Dr. Fuad Jabali: Akal dan Tradisi Lokal Banyak Dipakai Sahabat Nabi

Jargon al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah (kembali pada Alquran dan Sunnah) selalu diikuti dengan idealisasi masa lampau. Masa otentik kenabian memunculkan “mistifikasi” pada figur-figur sahabat di sekeliling Nabi. Ironisnya, kecenderungan sahabat Nabi dahulu dalam
memaksimalkan al-ra’yu (akal) dan al-‘urf (tradisi lokal), saat ini malah diabaikan. Poin inilah yang didapatkan dari wawancara Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) dengan Dr. Fuad Jabali, pakar Sejarah Islam yang menuntaskan studi Ph.D-nya di Mc. Gill
University Canada. Ia sekarang bekerja sebagai wakil direktur Pusat Kajian Islam dan Masyarakat (PPIM) dan staf pengajar Pascasarjana UIN Jakarta. Wawancara berlangsung pada Kamis, 20 Februari 2003. Berikut
petikannya:

Mas Fuad, hampir semua agama muncul imbauan untuk kembali kepada ajaran fundamental agama masing-masing. Bagaimana kecenderungan itu terjadi dalam Islam dikaitkan dengan masa Nabi sebagai teladan?

Saya berawal dari pernyataan Anda yang menyatakan bahwa ada kesepakatan, baik dari kalangan modernis maupun tradisionalis, untuk kembali kepada Alquran dan Hadis sebagai dua sumber otentik ajaran Islam. Keinginan itu, juga ditambah dengan upaya untuk kembali mengikuti (teladan) Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya dalam berislam. Nah, kita tahu, Nabi Saw cuma seorang, dan beliau hidup tak begitu lama, hanya sekitar 63 tahun. Setelah beliau mangkat, yang tersisa adalah generasi berikutnya (para sahabat) yang jumlahnya cukup banyak.

 


Menurut hitungan kasar Anda, kira-kira berapa jumlah sahabat Nabi saat
itu?

Itu tergantung pada definisi apa yang kita pakai untuk mengidentifikasi para sahabat. Kalau kita menggunakan definisi ahli hadis, yang dibuat setelah abad ketiga ataupun sembilan hijriah, sahabat Nabi adalah kullu man huwa muslim wara’a annabi wa maata ‘alal Islam. Yaitu barang siapa saja yang pernah melihat Nabi dalam keadaan sudah Islam, dan ketika
meninggal pun masih dalam keadaan berislam. Pokoknya seseorang yang pernah melihat Nabi. Soal Nabi melihat dia ataupun tidak, itu bukan urusan. Misalnya, kalau seseorang melihat fisik Nabi dari belakang, lalu dia menggambarkan bagaimana bentuk rambut Nabi
dari belakang, maka dia sudah bisa disebut sahabat, dan kalau dia meriwayatkan hadis, maka bisa masuk di musnad.

Atas dasar definisi yang minimalis ini, berapa jumlah sahabat Nabi?

Ya, ini memang definisi yang terbuka. Dengan defenisi itu, sahabat Nabi ketika itu bisa diperkirakan maksimal sekitar 100-150 ribu orang. Itu termasuk orang-orang seperti Hakam bin Al-Ats, misalnya, yang pernah diusir Nabi ke Thaif. Dalam konteks ini, sekalipun Nabi tidak menyukai dia, tapi dia tetap bisa disebut sahabat dan kalau dia mengeluarkan
hadis, hadisnya bisa diterima. Di samping definisi ahli hadis di atas, ada definisi yang lebih ketat lagi tentang siapa itu sahabat. Misalnya, definisi yang dibuat Anas bin Malik yang agak berbeda dan lebih menarik. Suatu ketika Anas bin Malik pernah ditanya seberapa orang sahabat Nabi yang masih tersisa pada zamannya. Dia lalu mengatakan, “Baqiya annas minal Arab qadra awuhu, fa’amma man shahibahu fala.” Artinya, banyak sekali orang Arab yang
sudah melihat Nabi dan sekarang masih hidup. Tapi yang tersisa dari sahabat Nabi, menurut Anas, cuma dia sendiri. Anas hidup di Kufah dan/atau Bashrah. Dia sangat yakin bahwa dia sahabat Nabi yang terakhir meninggal. Dia membedakan antara kata ra’a (melihat atau berjumpa, Red) dengan shahiba (bersahabat atau pernah berinteraksi, Red).

Menurut Anas, ra’a sekadar melihat atau pernah berjumpa saja, tidak cukup menjadikan seseorang sebagai sahabat Nabi. Dan kalau pakai definisi Anas ini saja yang bisa disebut sahabat menjadi semakin sedikit, apalagi jika kita memakai definisi Said bin Abi Sayyaf. Menurut Abi Sayyaf, syarat sebagai seorang sahabat, paling tidak pernah ghaza ma’ahu ghazwatan aw ghazwatain, atau qaama ma’ahu tsanatan aw tsanatain. Jadi, sahabat Nabi adalah orang yang pernah turut-serta satu atau dua peperangan, atau tinggal bersama Nabi setahun atau dua tahun. Intinya ada interaksi dulu dengan Nabi.

Selama ini orang banyak mengidealisasikan kehidupan keagamaan masa para
sahabat. Bagaimana mereka dalam berislam?

Harus diingat, bahwa pada masa dulu, kota Madinah itu kecil sekali dan tidak mungkin mengakomodasi banyak orang. Kalau ada orang yang mau masuk Islam, dia mesti datang ke Madinah, menginap dua atau tiga hari bersama Nabi di Madinah. Setelah itu balik ke kampung masing-masing. Keberislaman para sahabat itu kadang-kadang keberislaman dengan pemahaman atas apa yang diajarkan Nabi selama dua atau tiga hari bermukim bersamanya.

Setelah balik lagi ke kampung halaman, lalu mereka menyelesaikan persoalan hidup berdasar pengetahuan mereka tentang Islam dan beberapa hadis yang mereka dapat selama dua atau tiga hari itu. Mungkin mereka hapal satu atau dua hadis Nabi. Kemudian mereka mengetahui Alquran satu atau dua ayat karena Alquran saat itu juga belum tuntas turun semua.

Nah, dengan bekal itulah mereka dituntut untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat mereka. Tentu itu saja tidak cukup. Pertanyaannya, kemana mereka kemudian berpaling? Mereka berpaling pada al-‘urf atau tradisi lokal dan juga penalaran (al-ra’yu). Sekiranya kita ingin kembali mengikuti keberislaman ala sahabat, artinya kita mengikuti cara berislam sahabat yang kadang-kadang hafal beberapa ayat dan beberapa hadis saja. Apakah itu yang kita mau?

Apakah mereka juga menimba pengetahuan tentang Islam yang belum lengkap,
lalu pulang kampung sendiri dengan banyak pertanyaan di benak mereka?

Harus diingat juga bahwa waktu itu terjadi banyak sekali peperangan. Di masa Nabi hidup, dan sepeninggalan Nabi, Abu Bakar, Umar dan Usman, politik ekspansi dimulai dengan mengirim sahabat dalam jumlah besar keluar dari Madinah. Dan lagi-lagi, pemahaman Islam yang mereka bawa dari Madinah ke mana-mana adalah pemahaman Islam yang belum “sempurna.” Pada masa Nabi masih hidup, hadis masih terus “diproduksi.”

Dengan begitu, tentu konsep tentang Islam belum sempurna.  Saya kira, sekarang kita dalam posisi yang lebih baik dari para sahabat Nabi dalam soal pengetahuan keislaman. Kita paling tidak dapat mengakses baik dari Bukhari ataupun Muslim saja, sekitar 7000 hadis yang sudah
dikumpulkan. Saya kira, hanya beberapa orang sahabat saja, yang tahu sampai 7000-an hadis. Sebagian mereka, mungkin hanya tahu beberapa puluh saja. Makanya, kita dalam posisi yang lebih baik dalam hal itu. Tapi, ada satu hal yang membuat dinamika pemahaman keislaman antara kita dan para sahabat itu berbeda, tentu.

Dinamika apa yang membedakan?

Ketika hadis dikumpulkan, kemudian dilembagakan sebagai sumber kedua dalam hierarki sumber hukum Islam setelah Alquran, hadis-hadis di hadapan kita menjadi banyak sekali. Dengan begitu, ruang yang yang bisa kita gunakan untuk menggunakan al-‘urf, tradisi lokal dan juga akal dalam merespon berbagai persoalan hidup kita menjadi semakin menyempit. Padahal para sahabat banyak memanfaatkan dan menggunakan akal dan tradisi lokal secara agak longgar. Saat ini terlalu banyak “rambu-rambu” dalam sekian banyak fakultas dalam Islam yang justru membuat ekperimentasi akal (al-ra’yu) terbatasi.

Saya teringat pesan Nabi kepada Muadz bin Jabal yang akan diutus ke Yaman. Dalam pesan itu, ruang bagi akal untuk berijtihad dalam menyelesaikan problem kehidupan seakan diberikan Nabi secara luas. Nabi sempat mengusap dadanya sebagai pertanda kelegaan setelah Muadz berkomitmen untuk berijtihad. Bagaimana tanggapan Anda?

Ya, ruang bernalar untuk melakukan ijtihad relatif lebih besar. Kondisinya berbeda ketika masa Muadz bin Jabal dan para sahabat ketika itu. Hadis-hadis belum terkumpul dalam satu kitab; Alquran berbicara tentang banyak hal yang masih general, dan tidak bisa dijadikan patokan yang detail. Karena Alquran masih sangat general dan hadis belum terhimpun dalam kitab-kitab, otomatis para sahabat menggunakan ijtihad atau al-ra’yu (penalaran, Red) secara agak lebih leluasa.

Anda mengatakan setelah hadis dikumpulkan, ruang berijtihad malah
menjadi sempit. Pertanyaannya, setelah periode sahabat, apa yang terjadi dalam kehidupan keagamaan mereka?

Yang terjadi adalah pelembagaan mazhab. Banyak ratusan mazhab yang muncul ketika itu, dan di Indonesia yang paling dikenal hanya ada empat. Di antara yang empat mazhab itu, yang paling awal memang Abu Hanifah yang muncul pertama tahun 767 M/150 H, atau satu abad setengah setelah Nabi mangkat. Mazhab yang terakhir adalah mazhab Imam Hambali, yang hidup tahun 885 M atau lebih belakangan lagi.

Para imam mazhab yang sekarang kita sebut sebagai pendiri mazhab itulah orang-orang yang mengenalkan kita kadiah-kaidah membaca kandungan Alquran, menurunkan hukum dan lain-lain. Ini memang perlu dibuat aturannya. Tapi satu hal yang menarik di situ adalah penyeragaman cara pandang terhadap agama. Semacam standarisasi. Tidak ada lagi pluralitas. Pluralitas pemahaman kemudian dibatasi oleh kaidah-kaidah yang dibakukan. Yang juga menarik dicermati, kaidah-kaidah itu dibangun sebelum kitab hadis dibukukan.

Kita mengenal Bukhari, Muslim dan lain-lain sebagai ulama pengumpul hadis dan pembuat buku hadis. Bukankah sebelum mereka sudah ada yang melakukan?

Ya, sejak masa Nabi hidup, sudah ada beberapa orang yang menulis hadis. Hanya saja, yang berjasa memilah dan membukukannya adalah Bukhari dan Muslim, di samping yang lainnya. Dua orang inilah yang paling dipercaya dan tinggi tingkat kesahihan hadis yang dikumpulkannya. Perlu dicermati, Bukhari hidup sekitar tahun 870 H, sementara Muslim hidup sekitar tahun 875 H. Jadi, mereka yang mengumpulkan hadis ini, hidup sekitar dua puluh tahun setelah Imam Hambali wafat.

Artinya, mazhab-mazhab fikih sudah dibangun sebelum kitab hadis dibukukan. Kira-kira, ketika pendiri mazhab itu berijtihad, apa yang mereka gunakan sebagai dasarnya?

Mereka tetap menggunakan hadis, selain Alquran. Tapi hadis yang masih bercampur antara yang shahih (valid, Red) dan dla’if (kurang valid atau tidak valid, Red), bahkan maudhu’ (palsu, Red). Ketika itu orang diberi kepercayaan untuk memilih mana hadis yang sahih, mana yang dla’if. Sekarang ‘kan tidak. Kita sudah disodorkan hadis-hadis yang dikatakan
sahih. Tapi siapa yang mengatakan hadits itu sahih? Yang mengatakan itu Imam Bukhari.

Nah, dengan begitu, kita lalu percaya bahwa Bukhari itu pasti benar. Yang perlu diingat, Imam Bukhari itu mengumpulkan hadisnya pada abad ketiga Hijriah atau kesembilan Masehi.

Bayangkan kondisi abad kesembilan; belum ada komputer, tidak ada indeks dalam buku, listrik belum ada, peperangan terjadi di mana-mana. Jadi pengumpulan itu dilakukan dalam keadaan yang sangat minimal; transportasi belum seperti sekarang, telepon pun belum ada. Jadi kalau dia mau mengumpulkan hadis, dia harus pergi melacaknya jauh-jauh. Tentu itu repot sekali, dan dalam kondisi yang sangat terbatas, dia juga tentu akan menghasilkan produk yang juga terbatas.

Bisakah Anda mengelaborasi kemunculan mazhab-mazhab dalam Islam lebih
jauh?

Ketika orang Islam dibiarkan menggunakan kearifan lokal dan akalnya sendiri untuk menyelesaikan urusan, maka yang muncul adalah keragaman. Pada masa Nabi, dan ketika masyarakat kuat, keragaman itu tidak jadi masalah. Tapi ketika Nabi wafat, kemudian figur yang dijadikan teladan sudah tidak ada yang sekuat Nabi, maka yang ada hanyalah para sahabat yang relatif sejajar, karena mereka tidak menerima wahyu. Karena tidak ada orang yang bisa dijadikan rujukan yang paling absah, maka terjadilah perbedaan yang nantinya potensial membuahkan konflik.

Nah, untuk menghindarkan konflik, lalu ada beberapa ulama yang berinisiatif untuk membuat aturan-aturan, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, ataupun lainnya. Mereka membuat rambu-rambu agar penafsiran agama tidak jauh menyimpang atau supaya tidak terjadi penafsiran yang begitu liar. Tapi yang sering dilupakan orang, kaidah-kaidah itu kan dibikin berdasar realitas yang dihadapi para imam masa itu. Belum lagi efek penyeragaman yang ditimbulkan dan sakralisme seolah-olah rambu-rambu itu tak bisa dikritik dan dikoreksi.

Artinya, aturan main untuk memahami sumber-sumber Islam itu juga dibuat
oleh manusia?

Memang manusia yang membuatnya sebagai respon atas realitas pada masa itu. Yang jadi masalah jika ada pertanyaan; apakah kompleksitas masalah yang kita hadapi sama dengan yang mereka hadapi? Kalau seandainya tidak sama, mengapa kita mesti terpaku seratus persen dengan aturan itu? Mengapa kita tidak membuat aturan lain yang lebih responsif pada relitas kita?

Ada yang menegaskan pentingnya membedakan tradisi lokal dan ajaran universal agama. Bagaimana tanggapan Anda?

Pada hakikatnya saya setuju dengan ajakan perlunya membedakan antara tradisi lokal dengan nilai-nilai universal Islam secara konseptual. Dengan begitu, kita bisa faham bahwa kondisi lokal abad ketujuh, sulit sekali untuk diterapkan pada abad-abad kita sekarang ini. Itu disebabkan terlalu jauhnya jarak masa dan masalah yang dihadapi. Tapi persoalannya, bagaimana metodologi untuk memisahkan dua hal itu? Saya kira, ulama fikih tidak begitu berani meninggalkan tradisi lokal sepenuhnya, tapi berusaha mengakalinya dengan konsep qiyas (analogi hukum oleh kemiripan-kemiripan tertentu, Red). Jadi, perlu dicari kemiripan antara tradisi-tradisi lokal itu. Yang lokal tetap dilirik, tapi ditarik kemiripannya.

Bagaimana dengan fenomena maraknya kritik Hadis, baik dari segi matan,
sanad maupun historisnya?

Yang harus diingat, hadis Nabi yang dikumpulkan Imam Bukhari sebelum dipilah-pilah, ada sekitar 600.000-an hadis. Setelah proses seleksi, tersisa sekitar 7000-an hadis. Itu termasuk hadis yang berulang-ulang.Yang tidak berulang-ulang secara redaksional, hanya sekitar 3000 hadis saja. Nah, ada 3000-an perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi yang dianggap benar.

Apakah kita yakin kalau selama 25 tahun masa kenabian, Nabi hanya berbuat atau mengatakan 3000-an potong hadis saja? Tentu itu terlalu sedikit. Sekarang saja, perkataan kita selama setengah jam saja sudah bisa menghasilkan berapa ribu kata. Poinnya itu, masih banyak sekali hadis yang belum kita temukan dan memerlukan kajian ulang. Tadi saya berbicara tentang keterbatasan para pendahulu kita dalam mengkaji hadits.

Sekarang saya mengatakan bahwa kita sebetulnya berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengulas hadis-hadis itu secara kritis. Sebab, bersama kita sekarang, ada buku-buku yang tidak sempat dibaca oleh Imam Bukhari, misalnya. Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani (hidup pada abad 12 H/15 M) itu: buku itu lengkap sekali. Jadi, kita bisa memakai buku ulama- ulama yang belakangan yang tidak bisa dibaca Imam Bukhari untuk melakukan studi kritis.

Sekali lagi, kita berada dalam posisi lebih baik apalagi dibantu oleh teknologi, mesin, telepon dan seterusnya, untuk mengkaji ulang tradisi Islam. Sekian banyak hadis bisa dimasukkan dalam satu-dua VCD.

Di sebagian kalangan, muncul “mistifikasi’ terhadap sahabat Nabi sebagai orang yang ‘udul (jujur, adil dan tak pernah salah). Tanggapan Anda?

Ya. Padahal kita tahu, ketika membaca biografi para sahabat karya Ibn Abdil Bar, misalnya, kita juga menemukan cerita-cerita tentang mereka yang sangat manusiawi. Ada cerita tentang sahabat yang mencuri kantong kulit kepunyaan Nabi, ada sahabat yang berzina dan lain-lain. Ayat tentang zina menjadi ada karena ada sahabat yang melakukan perbuatan itu. Intinya, mereka juga hidup normal seperti kita; dengan banyak kemauan dan juga membuat kesalahan. Nah, sekarang mengapa tiba-tiba ada generalisasi yang mengatakan kalau semua mereka itu ‘udul. Ada mistifikasi berlebihan. Dengan klaim itu, artinya kita tidak bisa lagi mempertanyakan integritas mereka.

Secara historis, doktrin ini muncul pada abad ke sembilan, ketika kelompok Mu’tazilah sebagai gerakan rasional dalam Islam mengritik ahli hadis dalam polemik antarmereka. Kita tahu, jumlah hadis itu juga bergantung pada jumlah sahabat yang diakui integritasnya. Kalau jumlah sahabat yang bisa dipercaya cuma dua orang, hadis yang sempat diriwayatkan, tentu juga akan sedikit.

Nah, supaya hadis yang diakui kesahihannya banyak, maka jumlah sahabat yang diakui integritasnya juga harus diperbanyak. Untuk itu, sahabat yang banyak itu juga harus dibentengi dan ditamengi dengan doktirn bahwa kulluhum ‘udul (setiap mereka itu jujur, adil dan tidak bercacat, red). Sebab apa? Karena kalau semua ‘udul, kata-kata sahabat akan banyak yang bisa dipercaya sebagai hadis. Implikasinya, kalau hadis banyak, peran akal akan berkurang dengan sendirinya. Jadi, ini semacam amunisi ahli hadis ketika itu untuk mengurangi kegiatan rasional kelompok Mu’tazilah.

Sumber: Islam Liberal

%d blogger menyukai ini: