Surat untuk Mamah Dedeh tentang Hadis Penguburan Sayyidah Fathimah

Dalam salah satu edisi acara yang berjudul Wanita dalam Syariat dan Masyarakat, Mamah Dedeh agak kelewatan. Ini di antara yang meresahkan kami:

(1) MENGENAI riwayat bahwa Amru bin Ash (yang ikut dalam penguburan isteri Sayyidina Ali bin Abithalib bersama anak-anak beliau, Hasan dan Husain), bicara dengan tanah di saat pemakaman jenazah Siti Fatimah (ra), putri Nabi saw.

Kata Mamah Dedeh di situ, Amr bin Ash bertanya kepada tanah, “Wahai Tanah, tahukah engkau siapa jenazah yang aku masukkan ke dalam perutmu? Ini adalah Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah saw,” kata Amr bin Ash. Lalu tanah menjawab: “Buatku tiada bedanya siapa pun dia; yang beda cuma ketaqwaannya.”

Cerita itu mesti dikoreksi sebagai berikut:

 

Pertama, dari mana sumbernya kisah itu? Apakah itu ada dalam kitab Hadis Sohih? Bukankah hadis adalah perkataan dan perbuatan Nabi saw, bukan sahabat? Sejak kapan manusia bicara dengan tanah? Baru tahu ada orang bisa bicara dengan tanah, dan seolah-olah tanah lebih alim dari sahabat. Begitu hebatkah Amr bin Ash, sehingga ia mirip dengan Nabi Sulaiman, bicara dengan tanah atau hewan?

Kedua, tahukah Mamah Dedeh tentang siapa Amru bin Ash itu? Dia adalah musuh Sayidina Ali. Seorang sahabat yang kemudian bersekongkol dengan Muawiyah (pendiri dinasti Bani Umayyah yang kejam dan belakangan menyuruh orang membunuh Sayidina Ali saat solat di masjid). Bacalah sejarah Mamah Dedeh, sejarah yang ditulis oleh ulama yang netral, bukan yang membenci keluarga Nabi saw seperti Sayidina Ali dan Siti Fatimah (ra).  Bacalah buku “Khilafah dan Kerajaan”, dan “Tauhid dan Syirik” (karya Jafar Subhani). Juga silakan lihat di sini.

Ketiga, ada pun Siti Fatimah (ra) adalah salah seorang yang dijamin surga. Salah seorang Ahlul Bait Nabi saw (yang bersama Sayidina Ali, dan kedua putranya, Hasan dan Husain) dituliskan dalam Al-Quran.

Mamah Dedeh, bacalah lagi Qur’an Surat 33 (Al-Ahzab) ayat 33 serta Surat 42 (As-Syu’araa) ayat 23, dan tafsirnya, tapi jangan dari orang/ulama pembenci keluarga Nabi. Bacalah tafsir Al-Quran dari ulama yang netral atau sekelas Prof. Quraisy Shihab, atau Mahmud Syaltut Mesir. Menurut Al-Qur’an, kita semua pengikut Nabi saw harus mencintai Ahlil Bait Nabi saw, sebagai  semacam ‘upah’ atas jasa Nabi saw yang membawa kita kepada agam Tauhid.

Keempat, belum lagi mengenai Sayidina Ali dan anak-anak-nya Hasan dan Husain, yang kata Mamah Dedeh ikut dalam penguburan itu. Tahukah Mamah Dedeh bahwa Sayidina Ali (juga kedua putranya ) adalah orang-orang yang dijamin surga oleh Nabi saw? Jika ada Nabi setelah Muhammad, maka dia adalah Ali bin Abithalib. Apa perlunya Amr bin Ash (yang merupakan kaki tangan Muawiyah dan musuh dengan Sayidina Ali) bicara begitu (kalau benar ia bisa biacra dengan tanah)? Sementara di sampingnya ada orang sealim dan ilmu agamanya setinggi Ali?

Dari cerita itu, terkesan seolah-olah bahwa Amr bin Ash lebih hebat dan lebih soleh dari Ali bin Abithalib, seorang khalifah (ke-4), yang bahkan Sayidina Abubakar (khalifah I) dan Sayyidna Umar (khalifah ke-2) pun hormat dan sering bertanya kepada beliau?

Kelima, di kalangan orang Arab, apalagi pada jaman sahabat Rasul saw, adalah sebuah hal yang tidak lazim ada orang lain yang bukan muhrim berpidato di pemakaman seorang wanita; apakah ini bukan untuk merendahkan putri Nabi dan suaminya (Ali), dan meninggikan sahabat yang lain? Naudzubillah. Hati-hati Mamah Dedeh. Jangan sampai Anda kualat pada keluarga Nabi saw yang dihormati luar biasa oleh semua pengikut Islam di dunia.

(2) SELANJUTNYA, mengenai tidak perlu memperdalam “rawi dan ratib”. Mamah bilang, yang perlu itu memperdalam Al-Quran. Setuju sih, tentu nomor satu adalah Al-Qur’an dan kemudian membaca Solawat; tetapi apakah Mamah tahu apa yang dibaca dalam rawi dan ratib? Bukankah itu isinya juga membaca solawat, doa-doa dan menyebutkan asma’ul husna? Janganlah semua dilarang oleh Mamah.

Bila suatu perbuatan (di luar ibadah mah-dhah) itu baik, janganlah orang dipatahkan dari kebiasaannya. Sampaikan saja bahwa hal itu oke; selama yang dibaca adalah menyebut nama Allah, dzikir, istighfar dan solawat – seperti ratib dan tahlil, dsb – tak perlu dipertentangkan. Kalau ingin menasihati untuk sering membaca Al-Qur’an, tentu saja itu boleh, dan bahkan harus diutamakan.

Namun, dalam hidup 24 jam itu seseorang tidak melulu ngaji terus. Ada saat solat, ngaji (hizb) Qur’an, ada saatnya baca wirid lain, ada saatnya bergaul dengan orang lain. Jangan buat seolah Islam itu kaku, dan menyeramkan, sehingga semuanya tidak boleh.

Mamah lihat donk orang yang masih banyak melakukan hal yang tidak perlu seperti bergunjing, gosip, jalan-jalan ke mall tanpa tujuan, atau malah banyak anak muda yang clubbing dengan mereka yang bukan muhrimnya.  Jadi kalau ada yang wiridan, baca rawi, ratib dan tahlil (untuk yang meninggal),  itu semua kan menyebut nama Allah,dan banyak  menyebut nama Nabi saw dalam solawat.

Kesimpulannya: saya jadi ingin bertanya, apa Mamah Dedeh sudah jadi anggota Islam “garis keras dan galak” Wahhabi-Salafi- Takfiri yang membid’ahkan semua hal, dan membenci keluarga (Ahlul Bait) Nabi saw?

Lalu, jika Indosiar terbawa oleh kelompok garis keras, yang membid’ahan semua hal, dan mengkafirkan orang Muslim lain (yang beda aliran), maka berarti Indosiar sudah mendorong terpecahbelahnya warga kita. Kalau sesama Muslim saja sudah diperlakukan begitu (oleh kelompok garis keras Salafi-Takfiri), maka jangan heran bila nantinya umat agama lain (yang non Muslim) akan diserang oleh mereka. Kita tak ingin Indonesia terkoyak-koyak. Indonesia milik semua, baik mayoritas atau pun minoritas.

Mohon surat ini dibacakan kepada Mamah Dedeh.

Terima kasih.

CATATAN: Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca MISYKAT dan dengan berbagai pertimbangan, nama dan akun pengirim tidak kami cantumkan. Bagi yang memiliki jaringan informasi dengan pihak televisi yang menayangkan acara Mamah Dedeh atau langsung dengan Ustadah Mamah Dedeh, mohon untuk menyampaikan surat ini. 

%d blogger menyukai ini: