Jurnalis Indonesia di Irak: Sunni- Syiah Hidup Rukun

Satrio, jurnalis Indonesia yang meliput langsung ke Irak

Satrio, jurnalis Indonesia yang meliput langsung ke Irak

LiputanIslam.com — Hingga hari ini, narasi-narasi yang disebarluaskan oleh media takfiri Tanah Air terkait perang yang terjadi di Irak, masih dibumbui oleh isu sekterian Sunni-Syiah. Pemerintah Irak, disebut sebagai ‘Syiah’ yang menindas rakyat. Sedangkan kaum jihadis seperti ISIS, diberi predikat ‘Ahlussunah Wal Jamaah’ yang berjuang menegakkan melawan Syiah demi membela agama Allah.

Benarkah demikian?

Sayang sekali, kesaksian berbeda datang dari redaktur senior media Aktual.co, Satrio Arismunandar, yang meliput langsung dari Irak. Ia sudah melakukan kunjungan jurnalistik ke berbagai wilayah di Irak sejak Kamis (19/2/2015). Selama sekitar dua minggu, ia dijadwalkan mengunjungi berbagai kota di negeri kaya minyak yang sering dilanda perang itu.

 

 

 

 

“Jangan mudah percaya dengan laporan media massa Barat tentang konflik sektarian di Irak,” ujar Des Alwi, mantan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Irak, yang telah satu setengah tahun bertugas di KBRI Baghdad, seperti dilaporkan Aktual.co, (23/02/2015).

“Media Barat sering menulis soal konflik keras antara warga Sunni versus Syiah di Irak. Tetapi itu sebetulnya hanya di tataran politik. Dalam kehidupan sehari-hari, warga Syiah dan Sunni di Irak biasa tinggal berdampingan, bertetangga, dan rukun-rukun saja,” lanjutnya.

Lebih lanjut dilaporkan saat ini kondisi keamanan di Irak dianggap sudah jauh lebih kondusif, meski letupan konflik –seperti ledakan-ledakan bom di tempat umum—terkadang masih terjadi.

Syiah dan Sunni Hidup Rukun

Para diplomat Muslim yang kebetulan penganut Sunni memberi contoh, warga Sunni bisa sholat di masjid Syiah dan diterima baik. Tidak ada masalah. Sebaliknya orang Syiah juga bisa sholat di masjid Sunni, dan juga tidak dipersoalkan.

“Mungkin semula kita membayangkan, akan ada masalah. Soalnya orang Syiah kalau sholat kan menggunakan keping tanah dari Karbala untuk tempat sujud. Tetapi ketika mereka menggunakan ritual itu di masjid Sunni, saya lihat jamaah Sunni yang ada di masjid juga cuek saja. Artinya, hal itu tidak dipersoalkan,” ujar seorang diplomat pada Aktual.co.

Menurut data, pengaut Syiah adalah mayoritas di Irak, sekitar 60 persen. Sedangkan penganut Sunni sekitar 40 persen. Di Irak juga terdapat penganut Kristen, Yazidi, dan lain-lain. Etnis Arab dominan di Irak, tapi juga ada etnis Kurdi yang cukup besar.

“Perbedaan kepercayaan dan pandangan agama antara Syiah dan Sunni tidak pernah menjadi masalah bagi warga Kurdi di Irak. Warga Kurdi bahkan ada yang beragama Kristen dan lain-lain, tetapi mereka hidup rukun satu sama lain,” ujar Aram, warga Kurdi yang tinggal di Erbil, Kurdistan, Irak.

Disebutkan juga warga Kurdi yang berbeda-beda kepercayaan kini hidup terpisah dan tercerai di wilayah Suriah, Iran, Irak, dan Turki, serta beberapa wilayah. Meski jumlah orang Kurdi ada puluhan juta, mereka tidak memiliki negara sendiri.

Jadi, masihkah kita harus percaya pada media-media yang selalu menghasut dan mengadu domba dengan berbagai macam fitnah dan kebohongan?

Sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: