Meluruskan Tangan Dalam Shalat

Imam Ahmad mencatat Jabir bin Samara berkata: “Rasulullah saw keluar mendekati kami dan berkata: “Kenapa kau melipat tanganmu seperti tali kuda, kau harus menurunkannya dalam shalat” (Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid 5 halaman 93, Hadis 20905).

Imam Syaukani mencatat dalam Nayl al-Awhar, juz 2 halaman 200: “Mereka yang tidak melipat tangan (dalam shalat) bersandar pada riwayat Jabir bin Samara: mengapa kau lipat tanganmu.”

Dalam Sahih Bukhari juz 1 Nomor hadis 507: Anas berkata: “Aku tidak melihat (saat ini) sesuatu yang mereka lakukan pada masa Rasulullah. Seorang berkata padanya: “Shalat.”

Anas berkata: “Sudahkah anda lakukan sesutu yang telah anda lakukan dalam shalat?” (maksudnya apakah tidak ada yang tertinggal).

Diriwayatkan oleh Az-Zuhri bahwa ia mengunjungi Anas bin Malik di Damaskus (Suriah) dan melihatnya sedang menangis, dan ditanyakan kepadnya alasan mengapa ia menangis. Ia menjawab: Aku tak melihat dengan yang telah aku ketahui di masa hidup Rasulullah kecuali shalat, ada sesuatu yang hilang (tidak dilakukan dengan seharusnya sebagaiman di masa Rasulullah saww).

Diriwayatkan oleh Imran bin Husain: “Aku shalat bersama Ali di Bashrah dan ia mengingatkan kami pada shalat yang kami lakukan bersama Rasulullah. Ali mengucapkan Takbir pada setiap bangkit dan rukuk” (Sahih Bukhari, Juz 1, Kitab12, No hadis. 751).

Dari riwayat Imran bin Husain di atas, sangat jelas bahwa shalat Imam Ali (as) adalah sebagaimana shalat Rasulullah (saw).

Andaikan pada masa setelah wafat Rasulullah (saw) semua orang merujuk kepada Ahlul Bait (as), mungkin tidak akan ada perbedaan dalam hal ini.

Dalam kitab Tanwir al-Aynain, halaman 58 disebutkan : “Ibn Sirin ditanya mengapa kita meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat, ia berkata ini adalah perbuatan orang Roma.”  Kemudian juga dalam Al-Awail halaman 209 oleh Allamah Askari, bab Islami Namaz.

Dengan jelas riwayat membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw melakukan shalat dengan tangan terbuka (meluruskan tangan ke bawah).

Ibn Hajar Asqalani mencatat dalam “Talkhis al-Habir Fi Takhrij Ahadith” Juz.1 hal.333, bab ‘Sifat al Salat’: “Ma’az meriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW mendirikan Shalat, ia mengangkat kedua tangan hingga telinganya dan setelah mengucap takbir kemudian menurunkan tangannya.”

Dalam Hidayah, Juz 1, halaman 104, bab 20 : “Bukti Imam Malik membiarkan tangannya turun, sebagai fakta bahwa Nabi memulai shalatnya dengan mengangkat tangan untuk Takbir dan kemudian menurunkannya.”

Dalam Nayl al-Awtar, Juz 2: “Diriwayatkan oleh Ibn Munzar dari Ibn Alzubair, Al-Hasan Al Basri dan Al-Nakh’iy bahwa ia (Nabi) shalat dengan tangan terbuka dan tidak melipat tangan kanan pada tangan kiri, dikutip oleh Al Nawawi dari Al Laith bin Sa’edd dan dikutip oleh Al-Mahdi dalam Al-Bahr dari Al-Qasimiyya, Al-Nasiriyya dan Al-Baqar.”

Lebih lanjut dalam kitab yang sama disebutkan : “Nabi mengajarkan Al-Mansyur shalat dan tidak menyinggung melipatkan tangan kanan pada tangan kiri.”

Dalam Fatawa Syaikh Abdul Hai Lucknawi, Juz. 1, halaman 326 (edisi pertama), Abdul Hai Lucknawi menegaskan: “Ma’az berkata bahwa ketika Nabi SAW berdiri untuk melaksanakan shalat, ia mengangkat tangan hingga telinganya sambil mengucapkan “Takbir” dan kemudian ia membiarkan tangannya terbuka.”

Fataawa Sheikh Abdul Hai Lucknawi, Juz. 1, hal. 326, edisi pertama) dalam Umadatul Qari Syarh Sahih Bukhari, Juz. 9 hal 20: Ibn al-Manzar meriwayatkan bahwa Abdullah Ibn Zubair dan al-Hassan al-Basri dan Ibn Sireen bahwa ia (Nabi) melaksanakana shalat dengan tangannya terbuka dan begitu juga Malik.

Ulama terkenal Ahlul Hadis, yaitu Allamah Wahiduz Zaman Khan menulis : “Siapa pun yang mengatakan bahwa shalat dengan tangan terbuka adalah kebiasaan terkait dengan Syiah, dalam hal ini orang tersebut telah salah. Karena tidak hanya Syiah, tetapi juga seluruh umat Muslim melakukan shalat dengan cara yang sama. Khususnya selama masa Rasulullah saw, para sahabat melakukan cara yang sama dan tidak seorang pun tahu tentang melipatkan tangan (Hadiyatul Mahdi, oleh Maulana Wahiduz Zaman, Juz. 1, hal.126).

Sumber: Syiah Indonesia

%d blogger menyukai ini: