Dalam Krisis Yaman, Saudi Minta Bantuan Israel

Jauh sebelum Arab Saudi dan sekutunya menggempur Yaman, dengan meminta bantuan Israel, Liputan Islam telah merilis artikel yang mengungkap beberapa peristiwa yang menunjukkan adanya hubungan mesra antara Arab Saudi dan Israel. Mulai dari diturunkannya G4S untuk mengawal pelaksanaan ibadah haji, fatwa kontroversial terkait krisis di Palestina, hingga pengakuan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Artikel sebelumnya, bisa disimak dalam tautan-tautan ini:

Dan dunia tersentak, ketika muncul laporan bahwa pesawat tempur Israel telah mengambil bagian dalam serangan udara untuk menggempur pejuang revolusioner Ansarullah di Yaman.

”Ini adalah untuk pertama kalinya bahwa Zionis sedang melakukan operasi bersama koalisi Arab,” tulis Sekretaris Jenderal Partai Al-Haq Yaman, Hassan Zayd di halaman Facebook-nya, seperti dikutip Global Research, pada Minggu (29/3/2015).

 

 

Dia mencatat bahwa Netanyahu, telah mengeluarkan perintah langsung untuk Angkatan Udara Israel agar mengirim pesawat jet tempur untuk bergabung dengan koalisi Arab guna melakukan serangan udara di Yaman.

Bergabungnya Israel dengan koalisi negara-negara Arab telah diangkat oleh media-media nasional, seperti Sindonews dan Merdeka, yang menimbulkan berbagai pro dan kontra.

Mengapa mereka menolak kenyataan ini ?

Selama ini, Arab Saudi merupakan negara yang dianggap sebagai representasi Islam. Islam lahir di negara itu, dan dua kota suci ummat Islam, Mekkah dan Madinah juga terletak di Arab Saudi.
Negara ini juga memberlakukan berbagai aturan yang dianggap berlandaskan atas Islam, seperti aturan berpakaian ataupun hukuman mati. Tentu saja, banyak juga aturan kontroversial yang menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Namun secara keseluruhan, Arab Saudi paling diidentikkan dengan Islam. Sementara itu, Israel selalu identik dengan ‘musuh Islam’ lantaran kebiadabannya dalam memperlakukan rakyat Palestina selama puluhan tahun.

Sehingga, pihak yang meyakini bahwa Arab Saudi adalah ‘representasi Islam’ dan Israel adalah ‘musuh Islam’, mereka cenderung tidak percaya bahwa kedua negara ini bekerjasama dan menyebut hal ini sebagai fitnah. Dari pantauan Liputan Islam, pihak yang menyangkal kerjasama kedua negara ini bahkan menuduh Merdeka.com sebagai salah satu media Syiah. Namun dari penelusuran LI, diketahui bahwa Merdeka.com didirikan oleh Steve Christian.

Namun kini, salah satu bukti kerjasama Arab Saudi dan Israel pun muncul ke permukaan. Perhatikan video berikut ini (silahkan Klik) :

 

Minggu, 5 April 2015, Whatsupic mempublikasi sebuah audio yang diyakini sebagai rekaman suara Abu Omar al–Jabouri – penasehat kepala Raja Salman. Ia menyesalkan ketidakmampuan pilot Saudi untuk menghancurkan sistem pertahanan udara Yaman peninggalan Uni Sovyet yang sudah ‘uzur’. Lantas, al-Jabouri menyarankan agar meminta bantuan kepada Angkatan Udara Israel (IAF) yang memiliki jet tempur F-16 jet untuk memborbadir Yaman.

“… UAE mengirim 30 jet tempur, Kuwait dan Bahrain keduanya berpartisipasi dengan 15 jet, sementara Qatar mengambil bagian dengan 10 pesawat dan tentu saja, Yordania mengirim beberapa pesawat tapi kita tidak memiliki pilot … dan di sini kita harus berhadapan dengan sistem pertahanan udara Yaman dan untuk itu, pesawat F-16 memiliki kemampuan lebih…”

“Arab Saudi tidak memiliki pesawat F-16, dan karena masalah serius yang kita hadapi, maka sebaiknya menggunakan jet F-16 milik Israel karena mereka tahu bagaimana cara menangani Syiah. Namun masalahnya, tidak ada port udara di Arab Saudi yang bisa menjadi tempat mendarat jet Israel. Karenanya, kita garus menggunakan landasan di Bahrain, dan Amerika Serikat (AS) telah berjanji untuk membantu,” tambah al-Jabouri.(ba)

 

Sumber : Liputan Islam

%d blogger menyukai ini: