Pakaian Kecipratan Air Kencing

Mungkin banyak dari kita yang menganggap remeh bila mengalami kecipratan kencing di celana. Padahal kejadian ini bisa kapan dan di mana saja terjadi serta menentukan sah tidaknya shalat yang kita lakukan.

Imam Ja’far ash-Shadiq as ketika ditanya tentang kencing yang mengenai baju atau tubuh seseorang, dijawab oleh Beliau: “Cucilah dua kali.” Artinya, perintah tersebut bermaksud agar baju atau tubuh seseorang disucikan dahulu.

 

Air kencing termasuk najis yang dapat dipandang dari dua sisi. Pertama, wujudnya benda najis itu sendiri (‘ainun najasah) seperti air kencing. Kedua, wujud benda najisnya sudah tidak ada yang ada adalah bekasnya seperti air kencing yang sudah mengering.

 

Pada kasus celana yang kecipratan air kencing dan air kencing di celana yang sudah mengering, walau pun wujudnya sudah tidak ada, tetapi celana tersebut masih mengandung unsur najis. Oleh sebab itu, celana tersebut dihukumi najis (hukum najis tidak hilang dengan hilangnya wujud benda najisnya). Hukum shalat seseorang dengan badan atau pakaian najis adalah batal.

 

Berikut ini jawaban Rahbar (Ayatollah al-Uzma Sayyid Ali Khamenei) atas masalah air kencing:

 

“Sesuatu yang najis karena terkena air kencing, bila ain (benda) najisnya yakni air kencingnya sudah dihilangkan terlebih dahulu kemudian disiram dengan air sedikit sebanyak dua kali, maka ia menjadi suci. Sedangkan sesuatu yang najis karena terkena benda-benda najis lainnya, yakni selain air kencing, bila ain (benda) najisnya sudah dihilangkan terlebih dahulu kemudian disiram satu kali saja maka ia menjadi suci. (Istifta dari kantor Rahbar, bab thaharah, masalah 21).

 

Sumber : Forum Ahlul Bait Indonesia

%d blogger menyukai ini: