Republik Islam Iran Dimata Detik.com

Holy shrine Imam Ridha, foto: www.taghribnews.com

Holy shrine Imam Ridha, foto: http://www.taghribnews.com

Republik Islam Iran seringkali diberitakan dengan nada negatif oleh media-media Barat. Konsep tatanan negara dengan Wilayatul Faqih-nya sering diterjemahkan sebagai ‘kediktatoran’ yang meniadakan kebebasan berbicara. Kewajiban mengenakan hijab bagi kaum perempuan diartikan sebagai sebuah pengekangan. Kemudian, program nuklirnya dianggap sebagai ancaman bagi dunia.

Hal serupa juga dilakukan oleh media-media takfiri. Mayoritas rakyat Iran yang menganut mazhab Syiah disebut sesat. Segala amaliah yang dilakukan untuk berinteraksi dengan Allah disebut perbuatan syirik dan bid’ah. Ketika Iran mengeksekusi mati para penjahat narkoba, maka negara itu difitnah tengah membantai kaum Sunni.

Disadari atau tidak, maraknya pemberitaan di media tentang Iran akan mengundang rasa ingin tahu yang dalam. Benarkah Iran adalah negara yang terbelakang, kolot, sekaligus bengis karena membantai kaum Sunni?

 

 

 

Namun di saat yang sama, mengapa kita mendapati negara ini terus-menerus menunjukkan taringnya di kancah internasional? Teknologi dan sainsnya berkembang pesat, perekonomiannya tidak juga ambruk kendati telah diembargo puluhan tahun?

Ada apa dengan Iran? Bagaimana sesungguhnya kehidupan masyarakat Iran? Detik.com, salah satu portal online terbesar di Indonesia menuturkan pengalamannya ketika berkunjung ke Iran. Berikut laporannya:

Setiap magrib televisi di Indonesia selalu menayangkan azan magrib, menyela acara yang sedang tayang. Begitu pula rupanya di Iran. Setiap masuk waktu magrib, semua saluran TV Iran menghentikan seluruh acara yang sedang berlangsung, dan mengisinya dengan prosesi ibadah mahrib yang cukup panjang.

Saat berada di kamar Grand Hotel, Teheran, Senin (9/1/2015) kami menyaksikan warna agama yang kental, dan memakan tempo antara 30 hingga 60 menit di layar TV itu. Sebelum masuk waktu azan magrib, sekitar delapan saluran TV yang ada di kamar hotel memulai prosesi dengan bacaan kitab suci Al-Qur’an yang dilantunkan Qari’ dengan suara merdu, mengingatkan kita pada acara Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat dunia di mana Iran dan Indonesia sering menjadi juaranya.

Apakah yang dibaca sama dengan Al-Qur’an kita? Seorang teman yang menyimak secara langsung bacaan di TV itu melalui mushaf Al-Qur’an yang ada di tangannya, membuktikan sendiri bahwa isinya persis dengan Qur’an kita. “Tidak seperti fitnah sementara orang yang menuduh Qur’an orang Syiah berbeda dengan Qur’an Sunni, saya malah mengecek dari Surat Al-Fatihah di depan hingga Surat An-Naas di bagian terakhirnya, seluruhnya sama persis dengan Qur’an kita di Indonesia,” kata teman itu.

Di layar kaca tampak teks ayat-ayat suci itu di bagian atas, sedangkan di bawahnya tafsir ayat yang bersangkutan, dalam bahasa Persia. Pada latar belakang ditampilkan gambar-gambar Masjid Al-Haram, Mekah, lalu Madinah, dan disusul dengan gambar masjid-masjid di Iran. Kemudian Voice Over Picture (VOP)-nya adalah suara sang Qari’ yang fasih.

Berhubung Grand Hotel juga memasang parabola, maka penonton bisa melihat kanal televisi lain yang berbahasa Inggris seperti PressTV. Yang mengejutkan, ternyata salah satu kanal menampilkan acara TV CNN — mungkin untuk mengakomodir para tamu asing yang menginap di situ.

Sesudah azan magrib dilantunkan, salah satu kanal TV menampilkan siaran langsung shalat magrib yang dipimpin salah satu ulama kenamaan di Iran, Ayatullah Kasyani, di salah sebuah masjid di Masyhad, wilayah Khurasan, sekitar 850 km di timur Teheran.

Masyhad adalah sebuah kota suci di Iran, tempat dimakamkannya cucu Nabi SAW yang ke-9, Ali bin Musa Ar-Ridho, alias Ali Reza. Ali Ridho yang lahir di Madinah pada tahun 148 H (atau 765 M) hidup pada masa berkuasanya tiga orang Khalifah Bani Abbasiyah yaitu Harun ar-Rasyid, al-Amin dan al-Ma’mun. Beliau mati syahid pada tahun 203 H (sekitar 818 M).

Masjid Ali Ridho itu setiap hari dikunjungi ribuan peziarah yang berdatangan dari berbagai belahan dunia seperti Irak, Kazahstan, Pakistan, India, Arab Saudi, Suriah, Lebanon, Mesir, Palestina, Kuwait, dan berbagai negeri lain.

Pada bulan Ramadan, di halaman kompleks Masjid Ali Ridho itu setiap hari disajikan penganan gratis untuk berbuka bagi sekitar 12.000 orang secara gratis.

Kembali pada acara TV tadi. Seusai prosesi slat, pemirsa akan menyaksikan sebagian kanal televisi itu menyajikan acara ceramah agama, atau talkshow bersama ulama tertentu. Dua saluran TV yang lain menyuguhkan bacaan doa panjang, dan acara pendidikan agama buat anak-anak. Setelah itu, barulah saluran-saluran TV itu menampilkan beragam acara seperti film (buatan dalam negeri), drama, dan sebagainya.

Kesaksian Detik.com di atas tentunya mematahkan berbagai propaganda yang masif ditebarkan terhadap Iran. Negeri yang difitnah penuh kesesatan dan maksiat tersebut ternyata jauh lebih Islami.  Al-Qur’an yang sering dikatakan berbeda juga hanyalah fitnah semata.

sumber : liputan islam

%d blogger menyukai ini: