Membantah Artikel Detik.com, Ketika ‘Ulama’ Merangkai Fitnah di Atas Fakta

Foto: Ulama Suriah Syaikh Abdullah Mustafa Rahhal (Iqbal/ detikcom)

Foto: Ulama Suriah Syaikh Abdullah Mustafa Rahhal (Iqbal/ detikcom)

Musim terus berganti, namun perang di Suriah belum juga terhenti. Pasukan reguler maupun relawan Suriah bertempur habis-habisan di lapangan melawan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Free Syrian Army (FSA), ataupun Jabhat al-Nusra. Namun di sebuah seminar, seorang ‘ulama’ menyebutkan bahwa ISIS dibiayai oleh pemerintah Suriah. How funny!

“Siapapun bisa mengaku sebagai ulama. Apalagi ulama tidak perlu memiliki sertifikat,” ujar Ustadz MM, narasumber Liputan Islam yang telah 10 tahun menetap di Suriah. Seperti yang pernah disampaikan dalam Ustadz MM dalam wawancara ini, ia tengah kuliah di Om Durman University cabang Mujamma’ Syeikh Ahmad Kuftaroo DamasKus, jurusan Ushul Fiqh. 

Detik.com, merilis artikel yang berjudul ‘Ini penyebab banyak orang Indonesia ingin gabung dengan ISIS menurut ulama Suriah’. Syaikh Abdullah Mustafa Rahhal, demikian nama ‘ulama’ tersebut, menyebutkan beberapa pernyataan sesat, yang tidak relevan dengan fakta.

 

Seperti dikutip dari Detik.com, “ISIS sanggup memberikan gaji US$ 400-500 per bulan tiap orang. Dari mana mereka mendapatkan uang? Uang ini melimpah ke ISIS datang dari rezim Suriah…”

Liputan Islam bertanya, “Apakah Ustadz MM mengetahui siapakah Syaikh Abdullah Mustafa Rahhal, dan bagaimana dengan pernyataannya tersebut?”

“Sepertinya ia kurang dikenal, apalagi tinggal di Idlib yang jaraknya 260 km dari ibukota. Tapi mari lihat fakta yang ada. Tentara Suriah mati-matian bertempur di Hasakeh dan Deir Ezzor mnghadapi desakan ISIS. Mereka menghadapi banyak kelompok seperti ISIS, Failaq Rahman, Jaisy Islam, Liwa Tauhid dan lainnya,” jelas Ustadz MM.

Dengan fakta tersebut, maka tuduhan pemerintah Suriah membiayai ISIS adalah propaganda semata. Kenyataannya, mereka justru memerangi ISIS.

“Coba sekali-kali ‘ulama’ itu berkunjung ke Provinsi Hasakeh atau Deir Ezzor, biar ia tahu bagaimana perjuangan Kolonel Isham Zahruddin dan anak buahnya berperang melawan ISIS,” tambah Ustadz MM kembali, Senin, 1 Juni 2015.

Bantahan bahwa pemerintah Suriah mendukung ISIS juga pernah disampaikan oleh Bashar al-Assad, dalam wawancara ini dengan Paris Match, media Perancis. Berikut kutipannya:

Paris Match: Mari kita bicara tentang ISIS. Beberapa orang mengatakan bahwa rezim Suriah yang memicu munculnya ekstrimis Islam ini untuk memecah kekuatan oposisi. Bagaimana Anda menanggapi itu?

Bashar al-Assad: Suriah adalah sebuah Negara, bukan (dikuasai) oleh sebuah rezim. Pertama-tama, kita harus sepakat terlebih dahulu tentang hal ini.

Kedua, dengan asumsi bahwa apa yang Anda katakan adalah benar, bahwa kami mendukung ISIS, ini berarti bahwa kami telah meminta organisasi teror ini untuk menyerang kami, menyerang pangkalan militer kami, membunuhi tentara kami, dan menduduki kota-kota dan desa? Logika macam apa ini?

Lalu, apa yang kami dapat dari semua ini? Apakah kekuatan oposisi akan terpecah dan melemah – seperti yang Anda katakan?

Kami tidak perlu merusak unsur-unsur oposisi. Barat sendiri menyatakan bahwa sesungguhnya keberadaan oposisi adalah kepalsuan semata. Obama sendiri yang mengatakan hal ini. Jadi, anggapan Anda salah. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Yang benar adalah, ISIS diciptakan di Irak pada tahun 2006, dan saat itu Amerika yang menduduki Irak, bukan Suriah. Abu Bakar Al-Baghdadi ada di penjara Amerika, bukan penjara Suriah. Jadi siapa yang menciptakan ISIS, Suriah atau Amerika?

Selanjutnya, Syaikh Abdullah Mustafa Rahhal menyebutkan, “Kami sendiri yang menangkap anggota ISIS, bahkan bukan hanya orang biasa, tapi pemimpin-pemimpinnya. Mereka yang kami tangkap jika tidak perwira militer pemerintahan, atau perwira dari Iran atau Rusia kemudian dari intelejen Garda Nasional Suriah. Mereka berasal dari sana,” paparnya. (Baca bagian pertama: Membantah Artikel Detik.com, Ketika ‘Ulama’ Merangkai Fitnah di Atas Fakta)

Pernyataan tersebut yang menyatakan bahwa perwira Iran menjadi anggota ISIS merupakan pengulangan propaganda yang telah berhembus sejak lama. Sebagaimana yang telah disampaikan di sini, kemunculan ISIS disebut sebagai rekyasa Syiah.

Lalu kini, Iran yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah dituduh bergabung dengan ISIS.

Bukankah ISIS telah melakukan pembantaian kepada orang-orang Syiah di Irak? Bahkan baru-baru ini, sebuah pengeboman masjid Syiah di Arab Saudi juga didalangi ISIS. Sehingga bagaimana  mungkin, Syiah membentuk ISIS untuk membantai Syiah itu sendiri? Bagaimana mungkin, Iran mengirimkan perwiranya untuk bergabung dengan ISIS?

Laporan dari media pro-ISIS, Al-Mustaqbal yang telah diarsipkan Liputan Islam, juga tidak terima dengan adanya anggapan bahwa ISIS merupakan rekayasa Syiah, untuk itu mereka pun membuat bantahan dengan menyebutkan, bahwa telah banyak orang-orang Syiah yang mereka bantai.

***

Iran merupakan salah satu negara yang berkomitmen penuh dalam memerangi terorisme. Dalam pidatonya di Konferensi Asia Afrika yang baru saja digelar di Indonesia, Presiden Iran Dr. Hassan Rouhani menyatakan, ”Para teroris dan ekstremis, khususnya di Irak dan Suriah dan beberapa negara Afrika, melakukan metode paling barbar dalam membunuh orang-orang tidak bersalah untuk kepentingan politik mereka sendiri dan untuk menghancurkan infrastruktur dari negara-negara tersebut. Sementara para sponsor mereka (teroris) mengabaikan fakta bahwa ketidakstabilan yang terus-menerus di negara-negara yang dilanda krisis akan membawa ketidakamanan ke seluruh dunia, termasuk negara-negara mereka sendiri.”

Presiden Rouhani mengajak para pemimpin Asia- Afrika untuk menghidupkan kembali semangat Dasasila Bandung, yang dianggap dapat mencegah dan mengatasi berbagai konflik yang dihadapi negara-negara Asia dan Afrika sekarang ini.

Sebagi bukti keseriusan Iran memerangi terorisme, negara ini pun terjun langsung di wilayah konflik. Berikut ini adalah berita-berita yang mendokumentasikan perjuangan Iran memerangi teroris ISIS:

Jadi, masihkah ada yang percaya bahwa perwira Iran bergabung dengan ISIS?

sumber : liputan islam dan liputan islam

%d blogger menyukai ini: