ANNAS, Sang Pencatut

Deklarasi ANNAS

Deklarasi ANNAS

Masyarakat dihebohkan kasus pencatutan presiden dan wakil presiden yang diduga dilakukan oleh Ketua DPR, Setya Novanto (Setnov). Dalam rekaman yang beredar ke publik, Setnov ditenggarai tengah melakukan negosiasi (yang oleh Setnov dianggap hanya obrolan warung kopi!) dengan PT Freeport Indonesia. Kasusnya menggelinding bak bola salju liar, makin lama makin membesar.

Ternyata, soal catut mencatut ini tak hanya piawai dilakukan oleh elit politik. Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), juga gemar mencatut. Berulang kali, organisasi yang dipimpin oleh Athian Ali ini menggunakan logo Nahdlatul Ulama (NU) dalam proyeknya menebarkan kebencian di Indonesia. (Baca: Benarkah ANNAS, Proyek Kebencian Berbalut Agama Didanai Arab Saudi?)

 

 

 

ANNAS Balikpapan

Pencatutan logo NU terungkap ketika Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Balikpapan menyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan deklarasi kelompok ANNAS yang diselenggarakan di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan.

Diungkapkan oleh Rais Syuriah PCNU Balikpapan KH Abbas Alfas berkata, “Saya nggak ikut-ikut ANNAS. Memang ada orang yang datang kepada saya. Dia datang kepada saya bersama temannya mengungkapkan masalah ANNAS dan Syiah, saya bilang (kepada mereka) ‘Kalau NU sudah jelas meskipun tidak pakai acara deklrasi-deklarasi, tapi punya cara-cara sendiri, artinya dalam penolakan terhadap Syiah, namun lebih moderat. Kecuali kalau NU itu ditikam baru ‘mengamuk’,” seperti dilansir NU Online, (17/3/2015).

Menurut Kiai Abbas, mereka berusaha melibatkan NU hanya untuk memanfaatkan semata. “Saya mencermati, mereka ingin melibatkan kita, dan itu cara ‘politik’ mereka, kita akan dijadikan ‘bemper’. Sebetulnya itu olahan mereka. Jadi kita ini mau dipolitikan (dimanfaatkan) oleh mereka,” katanya.

Sementara Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Balikpapan KH Muhlasin menyatakan sangat tidak berminat dengan ANNAS. “Bila beliau (Kiai Abbas) tidak minat, maka saya lebih tidak berminat lagi,” tegasnya.

Kiai Muhlasin juga sempat dihubungi untuk bergabung tetapi tidak bersedia. Sebelum acara deklarasi ANNAS, ia mewakili NU sempat menghadiri pertemuan di kantor Kementrian Agama Kota Balikpapan. Salah satu poin pertemuan itu bahwa Kemenag pun tidak menginginkan adanya deklarasi tersebut.

“Dari pihak Kementrian Agama (Balikpapan) juga sangat tidak menginginkan adanya deklarasi tersebut di Balikpapan, karena tentunya hal tersebut sangat berpotensi terjadinya gesekan di antara warga Kota Balikpapan. Itu yang disampaikan di Kemenag,” terangnya.

Sikap tasamuh (toleran) dan tidak bersedia beraliansi dengan ANNAS bukan tanpa risiko. Menurutnya, risikonya akan ada semacam propaganda bahwa yang tidak ikut mereka berarti dianggap mendukung Syiah.

“Mengedepankan sikap toleran, walaupun tentunya berisiko. Risikonya pastinya ada semacam propaganda, warga NU yang tidak mendukung ANNAS sekurang-kurangnya (dianggap) mendukung ajaran Syiah. Itu prilaku mereka seperti itu sejak dahulu.”, ungkapnya.

Kiai Muhlasin berharap warga Nahdliyyin tidak terpengaruh oleh propaganda mereka. Sedangkan berkaitan dengan Habib Ahmad Zain Al-Kaff yang menjadi narasumber pada acara deklarasi tersebut, Kiai Muhlasin mengatakan bahwa ia tidak mewakili PWNU Jatim.

“Habib Ahmad Zain Al-Kaff di brosur-brosurnya disebutkan PWNU Jawa Timur dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Sekalipun Habib Ahmad Zain Al-Kaff dari jajaran PWNU, beliau tidak mewakili organisasi PWNU, tetapi atas nama pribadi. Kalau pun toh menyebutkan PWNU-nya, ya itu salah satu strategi mereka, sebagaimana mereka juga mencantumkan Kiai Abbas, termasuk saya,” jelasnya.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh Sekretaris PCNU Balikpapan Ust. Imam Warosy bahwa NU Balikpapan mengambil posisi tidak terkait dengan ANNAS. “Kita, PCNU Balikpapan, mengambil sikap tidak ikut dalam masalah itu. Meskipun Rais kita dan Ketua kita di-”lamar-lamar” untuk ikut mereka,” tuturnya.

ANNAS Tasikmalaya

Logo Nahdlatul Ulama dicatut dalam spanduk acara anti-Syiah yang digelar di Masjid Agung Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (22/3/15) pagi. Ketua GP Ansor Tasikmalaya, Asep Muslim, mengatakan pihaknya samasekali tidak mendukung acara tersebut. Sebab, NU yang beraliran Sunni menyikapi aliran Syiah dengan lebih bijaksana.

“NU sama sekali nggak pernah terlibat, dilibatkan, atau dihubungi oleh panitia itu. NU dicatut,” ujar Asep saat dihubungi.

Asep menduga, logo NU sengaja dicatut agar bisa menarik massa lebih banyak. Sebab mayoritas muslim di Tasikmalaya adalah warga NU. “Tanpa NU, acara itu kehilangan legitimasi,” tegasnya, seperti dilansir portalkbr.com.

Pihaknya sudah memberitahu anggota NU di Tasikmalaya untuk tidak terprovokasi dengan acara tersebut. Pihaknya juga mengerahkan Banser NU mencopot spanduk yang mencatut logo mereka. Namun spanduk yang tersebar di internet tidak bisa ditarik kembali.

Asep mengatakan, Nahdlatul Ulama Tasikmalaya akan segera melayangkan protes ke panitia acara. “Sebagai organisasi, harusnya ada etika,” jelasnya. Namun dia belum berencana menempuh jalur hukum.

ANNAS Bogor

Akhirnya, ANNAS kena batunya di Bogor. Setelah berulang kali mencatut logo NU dan pihak NU pun menyatakan keberatan, namun ANNAS tetap berulah. Kelompok intoleran ini kembali memakai logo NU untuk menyebarkan kebencian kepada Syiah.

Habis sudah kesabaran NU. Hari ini ANNAS dilaporkan ke pihak berwajib oleh PCNU Bogor. Setelah kejadian ini, masih beranikah ANNAS mencatut logo NU lagi?

Selengkapnya tentang pencatatutan yang dilakukan ANNAS Bogor:

1. Catut Logo NU dan Muhammadiyah, Gerakan Anti Syiah di Bogor Akan Dipolisikan
2. Bukan Gertak Sambal, Hari ini NU Laporkan ANNAS ke Polisi (

sumber : liputan islam

%d blogger menyukai ini: