Menjawab Fitnah Terhadap Islam mazhab Syiah

Seseorang yang bernama Muhyi sempat dialog dengan kami tentang Islam Syiah. Kemudian kami sampaikan tentang Syiah yang kami ketahui. Menurutnya, Syiah itu agama tersendiri.

Muhyi jelas bohong karena sekira 300 ulama dari seluruh dunia menegaskan dalam konferensi Islam di Amman, Jordania, hingga melahirkan Risalah Amman bahwa Syiah (Jafari dan Zaidi), empat mazhab (fikih) Sunni, Ibadhi, dan Salafy adalah benar-benar bagian dari Islam.

Sejumlah buku sejarah juga menyebutkan bahwa Syiah adalah salah satu mazhab Islam yang merujuk kepada Allah, Rasulullah saw dan Ahlulbait Rasulullah saw dalam mengambil sumbernya. Kitab suci yang dijadikan sumbernya adalah Al-Quran yang sama dengan yang digunakan Ahlussunah.

Kami katakan bahwa Kitab Tafsir Al-Mizan, Kitab Tafsir Min Wahyu Al-Quran yang merupakan dua kitab tafsir karya ulama Syiah modern, isinya menafsirkan ayat-ayat Quran yang mulai dari surah fatihah berakhir pada surah annas.

Bahkan dalam setiap acara yang digelar, Muslim Syiah tidak pernah lepas dari baca Quran, shalawat, dan menyampaikan riwayat-riwayat dari Rasulullah saw. Tidak ada unsur caci maki pada sahabat. Itu yang saya lihat saat ikut acara Idul Ghadir, Asyura, Maulid Nabi, Milad Imam Ali, Nisfu Syaban, dan lainnya.

Kemudian tanpa alasan, Muhyi yang ternyata sang admin mengeluarkan akun kami dari milis sambil menulis:

“…Anda belum paham Syiah dengan baik. Anda juga tidak memahami Islam dengan baik. Anda tidak bisa membedakan apa itu madzhab, dan apa itu agama. Konsep ini biasanya memang gamang di kalangan agama Syiah, dan kegamangan ini dilontarkan ke kaum muslimin.”

Jawaban kami:

Kemudian kami kirim email balasan secara pribadi. Anda sudah mengingatkan dan kami memang masih belajar tentang Islam. Insya Allah dengan membaca buku dan dialog dengan ahli Islam, kebodohan kami akan berkurang.

Pak Muhyi yang pintar dan saleh, coba Anda jelaskan dengan rinci: apa itu mazhab dan apa itu agama (menurut pemahaman Anda, bukan mengutip dari yang lain). Setahu saya yang disebut agama itu setidaknya memiliki konsep tersendiri; khususnya dalam sosiologi agama dengan rincian: (1) adanya gagasan tentang Yang Kuasa atau Tuhan, (2) ada utusan dari Tuhan atau pembawa ajaran, (3) ada kitab suci, (4) ada ritual yang khusus dan berbeda dengan agama lain, (5) memiliki pengikut dengan identitas yang khas.

Sementara mazhab, dari sisi bahasa jelas bermakna jalan atau sarana untuk berangkat, pergi. Mungkin dalam hal ini maknanya menuju kepada Tuhan. Mazhab bisa juga diartikan dengan aliran, atau pecahan dari pemahaman yang muncul dari agama tersebut. Setiap pemahaman dalam agama melahirkan aliran atau mazhab.

Sejarah mengisahkan Islam melahirkan banyak mazhab. Fikih saja sampai delapan mazhab, bukan hanya yang empat. Ilmu kalam saja sampai tujuh puluh golongan, bahkan lebih.

Tafsir juga banyak melahirkan model dan alirannya. Sampai sekarang, umat Islam terbagi dalam organisasi, bahkan dalam partai politik. Bukankah itu juga bagian dari mazhab atau aliran atau golongan. Saya kira dalam konteks ini kalau Pak Muhyi mau belajar dari sejarah akan memahami dengan jelas pemahaman Islam itu beragam.

Gamang? Justru yang kami lihat para pengikut Islam mazhab Syiah itu lurus dan jelas dalam konsep keislamannya. Mulai dari ushuluddin, furuddin, dan konsep akhlak yang begitu sarat nilai.

Lihat ulama-ulama Iran dengan wajah teduh sampai banyak mengahsilkan karya tulis. Kabarnya ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Sina-Al-Farabi, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Mulla Shadra, dan Nasaruddin At-Thusi juga seorang Syiah. Mereka itu dalam sejarah dikenal sebagai ilmuwan besar.

Bahkan sosok Khomeini berhasil membuat Amerika kewalahan dan mendirikan Republik Islam Iran. Setiap tahun warga Iran yang Muslim (Sunni dan Syiah) haji ke Makkah dan ziarah ke Madinah. Bukankah itu menunjukkan mereka Islam?

Kalau memang bukan Islam, seharusnya pihak OKI dan Kerajaan Arab Saudi melarang mereka untuk haji dan umrah. Buktinya, setiap tahun dan setiap bulan kaum Muslim dari Iran datang ke Makkah dan Madinah untuk ibadah haji atau umrah.

 

MUHYI menulis: Secara akidah, Syiah itu tidak menyembah Allah SWT. Rasulnya juga bukan Muhammad SAW. Kitab sucinya juga bukan Quran. Syiah adalah complete set of a new religion, secara: – akidah – ibadah – mualamah. Ada baiknya nanti Anda saya beri buku-buku asli para ulama Syiah, agar paham agama Syiah itu seperti apa? Bagaimana berbagai kedustaan dinisbatkan kepada para imam versi Syiah, baik secara akidah, ibadah, dan muamalah.

Tapi ini menarik sekali. Sepertinya Anda juga beragama Syiah, tapi tidak mau mengakui. Semua pembendaharaan Anda ini dari Syiah kontemporer/modern semua, yang notabene sudah sangat jauh dari Islam. Ciri-ciri orang beragama Syiah memang demikian, biasanya. Melontarkan syubuhat-syubuhat, karena di agama Syiah, syubuhat itu menjadi dalil.

Bila mau bertemu, nanti saya diberikan buku-bukunya ya? Bagaimana perkataan Khomeni soal menyembah selain Allah yang dibenarkan olehnya. Bagaimana juga perkataan Khomeni soal bolehnya mut’ah kepada bayi perempuan dengan cara yang amat sangat tidak senonoh diungkapkan. Juga bagaimana pendapat ulama agama Syiah bagaimana soal burung pipit harus dibunuh karena mencintai Abu Bakr dan Umar? Juga tentang menjadikan Abu Lu’lu’ah yang Majusi sebagai pahlawan agama Syiah (berarti Syiah adalah turunan Majusi)? Dan juga berbagai perkataan tentang menyiksa orang yang mencintai Sahabat radhiyallahu ‘ahnum?

 Jawaban:

TIDAK ada bukti bahwa Muslim Syiah menyembah selain Allah. Saksikan sendiri kalimat yang mereka gemakan dalam shalawat, bukankah yang tercantum adalah Allah dan Rasul Muhammad saw. Shalat mereka menghadap kiblat. Mereka baca Quran yang sama dengan Ahlussunah. Buktinya ada dalam tafsir-tafsir yang mereka hasilkan dari para ulamanya. Cek bacaan Quran yang dilafalkan oleh Thababatai, anak kecil dari Iran yang terkenal hafal Quran itu? Jelas sama dengan Ahlussunah.

Kami belum mendapatkan bukti yang jelas bahwa Tuhan yang disembah adalah bukan Allah dan Rasul yang diikuti orang-orang Syiah itu bukan Nabi Muhammad saw. Jangan berkhhayal. Itu bahaya bisa jadi buhtan. Coba deh tanya kepada orang-orang IJABI dan ABI (Ahlul Bait Indonesia).

Pasti Anda yang keliru dan bohong. Fitnah Anda keterlaluan. Kami yakin itu infonya berasal dari orang-orang yang jahil dengan kajian Islam sehingga memahaminya secara keliru. Belajar sejarahnya tidak utuh karena motifnya jelas untuk menyebut Syiah bukan Islam.

Biasanya kalau sudah dibius dengan doktrin model yang disebutkan Anda akan susah untuk mendapatkan cahaya Ilahi karena akan terus anggap yang muncul dari orang lain yang tidak sepaham dengan Anda disebut sesat, dusta, syubhat, dan kalimat kurang santun lainnya.

Harus diakui orang-orang yang melemparkan tuduhan dan fitnah yang buruk terhadap Syiah, tidak jarang mengutip literatur-literatur Syiah untuk menjustifikasi tuduhannya.

Hanya saja, selain memotong sumber informasi agar “sesuai” dengan yang diinginkan, sering pula mereka mengutip informasi yang di kalangan mayoritas Syiah sendiri ditolak.

Kalau ingin tahu bagaimana Muslim Syiah yang sebetulnya menurut referensi Syiah, silakan baca ini:

Imam Ali as berkata kepada Nauf Bakali, “Tahukah engkau wahai Nauf siapakah Syiahku?” Nauf menjawab, “Tidak, demi Allah”.

Lalu Imam Ali menjelaskan, “Syiahku adalah orang-orang yang bibirnya kering dan perutnya kosong. Mereka adalah orang-orang yang dikenali dengan kezuhudan di wajahnya. Dan mereka adalah orang-orang yang banyak beribadah di malam hari dan seperti singa di siang hari” [Bihar al-Anwar, juz 78, hadis no. 95]

Imam Muhammad Baqir as berkata, “sesungguhnya Syiah kami hanyalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan menaatiNya, mereka adalah orang-orang yang terkenal dengan kerendahhatian, kekhusyuan, menyampaikan amanah, dan banyak berzikir kepada Allah” [Tuhaf al-‘Uqul hadis no. 295]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya Syiah ‘Ali itu adalah orang yang menjaga kesucian perut dan kemaluannya, kuat jihadnya, beramal untuk penciptaNya, mengharapkan pahalaNya dan takut kepada siksaNya. Maka jika engkau melihat mereka itu, mereka itulah Syiah Ja’far” [Al-Kafi, juz 2 hadis no. 9]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Bukanlah termasuk Syiah kami orang yang berbicara dengan lisannya dan bertentangan dengan kami dalam perbuatan dan sunnah kami” [Bihar al-Anwar, juz 68 hadis no. 13]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as pernah bertanya kepada seorang laki-laki tentang orang-orang yang dia tinggalkan di kotanya (yang dianggap sebagai pengikut Syiah), lalu laki-laki itu menjawab dengan sanjungan yang baik, penyucian dan pujian.

Lalu Imam Ja’far bertanya, “Bagaimana kunjungan orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?”, dijawab laki-laki itu, “jarang sekali”. Lalu Imam Ja’far bertanya lagi, “Bagaimana kehadiran orang-orang kaya mereka di tengah-tengah orang miskinnya?”, dijawab “jarang sekali”.

Selanjutnya Imam Ja’far bertanya lagi, “Bagaimana pemberian orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?”, laki-laki itu kemudian menjawab, “Anda telah menyebutkan perilaku yang jarang kami lakukan”.

Maka Imam Ja’far berkata, “Kalau begitu, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa mereka adalah Syiah kami?” [Al-Kafi, juz 2 hadis no. 10]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Wahai seluruh pengikut Syiah, jadilah kalian sebagai penghias bagi kami. Janganlah kalian memberikan aib kepada kami. Dan berbicaralah kepada orang lain dengan perkataan yang baik. Jagalah lidah kalian, hindarkanlah dari mencampuri urusan orang lain dan cegahlah dari perkataan yang buruk” [Amali al-Shaduq, jilid 17 hal. 327]

Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata kepada, “Hai Abdul A’la, sampaikanlah salam dan rahmat Allah kepada mereka, yakni orang-orang Syiah dan katakan pula kepada mereka ‘Dia (Imam Ja’far) berkata kepada kepada kalian, ‘Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menyebabkan manusia mencintai dirinya dan mencintai kami, yaitu yang memperlihatkan kepada manusia apa yang mereka ketahui dan menjauhkan diri terhadap apa yang mereka ingkari’” [Bihar al-Anwar, juz 2 hadis no. 62]

Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Syiah kami terdiri dari tiga macam: mereka yang mencari makan kepada manusia dengan mengatasnamakan kami, mereka yang seperti kaca yang memperlihatkan apa saja, dan mereka yang seperti emas murni yang setiap kali dimasukkan ke dalam api ia bertambah baik” [Bihar al-Anwar, juz 78 hadis no. 24]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Syiah itu ada tiga macam: yang mencintai dan bersahabat dengan kami, mereka adalah golongan kami; yang menampakkan kebaikan kami, dan tentu saja kami berlaku baik kepada mereka yang menampakkan kebaikan kami; dan yang mencari makan kepada orang lain dengan mengatas namakan kami, dan sesiapa yang mencari makan dengan mengatasnamakan kami, dia akan menjadi miskin” [Al-Kishal, pasal 61 hadis no. 103]

JADI kalimat-kalimat yang dituliskan oleh Anda (MUHYI) sangat jauh dari kebenaran. Sudah lama sekali Sayid Ali Khamenei memfatwakan agar Muslim Syiah menghormati sahabat dan istri Nabi.

Inilah fatwa Sayid Khamenei: “Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, ahlusunah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri-istri para nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw.”

Kami sarankan Pak MUHYI yang terhormat untuk membaca BUKU PUTIH MAZHAB SYIAH yang diterbitkan ABI; buku MERAJUT UKHUWAH MEMAHAMI SYIAH (Penerbit Marja-Nuansa, Bandung) dan buku KESESATAN SUNNI SYIAH karya Muhammad Babul Ulum (Penerbit Aksara), atau datangi orang Syiah.

Kalau hanya percaya kepada yang benci, pasti yang keluar adalah fitnah. Kalau ngaku seorang Muslim harusnya tabayun.

 

Masih dalam e-mail, Muhyi menulis: Dari buku-buku referensi utama agama Syiah, jelas sangat berbahaya bagi NKRI, di mana: (1) HAM sudah dijamin, sementara agama Syiah menyiksa dan membunuh adalah ibadah; (2) Seks bebas di luar nikah adalah tindakan asusila, di agama Syiah tindakan asusila ini adalah ibadah (bahkan pahala dan ampunannya sangat luar biasa, dan diekspresikan dengan tidak senonoh); (3) Mencaci-maki Sahabat RA versi Islam, adalah penistaan atas agama Islam; (4) Terorisme dilarang di NKRI, tapi agama Syiah malah menumpahkan darah kaum muslimin itu ibadah? Jika pun ada kesamaan-kesamaan antara agama Syiah dengan agama Islam (agama para nabi dan rasul), maka cuma satu posisinya: yaitu ketika melaksanakan taqiyyah atau kemunafikan, mengaku beragama dan berkeyakinan tertentu padahal di hatinya tidak. Dan sebaiknya para penganut agama Syiah tidak usah mengemis untuk diakui Islam. Sebaiknya memang buat saja agama baru yang ke-7 di NKRI, barangkali bisa diterima ajaran-ajaran terorismenya itu.

 

JAWABAN :

Sejak awal Anda sudah keluar dari tema. Seharusnya sejak awal fokus untuk bahas Syiah, yang oleh Muhyi dianggap bukan Islam (dan jelaskan yang dimaksud agama Islam oleh Anda). Harusnya dijelaskan dahulu apa itu agama kemudian sebutkan rincian dari unsur agama dalam hal ini ketuhanan sampai ajaran.

Kami sejak awal sudah menjelaskan bahwa Syiah itu mazhab Islam. Kami sudah paparkan bahwa Kitab Suci yang dibaca dan diamalkan Ahlussunah adalah dibaca juga Muslim Syiah. Silakan buktikan sendiri.

Alhamdulillah kami pernah membaca buku-buku Imam Khomeini, termasuk karya tulis orang yang menulis tentang Imam Khomeini. Jelas dalam buku yang dibaca, Imam Khomeini betul-betul sosok ulama yang beriman kepada Allah, mengikuti Nabi Muhammad Rasulullah saw, dan mengikuti Ahlulbait Rasulullah saw.

Yang aneh itu Anda menyebutkan bahwa Imam Ali, Imam Hasan dan Iman Husein didustakan oleh Imam Syiah. Justru Ahlulbait yang menjadi Imam Syiah. Anda belum paham dan belajar sejarah Islam sehingga punya kesimpulan sendiri dan sangat bertentangan dengan jumhur ulama dalam konferensi Islam internasional di Jordania.

Sebagai pengantar awal, coba deh baca BUKU PUTIH MAZHAB SYIAH yang diterbitkan ormas ABI (Ahlul Bait Indonesia). Itu buku langsung karya Muslim Syiah dan jelas mewakili mazhabnya. Masa mau beli nasi goreng belinya di toko bangunan, ya paku dan bahan bagunan yang diberi. Bacalah buku tersebut kemudian dialog dengan Muslim Syiah.

Ini untuk Jawaban nomor 1 dan nomor 4. Harus diakui bahwa sampai sekarang Islam Syiah masih tetap berada dalam naungan NKRI dan dilindungi. Itu bukti dari adanya HAM. Lihat kasus Sampang: SIAPA YANG MEMBUNUH? Siapa yang merusak rumah dan masjid? Siapa yang menjatuhkan martabat kemanusiaan? Siapa yang doyan menghina atau menyebut sesat?

Semua media menyiarkan bahwa semua itu dilakukan oleh warga yang mengatasnamakan Sunni? Kalau memang betul beragama Islam pasti tidak akan lakukan demikian.

Tidak ada bukti di Indonesia pengikut Syiah melakukan penyerangan terhadap Ahlussunah atau Musim Sunni. Justru warga Muslim Syiah yang menjadi korban. Di Bangil, Bondowoso, Sampang, dan hujatan-hujatan di Makassar dan Bandung terus menimpa kepada Muslimin Syiah.

Kami belum dengar dari Muslimin Syiah gelar acara ramai-ramai teriakan kebencian kepada Sunni dan Wahabi. Malahan dari pihak Wahabi terus saja gencar dari masjid dan majelis ibu-ibu pun disusupi ajaran kebencian terhadap Muslimin Syiah. Sudah jelas para ulama dalam Risalah Amman menyatakan tidak boleh mengafirkan Syiah, Zaidi, dan kaum sufi. Sekarang Anda malah sebaliknya. Siapakah yang Anda ikuti? Ulama Islam dan Nabi ataukah kaum zionis?

Meski diserang dengan kecaman, tidak ada perlawanan dari pihak Syiah atau pengikut Ahlulbait. Media sudah mengabari dalam siaran-siarannya bahwa yang menyerang itu orang-orang Wahabi yang mengaku Ahlussunah.

Kami yakin itu hanya mencatut Ahlussunnah karena identitas yang sebenarnya adalah agama teror dengan projek untuk menyebarkan Wahabisme di Indonesia. Ajaran yang jelas-jelas anti perdamaian dan sering menyebut sesat kepada yang berbeda dengan pemahamannya.

Sampai sekarang mereka, Wahabisme, yang berkedok Islam Sunni itu bergentayangan meresahkan masyarakat.

Sedikit-sedikit bidah, syirik, musyrik, dan kafir. Itu kalimat-kalimat yang meluncur dari Wahabisme. (Kami kira Anda bukan bagian dari Wahabisme? Maaf kalau salah).

Perlu diketahui, dua ormas Islam para pecinta Ahlulbait Rasulullah saw atau Syiah: sudah ada di Indonesia dan salah satunya resmi terdaftar di Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

IJABI dan ABI merupakan ormas yang memayungi para pecinta Ahlulbait Rasulullah saw di Indonesia. Sampai sekarang masih tetap berdiri dan mendapat perlindungan dari pemerintah. Aktivitasnya senantiasa dihadiri perwakilan pemerintah. Bukankah itu bukti bahwa Syiah di Indonesia diakui?

Silakan Anda cek kepada teroris yang tertangkap oleh pemerintah Indonesia. Apakah mereka itu Syiah? Sangat jelas mereka itu berjenggot tebal, celana cungkring, jidat hitam, dan wajah garang.

Kalau ditanya, mereka bilang itu amar ma’ruf nahi munkar. Mereka bilang menyontoh sahabat-sahabat dalam berperang. Tidak pernah menyebutkan mencontoh Ahlulbait. Sudah jelas dari berita-berita di TV dan kepolisian bahwa mereka itu bagian dari gerakan yang berupaya runtuhkan NKRI.

Sekali lagi, apakah ada di antara mereka yang lulusan Iran atau Lebanon dan Irak? Tidak! Sebagian besar dari Afganistan, Araub Saudi, dan Pakistan, serta Mesir.

Apa yang mereka gaungkan: menegakkan syariat Islam. Coba bandingkan dengan Kang Jalal, Umar Shihab, Husein Shahab, atau dari negeri luar seperti Sayid Ali Khamenei, Sayid Fadhlullah, Syaikh Ali Taskhiri, dan Sayid Sistani.

Ulama-ulama yang bermazhab Islam Syiah itu senantiasa meneriakan ukhuwah dan persatuan umat Islam. Coba lihat teroris yang tertangkap, apa yang dikeluarkan dari mulutnya: tegakkan Syariat Islam, singkirkan orang-orang tidak pro-Islam. Juga kata-kata sesat, kafir, bidah, syirik, dan kata buruk lainnya meluncur pada orang-orang Islam yang berbeda mazhab dan tak sepaham.

INI Jawaban nomor 2. Silakan Anda buktikan kalau memang Islam Syiah menganjurkan seks bebas. Tidak ada buktinya. Islam, apapun mazhabnya, sudah sejak 15 abad lalu melarang seks bebas. Yang ada dalam Islam itu hanya pernikahan. Ada yang daim/permanen dan ada yang sementara/mut’ah.

Dua jenis nikah (Islam) tersebut ada landasannya dalam Quran dan hadis. Mutah memang bagi mazhab Sunni menjadi kontroversi karena sebelumnya telah dilarang oleh Khalifah Umar bin Khatab ketika berkuasa yang menyebutkan: dua mutah yang sebelumnya halal, sekarang aku haramkan, yaitu mutah haji (haji tamattu) dan nikah mutah.

Meski dilarang oleh Umar, tetapi dalam sejarah banyak sahabat dan tabiin yang masih melakukannya. Kami kira itu wajar karena fatwa Umar bukan dalil yang kuat.

Nikah mutah dalam praktiknya sama dengan nikah daim. Ada rukun-rukun yang harus dipenuhi, termasuk mahar dan perjanjian-pernjanjian yang menjadi batas dari usia pernikannya. Syarat dan rukunnya bisa dibaca dalam buku fikih jafari atau risalah amaliah dari para ulama Syiah.

Di Indonesia nikah mut’ah tidak populer karena hukum yang berlaku bukan hukum Islam. Karena itu KH Jalaluddin Rakhmat selaku Pimpinan IJABI dihadapan wartawan pernah menyatakan “haram” bagi warga IJABI.

Sampai sekarang ini, kami kira warga IJABI tidak ada yang melakukannya. Dalam sebuah majalah nasional disebutkan di Cisarua Bogor ada tempat yang dianggap sebagai mutah. Tetapi setelah ditelusuri oleh media tersebut ternyata itu lokasi prostitusi dan banyaknya adalah warga Arab yang sedang melancong ke Indonesia.

Islam sangat melarang seks bebas. Pemerintah Indonesia juga melarang. Meski dilarang sampai sekarang ini, ternyata yang melakukannya adalah para pejabat dan anggota legislatif, termasuk dari parpol PKS. Bukankah sudah beredar beritanya. Sudahlah jangan buhtan!

INI jawaban nomor 3: tentang mencaci-maki sahabat. Bagian ini senantiasa terus digemborkan orang-orang yang tidak suka kepada Ahlulbait dan Kaum Muslim Syiah.

Seakan-akan sahabat lebih utama dari Nabi dan Ahlulbait. Kami meyakini Nabi dan Ahlulbait yang harusnya dimuliakan dan dibela karena memang dalilnya dalam Quran dan Hadis.

Sudah sering kali dijawab oleh orang Muslim Syiah, tapi masih juga ditanyakan. Tampaknya tidak belajar dari diskusi yang sudah-sudah.

Berkaitan dengan tuduhan yang disebutkan, kami belum menemukan bukti bahwa orang Islam Syiah menghujat sahabat Nabi, khususnya di Indonesia. Sejarah mengisahkan justru Dinasti Umayyah yang menghujat Sayidina Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya. Muawiyah dan Yazid serta kroninya banyak lakukan hina terhadap Ahlulbait, sampai melakukan pembunuhan terhadap Imam Husain (cucu Rasulullah saw).

Setiap jumat, khatib jumat di bawah pengaturan Dinasti Umayyah diperintahkan untuk hujat dan caci Imam Ali bin Abi Thalib. Kemudian dihentikan melalui pernyataan Umar bin Abdul Aziz yang menjadi khalifah Dinasti Umayyah (selanjutnya).

Sampai sekarang kami belum menemukan bukti orang-orang Islam Syiah sepanjang sejarah melakukan hujat terhadap sahabat Nabi yang saleh. Kalau kepada pembunuh cucu Nabi Muhammad saw, Imam Husain bin Ali, memang kerap terdengar. Kami kira itu wajar terhadap orang zalim.

Sejarah mengisahkan Yazid bin Muawiyah beserta konconya melakukan kezaliman. Pasti orang Islam pun tidak suka pada mereka yang melakukan kezaliman, penindasan, dan penghujatan, dan penyebar isu-isu negatif.

Nah, berikut ini ada fatwa dari Sayid Ali Khamenei, pemimpin Islam Syiah di Iran yang menyatakan larangan menghujat sahabat Nabi:

“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, ahlusunah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw. Semoga Anda semua mendapatkan taufik untuk setiap kebaikan.

Setahu kami dalam akidah atau rukun iman Ahlussunah, tidak terdapat rukun yang menyatakan dengan tegas larangan dari hujat sahabat yang tercela. Tidak ada dalam rukun iman (ahlussunah/sunni) bahwa membela sahabat itu wajib. Yang kami ketahui mungkin itu bagian dari akhlak yang harus menjaga persaudaraan dan tidak mengumbar aib di antara sesama umat Islam.

Jadi, membela sahabat termasuk (rukun) akhlak, bukan akidah. Kalau ada yang mencela sahabat harus dilihat, apakah betul benci atau sekadar menguraikan sejarah.

Kalau itu fakta sejarah harus diakui saja tanpa perlu membela dengan mati-matian (karena sahabat itu manusia yang pernah salah dan pernah melakukan dosa). Sahabat-sahabat dan istri-istri Nabi itu manusia biasa.

Sedangkan menghina Ahlulbait, termasuk dalam kategori dosa. Apalagi menghujat, mengambil haknya, dan membunuhnya pasti sebuah dosa besar. Imam Hasan dan Imam Husein dalam hadis disebut pemuda ahli surga. Kalau sudah ditetapkan demikian oleh Rasulullah saw, tampaknya wajar kalau kemudian umat Islam mengikuti Ahlulbait Rasulullah saw seperti Imam Ali, Sayidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husein, serta keturunannya yang disebutkan dalam riwayat untuk diikuti selepas Rasulullah saw.

Dalam hadis sudah banyak dijelaskan tentang perlunya umat Islam memperhatikan dan menjaga Ahlulbait selepas Rasulullah saw wafat. Bahkan untuk mengikuti Ahlulbait sangat dianjurkan dalam hadis-hadis yang terdapat dalam Ahlussunah.

Silakan baca buku Dialog Sunnah Syiah yang diterbitkan Mizan dan Akhirnya Kutemukan Kebenaran karya Dr Muhammad At-Tijani yang diterbitkan Zahra.

UNTUK yang terakhir (dari komentar MUHYI di atas) sudah jelas sekali tidak punya argumen yang kuat. Hanya dugaan-dugaan yang berujung pada fitnah dan malah bakal menjadi buhtan. Tentu informasi salah tersebut harusnya diralat karena Allah dan Rasulullah saw serta Ahlulbait akan meminta pertanggungan jawab.

 

sumber : misykat

%d blogger menyukai ini: