Hukum dan Dalil Ziarah Kubur

Sebagian kelompok dengan galak mengecam keras ziarah kubur, menuduhnya bid’ah, bahkan musyrik. Dalil yang sering dipakai adalah hadis Rasulullah saw yang melarang bepergian kecuali ke tiga masjid:

Rasulullah SAW bersabda:

وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إلى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ، مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَمَسْجِدِي

“Dan tidak boleh syaddur rihal kecuali tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan masjidku.”[1]

Penjelasannya:

 

Jika dalil ini digunakan secara umum pelarangan bepergian, pastinya bepergian ke daerah lain untuk kunjungan, studi banding, belajar, bekerja atau hanya sekedar wisata juga dilarang.

Nyatanya hal-hal itu juga tidak dilarang bahkan oleh kalangan yang melarang ziarah makam Ulama’ sekalipun. Jika bepergian hanya sekedar wisata ke Eropa saja tidak dilarang, mengapa bepergian untuk ziarah kubur para Ulama’ itu dilarang.

Para Ulama’ memaknai hadits ini, bahwa tidak ada bumi yang mulia untuk dikunjungi kecuali kepada tiga masjid tadi. Artinya tidak ada sejengkal bumi yang mulia yang mempunyai kemuliaan untuk dikunjungi kecuali ke tiga masjid tadi. Sebagaimana dikutip dari fatwa Daar Al Ifta’ Mesir fatwa No. 450.

Sebagaimana Ibnu Hajar dalam kitabnya[2] berkata:

قوله : إلا إلى ثلاثة مساجد المستثنى منه محذوف،فإما أن يقدر عاماً فيصير:لا تشد الرحال إلى مكان في أي أمر كان إلا لثلاثة أو أخص من ذلك ،لا سبيل إلى الأول لإفضائه إلى سد باب السفر للتجارة وصلة الرحم وطلب العلم وغيرها، فتعين الثاني، والأولى أن يقدر ما هو أكثر مناسبة وهو : لا تشد الرحال إلى مسجد للصلاة فيه إلا إلى الثلاثة ، فيبطل بذلك قول من منع شد الرحال إلى زيارة القبر الشريف وغيره من قبور الصالحين ، والله أعلم

Artinya: Adapun sabda Nabi [tidak boleh bepergian kecuali kepada tiga masjid] maka mustatsna minhunya dibuang. Jika dikira-kirakan keumuman larangan itu, maka akan menjadi tidak boleh bepergian kemanapun kecuali ke tiga tempat itu. Maka hal itu akan menghalangi bolehnya bepergian untuk bisnis, silaturrahim, mencari ilmu dan lain sebagainya.

ZIARAHNYA NABI KE MAKAM IBUNYA, AMINAH

Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Artinya: Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau.

Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian” [HR. Muslim no.108, 2/671].

Di antara faedah dari hadits ini adalah bolehnya mengadakan ziarah ke makam orang tua. Bahkan Nabi Muhammad SAW memerintahkan berziarah ke kubur, karena hal itu bisa mengingatkan kepada kematian.

Sudah banyak yang tahu bahwa Makam Aminah, ibu Nabi Muhammad SAW berada di sebuah desa bernama Abwa’. Daerah yang sekarang disebut dengan nama kharibah. Jarak dari Abwa’ ke Madinah adalah 180 Km, tulis salah satu artikel alarabiya.net[3].

Jarak 180 km zaman dahulu pasti bukan jarak yang pendek lagi. Dalam kitab fiqih disebutkan bahwa jarak bepergian yang dibolehkan safar diantaranya adalah sekitar 85 km. Artinya Nabi Muhammad telah mengadakan perjalanan untuk mengunjungi makam ibunya.

HUKUM ZIARAH KUBUR DAN SYADDU AD DZARAI’

Hukum ziarah kubur pada asalnya boleh. Nabi Muhammad SAW bersabda:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا

“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” [HR. Al Haakim no.1393]

Para Ulama’ ahli ushul fiqih berbeda pendapat mengenai Amar setelah Nahyi, perintah setelah larangan[4].

-Pendapat pertama; amar setelah Nahyi berfaedah “Wajib”. Ini adalah pendapat sebagian Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Ibnu Hazm.
-Pendapat kedua; berfaedah “Mubah”. Ini adalah pendapat Malik, Syafi’i dan Hanbaliyah.
-Pendapat ketiga, hukum dikembalikan kepada hukum awal sebelum adanya nahyi. Ini adalah pendapat Ibnu Taymiyyah.
-Pendapat keempat; tawaqquf atau tidak menentukan sikap. Ini adalah pendapat Al Juwaini dan Al Amidi.

Artinya semua sepakat tidak ada larangan untuk ziarah kubur, baik kedua orang tua, saudara, teman termasuk kubur orang shalah.

Dalam Ushul Fiqih, dikenal kaedah:

أن للوسائل أحكام المقاصد

Artinya: Wasilah/perantara terhadap sesuatu itu hukumnya seperti tujuan sesuatu tersebut. Sebagai contoh sholat lima waktu hukumnya wajib, maka mengetahui masuknya waktu shalat hukumnya juga wajib[5].

Sebagaimana ziarah ke kubur itu hukumnya sunnah, ada yang mengatakan mubah. Maka mengadakan perjalanan untuk ziarah hukumnya mubah. Bagaimana bisa hukum ziarah kuburnya boleh atau sunnah, sedangkan wasilah untuk sampai ke tempat yang diziarahi hukumnya haram. Dan bepergian adalah wasilah untuk bisa sampai ke tempat tujuan ziarah.

Maka pengharaman sesuatu karena dalil Saddu Ad Dzarai’, dalam kekuatan hukum fiqihnya tidaklah seperti suatu hukum yang keharamannya telah ditentukan syara’ dengan nash.

ZIARAH KUBUR PARA WALI DALAM LITERATUR KITAB ULAMA’ SALAF

Disebutkan dalam kitab Tahdzibu At Tahdzib karya Imam Ibnu Hajar, ketika menulis sejarah Imam Ali bin Musa Ar Ridha disebutkan[6]:

قبر الإمام علي بن موسى الرضا زاره جماعة من علماء ومشايخ السنة وعلى رأسهم الحفظ الكبير إمام أهل الحديث في وقته محمد بن إسحاق بن خزيمة ، قال الحاكم في تاريخ نيسابور :

Artinya: Kubur Imam Ali bin Musa ar Ridha telah diziarahi oleh banyak Ulama’ dan Masyayikhu as sunnah, diantaranya adalah Imam besar Ahli Hadits [yang benar-benar Ahli dalam bidang Hadits] Ibnu Khuzaimah.

وسمعت أبا بكر محمد بن المؤمل بن الحسن بن عيسى يقول : خرجنا مع إمام أهل الحديث أبي بكر بن خزيمة ، وعديله أبي علي الثقفي ، مع جماعة من مشايخنا ، وهم إذ ذاك متوافرون إلى زيارة قبر علي بن موسى الرضا عليه السلام بطوس ، قال : فرأيت من تعظيمه يعني ابن خزيمة لتلك البقعة ، وتواضعه لها، وتضرعه عندها ما تحيرنا .

Disebutkan dalam kitab At Tsiqat karangan Ibnu Hibban[7] ketika mengomentari kubur Al Imam Ar Ridha sebagai berikut:

وقبره بسنا باذ خارج النوقان مشهور يزار بجنب قبر الرشيد قد زرته مرارا كثيرة وما حلت بي شدة في وقت مقامى بطوس فزرت قبر على بن موسى الرضا صلوات الله على جده وعليه ودعوت الله إزالتها عنى إلا أستجيب لي وزالت عنى تلك الشدة وهذا شيء جربته مرارا فوجدته كذلك أماتنا الله على محبة المصطفى وأهل بيته صلى الله عليه وسلم الله عليه وعليهم أجمعين.

Artinya: Saya telah mengunjungi kuburannya berkali-kali. Bahkan ketika saya mengalami kesulitan di Thus, saya datang ke kuburnya dan saya berdo’a kepada Allah agar dihilangkan kesusahan itu. Maka hilanglah kesulitan-kesulitan itu.

Disebutkan dalam kitab Tarikh Baghdad Karya al Imam al Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ali; yang lebih dikenal dengan al Khathib al Baghdadi[8] (w 463 H), sebagai berikut:

قبر سلمان الفارسي، قال الخطيب في ترجمته: وحضر فتح المدائن ونزلها حتى مات بها، وقبره الآن ظاهر معروف بقرب إيوان كسرى، عليه بناء، وهناك خادم مقيم لحفظ الموضع وعمارته، والنظر في أمر مصالحه، وقد رأيت الموضع، وزرته غير مرة.

Artinya: Al Khatib al Baghdadiy ketika menulis tentang Kubur Salman al Farisi berkata: Dia [Salman Al Farisi] ikut dalam fath al Madain sehingga meninggal disana. Kuburannya sekarang masih ada di dekat Iwan Kisra. Saya telah melihatnya dan mengunjunginya beberapa kali.

Disebutkan dalam kitab Masyahiru Ulama’ al Amshar karya Ibnu Hibban[9]

قبر الصحابي المعروف أبو الدرداء عويمر بن عامر بن زيد الأنصاري، قال الحافظ أبو حاتم بن حبان: وقبره بباب الصغير بدمشق مشهور يزار، قد زرته غير مرة.

Artinya: Ibnu Hibban ketika menulis tentang Seorang Shabat nabi Abu Darda’ al Anshari: Dan kuburnya di bab as Shaghir Damaskus yang telah masyhur dan banyak diziarahi, saya telah menziarahinya berkali-kali.

Disebutkan dalam kitab Thabaqat As Syafiiyyah karya Ibnu Qadhi Syuhbah sebagai berikut[10]:

قال أبو بكر أحمد بن محمد المعروف بابن قاضي شهبة الدمشقي الشافعي في ترجمة أحمد بن علي الهمداني : والدعاء عند قبره مستجاب . طبقات الشافعية لابن قاضي شهبة ج1 ص 158 رقم 14 ط. دار الندوة الجديدة / بيروت سنة 1407هـ – 1987م .

Artinya: Abu Bakar bin Muhammad ketika menuliskan biografi Ahmad bin Ali Al Hamdani berkata: Berdo’a di kuburnya termasuk mustajab.

Sebaimana disebutkan dalam kitab Siyaru a’lami an Nubala’ karya Ad Dzahabi[11] sebagai berikut:

والدعاء عند قبره مستجاب. سير أعلام النبلاء ج17 ص 76 ط. مؤسسة الرسالة / بيروت

Artinya: do’a di kuburnya termasuk mustajab.

Dll (masih banyak lagi, bisa dibaca di sumber asli nya)


Catatan kaki:
[1] HR. Al-Bukhari no. 1132 dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Muslim No. 1397 dari Abu Hurairah
[2]Al Barmawi, Futuhat al Wahhab/ Hasyiyatul Jumal: 2/361. Lihat fatwa dari daar Ifta’ mesir di:http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=450&LangID=1
[3]http://www.alarabiya.net/articles/2006/04/21/23037.html
[4]Lihat: Al Bahru al Muhith: 2/111, Al Mahshul: 1/202, Ahkamul Amidi: 3/398, Ahkam Ibn hazm: 1/404, Al Uddah: 1/175, Al Burhan: 1/87
[5]Lihat: Syarah Tanqihul Fushul: 449, I’lamul Muwaqqi’in: 3/135
[6]Ibnu Hajar, Tahdzibu At Tahdzib: 7/339
[7]Ibnu Hibban, At Tsiqat: 8/457
[8] al Khathib al Baghdadi (w 463 H), Tarikh Baghdad: 1/163
[9]bnu Hibban, Masyahiru Ulama’ al Amshar: 322
[10]As Subki, Thabaqat As Syafi’iyyah
[11] Ad Dzahabi, Siyaru a’lami An Nubala’: 17/76

Sumber: LIPUTAN ISLAM

%d blogger menyukai ini: