Sikap Syiah terhadap Sahabat, Istri-Istri Nabi, dan Ahlus Sunnah

Para Khulafaur Rasyidin adalah fakta sejarah yang tidak bisa ditolak kebenarannya dan mereka juga adalah sahabat Nabi Muhammad Saw yang mulia dan, faktanya, mereka pun memiliki banyak prestasi.

Begitu juga, terkait dengan kemaslahatan umum Islam Imam Ali telah mengirim putra-putranya untuk turut serta dalam jihad dan berperang membela Islam dengan mereka dan para tentara Islam.

Memang Syiah berpendapat bahwa Imam Ali lebih berhak atas khilafah sebagai penerus Rasulullah Saw. Meski demikian, hal ini tidak menghalangi para pengikut Syiah untuk memberikan apresiasi terhadap prestasi para khilafah ini dan memberikan penghormatan yang layak kepada mereka.

Bahkan, dalam sebuah konferensi di London pada tahun 1985, Majma’ Taqrib Bayn Al-Madzahib—yang dipimpin oleh Ayatullah Mahdi Al-Hakim, menyatakan bahwa Syiah mengakui kekhalifahan tiga khalifah sebelum Imam Ali (secara de facto ).

 

Sikap Syiah terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah

Pertama , beliau adalah istri Nabi Muhammad Saw sehingga beliau sangat layak untuk dihargai dan dihormati. Untuk membuktikan hal ini cukuplah kita merujuk kepada pemahaman Syiah terkait ayat Ifk  yang ada di dalam Al-Quran Al-Karim.

Dalam hal ini para mufassir  Syiah sangat menjaga kemuliaan kedudukan ‘Aisyah sebagai salah seorang istri Nabi Saw dan Ummul Mukminin.

Untuk keperluan ini, silakan rujuk buku-buku penulis biografi atau pendapat dari orang-orang yang mengatakan adanya fitnah Ifk  ini, maka tidak akan ditemukan satu sumber pun yang sahih di kalangan Syiah yang membenarkan terjadinya peristiwa ini. Karena kedudukannya sebagai istri Nabi ini, kehormatan dan kemuliaan beliau harus kita jaga.

Begitu juga, Syiah sepenuhnya mengikuti Imam Ali a.s. yang mengatakan: “Beliau telah menyucikan sandalnya, bagaimana mungkin beliau tidak menyucikan kehormatan istrinya.”

Selanjutnya, meski menolak sikap Ummul Mukminin yang memerangi Imam Ali a.s. sebagai khalifah yang sah, Syiah sangat memuliakan dan menghormati beliau. Syiah berpendapat, siapa saja yang menghina istri Nabi Saw maka dia telah berlepas diri dari Allah dan Rasul-Nya.

Mereka belajar dari kenyataan bahwa, dalam Perang Jamal pun, Imam Ali a.s. telah mengingatkan secara khusus kewajiban memastikan keselamatan Ummul Mukminin ‘Aisyah dan bahkan mengirimkan sebanyak dua puluh orang pembantu kepada beliau untuk mengurusi segala kebutuhannya.

Belakangan ini, sebuah fatwa yang tegas telah dikeluarkan oleh Ayatullah Ali Khamene’i, pemimpin spiritual (rahbar ) Syiah di Iran berkenaan dengan masalah ini:

“Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahlus Sunnah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi Saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia Saw.”

Demikian pula, Marja Besar Syiah Iran, Ayatullah Naser Makarim Shirazi, seraya menuduh orang-orang yang mengaku Syiah yang mengutuk sahabat yang dihormati Ahlus Sunnah dan juga istri-istri Nabi Saw sebagai agen asing, menegaskan:

“Kami mengutuk segala bentuk penghinaan terhadap istri-istri Nabi Saw. Dan ulama perlu waspada dan berupaya menggagalkan konspirasi-konspirasi musuh Islam.”

Perlu pula diingat bahwa “Salah satu alasan utama Imam Khomeini menyebut Salman Rushdie sebagai orang murtad karena pada satu bagian penting buku Ayat-Ayat Setan  (The Satanic Verses ) yang dia tulis, menyandangkan hal-hal yang sangat buruk kepada istri-istri Nabi Saw.” Demikian ditegaskan Ayatullah Makarim Shirazi.

Sikap Syiah terhadap Ahlus Sunnah

Menurut nash-nash  Syiah, keislaman Ahlus Sunnah adalah sah, dan bahwa kedudukan mereka sama seperti kaum Syiah, dalam segala konsekuensi yang timbul akibat keislamannya itu.

Memang, pandangan mazhab Syiah mengenai hal ini sungguh amat jelas. Tak seorang pun dari Syiah—yang berpandangan adil dan moderat—meragukannya.

Al-Imam Abu Abdillah, Ja’far Ash-Shadiq a.s., berkata, sebagaimana dirawikan oleh Sufyan ibn As-Samath mengatakan: “Agama Islam itu ialah seperti yang tampak pada diri manusia (yakni, kaum Muslim secara umum), yaitu mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah pesuruh Allah, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, melaksanakan ibadah haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

Berkata pula beliau sebagaimana dirawikan oleh Sama’ah: “Agama Islam itu adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan pembenaran kepada Rasulullah Saw. Atas dasar itulah, nyawa manusia dijamin keselamatannya. Dan atas dasar itulah berlangsung pernikahan dan pewarisan dan atas dasar itu pula terbina kesatuan jamaah (kaum Muslim).”

Ada dua macam klasifikasi Muslim menurut Syiah: Pertama, mukhalif  adalah sekelompok kaum Muslim yang berbeda pandangan dengan Syiah. Kedua, nashibi  adalah sekelompok kaum Muslim yang mengibarkan bendera permusuhan terhadap para Imam Suci Ahlul Bait dengan cara melaknat dan mencaci-maki mereka.

Sikap Syiah terhadap yang pertama adalah tetap menganggap mereka Muslim dan mukmin dan tetap memiliki hak-hak sebagai seorang Muslim yang harus dihormati jiwa, harta, dan kehormatannya. Adapun untuk kelompok yang kedua, Syiah menganggapnya sebagai kafir. Saat ini, kaum Syiah menganggap bahwa kelompok seperti ini tidak akan ditemui. Kalaupun disebut oleh para ulama, khususnya para fuqaha dalam buku-buku fatwa mereka, itu tidak lebih dari sekadar informasi dan kepastian hukum yang tidak melazimkan keberadaan mereka saat ini.

Hubungan Baik di Antara Syiah dan Ahlus Sunnah dalam Hal Pernikahan, Waris, dan Lain-Lain

Al-Imam Abu Ja’far, Muhammad Al-Baqir a.s. berkata, seperti tercantum dalam Sahih Hamran ibn A’yan: “Agama Islam dinilai dari segala yang tampak dari perbuatan dan ucapan. Yakni yang dianut oleh kelompok-kelompok kaum Muslim dari semua firqah  (aliran). Atas dasar itu terjamin nyawa mereka, dan atas dasar itu berlangsung pengalihan harta warisan. Dengan itu pula dilangsungkan hubungan pernikahan. Demikian pula pelaksanaan shalat, zakat, puasa, dan haji. Dengan semua itu, mereka keluar dari kekufuran dan dimasukkan ke dalam keimanan.”

Masih banyak lagi riwayat dari para Imam itu yang mengandung makna-makna seperti tersebut di atas, yang tak mungkin dinukilkan semuanya.

Karena itu pulalah, para ulama Syiah memfatwakan kebolehan pernikahan antara Sunni dan Syiah, saling mewarisi di antara mereka, dan halalnya sembelihan mereka. Imam Khomeini menyebutkan hal itu secara tegas dalam kumpulan fatwanya, yakni Kitab Tahrir Al-Wasilah  sebagai berikut:

Pertama, dalam Bab Warisan, di saat menjelaskan kafir (non-Muslim) tidak berhak mendapatkan warisan dari seorang Muslim, pada masalah ke-8, beliau menyebutkan: “Kaum Muslim saling mewarisi di antara mereka, walaupun mereka berbeda dalam mazhab….”

Kedua, dalam Bab Nikah, di saat menjelaskan tentang kafir (non-Muslim) pada masalah ke-8, beliau menyebutkan: “Tidak bermasalah seorang mukmin mengawini seorang perempuan yang berbeda (non-Syiah) yang bukan Nashibi, (yakni, yang tidak melaknat dan memusuhi para imam suci Ahlul Bait).”

Ketiga, dalam Bab Penyembelihan, masalah pertama, dinyatakan pula: “Disyaratkan kepada pelaku penyembelihan keharusan bahwa yang bersangkutan adalah seorang Muslim. Maka halal sembelihan (penganut) seluruh kelompok Islam.”

Begitu juga Imam Ali Khamene’i memfatwakan secara tegas keabsahan bermakmum kepada Ahlus Sunnah (Fatwa-Fatwa , terbitan Al Huda, Jakarta).

 

[Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar. Penerbit Ahlulbait Indonesia, 2012 ]

Catatan: mohon maaf untuk teks Arab dalam uraian di atas kami hilangkan dengan alasan teknis. Bagi yang ingin membaca langsung teks Arab dalam catatan di atas bisa lihat pada Forum Ahlul Bait Indonesia

 

%d blogger menyukai ini: