Syahadah Ketiga: Wilayah Ali

Semua ahli Fiqih Jafari atau Syiah telah menjelaskan bahwa kalimat Syahadah pada Wilayah Ali (Bersaksi bahwa Ali itu Wali Allah) sesudah kalimat Asyhadu anna Muhammaddarrasulullah di saat Adzan, itu bukan bagian dari Adzan dan Iqamah.

Hukumnya sunnah untuk diucapkan pada saat adzan dan iqamah sebagai bentuk Syiar bahwa Imam Ali as adalah pemimpin Umat Islam setelah Rasulullah saw yang telah ditunjuk langsung oleh Baginda Nabi Muhammad saw.

 

Mazhab Syiah meyakini berdasarkan dalil-dalil yang kuat (baik dari Al Qur’an maupun dari Hadits-Hadits Rasulullah saw) bahwa sebelum wafatnya, Nabi Muhammad saw telah menunjuk Ali bin Abi Thalib as sebagai Khalifah / Amirul Mu’minin / Imam Umat Islam, yakni sebagai tempat rujukan Umat Islam dalam segala hal sepeninggal beliau saw.

Dan peristiwa penunjukkan ini dilakukan oleh Rasulullah saw beberapa kali dalam beberapa kesempatan, di antaranya yang paling masyhur yaitu pada tanggal 18 Dzulhijjah 10 H yang dikenal dengan Hari Ghadir.

Dahulu, tekanan hebat pernah dilakukan oleh para penguasa Dinasti Umayyah terhadap para keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as dan Syi’ahnya (pengikut Ahlul Bait Rasul saw).

Di mana pada saat itu Penguasa melakukan banyak pembunuhan keji terhadap anak-anak keturunan Ali as dan Syi’ahnya bahkan mentradisikan melaknat Imam Ali di atas mimbar-mimbar Jum’at pada saat Khutbah Shalat Jum’at, dan semua ini berlangsung selama 80 tahun sampai ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz (seorang Raja yang bijaksana dari Dinasti Umayyah) menghentikan tradisi jahat ini.

Dan selama kurun waktu 80 tahun itu, di mana berlangsung era kezaliman yang luar biasa kepada Mazhab Syiah, dimana setiap Jum’at nama Sayyidina Ali di laknat di atas mimbar, namun para pengikut Mazhab Syiah tetap dan terus mengumandangkan ikrar bahwa Sayyidina Ali adalah seorang Waliyullah, yang mana seorang Muslim sejati dilarang untuk mencaci maki Waliyullah.

(Facebook Taufik Umar Attamimi )

%d blogger menyukai ini: