Sariyyah (Expedisi) Usamah dan Sahabat

Dua hari menjelang wafatnya Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh muhajirin dan anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini.

Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami. Sebelum itu mereka juga pernah mencela pengangkatan ayahnya oleh Nabi. Sedemikian rupa mereka protes Nabi sampai beliau marah sekali.

Dengan kepalanya yang terikat karena deman panas yang dideritanya, Nabi keluar dipapah oleh dua orang dalam keadaan dua kakinya yang terseret-seret menyentuh bumi. Nabi naik ke atas mimbar, memuji Allah dan bertahmid padaNya. Sabdanya: “Wahai muslimin, apa gerangan kata-kata sebagian di antara kalian yang telah sampai ke telingaku berkenaan dengan pengangkatanku Usamah sebagai pemimpin. Demi Allah, jika kamu kini mengecam pengangkatannya; sungguh hal itu sama seperti dahulu kamu telah mengecam pengangkatanku terhadap ayahnya sebagai pemimpin. Demi Allah, sesungguhnya ia amat layak memegang jabatan kepemimpinan itu. Begitu juga puteranya—setelah ia—sungguh amat layak untuk itu.”

Kemudian beliau mendesak mereka untuk segera berangkat. Katanya: “Siapkan pasukan Usamah. Lepaskan pasukan Usamah. Berangkatlah Sariyyah Usamah. Beliau mengulang-ulang ucapannya seperti itu, tapi mereka tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.

Sikap seperti ini mendorongku untuk bertanya, alangkah beraninya mereka terhadap Allah dan RasulNya? Kenapa harus durhaka terhadap Nabi SAWW yang begitu kasih dan sayang pada kaum mukminin? Aku tidak dapat membayangkan, begitu juga orang lain, taf siran apa yang bisa membenarkan pelanggaran dan pengabaian seperti ini?

Seperti biasa, ketika membaca peristiwa-peristiwa yang menyentuh tentang kemuliaan para sahabat, maka aku berusaha untuk tidak mempercayainya terlebih dahulu. Namun bagaimana mungkin aku dapat mendustakannya sementara ahli sejarah dan ahli hadis, Sunnah dan Syi’ah, telah meriwayatkannya secara ijma’.

Aku telah berjanji pada Tuhanku untuk bersikap adil dan jujur. Aku tidak boleh bersikap fanatisme pada mazhabku. Aku harus meletakkan kebenaran semata-mata sebagai ukuran. Dan memang kebenaran adalah pahit seperti yang dikatakan. Nabi bersabda, “Katakanlah kebenaran walau untuk dirimu sekali pun; katakanlah kebenaran walau pahit sekalipun”.

Dalam hal ini adalah sikap sejumlah sahabat yang telah mengecam Nabi dalam pengangkatannya Usamah sebagai pemimpin mereka, sebenarnya telah menunjukkan sikap ketidakpatuhan mereka pada perintah Allah. Mereka telah mengabaikan nas-nas yang sangat jelas yang tidak dapat diragukan lagi atau ditakwilkan. Mereka tidak mempunyai alasan dalam hal ini.

Usaha sebagian orang untuk menjaga kemuliaan sahabat atau salaf as-sholeh dengan mengajukan berbagai alasan apologis sangatlah rapuh. Seorang yang rasional tidak dapat menerimanya, melainkan mereka yang tidak memahami makna hadis tersebut, atau yang tidak berpikir, atau mereka yang fanatisme buta yang tidak dapat membedakan antara yang wajib dipatuhi dengan yang wajib dihindari.

Aku juga sering merenung kalau-kalau bisa mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan. Tapi sayang semua itu gagal meyakinkanku. Aku baca alasan-alasan Ahlu Sunnah yang mengatakan bahwa mereka yang menolak kepemimpinan Usamah sebenarnya adalah karena mereka tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka Qurasiy. Mereka adalah orang yang pertama memeluk Islam sementara Usamah masih baru dan tidak pernah ikut serta dalam berbagai peperangan yang menentukan seperti Perang Badar, Perang Hunain dan Perang Uhud.

Usamah juga waktu itu masih terlalu muda. Dan kebiasaannya jiwa orang-orang tua tidak akan rela berada di bawah perintah anak muda. Itulah kenapa mereka mengecam Nabi dalam pengangkatannya ini dengan maksud agar menggantikannya dengan salah seorang tokoh sahabat lain.

Alasan seumpama ini sama sekali tidak bersandar pada dalil akal atau naql (syariat). Seorang muslim yang membaca AlQuran dan mengetahui hukum-hukumnya akan menolak alasan ini. Karena Allah berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (59:7).

Juga firmannya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (33:36).

Setelah adanya nas-nas yang jelas ini alasan apa yang kiranya dapat diterima oleh orang-orang yang berakal. Apa yang harus kukatakan kepada kaum yang telah menyebabkan Rasulullah marah sementara mereka tahu bahwa Allah akan murka lantaran murkanya Rasul-Nya. Mereka telah menuduhnya “meracau” dan bertengkar di hadapannya, padahal—demi ayah dan ibuku—baginda tengah sakit sampai mereka diusir dari kamarnya. Tidak hanya sampai di situ. Yang sepatutnya mereka kembali ke jalan yang benar dan memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah mereka lakukan dan memohon kepada Rasul agar memintakan ampunan bagi mereka seperti yang diajarkan oleh AlQuran, namun mereka tetap melakukan protes terhadapnya tanpa memperdulikan kasih sayang yang diberikannya pada mereka. Mereka tidak memberikan penghormatan yang sewajarnya kepada baginda Nabi.

Dua hari setelah tuduhan yang mereka lontarkan, mereka kemudian mengecam pengangkatan Usamah sebagai pemimpin pasukannya sehingga beliau terpaksa mendesak mereka keluar dengan keadaan yang menyedihkan seperti yang dikatakan oleh para ahli sejarah. Lantaran terlalu sakit, baginda tidak dapat berjalan dan terpaksa diapit oleh dua orang. Kemudian beliau bersumpah kepada Allah bahwa Usamah sebenarnya sangat layak dalam memimpin. Rasul juga mengatakan bahwa sebelum ini mereka juga pernah mengecamnya karena mengangkat Zaid bin Harisah sebagai pemimpin pasukan, agar kita tahu betapa sikap seperti ini telah mereka lakukan jauh hari sebelum itu.

Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya bukan di antara orang-orang yang mudah bisa menerima ketentuan Nabi dan berserah sepenuhnya kepadanya. Tetapi mereka tergolong di antara orang-orang yang rela memprotes dan mengkritik walaupun ia bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya.

Bukti atas sikap protes mereka ini adalah sikap mereka yang enggan pergi walaupun Nabi sendiri telah memberikan bendera kepemimpinan kepada Usamah dan dengan nada marah menyuruh mereka segera pergi berangkat. Demi ayah dan ibuku, mereka tidak juga pergi sampailah beliau wafat dengan hati yang kesal atas sikap ummatnya yang dikhawatir-kan kelak akan berbalik ke belakang dan terjerumus ke neraka. Tiada yang akan selamat kecuali sedikit sekali, bagaikan segelintir binatang ternak seperti yang diumpamakan oleh Nabi.

Jika kita ingin jujur dalam melihat peristiwa ini maka kita akan dapati bahwa Khalifah Kedua adalah tokoh yang paling berperan di sini. Beliau datang menghadap Khalifah Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah dan memintanya agar menyingkirkan Usamah serta menggantinya dengan orang lain. Abu Bakar menjawab: “Wahai Ibnu Khattab, apakah kau suruh aku menyingkirkannya sementara Rasulullah telah mengangkatnya?”

Di mana Umar dibandingkan dengan Abu Bakar yang mengetahui kebenaran ini? Ataukah di sana ada rahasia tersendiri yang tidak diketahui oleh ahli-ahli sejarah. Atau mungkin juga ada pihak lain yang menyembunyikannya lantaran ingin menjaga “kemuliaan” sahabat, seperti yang mereka lakukan dalam mengganti kalimat “yahjur” dengan kalimat “ghalabahul waja'”‘.

Aku juga heran dengan sikap para sahabat yang membangkitkan amarah Nabi pada hari Khamis itu dan menuduhnya telah meracau serta berkata, “cukup bagi kita Kitab Allah”. Sementara Kitab Allah sendiri berfirman: “Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan mencintai kalian” (Ali Imron:31).

Seakan-akan mereka lebih tahu akan Kitab Allah daripada orang yang menerimanya sendiri. Lihatlah hanya setelah dua hari dari tragedi yang menyayat hati itu dan dua hari sebelum hari pertemuannya dengan Allah SWT mereka telah membangitkan amarahnya lebih banyak dengan mengecam pengangkatan Usamah dan tidak mematuhi perintahnya. Jika dalam tragedi pertama baginda terbaring sakit di atas tikarnya, tetapi di kali kedua ini baginda terpaksa keluar dengan kepala yang terikat dan badan yang berbalut selimut sambil berjalan tertatih-tatih diapit oleh dua orang.

Baginda naik ke atas mimbar dan berkhutbah lengkap. Mula-mula memuji Allah dan mengucapkan Tahmid atas-Nya agar menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya tidaklah meracau. Kemudian diberitahunya bahwa beliau sadar akan protes dan kecaman mereka. Diingatkannya mereka dengan suatu peristiwa di mana mereka telah memprotesnya juga empat tahun yang lalu. Apakah setelah itu mereka masih menganggap bahwa baginda meracau dan tidak sadar apa yang diucapkannya?

Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Bagaimana mereka begitu berani terhadap Rasul-Mu, tidak setuju dan menentang keras dengan perjanjian damai yang dilakukannya sehingga beliau sebanyak tiga kali menyuruh mereka berkorban dan mencukur rambur masing-masing tetapi tiada siapa pun yang mematuhinya.

Di waktu lain mereka tarik bajunya dan melarangnya menyembahyangkan jenazah Abdullah bin Ubai. Mereka berkata kepada beliau: “Sesungguhnya Allah telah melarangmu menyembahyangi jenazah orang-orang munafik”. Seakan-akan mereka mengajarkan apa yang diturunkan Allah kepadanya. Padahal Allah berfirman dalam kitab-Nya: “Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) AlQumn agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (16: 44) Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu” (4: 105). Dan firman-Nya lagi: “Sebagaimana (Kami selalu menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamn yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamii dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu AlKitab dan hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (2:151)

Aneh memang terhadap mereka yang meletakkan diri mereka lebih tinggi dari diri Rasulullah SAW. Kadang-kadang mereka tidak patuh pada perintahnya, atau menuduhnya telah meracau, atau bertengkar di hadapannya tanpa adab, dan pada tempat yang lain mengecam pemilihan Usamah sebagai pimptnan pasukan mereka sebagaimana yang mereka lakukan terhadap ayahnya Zaid bin Harisah sebelum itu.

Apa yang harus diragukan lagi oleh orang yang meneliti secara kritis bahwa Syi’ah sebenarnya mempunyai alasan yang sangat kuat ketika mempertanyakan sikap sebagian sahabat seumpama itu. Mereka memang lebih menghormati dan mencintai Nabi SAWW dan kerabat keluarganya.

Empat atau lima contoh yang kusebutkan di atas hanya sebagian kecil dari fakta-fakta yang ada. Ulama-ulama Syi’ah telah merincinya hingga ratusan di mana para sahabat telah mengabaikan nas-nas yang nyata dan jelas. Mereka tidak berhujah melainkan dengan riwayat ulama-ulama Ahlu Sunnah sendiri dalam berbagai kitab shahih yang muktabar.

Ketika kuketahui sikap sebagian sahabat terhadap Rasulullah SAW adalah seperti itu, aku kemudian merasa bingung dan heran. Sebagaimana aku juga heran melihat sikap ulama-ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menggambarkan kepada kita bahwa para sahabat senantiasa dalam keadaan benar dan tidak boleh dikritik. Ini berarti mereka tidak mengizinkan seorang peneliti untuk sampai kepada suatu kebenaran, dan membiarkan mereka terus tenggelam dalam suasana pemikiran yang kontradiktif. Aku ingin membawa beberapa contoh sebagai tambahan, yang kiranya akan dapat memberikan gambaran yang sebenarnya tentang sahabat. Dan dari sini kita akan memahami sikap Syi’ah terhadap mereka.

Bukhari telah meriwayatkan dalam kitabnya Jil. 4 hal. 47 dalam Bab as-Sabru a’lal adza (Sabar Dari Gangguan) tentang maksud firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan ganjaran”. 

Katanya: “Al-A’masy meriwayatkan kepada kami bahwa beliau pernah mendengar Syaqiq bercerita tentang Abdullah yang berkata: “Suatu hari Nabi membagikan sesuatu kepada sahabat-sahabatnya sebagaimana yang biasa beliau lakukan. Seorang dari Anshar memprotes dan berkata: pembagian ini bukan karena Allah SWT. Kukatakan padanya bahwa aku akan lapor kepada Nabi (apa yang dikatakannya). Aku menghampiri Nabi yang ketika itu berada di antara para sahabatnya. Kuceritakan kepadanya apa yang terjadi. Tiba-tiba mukanya berubah dan marah sekali sampai aku rasa menyesal karena memberitahunya. Nabi kemudian berkata: “Nabi Musa as telah diganggu lebih dari itu, tetapi beliau bersabar.”

Bukhari juga meriwayatkan dari Bab yang sama pada pasal at-Tabassum wa ad-Dhahk (Bab Tersenyum dan Tertawa). Katanya, Anas bin Malik meriwayatkan: “Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah yang waktu itu memakai syal Najrani yang berpinggiran tebal. Datang seorang Badwi yang tiba-tiba saja menarik dengan kuat syalnya. Anas berkata, aku lihat kulit leher Nabi lebam akibat tarikan keras yang dilakukan oleh si Badwi ini. Kemudian dia berkata: “Hai Muhammad, berikan padaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu.” Lalu Nabi melihatnya sambil tertawa dan menyuruh sahabatnya untuk memberinya.

Dalam Bab yang sama, pasal Man Lam Yuwajih an-Nas Bil Atab Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah pernah berkata bahwa Nabi pernah melakukan sesuatu dan mengizinkan para sahabatnya untuk melakukan yang serupa. Tiba-tiba sebagian sahabat menolak melakukannya. Berita ini sampai ke telinga Nabi lalu baginda berkhotbah dan memuji-muji Allah. Kemudian baginda berkata: “Kenapa orang-orang ini menghindari dari melakukan sesuatu yang kulakukan. Demi Allah aku lebih tahu dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya di banding mereka.”

Orang yang merenungkan contoh riwayat serupa ini akan merasakan bahwa para sahabat telah meletakkan diri mereka lebih tinggi dari kedudukan Nabi sendiri; mereka percaya bahwa Nabi bisa berbuat salah dan merekalah yang benar. Sebagian ahli sejarah terikut-ikut dalam membenarkan tindakan sahabat walaupun ia bertentangan dengan perbuatan Nabi; atau kadang-kadang menunjukkan bahwa kedudukan ilmu dan ketakwaan para sahabat lebih tinggi dibandingkan dengan Nabi, seperti yang dikatakan konon Nabi keliru dalam menyelesaikan masalah tawanan perang Badar dan Umar bin Khattablah yang benar. Mereka telah meriwayatkan berbagai hadis palsu yang konon Nabi SAWW bersabda: “Seandainya Allah turunkan suatu bencana maka tiada yang akan selamat melainkan Umar bin Khattab.” Seakan-akan mereka ingin berkata “Kalau Umar tiada maka celakalah Nabi”. Semoga Allah melindungi kita dari kepercayaan yang salah seperti ini.

Demi jiwaku! Mereka yang mempunyai kepercayaan seperti ini akan jauh dari Islam sejauh dua kutub barat dan timur. Dia wajib merujuk kembali akalnya atau mengusir setan dari hatinya. Allah berfirman: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya; dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambilpelajaran?” (45: 23)

Demi jiwaku! Mereka yang percaya bahwa Rasulullah SAWW bisa diombang-ambingkan oleh nafsunya dan lari dari jalan yang benar sehingga pernah membagi sesuatu bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena nafsu dan kepentingannya; dan mereka yang menghindar dari berbuat sesuatu yang Rasulullah lakukan lantaran menduga bahwa mereka lebih bertakwa dan lebih arif pada Allah dibandingkan Rasul-Nya? Orang-orang seperti ini memang sangat tidak layak untuk dihormati oleh kaum muslimin apalagi menempatkan mereka seperti para malaikat, lalu menghukumkan mereka sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah, dan kaum muslimin harus ikut mereka dan berjalan di bawah naungan sunnah mereka hanya semata-mata karena mereka adalah sahabat Nabi.

Hal ini bertentangan dengan sikap Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menyertakan semua sahabat dalam salawat mereka kepada Nabi dan keluarganya. Allah Mahatahu akan kedudukan mereka. Karena itu mereka ditempatkan pada posisi yang layak bagi mereka. Mereka diperintahkan untuk bersalawat kepada Nabi dan kelurganya yang suci agar mereka tunduk dan tahu kedudukan Ahlul Bait yang sebenarnya di sisi-Nya. Lalu bagaimana tiba-tiba kita menempatkan mereka lebih tinggi dari kedudukan keluarga Nabi atau menyamakan mereka dengan orang-orang yang telah diutamakan oleh Allah atas alam semesta ini.

Aku berkesimpulan bahwa Bani Umaiyah dan Bani Abbasiah yang telah memusuhi Ahlul Bait Nabi, mengejar-ngejar dan membunuh mereka beserta para Syi’ahnya, mengetahui keutamaan keluarga Nabi dan kedudukan mereka yang tinggi. Apabila Allah tidak terima sembahyang seseorang melainkan di dalamnya ada salawat pada Nabi dan keluarga-nya, maka apa alasan permusuhan dan bersikap lari dari garis Ahlul Bait? Itulah kenapa kita lihat mereka telah mengiring-kan kalimat sahabat dengan Ahlul Bait semata-mata agar dapat memberikan gambaran kepada orang banyak bahwa antara sahabat dan Ahlul Bait sebenarnya adalah sama.

Terutama apabila kita ketahui bahwa “master mind” mereka yang sebenarnya adalah sebagian sahabat itu sendiri. Mereka telah upah sebagian sahabat lain yang lemah akal dan karakter atau golongan tabi’in agar meriwayatkan berbagai hadis palsu tentang keutamaan sahabat, khususnya mereka yang pernah menjabat kedudukan khilafah, yang merupakan sebagai sebab utama naiknya mereka (Bani Umaiyah dan Abbasiah) ke puncak kekuasaan. Sejarah adalah sebaik-baik bukti atas apa yang kukatakan ini.

Lihat Umar bin Khattab yang sangat terkenal dengan pengontrolannya pada semua gubernurnya, dan akan memecat mereka serta merta lantaran suatu keraguan yartg dilihatnya. Lihatlah betapa beliau sangat berlemah lembut terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan dan tidak pernah mengontrolnya sama sekali.

Dahulu Abubakar yang mengangkat Muawiyah sebagai gubernur kota Syam. Kemudian dilanjutkan oleh Umar sepanjang hayatnya. Beliau juga tidak pernah memprotesnya, bahkan menegur atau mengecamnya sekalipun; walau banyak keluhan yang mengatakanbahwa Muawiyah memakai emas dan sutera yang telah diharamkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum lelaki. Umar menjawab mereka dengan kata-kata: “Biarkan dia. Dia adalah Kisra (Raja) Arab.”

Dan Muawiyah terus berkuasa selama dua puluh tahun tanpa ada yang menegur dan memecatnya. Ketika Utsman berkuasa diberinya lagi wilayah-wilayah lain untuk diurusnya, sehingga dia dapat menguasai tidak sedikit dari kekayaan negara Islam dan dapat memobilisasi kekuatan militer menentang kepemimpinan Imam Ali. Kemudian secara kekerasan dan dengan tangan besi, dia dapat kuasai semua kaum muslimin, lalu kemudian memaksa mereka memberikanbai’atkepada Yazid, puteranya yang fasik dan pemabok. Kisah Yazid ini adalah cerita panjang yang tak dapat kita muatkan dalam buku yang ringkas seperti ini. Apa yang penting adalah pengetahuan kita akan mentalitas para sahabat yang duduk di jabatan khilafah dan yang telah menyiapkan secara langsung berdirinya suatu kerajaan Bani Umaiyah berdasarkan keputusan Quraisy yang enggan menerima Nubuwah dan Khilafah berada di tangan Bani Hasyim.

Dinasti Bani Umaiyah mempunyai hak, bahkan kewajiban untuk berterima kasih pada mereka yang telah menyiapkan berdirinya kerajaannya itu. Paling tidak sebagai ungkapan rasa terima kasih adalah dengan mengupah sejumlah perawi yang mau meriwayatkan berbagai “hadis” tentang keutamaan para leluhur mereka dengan mengangkatnya lebih tinggi dari kedudukan Ahlul Bait, musuh utama mereka. Jika hadis-hadis keutamaan ini dikaji berdasarkan hujah-hujah syariah dan akliah, maka keabsahannya akan cepat diragukan. Melainkan jika ada kelainan dalam mentalitas kita dan tidak mampu membedakan antara perkara-perkara yang kontradiktif.

Sebagai contoh, kita banyak mendengar tentang keadilan Umar yang diceritakan oleh berbagai perawi, sehingga dikatakan:” Wahai Umar, kau telahbersikap sangat adil; karena itu kau dapat tidur”.

Konon, Umar dikebumikan dalam keadaan berdiri agar keadilan tidak mati bersamanya. Dan berbagai cerita lain yang menarik tentang keadilannya. Namun sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa Umar ketika membagi-bagikan harta baitul mal pada tahun 20 hijriah, beliau tidak mengikuti sunnah Nabi. Nabi SAW telah membagi sama rata antara segenap kaum muslimin dan tidak mengutamakan satu dari yang lainnya. Begitu juga Abu Bakar di dalam masa khilafahnya. Tetapi kemudian Umar menciptakan suatu cara baru, mengutamakan golongan yang sabiqin (muslimin senior) atas yang lainnya, dan golongan muhajirin Quraisy atas muhajirin selain Quraisy, golongan muhajirin atas golongan anshar, golongan Arab atas non-Arab, golongan orang merdeka atas hamba-hamba sahaya; mengutamakan suku Mudhir atas suku Rabi’ah dengan memberikan suku yang pertama tiga ratus dan suku kedua dua ratus; serta mengutamakan suku Aus atas suku Khazraj.

Di mana letaknya keadilan dalam sistem kelas seperti ini wahai orang-orang yang berpikir? Kita telah banyak mendengar tentang cerita-cerita Umar. Bahkan dikatakan bahwa beliau adalah sahabat yang paling alim.

Konon Allah banyak membenarkan pendapat Umar ketika terjadi perselisihan antara Nabi dan Umar, dengan menurunkan ayat-ayat yang mendukung pendapatnya. Namun sejarah yang benar membuktikan kepada kita bahwa Umar banyak menyalahi ayat-ayat AlQuran hatta setelah turunnya sekalipun. Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya di zaman khilafahnya: “Ya Amir al-Mukminin, aku kini berjunub tetapi tidak kujumpai air, bagaimana hukumnya?” Umar menjawab: “Tidak perlu shalat!” Ammar bin Yasir mengingatkan sang khalifah bahwa kewajibannya adalah tayammum. Tetapi Umar tidak peduli. Katanya: “Ya Ammar, engkau hanya bertanggung jawab atas tugas-tugasmu saja.”

Di mana ilmu Umar tentang ayat tayammum yang diturunkan di dalam AlQuran? Mana ilmu Umar tentang sunnah Nabi yang mengajarkan kepada mereka bagaimana bertayammum sebagaimana baginda ajarkan wudhu? Di dalam berbagai peristiwa, Umar banyak mengakui dirinya tidak alim. Bahkan—menurutnya—semua orang lebih alim darinya hatta para wanita sekalipun. Beliau juga berulang kali mengatakan demikian, “Kalaulah tiada Ali maka Umar telah celaka”. Dan sampai akhir hayatnya beliau tidak tahu hukum Kalalah, yang sering dihukumkannya di zaman pemerintahannya seperti yang dicatat dalam sejarah.

Mana ilmunya wahai orang-orang yang berakal? Kita juga sering rnendengar akan kepahlawanan, keperkasaan dan keberaniannya sehingga dikatakan bahwa kaum Qurasiy merasa gentar setelah Islamnya Umar dan agama Islam sendiri menjadi kuat.

Konon Allah telah muliakan Islam karena Umar bin Khattab, dan Nabi tidak menyatakan dakwahnya secara terang-terangan melainkan setelah Islamnya Umar. Namun sejarah yang benar tidak menunjukkan kepada kita keperkasaan dan kepahlawanan itu. Bahkan sejarah juga tidak pernah menunjukkan kepada kita ada seorang yang dikenal atau orang biasa sekalipun yang dibunuh oleh Umar dalam peperangan seperti Badar, Uhud, Khandak dan lain sebagainya. Bahkan sejarah membuktikan sebaliknya, Umar pernah lari bersama sahabat-sahabat lain dalam peperangan Uhud dan Hunain. Ketika Rasulullah mengutusnya untuk membebaskan kota Khaibar, beliau kembali dalam keadaan kalah.

Bahkan di dalam berbagai peperangan sariyyah (peperangan yang tidak diikut-sertai oleh Nabi) sekalipun, Umar tidak pernah menjadi komandan pasukannya. Dalam sariyyah Usamah—sariyyah terakhir—juga beliau hanya ditunjuk sebagai anggota pasukan Usamah bin Zaid, seorang anak muda berusia belasan tahun. Mana klaim keperkasaan tersebut wahai orang-orang yang berakal?

Kita juga sering mendengar tentang ketakwaan Umar bin Khattab serta rasa takutnya yang amat sangat sehingga menangis karena takutkan Allah SWT.

Konon dikatakan bahwa beliau takut dihisab oleh Allah jika seekor keledai di Irak sekalipun tersesat lantaran tidak disediakan jalan untuknya. Tetapi sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa beliau sesungguhnya seorang yang keras dan kasar. Beliau tidak berhati-hati dan tidak segan memukul orang yang bertanya kepadanya tentang suatu ayat Kitab Allah sehingga melukainya tanpa suatu dosa yang dilakukannya. Bahkan seorang wanita pernah jatuh dan tergugur kandungannya lantaran melihatnya dengan penuh ketakutan.

Kenapa beliau tidak takut kepada Allah ketika menghunuskan pedangnya dan mengancam setiap orang yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati. Beliau bersumpah bahwa Muhammad sebenarnya tidak mati, dia hanya pergi bermunajat kepada Tuhannya seperti yang dilakukan oleh Musa bin Imran. Umar mengancam akan memukul leher setiap orang yang mengatakan bahwa Nabi telah mati. Kenapa beliau tidak takut kepada Allah ketika mengancam akan membakar rumah Fatimah jika orang-orang yang berada di dalamnya tidak mau keluar untuk membai’at (Abu Bakar). Ketika dikatakan padanya bahwa Fatimah ada di dalamnya, dia menjawab, “Sekalipun dia ada.”

Beliau juga “berani” terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya dengan melakukan berbagai hukum—di masa pemerintahannya—yang bertentangan dengan nas-nas AlQuran dan Sunnah Nabi SAW.

Nah, dimana letaknya wara’ dan ketakwaan setelah me-nyaksikan serangkaian fakta yang menyedihkan ini wahai hamba-hamba Allah yang shaleh?

Aku hanya ingin menjadikan sahabat yang agung dan terkenal ini sebagai contoh. Itu pun telah kuringkaskan sedemikian rupa agar tidak panjang dan sederhana. Jika aku ingin tuliskan secara terperinci maka ia akan memuatkan berjilid-jilid buku. Seperti yang kukatakan di atas, aku hanya mengetengahkannya sebagai contoh.

Apa yang kusebutkan di atas, hanya segelintir kecil dari peristiwa yang terjadi. Tetapi ia telah memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang jelas tentang mentalitas para sahabat dan sikap para ulama Ahlu Sunnah yang kontradiktif. Mereka melarang setiap orang untuk mengkritik dan meragukan sahabat, tetapi dalam masa yang sama mereka riwayatkan dalam berbagai buku mereka fakta-fakta yang bisa menimbulkan keragu-raguan dan kecaman. Kalaulah para ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah tidak menyebutkan fakta-fakta yang jelas yang menyentuh tantang sahabat dan melukai keadilan mereka, maka mereka akan berjasa dalam menghilangkan segala jenis keraguan dari benak kita.

Aku teringat akan perjumpaanku dengan salah seorang ulama dari Najaf al-Asyraf, Asad Haidar, penulis buku Al-Imam as-Shodiq Wa al-Mazahib al-Arba’ah (Imam Shodiq Dan Empat Mazhab). Waktu itu kami berbicara tentang Sunnah Syi’ah. Diceritakannya kepadaku tentang ayahnya yang berjumpa dengan seorang alim dari Tunisia pada waktu musim haji lima puluh tahun yang lalu. Mereka berdua berdiskusi panjang tentang keimamahan Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib. Orang alim Tunisia ini mendengar ayahku menghitung hadis-hadis yang membuktikan tentang kepemimpinan Imam Ali as. dan haknya dalam masalah khilafah. Dihitungnya sehingga empat atau lima dalil. Ketika selesai, ditanyanya apakah ada dalil selain ini. “Tidak” jawabnya. Kemudian dia berkata: “Keluarkan tasbihmu dan mulai hitung.”

Orang alim Tunisia ini menyebutkan dalil-dalil berkenaan sehingga seratus, yang hatta ayahku sendiri tidak mengetahuinya.” Syaikh Asad meneruskan: “Jika Ahlu Sunnah membaca kitab-kitab mereka, maka mereka akan berpendapat seperti kami; dan perselisihan ini telah selesai sejak lama.”

Demi jiwaku! Sesungguhnya ini adalah kebenaran yang tidak dapat dihindari bagi mereka yang telah membebaskan dirinya dari fanatisme buta dan bagi mereka yang setia pada dalil yang shahih.

(Diambil dari buku AKHIRNYA KUTEMUKAN KEBENARAN karya Dr Muhammad Tijani Samawi; Penerbit Zahra, Jakarta)

 

%d blogger menyukai ini: