Surat Nabi Muhammad saww untuk Penganut Kristen

Sebuah bukti bahwa Kaum Takfiri Wahabi  Tak mengikuti Akhlak Rasulullah  Muhammad saww

 

Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di manapun mereka berada, kami bersama mereka.

Di tengah kekacauan yang melanda seluruh rakyat Afrika, baik Tengah-Timur maupun Utara, sejak pemberontakan Musim Semi Arab melawan kediktatoran seakan membuka jalan bagi militansi dan perang sipil di wilayah tersebut. Kristen dan Islam pun semakin mengungkapkan keprihatinanya atas kondisi hidup para penganutnya.

Meskipun secara keseluruhan Kristen termasuk kaum minoritas, namun tampaknya peningkatan populasi Kristen semakin signifikan, tak terkecuali di negara-negara seperti Suriah, Turki, Irak, Lebanon, Palestina dan Mesir.

World Bulletin melansir, setelah jatuhnya presiden terpilih Mesir Mohamed Morsi dalam kudeta militer pada 3 Juli yang dipimpin oleh Field Marshal Abdel-Fattah al-Sisi, serta penganiayaan terhadap gerakan Ikhwanul Muslimin dimana Morsi berasal, banyak Muslim mulai mencurigai bahwa komunitas Kristen naik 10 % dari populasi, memainkan peran dalam mengusir gerakan tersebut. Hal ini cukup meningkatkan ketegangan antara Muslim dan Kristen di Mesir, dengan disertai bentrokan dan merusak berbagai fasilitas umum.

 

Kekhawatiran serupa pula dirasakan Kristen Suriah, terutama setelah al-Qaeda kelompok oposisi berafiliasi mengambil alih kota-kota Kristen Maaloola dan Kessab. Maaloola kemudian dikuasi kembali rezim Suriah, tapi Kessab, yang terletak di sepanjang perbatasan Turki, masih di bawah kendali pejuang oposisi.

Meskipun anggota komunitas etnis Armenia Kessab, yang sebagian besar melarikan diri ke Turki untuk menghindar dari pemboman pemberontak—yang ditargetkan oleh rezim Suriah, telah berusaha mengadakan perdamaian dan para pejuang oposisi telah mempertaruhkan hidup mereka untuk mengantar mereka ke tempat yang aman, kecemasan dan kekhawatiran tetap saja menghantui kehidupan para penganut Kristen.

Dalam konteks ini, tidak ada salahnya jika kita sejenak menilik isi surat Rasulallah Saw yang dikirim beliau kepada para biarawan Kristen di salah satu biara tertua di dunia, St. Catherine, Semenanjung Sinai, Mesir, pada tahun 628 M.

Surat yang juga dikenal dunia sebagai Muhammad’s Testamentum ini merupakan dokumen sejarah yang berisi tentang sikap Muhammad Saw. terhadap kaum Kristen, dimana beliau memberikan jaminan perlindungan dan hak-hak hidup tanpa syarat apa pun. Surat tersebut bermaterai gambar telapak tangan Rasulullah Saw.

Meski banyak kalangan meragukan keotentikan surat tersebut dikarenakan naskah asli sudah tidak ada lagi dan hanya terdapat salinannya, namun surat tersebut sudah diverifikasi oleh banyak cendekiawan Muslim dan non-Muslim untuk meneliti keotentikannya.

Di antara peneliti itu adalah Aziz Suryal Atiya dengan buku The Monastery of St. Catherine and the Mount Sinai Expedition (1952), J. Hobbs dengan buku Mount Sinai (1995), K.A. Manaphis dengan buku Sinai: Treasures of the Monastery of Saint Catherine (1990), dan Dr. Muqtader Khan, Direktur Program Studi Islam di University of Delaware, yang juga pernah dimuat di Washington Post (1 Desember 2012), dengan judul Muhammad’s Promise to Christians.

Seperti dikutip dari Wikipedia, dengan berdasarkan paparan sejarah, hilangnya naskah asli Muhammad’s Testamentum terjadi saat Kekaisaran Ottoman yang dipimpin Sultan Selim I melakukan ekspansi ke Mesir tahun 1517.

Naskah asli lalu diambil dari biara tersebut oleh tentara Ottoman dan diserahkan kepada Sultan Selim I. Sultan Selim I kemudian membuat salinannya untuk disimpan kembali di biara tersebut.

Sejarah pun mencatat betapa tingginya sikap toleransi yang ditunjukkan para penguasa Islam selama kekuasaan Ottoman (1517-1798).

Begitu pula pada tahun 1630, Gabriel Sionita menerbitkan edisi pertama naskah perjanjian tersebut dalam bahasa Arab, dengan judul “Al-‘Ahd wal Surut allati Sarrataha Muhammad Rasulullah li Ahlil Millah al-Nashraniyyah” (Perjanjian dan Surat yang Dituliskan oleh Muhammad Rasulullah kepada Kaum Kristen).

Dan sejak abad 19, dokumen perjanjian tersebut diteliti oleh banyak akademisi kontemporer, Timur dan Barat, dengan terutama berfokus pada daftar para saksi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat kemiripan antara dokumen perjanjian yang disimpan di Biara St. Chaterine dengan dokumen-dokumen sejenis yang pernah diberikan oleh Rasulullah kepada kelompok agama lain di Timur Dekat. Di antaranya adalah surat Rasul kepada kaum Kristen yang menetap di Najran, yang pertama kali ditemukan pada 878 di sebuah biara di Irak dan diawetkan di Chronicle of Seert.

Berikut bunyi surat tersebut, yang dikutip secara utuh dari Dr. Muqtader Khan;

“Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di manapun mereka berada, kami bersama mereka.

Sesungguhnya aku, para pembantuku, dan para pengikutku sungguh membela mereka, karena orang Kristen juga rakyatku. Demi Allah, aku akan menentang apa pun yang tidak menyenangkan mereka.

Tidak boleh ada paksaan atas mereka. Tidak boleh ada hakim Kristen yang dicopot dari jabatannya, demikian juga pendeta dan biaranya.

Tidak boleh ada seorang pun yang menghancurkan rumah ibadah mereka, merusaknya, atau memindahkan apa pun darinya ke rumah kaum Muslim. Bila ada yang melakukan hal-hal tersebut, maka ia melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya mereka adalah sekutuku dan mereka aku jamin untuk tidak mengalami yang tidak mereka sukai. Tidak boleh ada yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Muslimlah yang harus berperang untuk mereka.

Bila seorang perempuan Kristen menikahi lelaki Muslim, pernikahan itu harus dilakukan atas persetujuannya. Ia tak boleh dilarang untuk mengunjungi gereja dan berdoa.

Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja mereka dan tidak boleh pula ditolak haknya atas perjanjian ini.

Tidak boleh ada umat Muslim yang melanggar perjanjian ini hingga hari penghabisan (kiamat).”

Ya, begitulah isi perjanjian yang diduga telah dikirim Rasul kepada para penganut Kristen. Terlepas benar atau salah, ada atau tidaknya surat tersebut, bukankah sikap saling menghormati, menghargai, toleran antar pemeluk agama merupakan bagian penting yang kerap Rasul ajarkan kepada umatnya? Wallahu A’lam Bishowab.

 

Sumber: Islam Indonesia

%d blogger menyukai ini: