Kejahatan Nashibi Takfiri Firanda Dalam Memaksakan Kisah Keledai Ufair

tentang ulasan buku Banyolan Syiah Imamiyah karya Firanda Andirja Abidin, Lc, MA yang dimuat dalam situs Salam-Online; yang isinya menyatakan perawi hadis Syiah terdapat keledai. Benarkah riwayat tersebut shahih dalam khazanah hadis-hadis dalam mazhab Syiah Imamiyah? Simak uraian redaksi Misykat di bawah ini!

Jawaban

Terima kasih sudah berkenan untuk melakukan tabayun. Insya Allah akan kami kupas sedikit tentang hadis dan perawis yang Anda maksudkan. Alhamdulillah, kami sudah langsung membaca inti dari tulisan tersebut dan kami tanggapi secara singkat.

Pertama, dalam tradisi keilmuan mazhab Syiah, tidak ada yang namanya kitab hadits yang shahih, yaitu kitab hadits yang seluruh isinya  adalah hadits yang shahih. Dari seluruh kitab hadits Syiah, termasuk kitab Al-Kafi karya Kulaini, tidak satu pun yang dinyatakan sebagai kitab shahih.

Kedua, Al-Kafi adalah kitab hadits Syiah yang ditulis pada abad ke-4 H. Hadits-hadits al-Kafi mencapai 16.199 hadits. Tidak seperti Bukhari yang menyeleksi hadits yang ia tulis, Kulaini di kitabnya itu hanya menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang “mengaku” sebagai pengikut para Imam Ahlul Bait as. Jadi, al-Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadits-hadits dari Ahlul Bait as. Tidak ada satu pun pernyataan dari al-Kulaini yang mengisyaratkan semua hadits yang dia kumpulkan adalah otentik (shahih). Dia hanya mengumpulkan dan mempersilakan para ahli untuk memverifikasinya.

Oleh karena itu, ulama-ulama Syiah (sesudah al-Kulaini) telah menyeleksi kitab hadits ini dan menentukan kedudukan setiap hadisnya. Hasil penelitian Sayyid Ali Al-Milani menyatakan bahwa dari seluruh hadits-hadits al-Kulaini, lebih dari setengahnya (lebih dari 9.000) adalah dha’if (lemah).

Syahid Tsani, ulama Syiah yang lain, juga memiliki pandangan yang sama (lihat buku Dr. Majid Ma’arif, Sejarah Hadis, halaman 467). Hanya saja, meski banyak yang lemah, tetap saja hadits shahih yang ada di kitab Al-Kafi al-Kulaini jumlahnya masih sangat banyak, yaitu kira-kira sama dengan jumlah riwayat yang terdapat pada kitab Shahih Bukhari.

Hingga kini, orang-orang Syiah memperlakukan kitab-kitab hadits mereka dengan cara pandang seperti itu. Tidak setiap hadits langsung dipercaya. Mereka hanya mempercayai hadits yang sudah diteliti oleh para ulama dengan sangat ketat.

Jadi, adanya riwayat-riwayat aneh seperti kisah keledai ini bukan hal yang menakjubkan dan sama sekali tidak bisa secara serta-merta dijadikan sebagai argumen untuk memojokkan Syiah. Bagi orang Syiah pun, riwayat seperi ini juga memang lemah dan tidak layak dijadikan pegangan.

Ketiga, khusus untuk kisah Keledai Ufair ini, Allamah Majlisi (ulama Syiah lainnya), di kitabnya yang berjudul “Mir’aatul Uquul” menyatakan bahwa riwayat ini lemah dan sengaja disusupkan oleh musuh-musuh Islam dalam rangka menghina agama ini.

Menurut ulama hadits Syiah, hadits ini mursal (ada mata rantai sanadnya yang terputus). Selain itu, di antara para perawinya terdapat seorang bernama Sahal bin Ziyad. Pada kitab Rijal An-Najasyi, dikatakan bahwa dia orang yang tidak bisa dipercaya serta sering berdusta dan berbohong (lihat kitab Rijal An-Najasyi, Jilid 1 halaman 185).

Perlu segera ditambahkan bahwa Allamah Majlisi wafat pada tahun 1110 H. (sekitar 330 tahun yang lalu) dan ia sudah mengkritisi riwayat ini. Jadi, pendeteksian atas kelemahan riwayat ini sudah dilakukan oleh ulama Syiah sendiri, berabad-abad yang lalu. Lalu, kini, muncullah kaum takfiri, yang kemudian juga mengkritisinya bak pahlawan kesiangan.

Keempat, seperti tuduhan-tuduhan lainnya, Firanda sama sekali tidak mencantumkan kitab rujukan terkait dengan pernyataan Ayatullah Khui yang mempercayai riwayat ini. Firanda juga tidak mencantumkan rujukan ketika menyatakan bahwa Al-Mahdi memiliki keyakinan tentang validnya semua hadits di kitab Al-Kafi. Siapakah Al-Mahdi yang dimaksud? Di kitab apa ia bicara seperti itu? Karena itu, seperti biasa, sulit memberikan tanggapan atas tulisan yang sangat tidak ilmiah seperti ini.

Kelima, sebenarnya riwayat tentang keledai bernama ‘Ufair ini (dengan kisah yang sangat mirip, yaitu bisa bicara, mengaku sebagai keturunan keledai di masa Nabi Nuh, serta mati bunuh diri dengan cara meloncat ke sumur) terdapat juga pada sejumlah kitab riwayat Sunni. Anda akan menemukan riwayat ini pada:  Kitab “Subul Al-Huda” karya Shalih Asy-Syaami (Jilid 7 halaman 406 dan jilid 11 halaman 421), Kitab “Dala’il An-Nubuwwah” karya Abu Nai’m Isfahani, Kitab “As-Sirayah” (Jilid 6 halaman 10) karya Ibnu Asakir; riwayat tentang Ufair ini kemudian dikutip oleh Ad-Dumairi dalam kitabnya yang berjudul “Hayat Al-Hayawan” (jilid 1 halaman 251), Kitab “Al-Bidayah wa An-Nihayah” karya Ibnu Katsir Asy-Syami, dan Kitab “Asy-Syifa” karya Qadhi ‘Iyadh.

Silakan Anda renungkan! Kisah keledai Ufair ini hanya ada di satu kitab hadits Syiah, tapi mereka ributnya minta ampun. Padahal, kisah ini sudah lama dikritisi oleh ulama Syiah sendiri. Sedangkan kisah yang sama terdapat di sediktinya enam kitab Sunni, dan mereka sendiri tak pernah mencoba melakukan otokritik atas riwayat yang ada di kitab riwayat/sejarah mereka.

Keenam, kalau takfiri menyerang Syiah dengan riwayat ini dan mengatakan bahwa kitab Syiah penuh dengan dongeng yang menggelikan, riwayat-riiwayat yang aneh juga terdapat pada kitab-kitab Sunni. Perhatikan beberapa di antaranya: di dalam kitab “Hilliyyah Al-Auliya” karya Abu Naim Al-Isfahani (Jilid 3) terdapat riwayat yang menyatakan bahwa “yang pertama kali menyalati jenazah Rasulullah saw adalah Allah (fa innahu awwala man yushalli ‘alayya Ar-Rabbu ‘azza wa jalla wa man fawqa arsyihi). Hah? Allah menyalati jenazah? Terus, saat Allah shalat, Dia menyembah siapa?

Kemudian dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir dikatakan bahwa Rasulullah saw melihat Allah di Padang Arafah sedang menunggangi unta berwarna merah. Nah, apakah yang demikian layak dianggap lelucon dan kekonyolan dari Ahlussunnah?

%d blogger menyukai ini: