Fakta Iran, di Tengah Perang Opini Al-Qaeda dan ISIS

ISIS vs Al QaedaLiputanIslam.com — Pertikaian yang terjadi diantara kelompok Islamic State of Iraq and Syria (IS/ISIS/ISIL) dengan kelompok jihad lainnya bukanlah merupakan hal yang baru. Hal ini tercermin dari terbelahnya media-media takfiri Tanah Air dalam menyikapi keberadaan ISIS. Arrahmah.com, yang awalnya adalah pendukung ISIS, kini telah berbalik. Media yang berada di bawah asuhan Abu Jibril tersebut berada di pihak kontra ISIS.

Arrahmah.com, hari ini merilis artikel yang berjudul Tanggapan Syaikh Syinqithi terhadap Majalah Dabiq ISIS edisi ke-6 “Al-Qaeda Waziristan, kesaksian dari dalam”. Tulisan ini merupakan bentuk perang opini di media antara ISIS dan Al-Qaeda, yang ternyata, tidak hanya terbatas pada wilayah di Irak dan Suriah, melainkan merembet pada berbagai peristiwa yang telah terjadi di masa lalu baik itu di Afghanistan dan Iran.

Arrahmah menulis;

Iran telah menggalang baiat kepada Al-Qaeda dan mendorong semua orang untuk melakukannya. Dari kalimat ini saja sudah dapat diketahui bagaimana si penulis menyikapi Al-Qaeda, dan seberapa besar permusuhan yang ia pendam kepadanya.

Bagaimana mungkin Iran mendukung baiat kepada Al-Qaeda namun di saat yang sama Syaikh Ayman Azh-Zhawahiri Hafizhahullah sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan bahaya Iran dan mengungkap kesetiaan dan kerjasamanya dengan barat dalam setiap peperangannya melawan ahlus sunnah! Lalu apakah baiat yang diberikan Az-Zarqawi kepada Al-Qaeda merupakan bentuk kepedulian beliau terhadap kemauan Iran?!!

Apakah Iran merasa puas terhadap Abu Mushab Az-Zarqawi karena beliau telah berbaiat kepada Syaikh Usamah? Padahal saat itu beliau adalah orang yang paling keras sikapnya terhadap Rafidhah?!

 

 

Dalam kutipan tersebut, kedua belah pihak saling memojokkan satu sama lain terkait dengan hubungan antara Iran dan Al-Qaeda. Hal ini merupakan sebuah daya tarik tersendiri, karena Iran, negara yang begitu dimusuhi oleh banyak pihak, selalu saja menjadi kambing hitam.

Perhatikan saja fakta yang kita dapati hari ini. Iran dituduh bekerja sama dengan Israel dan Amerika Serikat, kendati sebenarnya, Iran dimasukkan ke dalam daftar ‘State Sponsor of Terorism’ oleh AS. Israel pun tanpa henti melakukan serangan terhadap Iran, baik verbal maupun operasi senyap.

Oleh kelompok anti-ISIS, Iran disebut sebagai pembentuk ISIS. Sedangkan oleh ISIS, Iran dituduh menggalang baiat untuk Al-Qaeda. Padahal Iran membantu Suriah dan mempersenjatai Hizbullah, lalu menggerakkan pasukan Al-Quds di Irak, yang salah satu tujuannya adalah untuk membasmi terorisme hingga ke akar-akarnya.

Apa hubungan antara Al-Qaeda dan Iran? Liputan Islam telah menjawabnya di sini. Berikut kutipannya:

Sejarah mencatat, bahwa Al-Qaeda yang memiliki hutang pada Iran. Pada tahun 2002, saat AS melancarkan serangan masifnya di Afghanistan, dan teroris Al-Qaeda banyak yang tewas, maka Osama bin Laden pun meminta perlindungan kepada Iran. (Nicholas Hagger, The Secret American Dream: The Creation of a New World Order with the Power)

Lalu pada tahun 2010, jaringan media AS Fox News menyiarkan sebuah film dokumenter yang menggambarkan kehidupan Osama bin Laden, sosok teroris pimpinan jaringan Al-Qaeda yang paling dicari AS saat itu. Dalam dokumenter itu disebutkan bahwa Osama hidup nyaman bersama keluarganya di sebuah tempat di utara Teheran, dibawah penjagaan pasukan Garda Revolusioner Iran. (Eramuslim, 5 Mei 2010)

Dengan kata lain, gembong teroris Al-Qaeda dan pengikutnya, pernah meminta perlindungan kepada Iran, saat mereka dalam kondisi terdesak. Dan kondisi terdesak tidak sama dengan kondisi normal. Catatan kecil dari Islam Times ini, lebih dari cukup untuk menjawab, hutang-piutang apa yang pernah terjadi diantara Iran dan Al-Qaeda.

Iran di Mata Hati Sadam dan Al-Qaeda

Ada satu fakta tentang Iran yang tak mungkin dapat dihapus dari layar sejarah. Sebagaimana diketahui, Iran mempunyai beberapa musuh bebuyutan yang bukan hanya AS  dan Israel, tapi juga Rezim Saddam Husain, dan jaringan Takfiri al-Qaeda bentukan AS.

Yang ganjil dan nyeleneh adalah ketika Irak dibombardir oleh pasukan sekutu pimpinan AS, Saddam malah melarikan puluhan atau bahkan ratusan pesawat tempurnya ke Iran supaya tidak jadi onggokan besi tua.

Dalam Perang Afghanistan pasca rezim barbar Taliban, ketika ratusan militan Al-Qaeda yang katanya diuber-uber serdadu Amerika, militan itu malah dengan “gagah berani” masuk dan mencari perlindungan di Iran.

Mengapa dua adegan konyol itu sampai terjadi? Bukankah rezim Ba’ath Saddam maupun para ksatria Al-Qaeda sudah berbusa-busa menyebut Iran sebagai negara beringas,  yang gemar menggantung dan memenggal kepala  Muslim Sunni?

Jawabannya jelas, mereka atau orang-orang seperti mereka, termasuk oknum dari AS dan Eropa, mulut mereka berbusa-busa melakukan propaganda demikian tak lain karena sedang berusaha memenuhi ambisinya.

Sedangkan ketika mereka sudah sangat terpaksa dan tak ada pilihan lain untuk berharap keadilan, maka hati nuranilah yang bicara. Dan Iran nampaknya pilihan nurani dan itu sangat-sangat realistis dan logis.

Hati mereka akan berkata jujur dan mengetahui dimana tempat berkumpulnya orang-orang bijak dan berlaku proporsional, bahkan terhadap musuh bebuyutannya sekalipun.

Dalam ayat Al-Quran, Allah Swt melukiskan keadaan diatas dengan ayat yang berbunyi; “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”.

Sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: