Sunnah Menurut Syiah

Sebagaimana madzhab Islam lainnya, sesungguhnya Syiah juga berpedoman kepada as-Sunnah dalam mengambil seluruh ajaran agama, baik dalam bidang ushul maupun furu.

Syiah menjadikan Sunnah Nabi sebagai sumber penetapan hukum yang kedua setelah Al-Quran.

Melihat pentingnya kedudukan as-Sunnah an-Nabawiyah dalam tasyri‘ al-Ahkâm (penetapan hukum), kaum Syi’ah sangat berhati-hati sekali dalam berpedoman dengan hadis yang menjadi rujukan mereka. Untuk itu, mereka telah menghimpun hadis-hadis Nabi yang datang melalui jalur Ahlulbait.

Banyak kitab hadis yang menjadi rujukan utama kaum Syiah. Empat di antaranya adalah yang paling terkenal, yaitu Al-Kâfi karangan Muhammad Ya‘kub al-Kulaini (w 381 H) yang memuat 16.099 hadis; Man lâ Yahdhuruh al-Faqîh oleh Muhammad Babwaih al-Qummi (w 381 H) berisi 9.044 hadis; At-Tahdzîb (berisi 13.095 hadis) dan Al-Ibtishâr (memuat 5.511 hadits Nabi), yang disusun oleh Muhammad Hussein ath-Thusi (w 461 H).

Dalam menjaga warisan Nabi dari segala bentuk penyelewengan, para ulama Syi’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh ulama Sunnah, telah membuat dasar dan kaidah yang dapat dijadikan pedoman untuk membedakan antara hadis sahih dengan hadis mauzhû‘ (palsu).

As-Sunnah an-Nabawiyyah al-Mu‘tabarah (hadits nabi yang diakui) menurut mereka ialah yang benar-benar berasal dari jalur Ahlulbait, yang diriwayatkan dari datuk-datuknya, yakni yang diriwayatkan oleh Imam ash-Shâdiq dari sang ayah, Imam al-Baqir, dari ayahnya, As-Sajjad, dari ayahnya Imam Husein, Amirul Mu’minin Imam Ali Kw, yang diambil dari Rasulullah Saw.

Untuk menyaring hadis dan menerangkan apa-apa yang harus dipegang dalam memilih mana hadis yang boleh diambil dan tidak, disusunlah ilmu dirayah dan ilmu rijal.

Hadis Nabi, menurut Syiah, terbagi menjadi hadis mutawatir dan ahad. Yang dimaksud dengan mutawatir ialah yang diriwayatkan oleh banyak perawi yang jujur, terjaga dari sifat dusta. Terhadap hadits jenis ini. Syi’ah menerimanya tanpa reserve.

Sedangkan hadis ahad ialah yang jalur periwayatannya tidak sampai pada derajat mutawatir; apakah hanya diriwayatkan oleh seorang saja atau lebih. Mayoritas ulama Syi’ah sepakat membolehkan berpegang pada khabar ahad dalam masalah-masalah hukum. Hadis jenis ini terbagi menjadi empat katagori.

Pertama, al-Shahîh, ialah bila perawinya seorang Imami (Syiah) dan terbukti ‘adalah-nya melalui jalan yang benar. Kedua, al-Hasan, ialah bila perawinya seorang Imami dan terbukti

tidak seorang pun yang memuji atau mencelanya. Ketiga, al-Mautsuq, ialah bila diriwayatkan oleh perawi yang bukan Imami, tetapi terkenal tsiqah dalam meriwayatkan hadits. Keempat, adh-Dha‘îf, ialah yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, seperti, bila perawi termasuk orang yang fasik dan tidak jujur.

Pembagian hadis ahad menjadi empat katagori di atas merupakan usaha Syi’ah dalam menyaring hadis Nabi Saw.

Meskipun telah sedemikian ketatnya dalam menetapkan yang benar dan menolak yang bathil, sebagai upaya memelihara Sunnah Nabi dari tangan-tangan jahil, justru dari titik ini bertolak berbagai tuduhan miring yang menghujat Syiah. Di antaranya, fitnah bahwa Syi’ah tidak mengakui hadis Nabi dan mengingkari seluruh hadis yang diriwayatkan melalui jalur sahabat. Bahkan lebih jauh dari itu bahwa Syi’ah dituduh mencaci-maki para perawi hadis yang—menurut pihak penentangnya—termasuk dalam ahli tsiqah (yang terpercaya dalam meriwayatkan hadis), seperti Abu Hurairah, dan Amr bin Ash.

Dengan demikian, konon, Syi’ah termasuk orang-orang kafir karena hadis Nabi Saw dapat sampai kepada generasi sekarang ini melalui jalur mereka. Di samping hadis merupakan warisan terbesar yang mencerminkan separuh dari agama, sebagai penafsir Al-Quran maka barang siapa mengingkarinya berarti telah kafir.

Itulah di antara tuduhan yang sering dilontarkan oleh para penentang Syi’ah, semenjak zaman dahulu hingga kiwari, baik di ranah Indonesia maupun di dunia Islam lainnya.

Di Indonesia, Athian Ali M. Dai menuduh seorang cendikiawan muslim Indonesia dengan tuduhan suka mempermainkan hadis-hadis Nabi dengan logika, yang menurutnya adalah logika Iblis. Sungguh sangat ironi sekali. Seorang Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) tidak menunjukkan kualitas dirinya sebagai seorang ulama pewaris Nabi yang bila berhujah dengan kaum kafir Quraisy Nabi selalu memberikan kesempatan kepada pihak lawan untuk mengungkapkan argumentasinya.

Setelah itu Nabi berkata, Wa inna au iyyâkum lâ ‘alâ hudâ au fî zhalâlim mubîn (sesungguhnya Kami atau Kalian yang berada di dalam petunjuk atau kesesatan yang nyata). Apa yang dilakukan oleh cendekiawan muslim itu tidak lain sebagai upaya untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang menyerang logika berpikir umat Islam, tidak terkecuali logikanya Athian. Upaya itu sebagai prasyarat utama menuju perubahan, bangsa kita pada khususnya, dan umat Manusia pada umumnya, kepada kondisi yang lebih baik, menuju masyarakat yang tercerahkan.

Maka agar kita tidak ikut-ikutan terjebak dalam ‘logika iblis’, ada baiknya bila kita simak pendapat ulama-ulama Syi’ah tentang hadis Nabi Saw. Merupakan sikap yang tidak adil bila kita menuduh mereka, tanpa memberikan kesempatan kepada para ulamanya untuk membela diri dan menjelaskan keyakinan mereka yang sesungguhnya.

Janganlah meniru orang yang aktif dalam diskusi ilmiyah perbedaan Sunnah-Syi’ah yang lebih pas disebut sebagai ajang pembantaian, dan bukan diskusi ilmiyah. Kalau mau berdiskusi tentang Syi’ah, mengapa tidak menghadirkan orang Syi’ah? Apakah karena takut dengan kekuatan logika yang dimiliki oleh Syi’ah? Jadilah kesatria sejati. Hadirkan Syi’ah. Jangan cuma menghakimi saja, tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk membela diri.

 

Sebagaimana telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, bahwa Syiah juga berpedoman dengan hadis Nabi dalam menetapkan hukum agama. Karenanya, pembagian hadis menjadi empat katagori tersebut merupakan sikap ihtiyath (kehati-hatian) mereka dalam menerima sesuatu yang datang dari Rasulullah Saw dan para Imam Ahlulbait sebagai penerus misi langit.

Sikap yang demikian itu bukan berarti Syiah menolak segala riwayat yang tidak melalui jalur mereka. Bahkan, bila memang dalam rangkaian sanad hadis tidak ada orang Syiah yang meriwayatkan hadis tersebut, baik sebagian atau keseluruhannya. Namun perawinya termasuk orang tsiqah (terpercaya dalam meriwayatkan dan tidak pernah dusta) maka Syiah akan menerima riwayat tersebut.

Dalam hal ini, Ash-Shaduq dalam kitabnya, Man Lâ Yahdhuruh al-Faqîh, berkata, “Sesungguhnya apa yang aku sebutkan dalam buku ini ialah apa yang aku fatwakan dan aku yakini kesahihannya. Dan bahwasannya merupakan hujjah antara aku dengan Tuhanku.”

Perlu ditegaskan bahwa riwayat yang terdapat dalam buku tersebut ada yang melalui jalur Imami dan ada pula yang tidak. Ungkapan Ash-Shadûq di atas cukup untuk menangkis serangan yang menuduh Syi’ah menolak riwayat yang datang melalui jalur saudaranya, Ahlussunah.

Meski tidak menolak jalur selain mereka, Syi’ah telah membuat persyaratan yang sedemikian ketat dalam menilai hadis sahih. Sikap seperti itu tidak bisa disalahkan begitu saja karena berangkat dari masa-masa sulit yang mereka lalui di masa dinasti Umayyah maupun dinasti Abbasiyah dan munculnya ribuan hadis palsu yang dinisbatkan kepada Ahlulbait.

Sedangkan penolakan Syi’ah terhadap sebagian riwayat Bukhari yang menurut para penentang Syi’ah sebagai kitab yang paling benar di kolong jagad ini setelah Kitabullah, salah seorang ulama Syi’ah yang diakui kredibilitasnya, Syafr ad-Din al-Mûsawi, mengungkap argumentasinya, “Karena Imam Bukhari menurut Syi’ah tidak memenuhi persyaratan yang telah mereka tetapkan. Imam Bukhari telah banyak menyembunyikan riwayat yang menerangkan keistimewaan Ahlulbait.”

Selain itu, Bukhari lebih banyak meninggalkan riwayat yang berasal dari Imam-imam Ahlulbait. Bukhari lebih mengandalkan Abu Hurairah, Marwan bin Hakam, Amr bin Ash dalam meriwayatkan Hadis Nabi. Padahal kredibilitas periwayatan mereka perlu dipertanyakan.

Perkataan Imam Ahlulbait, menurut Syi’ah, merupakan hujjah mereka. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw mewajibkan umat Islam untuk berpedoman dengan ucapan mereka, sebagaimana ditegaskan dalam hadis tsaqalayn.

Mengikuti Ahlulbait, menurut Syi’ah, berarti bukti melaksanakan wasiat Rasulullah Saw. Barang siapa memegang teguh tsaqalayn, berarti telah berpedoman dengan apa yang akan menyelamatkannya dari kesesatan.

Rasulullah Saw mengumpamakan mereka laksana kapal Nabi Nuh, selamat bagi yang menaiki dan tenggelam bagi yang berpaling. Itu semua, menurut Syi’ah, merupakan alasan memegang teguh ucapan Imam Ahlulbait yang telah disucikan.

Adapun penolakan Syiah terhadap riwayat Bukhari, sama sekali tidak mengurangi keislaman mereka. Tidak lantas mengeluarkan mereka dari lingkungan Islam selama Syi’ah masih berpedoman dengan hadis Nabi yang datang melalui jalur sanad selain yang dipakai oleh Bukhari.

Penolakan ini bukan berarti mengingkari hadis Nabi Saw, tetapi hanya menolak rijal (orang-orang) andalan Imam Bukhari. Penolakan seperti ini bukanlah suatu hal yang aneh bagi kalangan ahli hadis.

Berkenaan dengan hal di atas, Imam adz-Dzahabi, salah satu ulama hadis dari kalangan Ahlussunah, berpendapat bahwa “Sesungguhnya dua orang ulama di bidang ini (hadis) tidak pasti sepakat dalam menguatkan yang lemah, ataupun melemahkan yang kuat.”

Dengan demikian, tuduhan yang dialamatkan kepada Syi’ah bahwa mereka mengingkari hadis Nabi Saw dan tidak mengambil riwayat dari kaum Ahlussunah kemudian membuat berbagai isu bohong yang dinisbatkan kepada Syi’ah. Padahal, Syi’ah sama sekali bebas dari tuduhan tersebut. Dengan sendirinya tertolak dan bertentangan dengan kebenaran.

Tentang sikap Syi’ah terhadap sebagian sahabat Nabi Muhammad Saw yang acap kali menjadi mesiu para penyerang Syi’ah, insya Allah akan dibahas.

(SUMBER:  Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum. Penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

Sumber : Misykat

%d blogger menyukai ini: