Pengumpulan As-Sunnah

Menurut sejarah, bangsa Arab pra-Islam merupakan bangsa yang buta huruf, yang tidak mengenal baca-tulis.

Berangkat dari realitas ini, Ali as-Sayis menganggap para sahabat hanya mengandalkan hafalan mereka dalam menyimpan hadis Nabi. Mereka tidak menulisnya. Karena Rasulullah Saw sendiri tidak pernah memerintahkan mereka menulis apa yang didengar, sebagaimana beliau memerintahkan menulis Al-Quran. Bahkan justru sebaliknya, Rasulullah Saw melarang menulis hadis.

Pendapat ini beliau sandarkan pada riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim: “Jangan kalian tulis apa yang berasal dariku. Barang siapa yang menulis selain Al-Quran hendaknya menghapusnya.”

Riwayat di atas, menurut As-Sayis, dengan jelas menunjukan larangan penulisan As-Sunnah semasa hidup Nabi.

 

Dengan mendasarkan pada riwayat ini, kalangan Ahlussunnah berpendapat bahwa hadis Nabi baru ditulis pada permulaan abad kedua Hijriah atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada salah seorang pembantunya di Madinah, Abu Bakar Muhammad bin ‘Amr bin Hazm, dalam ucapannya yang terkenal: “Lihatlah hadis-hadis Rasulullah Saw dan sunnahnya, kemudian tulislah, karena aku khawatir akan hilangnya ilmu dengan perginya ulama.”

Itulah pendapat kalangan Ahlussunnah yang mengatakan bahwa hadis Nabi baru terkumpul dua abad sepeninggal Rasulullah Saw.

Dengan mencermati riwayat lain, pendapat tersebut bertentangan dengan sebagian riwayat yang juga dibawakan oleh salah tokoh Ahlussunnah yang lain, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad-nya.

Riwayat Ibnu Hanbal justru menunjukan izin Rasululullah Saw kepada sebagian sahabatnya untuk menulis segala apa yang didengarnya.

Seperti yang dapat kita lihat dalam riwayat berikut:

“Abdullah bin Amr bin al-Ash menulis segala yang didengar dari Rasulullah Saw. Namun perbuatan ini ditentang oleh sebagian sahabat karena Rasulullah Saw adalah manusia biasa yang terkadang berkata dalam keadaan ridha atau marah. Maka ia menahan diri untuk menulis dan bertanya kepada Rasulullah Saw: Apakah aku boleh menulis segala yang aku dengar? Beliau menjawab: Ya. Abdullah bertanya lagi: Dalam keadaan rela maupun marah? Beliau menjawab: Ya, karena aku tidak akan berkata melainkan yang haq.”

Dalam bab yang lain Ibnu Hanbal meriwayatkan sebagai berikut: dari Thariq bin Syihâb, ia berkata, “Aku menyaksikan Imam Ali berkata di atas mimbar: Demi Allah, kami tidak memiliki apa yang kami bacakan untuk kalian, selain Kitabullah dan shahifah ini yang digantung dengan pedangnya. Aku mengambilnya dari Rasulullah Saw, di dalamnya terkandung kewajiban shadaqah.”

Di atas hanyalah sebagian riwayat dari kalangan tokoh Ahlussunah yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Dalam membawakan riwayat pengumpulan Al-Quran mereka sudah saling bertentangan. Dalam riwayat penulisan hadis Nabi pun setali tiga uang dengannya. Seperti biasa, kalangan Ahlussunah menyocok-cocokkan riwayat yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

Kalangan ulama Ahlussunnah bersilang pendapat dalam menyikapi riwayat larangan penulisan hadis Nabi.

Muhammad Abdul Aziz al-Hulli berpendapat bahwa hadis nahy alkitâbah (larangan penulisan) telah di-nasakh. Larangan tersebut berlaku manakala timbul kekhawatiran akan terjadinya percampuran antara hadis dengan Al-Quran. Namun, di saat kekhawatiran seperti itu telah hilang maka penulisan hadis menjadi dibolehkan. Sedangkan Mana’ al-Qathan, sambil menukil pendapat sebagian ulama, berpendapat; bahwa larangan berlaku pada penulisan hadis dengan Al-Quran dalam satu mushaf.

Meski ada pendapat seperti itu dikalangan ulama Ahlussunah sendiri, Ali as-Sayis beserta mereka yang keukeuh (tetap) menyatakan hadis Nabi baru ditulis pada abad ke dua hijriah, tetap menolak pendapat kalangan sejawatnya Ahlussunah yang menyatakan hadis ditulis sejak zaman Rasulullah Saw. Sikap keras kepalanya didasarkan pada alasan masih meluasnya buta huruf di kalangan umat Islam dan agar hadis tidak bercampur dengan Al-Quran, juga agar kaum muslimin saat itu tidak hanya menghafal hadits saja lalu berpaling dari menghafal Al-Quran.

Dalam menghadapi polemik seperti di atas, pendapat yang menyatakan bahwa hadis telah ditulis semenjak zaman Rasulullah Saw lebih dapat diterima akal sehat dan mendekati kebenaran. Adapun alasan penolakan yang diduga karena masih meluasnya buta huruf (al-ummiyyah) tertolak dengan kenyataan sejarah yang membuktikan bahwa Rasulullah Saw mengizinkan para tawanan Perang Badar—yang bisa baca tulis—untuk mengajari sepuluh dari penduduk Madinah. Hal ini menunjukan bahwa umat Islam pasca-Perang Badar sudah bisa baca tulis.

Dengan demikian, buta huruf bukan merupakan ciri umum umat Islam pada waktu itu. Bagaimana mungkin Rasulullah Saw melarang umatnya menulis susuatu yang akan menjaganya dari kesesatan? Fa’tabirû yâ ulil-abshâr.

Alasan agar hadis tidak tercampur dengan Al-Quran juga bertentangan dengan karakteristik mukjizat Al-Quran dengan perhatian berlebih yang diberikan oleh umat Islam kepada Al-Quran. Sedemikian rupa sehingga sedikit saja ada kesalahan baik dalam huruf, bacaan, ataupun susunan bahasannya (i‘rab) segera dapat diketahui oleh umat Islam. Maka mustahil Al-Quran akan bercampur dengan ucapan makhluk.

Memang, para ulama sepakat dengan keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang menurut sebagian pemerhati sejarah adalah yang pertama kali menghimpun Sunnah Nabi secara resmi. Bukan untuk menolak usaha mulia khalifah Umar bin Abdul Aziz, kiranya pendapat yang menyatakan hadis sudah ditulis semenjak zaman Rasulullah Saw lebih dapat diterima akal sehat. Riwayat Ibnu Hanbal di atas mendukung pendapat ini bahwa Rasulullah Saw mengizinkan sebagian sahabatnya untuk menulis segala apa yang didengarnya. Tulisan-tulisan itu kemudian dikumpulkan dengan nama shahâ’if.

Berangkat dari realitas ini, maka, apa saja yang dilakukan oleh para penulis hadis yang datang setelah masa sahabat hanyalah sekadar menghimpun dan memasukan apa-apa yang terkandung dalam shahâ’if tersebut ke dalam tulisan mereka. Maka dari itu, tidaklah aneh bila shahâ’if tersebut tidak sampai pada generasi sekarang ini, kecuali shahâ’if Ali yang senantiasa dijaga oleh para penerusnya dan diriwayatkan dari generasi ke generasi.

 

(SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum ; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

sumber : misykat

%d blogger menyukai ini: