FARID AHMAD OKHBAH AN NASIBI

Ustadz Farid Okbah

Ustadz Farid Okbah

LiputanIslam.com — Ulama adalah pewaris Nabi. Sehingga, dalam perjalanan dakwahnya membimbing ummat, haruslah menggunakan pendekatan ala Rasulullah Saw. KH. Subhan Ma’mun Brebes dalam acara Maulid Nabi Saw. dan Harlah NU ke-89 di Kebasen Talang Tegal menyatakan bahwa definisi ulama/ kyai adalah alladzina yandzurunal ummah bi’ainirrahmah (mereka yang memandang ummat dengan pandangan belas kasih).

Mengenal Ustadz Farid Akhmad Okbah

Ustadz Farid Akhmad Okbah, adalah salah satu tokoh Islam pendiri organisasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Selain aktif di MIUMI, ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Yayasan Alislam.

 

Yayasan ini, bermula dari kegiatan pengelolaan dakwah melalui dunia maya, yaitu di situs http://www.alislam.or.id yang mengudara kali pertama pada 12 Desember 1998. Kemudian, pada tahun 2005, Yayasan Alislam membangun sebuah Islamic Center di daerah Jati Melati, Pondok Melati, Bekasi. Tujuannya adalah untuk membangun kader-kader dakwah yang memiliki aqidah yang lurus dan pemahaman agama yang memadai. Kader-kader dakwah itu digembleng dalam sebuah kegiatan, yaitu Pesantren Tinggi Al-Islam (Ma’had Ali Al-Islam). Kegiatan inilah yang sekarang kemudian menjadi kegiatan utama Yayasan Alislam.

Tujuan yayasan ini dibentuk, antara lain;

  • Membangun, meningkatkan, dan memajukan dakwah Islam.
  • Menjadi salah satu alternatif sarana pendidikan dan pelatihan Islam.
  • Membangun sebuah portal Islam yang menjadi pusat kajian Islam yang memiliki informasi keislaman yang lengkap dan benar.
  • Menjalin persatuan dan kesatuan umat Islam yang masih mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah yang bermanhaj salafush shaleh.
  • Mengembangkan dan memberdayakan potensi sumber daya umat Islam.

Sebagai tokoh yang telah malang melintang di dunia dakwah Indonesia, tak mengherankan jika beliau memiliki banyak pengikut. Dan selain berdakwah di dunia nyata, beliau juga aktif di media sosial. Halaman resminya di Facebook, hingga artikel ini diturunkan, telah dilike oleh 22. 828 akun. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk mem-viralkan sebuah postingan.

Beliau juga dikenal sebagai ulama anti-Syiah yang gigih. Usahanya untuk membendung mazhab Syiah – yang dianggapnya sesat – telah konsisten ia lakukan selama bertahun-tahun melalui media, seminar, maupun jejaring sosial. Sebut saja Arrahmah, situs ‘Islam’ pendukung kelompok Taliban, Boko Haram, Al-Nusra (yang disebutnya Mujahidin), kerap menjadikan beliau sebagai narasumber.

Melawan Lupa, Antara Farid Akhmad Okbah dan Suriah

Dalam kesempatan kali ini, izinkan kami untuk kembali mengingatkan beberapa hal terkait beliau dan krisis Suriah yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu, agar masyarakat Indonesia bisa lebih berhati-hati dan bijak dalam mengambil sikap di waktu mendatang.

Pertama, beliau pernah menyebarkan foto palsu yang berkaitan dengan perang Suriah. Melalui halaman pribadinya, diunggah foto mengerikan (seorang anak yang dimutilasi) dan bersimbah darah. Dalam keterangan foto tersebut, beliau menyebut, “Korban kebiadaban Syiah Nushairiyah di Suriah.” Namun setelah dilakukan penelusuran melalui Google Image, ternyata foto itu adalah anak di Brazil yang terbunuh di tahun 2007. Akibatnya, protes pun bermunculan pada kolom komentar, dan tak lama kemudian, postingan tersebut di hapus. Berikut ini, bukti screenshootnya:

[Gambar ini telah diblur, jika Anda ingin melihat gambar aslinya, silahkan klik tautan ini]

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Kedua, beliau dalam wawancaranya dengan Arrahmah menyatakan, bahwa korban pengungsi Suriah berjumlah 45 juta jiwa. Angka yang sangat besar, namun sayang, itu bohong. Penduduk Suriah hanya berjumlah kurang lebih 23 juta jiwa.

Terkuaknya kebohongan ini telah diekspos masif oleh berbagai blogger independen. Dan menyadari ada kekeliruan disini, akhirnya artikel wawancara tersebut diedit. Angka 45 juta, diubah menjadi 4,5 juta. Perhatikan screenshoot di bawah ini:

Farid Okbah 3

Klik untuk memperbesar

Akuratkah angkat tersebut? Sayangnya, menurut Dakwatuna yang mengutip dari laporan UNHCR, jumlah pengungsi Suriah di pertengahan 2013 berjumlah sekitar 1.6 juta jiwa.

Sedangkan data terbaru dari UNHCR yang dirilis pada 18 Februari 2015, disebutkan bahwa total jumlah pengungsi Suriah (baik yang telah registrasi atau belum) mencapai 3.821.335 jiwa. Jumlah ini, masih dibawah angka 4,5 juta yang diedit tersebut. Maka, darimanakah beliau memperoleh data-data pengungsi yang berjumlah 45 juta/ 4,5 juta tersebut? Adakah beliau menghitung sendiri ke Suriah, Yordania, Turki dan Lebanon?

Ketiga, foto bersama antara Presiden Suriah Bashar al-Assad, Grand Mufti Suriah Syeikh Ahmad Hassoun, dan para pendeta Kristen Orthodx, seperti yang tampak di bawah ini:

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Dalam tautan ini, beliau berkata,”KATANYA PALING MEMUSUHI YAHUDI. Kok begitu akrab sekali dlm foto bersama. Gemana menurut anda kaum muslimin…?? Apa seperti ini yang namanya bermusuhan…??”

Sepertinya beliau luput dari memperhatikan kalung salib yang dipakai oleh para pemuka agama tersebut – yang menandakan bahwa mereka adalah pendeta/ tokoh agama Kristen, bukan Yahudi.

Kemudian, berfoto bersama dalam silaturahmi antar agama yang berbeda, bukanlah hal yang tabu. Apalagi, Suriah adalah negara sekuler. Semua kepercayaan boleh tumbuh, bahkan partai komunis juga ada di Suriah. Tetapi pemerintah melarang agama diseret  ke dalam ranah politik, dan karenanya tidak diperkenankan agama atau kesukuan menjadi dasar sebuah partai. Walaupun demikian, fiqh Hanafi menjadi salah satu sumber hukum utama dalam hukum akhwal syakhsiyyah. Tampak di dalam foto, salah satu pendeta tersebut diapit oleh Presiden Assad, dan Grand Mufti Suriah Syeikh Ahmad Hassoun (seorang Muslim Ahlussunah, yang bermazhab Syafi’i).

Dalam sebuah wawancara, murid dari Asy Syahid Syeikh Ramadhan Al-Buthi menyebutkan bahwa toleransi dan kebersamaan antar agama—ataupun antar etnis di Suriah terjalin dengan sangat baik. Suriah memiliki semboyan, al din lillah; wal wathan li al jami’ (agama untuk Allah, negara untuk masyarakat). Ketika tokoh besar Islam meninggal, semua gereja-gereja di Damaskus membunyikan lonceng sebagai tanda belasungkawa. Tokoh tokoh  gereja juga biasa datang dan memberikan sambutan di majelis ta’ziyah ulama-ulama.

Jadi, apa yang membuat beliau mempermasalahkan foto tersebut, dan mengaitkannya dengan permusuhan terhadap Yahudi? Jika kita mengikuti logika beliau, maka bagaimana dengan foto berikut ini?

Aher bersama pemuka Kristen

Aher bersama pemuka Kristen

[Keterangan: Ustadz Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, yang melakukan safari Natal. Apakah hal ini juga berkaitan dengan Yahudi?]

***

Farid Akhmad OkbahDari ketiga kasus di atas, kita bisa melihat bahwa Ustadz Farid telah pernah melakukan penyesatan dan penyimpangan informasi, yang kemudian, disebarluaskan oleh para pengikutnya. Apakah yang dilakukan beliau sejalan dengan dakwah ala Rasulullah? Di satu sisi, beliau gigih mengajak kepada kebaikan, namun hal itu dilakukan sembari menyebarkan propaganda dan kebencian kepada pihak lainnya.

Dan baru-baru ini di media sosial tersebar info bahwa pada Ahad, 22 Februari 2015 nanti, beliau akan diundang di TVOne dalam sebagai narasumber yang akan mengungkap apa dan bagaimana Syiah — menurut pemahamannya. Beliau, berada dalam posisi sebagai ulama anti-Syiah. Perlu kita tunggu, apakah ini info benar atau hoax. Namun jika benar, perlu dipertanyakan pula, apakah dalam acara tersebut, TVOne juga akan mengundang pihak Syiah — sebagai bentuk cover both side of story?

Jika dikaitkan dengan ilmu hadits, bagaimanakah kedudukan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seseorang yang pernah atau berulang kali melakukan kebohongan? Lalu, jika kebohongan itu datangnya dari seorang ‘ulama’ terkemuka, masihkah kita bisa percaya padanya?

Sumber : Liputan islam

Iklan

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: