Khwarij Nashibi FIMADANI Membuat Kejahatan Pemalsuan Dengan mengatasnamakan Imam Ja’far ash Shidiq as

Kembali terkuak kejahatan Khawarij memalsu Cerita

 

Pada sebuah situs dimuat satu manuskrip tentang debat Imam Jafar Shadiq as dengan Rafidhah. Setelah membaca, kami meragukan kebenarannya karena tidak sesuai dengan teks-teks riwayat atau hadis-hadis Imam Jafar yang pernah dibaca. Juga manuskrip itu tidak jelas dari mana asal usulnya sehingga sangat sulit diverifikasi kebenarannya.

Selain tidak mencantumkan sanad, juga ada kejanggalan pada matan manuskrip tersebut. Hadis yang dikutip Imam Jafar Ash-Shadiq as tentang Abu Bakar dan Umar bin Khaththab adalah penghulu para orang tua di surga. Segera setelah pengutipan hadis tersebut, manuskrip mencantumkan sejumlah sumber rujukan (Tirmidzi, Ibnu Majjah, dan lainnya).

Kesannya, Imam Jafar Ash-Shadiq as mengutip hadis itu dari sumber para ahli hadis terkenal. Tentu ini menabrak logika sejarah. Tidak mungkin Imam Jafar Ash-Shadiq as yang wafat tahun 148 H. mengutip perkataan Tirmidzi yang wafat tahun 270 H atau Ibnu Majjah (wafat tahun 273 H).

Argumen yang disampaikan oleh Imam Jafar Ash-Shadiq as yang terdapat pada manuskrip ini bisa disebut kompilasi dari argumen-argumen yang dihimpun oleh para ulama Sunni (mungkin juga Wahabi) untuk menunjukkan keunggulan Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali. Para ulama Syiah telah mengkritisi seluruh argumen tersebut dan kritikannya sudah dibuat dalam beragam kitab.

 

Di antara argumen ulama Sunni yang dikritik oleh ulama Syiah adalah hadis bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khaththab adalah penghulu para orang tua di surga. Ulama Syiah menyatakan bahwa hadis ini aneh karena di surga tak ada orang tua. Semua penghuninya dijadikan muda kembali oleh Allah.

Juga hadis yang menyebutkan bahwa Al-Maidah ayat 54 terkait dengan Abu Bakar, ternyata bertentangan dengan riwayat dari Sunni sendiri yang menyatakan bahwa kalimat “yuhibbuhum wa yuhibbuunahu (ia mencintai mereka dan mereka pun mencintainya)” justru malah berkenaan dengan Imam Ali, yaitu pada masa Perang Khaibar (lihat Shahih Bukhari Jilid 4 halaman 20 dan Shahih Muslim jilid 7 halaman 121-122).

Ketika membaca manuskrip itu, teringat dengan karya Syaikh Idahram yang berjudul Mereka Memalsukan Kitab-Kitab karya Ulama Klasik: Episode Kebohongan Publik Sekte Wahabi (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011).

Dalam buku ini, Syaikh Idahram menunjukan bagaimana kaum Wahabi memalsukan, memotong, mengganti, dan mengubah teks-teks dalam sejumlah kitab klasik seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Diwan Imam Syafii, Tarikh Yaqubi, dan lainnya. Karya ulama Sunni saja oleh mereka dipalsukan, apalagi kitab-kitab dan riwayat dari Ahlul Bait yang mereka benci, pastinya tidak mereka biarkan.

Pernah Ayatullah Jafar Subhani membuat surat resmi dalam situsnya bahwa ada buku berbahasa Parsi dan Arab tentang Nahjul Balaghah yang ditulis atas namanya. Kalau dilihat isinya justru tidak mencerminkan pemikiran dan pemahaman Jafar Subhani yang selama ini ditulis dan disampaikan. Beliau dengan tegas menyatakan itu bukan karyanya, tetapi ada orang/lembaga yang dengan sengaja ingin menghancurkan Islam dengan menyerang Syiah.

Setiap kali kaum takfiri dan Wahabi berulah, ternyata ketahuan dan terbongkor makarnya. Insya Allah, semakin banyak kita belajar agama dari narasumber yang benar dan terpercaya akan terus terbuka dan mengetahui kebenaran sekaligus mampu mengenali yang benar dan yang salah.

Hal-hal yang disebutkan di atas merupakan bagian dari gerakan kaum takfiri dan musuh-musuh Islam yang hendak memusuhi kaum Muslimin Syiah. Indonesia negeri yang plural. Sudah sejak lama Islam mazhab Syiah masuk dan menjadi bagian dari khazanah Islam Nusantara.

Tokoh seperti Engkong Ridwan Saidi mengakui dalam seminar internasional di Jakarta bahwa Islam mazhab Syiah adalah bagian dari khazanah budaya Islam Indonesia.

Begitu juga para penulis sejarah seperti Agus Sunyoto, Azyumardi Azra, Muhammad Zafar Iqbal, Abu Bakar Atjeh, dan lainnya. Bahkan LIPI sebagai lembaga ilmiah mengkajinya hingga melahirkan buku yang berjudul: Syiah dan Politik di Indonesia. 

%d blogger menyukai ini: