi dalam hubungan antara dua kekuatan regional. Dia menambahkan bahwa Israel harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat kepentingan-kepentingannya secara umum di Timteng.

Lebih lanjut Ofer Israeli menjelaskan bahwa Riyadh dan Tel Aviv memiliki persamaan kepentingan dalam beberapa  isu sebagai berikut;

Pertama, isu kesepakatan nuklir Iran. Israel dan Saudi sama-sama menilai kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara besar sebagai kesepakatan yang buruk, termasuk karena dapat memperkuat posisi Iran dan memungkinkannya untuk memiliki bom nuklir. Krisis yang terjadi sekarang bisa jadi memicu penguatan hubungan yang selama sekian tahun ini berlangsung stagnan antara Israel dan Saudi.

Pada poin ini Ofer Israeli menekankan bahwa kuatnya kemufakatan antara Israel dan Tel Aviv, terutama menyangkut kesepakatan nuklir Iran, bisa jadi menampak dalam beberapa hal, termasuk penggalangan koordinasi kebijakan umum mengenai proyek nuklir Iran karena bisa jadi Iran akan melanggar kesepakatan itu, sekarang ataupun di masa mendatang, sehingga terbuka kesempatan bagi Israel dan Saudi menyatukan langkah di depan Washington.

Hal lain ialah tekanan terhadap Presiden AS Barack Obama supaya menempuh langkah yang lebih tegas terhadap segala bentuk pelanggaran Iran di masa mendatang. Lebih jauh, pengamat Israel ini menekankan bahwa hal yang terpenting pada poin pertama ini ialah tindakan jitu Israel yang akan mendorong Saudi untuk memperkenankan atau bahkan membantu serangan Israel terhadap Iran ketika Israel merasa perlu mengerahkan segenap kekuatannya dan menilai Iran sudah nyaris memiliki senjata nuklir.

Kedua, isu Palestina dan hubungan Israel dengan para jiran Arabnya. Dalam konteks ini Riyadh menjadi pemelihara “inisiatif perdamaian Saudi”.

Ketiga, isu Lebanon dan Yaman; kontinyuitas tekanan Iran melalui para sekutunya semisal Hizbullah di Lebanon terhadap kepentingan Israel, dan Houthi di Yaman terhadap kepentingan Saudi. Karena itu, ketegangan situasi sekarang dapat dimanfaatkan Israel untuk menunjang kepentingannya dengan membantu Saudi dalam perangnya terhadap Houthi, sekaligus mempercepat proses yang selama ini terhambat terkait penjualan sistem rudal “Kubah Besi” kepada Saudi demi memayungi negara ini dari rudal yang meluncur dari Yaman.

Keempat, isu Suriah. Dalam isu ini Israel dapat memanfaatkan ambisi Saudi untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Israel tak perlu secara terbuka membuntuti kebijakan Saudi, namun dengan berbagai sarana yang ada Israel dapat membantu melicinkan ambisi Riyadh tersebut. Hanya saja, di saat yang sama Israel perlu menempuh langkah hati-hati dengan cara memperdekat hubungannya dengan Rusia.

Pada konteks yang sama, pengamat militer koran Haaretz, Amos Harael, mengutip pernyataan sumber-sumber keamanan dan politik papan atas di Tel Aviv bahwa ketegangan antara Iran dan Saudi telah mengubur solusi diplomatik bagi Suriah, namun sumber-sumber ini tidak menjelaskan bagaimana hal ini sejalan dengan kepentingan negara Yahudi tersebut.
* Penulis Palestina. Artikel ini diterjemahkan dari Rai al-Youm, 6 Januari 2016.

sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: