Voa-Islam: Antara Teroris dan Mujahidin

Peristiwa pembakaran masjid yang terjadi di Tolikara, Papua, yang terjadi baru-baru ini telah membuka topeng media-media ‘Islami’ yang kerapkali meneriakkan jihad. Voa Islam, dalam merilis berbagai artikel yang menyebutkan bahwa pelaku pembakaran masjid tersebut adalah ‘teroris’ Kristen. Selain mengajak untuk menggalang dana, media ini juga mengajak untuk berjihad fisik. Catat: pembakar masjid disebut teroris.

pembakar masjid disebut teroris

pembakar masjid disebut teroris (klik untuk memperbesar foto)

Namun anehnya, ketika teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengebom dan menghancurkan masjid maupun holyshrine di kota-kota Irak, media ini menyebut ISIS sebagai mujahidin, bukan teroris. Hanya saja, Voa-Islam mengaburkan kata masjid ini sebagai ‘kuil’ atau ‘tempat keagamaan’ agar pembaca terkecoh. Padahal, yang disebut-sebut sebagai kuil adalah masjid ataupun holyshrine yang didatangi para jamaah maupun peziarah.

Mengapa pembakar masjid disebut teroris sedangkan pengebom masjid disebut mujahidin?

pengebom masjid disebut mujahidin (klik untuk memperbesar foto)

pengebom masjid disebut mujahidin (klik untuk memperbesar foto)

Sementara itu, ISIS kembali melakukan bom bunuh diri dengan sebuah mobil di sebuah pasar yang terletak di Khan Bani Saad, Diyala, Irak pada hari Idul Fitri beberapa waktu yang lalu. Akibatnya, sekitar 100 orang dilaporkan tewas.

Pejabat keamanan setempat, Ahmed al-Tamimi, menyebut insiden tersebut sebagai serangan yang mematikan. Situasi di tempat tersebut begitu mencekam, beberapa orang bahkan menggunakan kotak sayur untuk sebagai tempat untuk meletakkan sisa-sisa potongan tubuh korban.

Melalui Twitter, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom itu. Menurut ISIS, bom tersebut ditargetkan pada kelompok Muslim Syiah.

Kelompok radikal itu juga mengatakan bahwa pembom bunuh diri telah membawa sekitar tiga ton bahan peledak sebelum diledakkan di mobil. ISIS bahkan mengklaim korban tewas akibat serangan bom sekitar 180 orang.

Dari laporan Reuters, Pemerintah Provinsi Diyala mengumumkan masa berkabung tiga hari. Anggota Parlemen Diyala, Fares Raad al-Mas, menambahkan lebih dari 70 orang terluka. Jumlah korban tewas dikhawatirkan bisa bertambah.

**

Ketika ISIS telah terbuka mengakui bahwa mereka melakukan pengeboman terhadap masjid, dan melakukan pengeboman yang menargetkan warga tak berdosa, lalu mengapa Voa-Islam tetap menyebut ISIS sebagai ‘mujahidin’?

sumber : liputan islam

%d blogger menyukai ini: