Benarkah ANNAS, Proyek Kebencian Berbalut Agama Didanai Arab Saudi?

Ahmad Sahal-okeAliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) kian menjamur, bermunculan cabang demi cabang di kota-kota Indonesia. Liputan Islam berkesempatan meliput acara deklarasi ANNAS, misalnya yang diadakan di Masjid Al-Fajr, Bandung. Salah satu pembicara, Abu Jibril, menyatakan bahwa mengkafirkan Syiah adalah wajib. Membunuh Syiah adalah wajib, dan ia mengklaim bahwa perintah itu datangnya dari Nabi Muhammad Saw, rekaman orasinya bisa dilihat di tautan ini.

Di tempat yang sama, beberapa bulan kemudian digelar acara Diklat ANNAS, yang mengajak ummat Islam untuk siap mengorbankan nyawa demi memerangi Syiah. Di akhir acara para peserta yang hadir diajak untuk turut berpartisipasi membendung Syiah yang dimulai dari lingkungan masing-masing, membina kader-kader dan menggelar pengajian anti-Syiah secara berkelanjutan. Para peserta dibekali makalah dan buku merah ‘MUI’.

Tampaknya, pengkaderan tersebut membuahkan hasil. Setelah Bandung, deklarasi demi deklarasi ANNAS digelar di Garut, Subang, Jakarta, Tasikmalaya, dll. Tibalah giliran Bogor.

 

 

 

 

 

Rencananya, ANNAS akan menggelar acara Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus ANNAS Bogor, yang menurut selebaran yang beredar, akan dihadiri oleh Walikota Bogor, Bima Arya.

Sayangnya, kali ini ANNAS harus menelan pil pahit lantaran Bima Arya menolak digelarnya acara tersebut yang sedianya akan digelar di KONI Gelanggang Olahraga Bogor pada Minggu, 22 November 2015.

“Tidak benar isi selebaran itu, saya tidak pernah memberikan konfirmasi akan hadir. Surat undangan itu memang dikirimkan oleh pengurus ANNAS beberapa hari yang lalu tetapi tidak saya respon. Saya juga tidak memberikan izin,” jelasnya, seperti dilansir Tempo, 20 November 2015.

Selain itu, Bima juga menyayangkan acara tersebut dan selebaran yang memuat nama dan fotonya. Menurutnya, dalam situasi seperti sekarang ini yang sangat penting adalah emnjaga kebersamaan dan menguatkan silaturahmi demi kesejukan kota Bogor. Apalagi, kota Bogor, oleh Setara Institute telah dinobatkan sebagai kota paling intoleran se-Indonesia.

Sumber foto: Twitter

Sumber foto: Twitter

Tak puas hanya memasang nama Walikota Bogor, ANNAS juga mencatut nama Nahdlatul Ulama (NU). Padahal, Ketua PCNU Bogor Ifan Haryanto mengatakan sangat keberatan dengan aksi pencantuman logo NU itu.

“Jika organisasi tersebut tidak merevisi undangan yang mencatut logo NU itu, PCNU Kota Bogor mempertimbangkan untuk melaporkan organisasi tersebut ke pihak yang berwajib,” katanya kepada NU Online, Kamis, 19 November 2015 malam.

Dalam aksinya di berbagai daerah, dilaporkan ANNAS kerap mencatut NU secara organisasi terlibat dalam sejumlah aksi intoleransi. Dalam aksi deklarasi anti Syiah di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan pada Maret 2015 lalu, organisasi dipimpin oleh KH Athian Ali Da’i ini juga melakukan hal yang sama. PCNU setempat menegaskan menolak kegiatan tersebut.

Sebagai ormas berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, dalam berbagai forum, NU berulang kali menyatakan tak sepaham dengan Syiah. Hanya saja, menurut NU, perbedaan pendapat tersebut tak mesti diekspresikan dengan jalan memusuhi.

**

Kemarin, ada kicauan menarik dari Akhmad Shahal, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat.

“Ketua MUI Pusat bilang ke saya, ANNAS adalah proyek Saudi untuk bawa perang konyolnya dengan Iran ke Indonesia,” kicaunya.

“Dulu musuh kebangsaan dan kebhinnekaan RI adalah kaum penjajah. Kini musuhnya adalah kaum intoleran kek ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah),” kicaunya lagi.

Sahal juga me-retweet gambar yang menampilkan tokoh-tokoh seperti Cholil Ridwan, Farid Okbah, Abu Jibril, Athian Ali Dai, yang disebut-sebut sebagai tokoh provokator Wahabi. Masyarakat diminta meneliti apakah ada acara yang bertajuk anti-Syiah, Bumi Syam (peduli Suriah-red) dan sejenisnya di lingkungan masing-masing — karena tidak diragukan lagi, acara-acara tersebut diadakan oleh Wahabi yang memiliki agenda di tengah ummat Islam.

Mengalirnya dana Arab Saudi ke Indonesia, sebelumnya pernah diungkapkan oleh KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani. Berikut wawancaranya:

Menyikapi fenomena meningkatnya gerakan takfiri (kelompok pengkafir; gemar mengkafirkan kelompok lain) akhir-akhir ini, ABI Press mewawancarai seorang tokoh NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani. Dia adalah salah seorang pengurus Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU. Dari informasi yang kami dapat, tokoh muda NU yang satu ini memang mendapat mandat khusus dari PBNU untuk mengurusi hal-hal terkait permasalahan aktual Islam di Indonesia. Sebab itu ABI Press merasa tepat meminta pandangannya soal maraknya gerakan radikal dan aksi-aksi intoleransi di negeri kita.

“PBNU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia,” tuturnya mengawali perbincangan dengan kami.

Kami tanyakan, apakah terkait meningkatnya gerakan kelompok radikal ini, memang ada peran dari luar?

“Ya, jelas,” tegas KH. Alawi lalu menambahkan, bahwa ajaran suka memecah-belah ini sebenarnya berasal dari Yahudi. “Karena Islam tidak mengajarkan itu. Ajaran Yahudi itulah yang kemudian diaplikasikan oleh Arab Saudi.”

Apa buktinya kalau Saudi justru lebih mementingkan agenda Yahudi daripada menjalankan apa yang diajarkan Islam?

“Makanya, coba lihat apakah Arab Saudi secara serius terus membantu perjuangan kaum muslimin di Palestina? Ya, nggak pernah! Tapi apakah Saudi memberikan bantuan kepada Yahudi atau Israel? Banyak bener bantuan yang telah diberikan!” tegasnya.

KH. Alawi juga menjelaskan bahwa para alumni dari luar yang pernah kuliah di universitas-universitas yang berada di Mekah dan Madinah juga mendapat banyak sumbangan saat mereka kembali ke negara masing-masing. Hal itu dilakukan demi melancarkan upaya penyebaran paham Wahabi yang dimotori negara minyak itu.

Tak hanya itu, lebih memprihatinkan lagi, menurut KH. Alawi, dana Saudi juga masuk ke Indonesia dalam jumlah besar untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia.

“Tiga bulan kemarin, saat rapat di PBNU, saya ketahui bahwa jumlah untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia itu mencapai angka 500 Miliar. Tapi berselang dua minggu kemudian, ternyata sudah berubah menjadi 1,2 atau 1,3 Triliun untuk satu Provinsi,” ungkapnya.

Apakah benar-benar ada data valid tentang itu?

“Semua datanya ada di PBNU dan PWNU, tapi saya nggak bisa kasih. Data penting itu mahal harganya,” seloroh KH. Alawi lalu menjelaskan bahwa dana-dana Saudi yang masuk ke Indonesia itu digunakan untuk membangun masjid-masjid, travel umrah, rumah zakat dan sebagainya.

“Bahkan di PBNU, kita juga punya data tentang salah seorang pejabat di Jawa Barat yang menggunakan 5 Miliar dana Zakat untuk kampanye,” tambahnya.

Terkait data yang disampaikannya, bagaimana seandainya ada pihak yang tidak terima dan ingin menuntut? KH. Alawi menanggapinya dengan enteng.

“Kalau mau jatuh tahun ini ya silakan saja menuntut. Kita tinggal undang wartawan, diumumkan dan baca datanya,” pungkas KH. Alawi mantap.

Masifnya kaum Wahabi menyesatkan menyerukan kebencian dan penyesatan terhadap Syiah, ditenggarai hanyalah kedok belaka. Target Wahabi sesungguhnya adalah NU. Indonesia tanpa NU akan mudah sekali mereka kuasai, maka dari itu warga NU sengaja dibuat agar tidak percaya bahkan memusuhi NU itu sendiri.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berkata,”Kunci menghancurkan NKRI adalah dengan menghancurkan NU. Dan cara menghancurkan NU adalah dengan melakukan adu domba Sunni-Syiah.”

Dan bukankah ulama-ulama moderat yang menyerukan toleransi dan perdamaian dituduh Syiah, sesat, liberal dst? Termasuk Gus Dur. Beliau telah lama berpulang tetapi pemikirannya masih hidup dan menginspirasi. Maka, media Wahabi pendukung ISIS, Voa-Islam.com, akhirnya merilis artikel yang menjelek-jelekkan Gus Dur hingga memancing kemarahan warga NU. (Baca: Cemarkan Nama Gus Dur, Situs Voa-Islam.com Dilaporkan ke Bareskrim).

Namun setelah mereka dilaporkan ke pihak berwajib, situs Voa-Islam langsung lenyap tak berbekas. Artinya, mereka hanya besar mulut saja. Ketika benar-benar berhadapan dengan NU, mereka kabur! (ba)

Bonus foto:

Maaruf Amin 1Maaruf Amin 2

 

Keterangan foto: KH. Ma’ruf Amin bersalaman dan duduk semeja dengan seorang ulama asal Iran di Jakarta.

sumber : liputan islam

%d blogger menyukai ini: