Kata Nashibi “Ternyata Enam Kitab Tak Meriwayatkan Hadis Tsaqalain “… Benarkah ?

Saat melihat sebuah video ceramah agama, beberapa kawan terkejut luar biasa. Dalam ceramah itu, pembicara menyebutkan bahwa ternyata hadis yang amat populer di kalangan kita, mengenai wasiat Nabi Muhammad saw yang terkenal dengan nama “Hadis Tsaqalain“, ternyata tidak terdapat di satu pun dari enam kitab rujukan utama Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah).

Hadis Tsaqalain (Dua Hal Utama) menyebutkan bahwa Nabi saw mengatakan bahwa “Aku tinggalkan dua hal besar bagi kalian semua, yang jika kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yakni Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku.”

Ternyata, sebagaimana dikatakan penceramah itu, hadits tadi tidak ada dalam satu pun di antara enam kitab ‘Kutub as-Sittah’, Tentu saja kawan-kawan tadi kaget. Sebab selama ini mereka semua yakin, saking terkenalnya hadis itu, semua merasa seolah-olah bahwa Hadits Tsaqalain itu sedemikian kuatnya hingga dianggap hanya satu derajat di bawah Kitab Suci Al-Quran.

 

Sebagaimana kita ketahui, di kalangan Sunni, terdapat enam  kitab rujukan utama yang dikenal dengan ‘Kutub as-Sittah‘ (Kitab yang Enam), yaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasai, dan Turmudzi.

Ternyata pernyataan (dalam hadis) itu, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Aku tinggalkan kitab Allah dan sunahku” merupakan kesalahpahaman yang telah menyebar luas.

Namun, riwayat yang lemah itu, berhubung telah disampaikan jutaan kali secara massif ke seluruh dunia Islam, selama ratusan tahun dan secara terus menerus, menjadikan ia diyakini sedemikian kuat. Tegar tak tergoyahkan. Dan, orang pun nyaris tidak pernah ada yang mempersoalkan ke-sahih-an, kekuatan, atau pun otentisitasnya.

Faktanya, tidak ada dasar yang dapat diandalkan dari pernyataan itu yang dihubungkan pada Khutbah Terakhir Nabi saw. Sebagaimana kita katakan di atas, riwayat itu sama sekali tidak ada dalam kitab sahih yang enam (kutub as-Sittah).

Ada versi riwayat dalam Muwatta’ karya Malik, dalam Sirat Rasul Allah Ibnu Hisyam, dan dalam Ta’rikh milik al-Thabari, namun semuanya memiliki sanad yang tidak lengkap dengan beberapa mata rantai sanad yang hilang. Riwayat lain yang memiliki sanad lengkap (isnad) – yang jumlahnya sangat sedikit – semuanya terdapat periwayat yang disepakati tidak dapat dipercaya oleh ulama rijal sunni terkemuka.

Fakta luar biasa ini dapat dikonfirmasi oleh mereka yang tertarik dalam penelitian dengan merujuk kitab terkait. Sekadar catatan bahwa dalam setiap hadis harus terdapat dua hal yang penting: pertama adalah mengenai sanad hadis itu, dan kedua, mengenai periwayat (rawi)-nya; dan kedua adalah baik sanad atau pun rawi, harus sama-sama kuat dan valid sehingga hadis itu dianggap memenuhi syarat sebagai hadis yang punya validitas tinggi (sahih dan atau mutawatir).

Apabila ada cacat di salah satunya, apakah sanadnya yang cacat (tidak sempurna), atau pun periwayat (rawi)-nya tercela, maka hadis tersebut ‘gagal’ untuk diterima secara aklamasi sebagai hadis yang kuat kebenaran (validitas)-nya. Tentu saja, bukan berarti bahwa sunah Nabi Muhammad saw tidak harus diikuti. Tidak. Bukan begitu maksudnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang lain, sesungguhnya Nabi Muhammad saw meminta umat muslim untuk merujuk pada Al-Qur’an dan Ahlulbaitnya sebagai sumber terpercaya, murni dan terjaga bagi sunah-sunahnya.

Hadis (versi) yang kedua inilah seseungguhnya merupakan hadis yang sahih atau memiliki validitas tinggi. Berikut ini keterangannya.

Sungguh, aku tinggalkan pada kalian dua pusaka penting (tsaqalain): kitab Allah dan ahlulbaitku. Sungguh keduanya tidak akan berpisah sehingga datang menjumpaiku di telaga al-Haudh.”

Hadis sahih dari Nabi Muhammad saw di atas diriwayatkan oleh lebih dari 30 sahabat dan dicatat oleh banyak ulama Sunni. Beberapa rujukan utama hadis tersebut, di antaranya:

Pertama adalah Al-­Hakim al­-Naisaburi, dalam “Al-­Mustadrak `ala al-Sahihayn” (Beirut), juz 3, hlm. 109-110, 148, dan 533). Dia menyatakan bahwa riwayat ini sahih berdasarkan kriteria al-Bukhari dan Muslim; al-Dzahabi membenarkan penilaiannya.

Kedua adalah Muslim, dalam ‘Sahih‘-nya, (terjemahan Inggris), kitab 031, nomor 5920-3.

Ketiga adalah At­-Tirmidzi, dalam kitab ‘Al-Sahih“, juz 5, hlm. 621-2, nomor 3786 dan 3788; juz 2, hlm. 219.

Keempat adalah An-Nasa’i, dalam “Khasa’is ’Ali ibn Abi Talib“, hadits nomor 79.

Kelima adalah Ahmad bin Hanbal, dalam kitab ‘Al-Musnad’, juz 3, hlm. 14, 17, 26; juz 3, hlm. 26, 59; juz 4, hlm. 371; juz 5, hlm. 181-2, 189-190.

Keenam adalah Ibn al­’Athir, dalam “Jami` al­-’Usul”, juz 1, hlm. 277.

Ketujuh adalah Ibnu Katsir, dalam “‘Al-­Bidayah wa al-Nnihayah“, juz 5, hlm. 209.  Dia mengutip al-Dzahabi dan menyatakan hadis ini sahih.

Kedelapan adalah Ibnu Katsir, dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, juz 6, hlm. 199.

Kesembilan adalah Nasir al-Din al-Albani, Silsilat al-Ahadith al-Sahiha (Kuwait: al-Dar al-Salafiyya), juz 4, halaman 355-8. Dia menyusun banyak sanad yang dianggapnya dapat diandalkan.

Sesungguhnya hadis di atas sangat sejalan dengan (dan memperkuat) apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an ini: Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya [Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 33].

Sumber: Syafiq B

%d blogger menyukai ini: