Perang Jamal

Penyebab perang Jamal bermula dari perbedaan jatah pembagian Baitul Mal yang diwujudkan oleh beberapa khalifah sepeninggal nabi; yakni harta Baitul Mal tidak dibagi secara sama rata sebagaimana di jaman nabi, yang dengan demikian sebagian kelompok mendapatkan jatah yang lebih banyak namun sebagian yang lain mendapat lebih sedikit.

Selain itu ada faktor pendukung meletusnya perang Jamal, yakni alasan menuntut darah khalifah Utsman bin Affan (membalas dendam atas terbunuhnya Utsman). Di saat imam Ali bin Abi Thalib as naik tahta, beliau berusaha mengembalikan keadaan umat Islam sebagaimana di jaman nabi, yang salah satu bentuknya adalah membagikan harta Baitul Mal secara sama rata tanpa memandang perbedaan antara siapapun.

Sikap Imam Ali as tersebut membuat sebagian orang yang merasa kepentingannya terusik menjadi geram. Di antara mereka yang paling getol adalah Thalhah dan Zubair; yang mana sebelumnya mereka mendapatkan jatah lebih banyak kini dengan naiknya Imam Ali as sebagai khalifah mereka dipandang sama seperti masyarakat lainnya, alias mendapat jatah sama sebagaimana rakyat biasa.

Thalhah dan Zubair memulai membangun siasat bagaimana untuk melawan sikap khalifah Ali bin Abi Thalib as. Karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa di Madinah, maka mereka memilih Makkah sebagai tempat memulai gerakan mereka. Oleh karena itu mereka berpamitan dengan alasan menunaikan ibadah haji dan umrah ke Makkah.

Imam Ali as saat itu memahami apa yang ada di hati mereka. Beliau berkata kepada keduanya: “Aku tahu kalian tidak sekedar pergi ke Makkah begitu saja tanpa ada keinginan untuk bertipu muslihat.” Namun keduanya bersumpah dan meyakinkan beliau bahwa tujuan mereka benar-benar hanya untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.

Lalu Imam Ali as memperbarui bai’at mereka berdua kepadanya dan juga mengingatkan ucapan Nabi yang pernah dilontarkan kepada Imam Ali as di hadapan mereka berdua yang mana Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, engkau kelak akan berperang melawan Nakitsin (para pelanggar janji, mereka yang melawan Imam Ali as di perang Jamal), Qasithin (orang-orang zalim dan keji, yakni Muawiyah dan pasukannya) dan Mariqin (orang-orang yang keluar dari agama, yakni orang-orang Khawarij).” Beliau juga meminta keduanya untuk tidak melanggar janji mereka.[1]

Sebelum Thalhah dan Zubair tiba di Makkah, Aisyah sudah ada di kota itu. Dia salah satu orang yang memprovokasi pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Ungkapan kebenciannya terhadap Utsman bin Affan tercatat dalam sejarah, misalnya kata-katanya: “Bunuhlah Na’tsal, sesungguhnya ia telah kafir.”[2]

Suatu saat, saat Aisyah usai menyelesaikan ibadah Haji dan Umrah di Makkah, saat ia berjalan kembali ke Madinah, ia mendengar berita terbunuhnya Utsman bin Affan. Mungkin ia merasa senang. Namun ia juga mendengar bahwa Ali bin Abi Thalib as dibai’at masyarakat untuk menjadi khalifah setelah Utsman; oleh karena itu ia kesal dan kembali lagi ke Makkah; tidak jadi meneruskan perjalanannya pulang ke Madinah.

 

Saat itu hakim Madinah (pemimpin Madinah) adalah Abdullah bin Khadhrami, orang yang benar-benar fanatik terhadap Utsman dan anti terhadap Ali bin Abi Thalib as.

Di Makkah, selain Aisyah, hakim Madinah, Thalhah dan Zubair, masih banyak lagi para penentang Ali bin Abi Thalib as yang berdatangan dari berbagai penjuru, misalnya Ya’la bin Umayah dari Yaman dan Abdullah bin ‘Amir dari Bashrah.

Mereka berkumpul bersama, dan membicarakan pertentangan mereka terhadap kahlifah masa itu, Ali bin Abi Thalib as. Aisyah pun masih mencari dukungan, ia berusaha untuk merayu istri-istri nabi lainnya seperti Hafshah dan Ummu Salamah untuk bergabung dengannya; namun ia mendapat pertentangan keras dari Ummu Salamah.

Ummu Salamah berkata: “Hai Aisyah, bukannya kamu sendiri yang mendesak masyarakat untuk membunuh Utsman? Lalu ada apa hari ini engkau bangkit mengaku ingin membalas dendam atas terbunuhnya Utsman? Dan kebencian macam apa ini yang kau miliki terhadap Ali bin Abi Thalib as padahal dia adalah saudara Rasulullah saw dan penggantinya. Hari ini baik Muhajir maupun Anshar semua membaiatnya. Selain itu, apakah engkau tidak mengingat nasehat nabi tentang firman Allah swt yang berbunyi: “dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan jangan menampakkan diri kalian sebagaimana wanita-wanita di jaman Jahiliah menampakkan diri mereka.” (QS. Al-Ahzab : 33).”

Hafshah mendukungnya, namun saudaranya (saudara Hafshah) yang bernama Abdullah bin Umar mencegah saudarinya dari perbuatan itu. Karena ia tidak mendapatkan bantuan yang nyata dari Hafshah, oleh karenanya ia terpaksa berjalan sendiri. Dengan demikian Aisyah sendiri yang mengkomandani pasukannya dalam perang Jamal.

Sebelumnya, Muawiyah pernah menulis surat untuk Zubair untuk menyemangatinya dalam menentang Ali bin Abi Thalib. Muawiyah memanas-manasi Zubair dengan berkata bahwa ia lebih berhak untuk menjadi khalifah ketimbang Ali bin Abi Thalib as.

Zubair dan kawan-kawannya merasa mendapat dukungan dari Muawiyah lalu berencana untuk berbondong-bondong pergi ke Syam agar Muawiyah dan pasukannya bergabung bersama mereka. Muawiyah sudah tahu akan niat itu. Seketika Muawiyah merenung dan berfikir, jika seandainya nanti mereka bergabung dengannya lalu andai mereka memenangkan peperangan melawan Ali bin Abi Thalib as, maka dia (Muawiyah) bakal terpaksa harus membai’at Thalhah dan Zubair; sedangkan ia tidak ingin hal itu terjadi.

Oleh karenanya Muawiyah menulis sepucuk surat namun ia tidak menandatangani surat itu, sebagai gantinya ia meminta orang lain untuk menandatanganinya (supaya tidak jelas siapa penulis surat tersebut); isi surat itu berbunyi: “Kalian janganlah tertipu perkataan Muawiyah. Ia tidak akan membantu kalian. Dia saja yang dilantik Utsman bin Affan untuk menjadi khalifah Syam namun sama sekali tidak membantu Utsman hingga ia terbunuh, lalu bagaimana ia akan membantu kalian?”

Sesampai surat itu kepada Zubair, dia mengumumkan isinya kepada orang-orang sekitarnya, para penentang Ali bin Abi Thalib as yang dipimpin Aisyah.[3] Akhirnya mereka tidak jadi menuju Syam, namun mereka pergi menuju Bashrah karena Thalhah dan Zubair memiliki banyak pendukung di sana.

Akhirnya Aisyah mempersiapkan pasukannya dengan pendanaan yang diberikan oleh Ya’la bin Umayah untuk mendapatkan perlengkapan perang. Dia pun menaiki seekor unta yang bernama Askar dan berjalan menuju Bashrah.[4]

Supaya mereka bisa mendahului Ali bin Abi Thalib as, mereka dengan penuh semangat berjalan dengan cepat menuju Bashrah, bahkan mereka jarang beristirahat di tengah jalan.

Pada akhirnya, di suatu tempat yang dikenal dengan Hau’ab, karena saat itu malam hari, mereka beristirahat di sana. Di tengah malam, anjing-anjing Hau’ab berkeliaran di sekitar kemah Aisyah. Begitu ribut anjing-anjing itu, Aisyah sampai terbangun terkejut dan bertanya-tanya apa nama tempat itu.

Begitu diberitahu bahwa tempat itu bernama Hau’ab, ia ketakutan dan merasa menyesal dalam perbuatannya melawan Ali bin Abi Thalib as; karena ia teringat perkataan Rasulullah saw: “Suatu saat nanti anjing-anjing Hau’ab akan menggonggong ramai di antara salah satu istriku.” Kemudian nabi menatap Aisyah dan berkata: “Humaira, jangan sampai dia (salah satu istri itu) adalah engkau.”

 

Karena kejadian itu Aisyah menyesal dan berkeinginan untuk kembali ke Makkah. Mendengar keinginan Aisyah itu, Zubair mulai khawatir. Akhirnya Zubair mengajak beberapa orang lainnya untuk memberikan kesaksian palsu bahwa tempat itu bukanlah Hau’ab, dan Hau’ab telah jauh dilewati karavan. Aisyah pun merasa yakin karena sumpah mereka, akhirnya mereka terus melanjutkan perjalanan ke Bashrah.

 

Sesampai mereka di dekat Bashrah, mereka menulis surat kepada pemimpin Bashrah agar bersedia bergabung dengan mereka untuk melawan Ali bin Abi Thalib as. Namun pembesar-pembesar Bashrah menjawab: “Mereka yang membunuh Utsman bin Affan ada di Madinah. Lalu untuk apa kalian datang ke sini?”

Orang-orang Aisyah tidak mempedulikan jawaban itu, akhirnya mereka menyerang Bashrah. Setelah terjadi pertumpahan di Bashrah, akhirnya Utsman bin Hanif, orang yang ditunjuk Imam Ali as untuk menjadi pemimpin di Bashrah, terpaksa berserah diri lalu kota Bashrah pun jatuh ke tangan mereka.

Di masa-masa itu, Imam Ali bin Abi Thalib as sibuk melucuti jabatan-jabatan para pejabat khekhalifahan sebelumnya. Misalnya, beliau memerintahkan Jarir bin Abdullah untuk membawa surat darinya kepada Muawiyah yang berisi permintaan beliau kepadanya untuk berbaiat. Namun bukannya Muawiyah membalas surat itu, ia menulis surat kepada Zubair yang berisi provokasi untuk menentang Ali bin Abi Thalib as.

Imam pun menulis surat kepada Zubair dan berkata: “Sesampainya surat ini ke tanganmu, saat itu juga temui Muawiyah dan desaklah dia untuk memberi keputusan yang jelas. Buat dia memilih antara berdamai atau berperang. Jika ia menyerah, mintalah baiatnya dan jika ia memilih berperang, segera beritahu kami.”

Muawiyah tidak bersedia membaiat Ali bin Abi Thalib as. Di antara penentang-penentangnya, Imam Ali as melihat Muawiyah adalah yang paling licik. Ia menyiapkan pasukan memutuskan untuk menyerang Syam. Namun tiba-tiba ia mendengar bahwa Aisyah, Thalhah dan Zubair menguasai Bashrah dan berencana memberontak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib serta memprovokasi masyarakat untuk memberontak dengan dalih menuntut darah Utsman yang tertumpah. Imam Ali as menunda rencananya untuk menyerbu Syam dan memiliih untuk menyelesaikan urusannya dengan pemberontak di Bashrah baru setelah itu menangani perkara Syam.

Imam Ali as menaiki mimbar di masjid dan berceramah: “Wahai orang-orang sekalian, Aisyah bersama Thalhah dan Zubair telah pergi Kufah. Adapun Thalhah dan Zubair, keduanya sama-sama saling menginginkan kekuasaan ada di tangan mereka. Thalhah, ia adalah sepupu Aisyah dan Zubair adalah [5]suami dari saudarinya.

Demi Tuhan jika mereka meraih apa yang mereka inginkan, dan padahal mereka tidak bakal meraihnya, maka mereka akan saling membunuh satu sama lain. Adapaun wanita itu, yang menaiki unta merah (Aisyah), tidak ada yang ia lakukan selain bermaksiat kepada Allah dan mencelakakan dirinya sendiri bersama kawan-kawannya.

Demi Tuhan, sepertiga dari mereka akan terbunuh, sepertiganya akan lari berkaburan dan sepertiga yang lain akan kembali dari perbuatan mereka. Dan wanita itu, adalah wanita yang anjing-anjing Hau’ab menggonggong di sekitarnya (mengisyarahkan perkataan nabi), dan Thalhah serta Zubair keduanya tahu jalan yang mereka tempuh adalah salah; namun betapa banyak orang yang memiliki pengetahuan namun kebodohannya membunuhnya. Cukup bagi kita Tuhan dan Ia-lah sebaik-baiknya wakil.”

Namun tidak mudah bagi Imam Ali as dalam mengerahkan pasukan untuk melawan pasukan Jamal yang dipimpin oleh Aisyah istri nabi Muhammad saw dan putri khalifah Abu Bakar, begitu juga Thalhah dan Zubair yang keduanya dikenal sebagai sahabat besar. Oleh karenanya Imam Ali as berusaha mengumumkan kepada masyarakat Madinah akan kesalahan kelompok Aisyah yang telah mereka lakukan di Bashrah agar mereka menyadari apa yang terjadi sebenarnya.

Dengan kata-katanya yang lantang, Imam Ali as menjelaskan pengkhianatan ashabul jamal (pasukan Jamal) terhadap Imam setelah bai’at yang telah mereka berikan. Dengan demikian Imam berhasil mendorong masyarakat Madinah untuk bangkit melawan para pemberontak.

Imam Ali as menugaskan Sahl bin Hanif di Madinah sebagai penggantinya sementara. Beliau mengumpulkan para Muhajirin dan Anshar yang kebanyakan adalah pahlawan perang Badar untuk bergerak menuju Bashrah. Imam Ali as juga mengutus Imam Hasan as, Malik Asytar, Muhammad bin Hanafiah dan beberapa orang lainnya ke Kufah agar menyiapkan pasukan dari kota itu untuk dikerahkan dan bergabung bersama.

Saat itu, pemimpin di Kufah adalah Abu Musa Asy’ari, seseorang yang dilantik oleh Utsman untuk menjabat sebagai pemimpin di Kufah. Dalam surat yang ditulis oleh Imam Ali as kepada Abu Musa Asy’ari, beliau memintanya untuk mengumpulkan bai’at masyarakat Kufah terhadap Imam Ali as. Namun ia merasa kedudukannya terancam jika masyarakat Kufah membai’at Imam Ali as; karena ia pikir jika ia membantu kelompok Aisyah, Thalhah dan Zubair, kedudukannya bakal tidak terganggu, maka dia menolak permintaan Imam Ali bin Abi Thalib as; justru ia mengerahkan masyarakat Kufah untuk membantu pasukan Jamal yang berpura-pura berselogan menuntut darah Utsman yang tertumpah.

Seperti apapun utusan-utusan Imam Ali as mendesak Abu Musa Asy’ari, namun usaha itu tak memberi hasil. Akhirnya Malik Asytar menduduki Darul Imarah dan mengusir budak-budak Abu Musa Asy’ari hingga berkaburan.

Saat itu Abu Musa Asy’ari sedang berada di masjid; maka Malik Asytar datang ke masjid dan menariknya turun dari mimbar. Malik Asytar berteriak di hadapannya: “Dasar pengkhianat dan bodoh! Semua orang tidak membai’at siapapun selain Ali bin Abi Thalib as!” Ketika Abu Musa merasa dirinya lemah, dia memilih untuk hanya diam. Kemudian Malik Asytar menaiki mimbar dan berceramah kepada masyarakat Kufah. Akhirnya utusan-utusan Imam Ali as berhasil mengumpulkan bai’at dari masyarakat Kufah dan mengerahkan 12,000 pasukan untuk bergabung bersama pasukan Imam Ali as dalam waktu yang singkat.

Di suatu tempat yang bernama Dzi Qar pasukan-pasukan Kufah bergabung dengan pasukan Imam Ali as lainnya, dan Imam Ali as pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada semua orang.[6]

Dari Dzi Qar Imam Ali as bersama seluruh pasukannya meneruskan perjalanan menuju Bashrah. Sesampai mereka di tempat yang bernama Zawiyah, karena Imam Ali as lebih mencintai perdamaian daripada peperangan, Imam Ali as menulis surat tawaran berdamai kepada pasukan Aisyah. Selain mengirimkan surat tertulis itu, beliau juga mengutus beberapa orang seperti Qa’qa’ bin ‘Amr untuk berunding dengan pasukan Jamal di Bashrah. Utusan-utusan Imam Ali as memberikan nasehat-nasehat dan tawaran untuk berdamai, serta mengingatkan mereka agar mengurungkan niatnya untuk berperang karena akibat yang bakal mereka rasakan karena kesalahan itu bakal buruk sekali. Tapi karena para penentang Imam Ali as yang berjumlah 30,000 pasukan mengira mereka bakal memenangkan peperangan, maka mereka sama sekali tidak menghiraukan tawaran tersebut.

Apalagi saat itu Aisyah tahunya hanya Abu Musa Asy’ari tidak mematuhi Imam Ali as, yang dengan demikian Aisyah mengira pasukan-pasukan dari Kufah bakal membantunya untuk melawan pasukan Imam Ali as. Tawaran ditolak begitu saja, pasukan-pasukan Jamal pun telah siap untuk berperang.

Qa’qa’ yang melihat kata-katanya tidak didengar, dan apa lagi melihata pasukan Aisyah telah semakin siap, ia pun kembali dan menginformasikan keadaan yang ada kepada Imam Ali as.

Di sela-sela kesempatan yang ada, sekitar 3000 pasukan datang dari Bashrah dan menyatakan keinginan mereka untuk bergabung bersama pasukan Imam Ali as. Kurang lebih kini total pasukan Imam Ali as berjumlah dua puluh ribu pasukan. Karena Imam Ali as menyadari tekat Aisyah dan kawan-kawannya untuk benar-benar berperang, beliau pun mengumpulkan panglima-panglima perangnya yang di antaranya adalah Malik Asytar, Udai bin Hatim, Muhammad bin Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan juga beberapa orang lainnya untuk menyusun taktik peperangan.

Aisyah mengerahkan pasukannya dan bergerak ke arah Zawiyah, suatu tempat yang strategis untuk mengerahkan pasukan demi melindungi Bashrah, lalu sesampainya di sana mereka berhenti untuk berhadapan dengan pasukan Imam Ali as. Berdasarkan sebagian riwayat, perang tersebut terjadi pada tanggal 17 Jumadil Tsani tahun 36 H. Menurut penulis Nasikh Tawarikh perang Jamal terjadi pada tanggal 19 Jumadil Ula tahun 36 H.[7]

 

Hari berikut satelah mereka berhadapan, sebelum perang benar-benar meletus, Zubair mengerahkan beberapa kelompok dari pasukannya maju ke arah pasukan Imam Ali as. Melihat tekad perang itu, Imam Ali as memerintahkan pasukannya untuk mundur barangkali masih bisa diusahakan untuk berdamai. Aisyah pun akhirnya memerintahkan mereka semua untuk mundur kembali. Dengan demikian di hari pertama peperangan itu peperangan yang sebenarnya belum dimulai.

Keesokan harinya Imam Ali as memisahkan dirinya dari pasukannya. Beliau melepas baju besi dan meninggalkan senjatanya lalu dengan cepat mendatangi pasukan Jamal hingga akhirnya beliau berada tepat di hadapan mereka. Dengan suara yang kencang ia memanggil Zubair. Semua orang menjadi kebingungan dan takjub, apa yang sedang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib as mendatangi pasukan Jamal tanpa baju perang dan senjata?

Zubair mendatangi Imam Ali as. Keduanya saling menatap. Imam Ali as berkata: “Apa-apaan ini? Apa yang sedang kalian lakukan?”

Dia menjawab: “Kami ingin membalas dendam terbunuhnya Utsman.”

Imam Ali as bertanya: “Jika benar apa yang kalian katakan, maka serahkan tangan-tangan kalian dalam keadaan terikat. Bukankah kalian sendiri yang memprovokasi pembunuhan Utsman?”

Zubair hanya diam. Imam Ali as berkata: “Aku datang untuk menyadarkan kalian. Aku mengingatkan beberapa perkataan nabi kepadamu yang telah kau lupakan. Ingatkah kau saat itu aku sedang mencari Rasulullah saw; saat itu beliau berada di rumah ‘Amr bin ‘Auf. Engkau ada di situ dan Rasulullah saw sedang berjabat tangan denganmu.

Lalu begitu aku masuk Rasulullah saw mengucapkan salam kepadaku. Engku pun berkata: ‘Wahai Ali, mengapa kau sombong? Kenapa engkau tak mengucapkan salam kepada nabi lebih dahulu?’ Lalu Rasulullah saw berkata: ‘Hai Zubair, dia tidak sombong. Suatu hari nanti engkau wahai Zubair akan berperang melawannya, dan perang itu adalah perang yang zalim.’”

Imam Ali as melanjutkan: “Apakah kau tidak ingat perkataan nabi saat bertanya kepadamu: ‘Wahai Zubair, apakah engkau mencintai Ali?’ kau menjawab: ‘Ya wahai Rasulullah…’ lalu nabi berkata: ‘Meski demikian engkau tetap akan memeranginya di suatu hari dan memusuhinya.’”

Dengan mendengar kata-kata itu, Zubair sedikit luluh dan menyesal mengapa perkara sampai seperti itu jadinya.[8]

Zubair meminta maaf kepada Imam Ali as dan berkata: “Aku berjanji sekarang juga aku akan keluar dari pasukan Bashrah dan tidak ingin ikut campur lagi dalam urusan ini.”

Imam Ali as pun kembali ke pasukannya. Zubair dengan bimbang dan hati yang berkecamuk kembali ke sisi Aisyah.

Aisyah bertanya: “Ada perlu apa Ali bin Abi Thalib as denganmu?” Zubair menceritakan apa sebenarnya. Aisyah pun mengucapkan kata-katanya agar Zubair tetap bertekat dengan tekatnya sebelumnya. Anaknya, Abdullah bin Zubair, juga mendukung Aisyah dan mendesak ayahnya agar tak berubah pikiran. Zubair berkata kepada anaknya: “Aku sudah berjanji kepada Ali bin Abi Thalib as.” Abdullah berkata: “Engkau bisa meninggalkan janji itu dan membayar kafarah dengan membebaskan budakmu.”

Zubair pun membebaskan satu budaknya, lalu dia bergegas ke pasukan Imam Ali as dengan senjatanya. Zubair bertarung dengan beberapa pasukan Imam Ali as namun tanpa meninggalkan luka sedikitpun baik pada Zubair sendiri ataupun pasukan Imam Ali as, Imam Ali berkata: “Tinggalkanlah Zubair. Dia tidak berperang.” Akhirnya Zubair kembali ke pasukan Aisyah. Sesampai di hadapan Aisyah, juga anaknya, Zubair berkata: “Kau lihat aku tidak takut melawan Ali as?” Abdullah mentertawakan ayahnya…

Zubair pergi meninggalkan pasukan Aisyah menuju suatu tempat yang bernama Wadi Siya’. Di situ ia menjadi tamu seseorang bernama ‘Amr bin Jurmuz. Saat Zubair tidur di rumahnya, ‘Amr mengeluarkan pedangnya dan memenggal kepa Zubair. Badannya ia kuburkan dan kepalanya dia bawa kepada Imam Ali as. Imam Ali as bertanya: “Mengapa engkau membunuhnya? Padahal dia tamumu. Aku mendengar Rasulullah saw berkata bahwa laknat Allah atas orang yang membunuh Zubair dan beliau pun melaknatnya.”

‘Amr pun kebingungan dan berkata: “Aku tidak tau harus bagaimana dengan Bani Hasyim. Orang yang memerangi kalian, kalian laknat; orang yang membunuh musuh kalian juga kalian laknat?”[9]

 

Catatan Akhir 

[1] Itsbatul Washiyah, Mas’udi.

[2] Na’tsal adalah orang Yahudi tua di Madinah dengan jenggot panjang dan berkaki pincang. Dalam kata-katanya di atas Aisyah menyebut Utsman sebagai Na’tsal dan memprovkasi orang-orang untuk membunuhnya.

[3] Sebab pertentangan Aisyah terhadap Utsman dan juga terhadap Imam Ali as, mulanya karena di jaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Aisyah dan Hafshah selalu mendapatkan pembagian Baitul Mal yang sangat banyak, namun ketika Utsman menjadi khalifah, aluran dana dan harta Baitul Mal berbelok ke keluarganya sendiri (keluarga Utsman bin Affan). Dengan demikian Aisyah dan Hafshah tidak lagi mendapatkan jatah yang banyak sebagaimana biasanya. Maka dari itu Aisyah menentangnya dan memprovokasi masyarakat untuk membunuhnya.

Adapun pertentangannya terhadap Imam Ali as, ada beberapa sebab: misalnya, di saat ayahnya, Abu Bakar, menjadi khalifah, Ali bin Abu Thalib as dia anggap sebagai saingan utamanya. Ia tidak ingin Ali bin Abi Thalib as menduduki jabatan ayahnya (menjadi khailfah seperti Abu Bakar) atau bahkan lebih tinggi darinya. Di sisi lain, Aisyah adalah istri nabi selain Khadijah, yang mana Rasulullah saw sangat mencintai Khadijah. Aisyah selalu ingin menjadi yang paling tinggi dari istri-istri nabi, namun ia merasa cemburu akan kasih sayang dan kecintaan Rasulullah saw kepada Khadijah juga putrinya, Fathimah Azzahra as, yang menjadi kenangan dari Khadijah, yang mana Rasulullah saw sangat mencintainya; adapun Ali bin Abi Thalib as beserta segala kriteria yang dimilikinya, adalah suami Fathimah Azzahra as, yang mana hal itu berat bagi Aisyah.

Sebab lain dari pertentangan Aisyah terhadap Ali bin Abi Thalib as, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Aisyah menentang Utsman karena ia tidak lagi bisa mendapat pembagian harta yang menguntungkan dari Baitul Mal dengan jumlah yang banyak, lalu kini dengan menjabatnya Ali bin Abi Thalib as sebagai khalifah setelah Utsman, Aisyah melihat masalah yang dihadapinya semakin parah; karena Ali bin Abi Thalib as berlaku adil dalam membagi harta Baitul Mal yang sampai-sampai anaknya saja tidak ia beri keistimewaan dari Baitul Mal apalagi Aisyah?! Begitu pula, yang menjadi motivasi Aisyah melawan Imam Ali as, ia ingin kekhalifahan ada di tangan kabilahnya. Dengan terakumulasinya faktor-faktor itu, Aisyah tidak memiliki jalan lain selain memerangi Ali bin Abi Thalib as.

[4] Dikarenakan Aisyah menaiki unta, perang itu disebut perang Jamal (jamal berarti unta). Juga karena perang itu terjadi di Bashrah, maka juga dikenal dengan perang Bashrah.

[5] Nasikh Tawarikh – Ahwalat Amirul Mu’minin, kitab Jamal, hal. 41.

[6] Al-Irsyad, jil. 1, pasal. 21.

[7] Nasikh Ahwalat Amirul Mu’minin, kitab Jamal, hal. 70.

[8] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jil. 1, hal. 202.

[9] Muntakhab Tawarikh, jil. 1, hal. 178.

Sumber: Hauzah Maya

 

%d blogger menyukai ini: