Polemik Kitab Hadis Sulaim bin Qais

Dalam sebuah pengajian di Buah Batu Bandung, seorang kandidat doktor hadis dan penulis buku menyampaikan bahwa Sayyid Kamal Haidari (seorang ulama dari Iran) menyebut kitab hadis Sulaim bin Qais tidak otentik. Pernyataan tersebut ditemukannya setelah meneliti dan merujuk para ulama terdahulu dari kalangan Syiah yang mumpuni dalam hadis.

Bagi Muslimin Syiah yang terpelajar sudah bukan rahasia lagi kalau kitab Sulaim bin Qais merupakan rujukan hadis dan sejarah yang sering kali digunakan dalam mengkaji Islam periode awal. Karena dalam kitab Sulaim ini memuat riwayat dari sahabat Nabi yang setia dan pendukung Ahlulbait seperti Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ammar bin Yasir, dan lainnya. Dari mereka ini kitab tersebut disusun.

 

Memang informasi yang dimuat dalam kitab Sulaim berbeda dengan catatan sejarah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlussunnah. Peristiwa menjelang kematian Rasulullah saw beserta pesannya kepada Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah dan Sayidah Fathimah salamullah ‘alaiha diceritakan dengan detail. Misalnya Rasulullah saw berwasiat kepada Imam Ali bahwa kelak setelah wafat Nabi akan ada orang-orang yang menegakkan pemerintahan didasarkan dengan pilihan orang-orang. Tidak mengikuti pada nash yang ditentukan Rasulullah saw.

Dalam kitab Sulaim disebutkan bahwa jika Imam Ali memiliki pendukung maka diperbolehkan untuk melawannya dalam rangka mengambil hak kepemimpinan Islam yang telah ditentukan pada peristiwa Ghadir Khum. Seandainya tidak ada pendukung maka bersabar lebih baik. Yang terakhir inilah yang diambil oleh Imam Ali.

Fakta sejarah membuktikan bahwa Imam Ali bersabar saat kepemimpinan Islam setelah Rasulullah saw dijabat secara beruntun oleh Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan. Imam Ali beserta Ahlulbait dan sahabat setianya tidak melakukan pemberontakan.

Malahan para sahabat Nabi yang sakit hati atas kebijakan Utsman yang melakukan pemberontakan hingga berujung kematiannya. Sampai-sampai mayat Utsman pun tidak diperbolehkan dikuburkan di dekat makam Nabi Muhammad saw. Hal itu menunjukkan bahwa sesama sahabat tidak terjalin ukhuwah dan menemukan ketidakadilan pada sosok sahabat.

Kembali pada kitab Sulaim bin Qais. Selain disebutkan tidak otentik oleh Sayyid Kamal Haidari, juga ada ulama Syiah yang tetap menyatakan otentik. Memang tidak aneh kalau terjadi perbedaan pendapat dengan sesama ulama. Biarlah itu menjadi khazanah intelektual Islam.

Berkaitan dengan kitab Sulaim bin Qais ini jika ditelusuri berdasarkan pada kitab-kitab rijal dan hadis, ada tiga pendapat utama (yang diambil dari Hauzah Maya):

Pendapat pertama, sebagian kelompok menganggap kitab Sulaim bin Qais adalah bagian dariushul yang terpercaya dan bersanad. Di antara tokoh-tokoh kelompok ini adalah Abu Zainab Muhammad bin Ibrahim Nu’mani.

Dalam kitab Al-Ghaibah, Abu Zainab berkata: “Tidak diragukan bahwa kitab Sulaim bin Qais adalah salah satu kitab dan ushul penting bagi umat Syiah. Karena semua yang ada di dalamnya berasal dari Miqdad, Salman, Abu Dzar dan lain sebagainya, yang mana hidup bersama Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as dan mendengar sendiri hadis-hadis dari mereka. Kitab Sulaim bin Qais adalah satu kitab yang dirujuki umat Syiah dan dipercayai mereka” (Muhammad bin Ibrahim Nu’mani, Ghaibah, hal. 7).

Demikian pula pendapat Agha Bozorgh Tehrani, Allamah Muhammad Taqi Majlisi, Allamah Muhammad Baqir Majlisi, Syaikh Hurr Amili, Allamah Tafreshi, dan Sayid Hasyim Bahrani.

Pendapat kedua, berdasarkan pendapat kelompok ini, dari satu sisi kitab Sulaim bin Qais dan sanad-sanadnya secara sekilas bisa dianggap benar dan dalil-dalil Ibnu Ghadhairi yang menyebut kitab tersebut sebagai kitab palsu tidaklah benar.

Namun di sisi lain, mereka menekankan bahwa kitab tersebut tidak bebas dari tahrif  dan tadlis (modifikasi dan perubahan) naskah-naskah kitab tersebut sejak beberapa abad setelahnya (penulisannya).

Syaikh Mufid dalam kitab Tashihul I’tiqad menjelaskan: “…hanya saja kitab ini tidak bisa dijadikan sandaran dan selayaknya para mutadayinin (para agamawan) tidak mengamalkan apa yang ada di dalam kitab itu, juga tidak terlalu mempercayainya, tidak mengikuti riwayatnya. Hendaknya mereka meminta tolong ulama mereka untuk membedakan mana yang benar dan tidak di antara hadis-hadis kitab tersebut” (Abul Qasim Khui, Mu’jam Rijal Hadis, jil. 9, hal. 239).

Pendapat ketiga, kelompok ini adalah orang-orang yang sama sekali tidak membenarkan kitab Sulaim bin Qais dan menganggapnya kitab palsu. Ibnu Ghadhairi sepertinya adalah orang pertama yang berpendapat demikian. Dia berkata: “Kitab tersebut maudhu’ (hadis bohong atau palsu yang dinisbatkan atau dituduhkan kepada orang lain) dan tidak bisa dianggap (tak bisa diandalkan atau dipercaya) dan sahabat-sahabat kami menyatakan bahwa wadh’ul hadis (penisbatan kebohongan dalam meriwayatkan hadis) tersebut dilakukan oleh Aban bin Abi Ayyash” (Allamah Hilli, Khulashatul Aqwal fi Ma’rifati Rijal, hal. 163).

Syahid Tsani dan Sayid Ibnu Thawus membenarkan perkataan tersebut. Begitu pula belakangan ini Allamah Sya’rani dan Allamah Hasan Zade Amuli berpendapat yang sama (Nadali Asyuri Tawakkuli, Negahi be Moqadame e Ketab e Asrar e Aal e Muhammad, Jurnal Ilmu Hadis).

Agha Behbudi pun menerima pendapat ini, hanya saja menurutnya wadh’ul hadis dalam kitab Sulaim bin Qais dilakukan oleh salah seorang ghulat, bukan Aban bin Abi Ayyash” (Muhammad Baqir Behbudi, Ma’rifatul Hadis, hal. 259).

Saya kira itu hal yang wajar terjadi polemik di antara ulama. Masing-masing yang menyalahkan dan membenarkan pasti didasarkan pada kajian yang kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Swt.

Kemudian dalam literatur khazanah hadis Ahlulbait atau mazhab Syiah Imamiyah memang tidak ada yang menyatakan sakral atas sejumlah kitab hadis Syiah. Termasuk yang kitab induk yang empat seperti Al-Kafi, Man Laa Yahdhuruhul Faqih, At-Tahdzib, dan Al-Istibshar, pun tidak dianggap sahih. Karena itu, penilaian hadis dan pengamalannya diserahkan kepada ulama yang dirujuk oleh umat Islam.

Berbeda dengan Ahlussunnah yang menetapkan sahih pada kitab hadis yang disusun oleh Bukhari dan Muslim. Lucunya, dalam penelitian cendekiawan dan ulama modern di Mesir dan Indonesia, ternyata dua kitab hadis Ahlussunnah yang dianggap sahih itu masih menyimpan hadis-hadis lemah dan palsu. [ahmad sahidin]

 

sumber : Misykat dan Hauzahmaya

%d blogger menyukai ini: