Dua Versi Periwayatan Hadits Rasulullah saw

Ada dua versi periwayatan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Pertama, hadits versi Ahlulbait Rasulullah saw yang suci. Kedua, hadits versi sahabat Rasulullah saw  yang terwakili oleh Abu Hurairah (karena dia adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits atas nama Rasulullah saw).

Di dalam kitab Syaikh Al-Mudhîrah Abu Hurairah yang ditulis oleh Mahmûd Abû Rayyah disebutkan bahwa Abû Hurairah telah meriwayatkan hadîts sebanyak 5374 buah hadîts padahal dia masuk Islam pada tahun ketujuh hijrah dan bergaul dengan Nabi saw kurang dari dua tahun.

 

Ahlulbait Rasûlullâh saw yang paling banyak meriwayatkan hadîts Nabi saw adalah ‘Ali bin Abî Thâlib as, karena memang pergaulan dia itu dari sejak kecil hingga Rasûlullâh saw wafat, dan memang dia itu pintu kota ilmu sebagaimana kata Rasûlullâh saw.

عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأْتِ الْبَابَ

Dari Mujâhid dari Ibnu ‘Abbâs ra berkata: Rasûlullâh saw telah bersabda, “Aku kota ilmu dan ‘Ali pintunya, siapa yang menginginkan kota, maka hendaklah dia mendatangi pintunya.” (Al-Mustadrak 3/126)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ عُثْمَانَ التَّيْمِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ : أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِ الْبَابَ

Dari ‘Abdurrahmân bin ‘Utsmân Al-Taimi berkata: Saya mendengar Jâbir bin ‘Abdullâh berkata: Saya telah mendengar Rasûlullâh saw bersabda, “Aku kota ilmu dan ‘Ali pintunya, siapa yang menginginkan ilmu, maka hendaklah dia mendatangi pintu tersebut.” (Al-Mustadrak 3/127)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأْتِهَا مِنْ بَابِهَا

Dari Ibnu ‘Abbâs berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Aku kota ilmu dan ‘Ali pintunya, siapa yang menginginkan kota, maka hendaklah dia mendatanginya dari pintunya.” (Kanz Al-‘Ummâl 6/401)

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ : عَلِيٌّ بَابُ عِلْمِي وَ مُبَيِّنٌ لأُمَّتِي مَا أُرْسِلْتُ بِهِ مِنْ بَعْدِي

Rasûlullâh saw bersabda, “‘Ali pintu ilmuku dan yang menjelaskan apa yang aku telah diutus dengannya kepada ummatku setelahku.” (Kanz Al-‘Ummâl 6/156)

Kalau kita ingin mendapatkan Islam yang tidak banyak penyimpangan, maka kita mesti mengambilnya dari jalur Ahlulbaitnya yang suci, sebab bersumber dari pintu ilmu Nabi dan kita memasuki kota melalui gerbangnya.

Isnâd Al-Hadîts

Isnâd al-hadîts yaitu menyandarkan periwayatan hadîts , di dalam buku ini hadîts-hadîts Rasûlullâh saw diriwayatkan oleh keluarganya yang disucikan, misalnya Abû ‘Abdillâh as berkata, “Siapa yang menjenguk orang sakit, niscaya dia diantar oleh tujuh puluh ribu malaikat yang memintakan ampunan baginya sampai dia kembali ke tempat tinggalnya.” (Furû’ Al-Kâfî 3/120)

Kalau diuraikan jalan ceritanya atau sanadnya begini: Abû ‘Abdillâh as (Ja’far Al-Shâdiq) dari ayahnya yakni Abû Ja’far as (Muhammad Al-Bâqir), Abû Ja’far dari ayahnya yaitu ‘Ali Zainul ‘Âbidîn as, ‘Ali Zainul ‘Âbidîn dari ayahnya yaitu Al-Husain as, Al-Husain dari ayahnya yaitu ‘Ali bin Abî Thâlib as dan ‘Ali bin Abî Thâlib dari Rasalullâh saw, atau kadang-kadang disebutkan dari ayahnya dari ayah-ayahnya.

Inilah yang disebut mata rantai mas (silsilah al-dzahab) karena hadîts-hadîts Rasûlullâh saw diriwayatkan dari hujjah Allah ke hujjah Allah ke para sahabatnya lalu dicatat oleh mukharrij yang tsiqah seperti Abû Ja’far Muhammad bin Ya’qûb bin Ishâq Al-Kulaini yang dijuluki Tsiqatul Islâm yang punya kitab Ushûl dan Furû’ Al-Kâfî, Al-Syaikh Abû Ja’far Muhammad bin Hasan Al-Thûsi yang punya kitab Tahdzîb Al-Ahkâm dan Al-Istibshâr, dan Al-Syaikh Abû Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Al-Husain bin Bâbawaih Al-Qummi yang dijuluki Al-Shadûq yang punya kitab Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, Ma’ânil Akhbâr, ‘Ilal Al-Syarâ`i’, Tsawâb Al-A’mâl, Al-Tauhîd dan yang lainnya.

Abu Zahra

%d blogger menyukai ini: