Bukti-Bukti Manipulasi Hadits

Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi’in. Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis.

Ada beberapa cara manipulasi hadits, antara lain. Pertama, membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu’awiyah di Hijaz, ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata: “Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!”

Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. Ia lari ke kamar ‘Aisyah ra, saudaranya. Marwan berkata: Ayat al-Qur’an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman.

Aisyah menolak asbab al-nuzul ini. Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala ‘Abd al-Rahman ibn ‘Abi Bakar syai’an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu).

 

 

Dengan cara itu, kecaman kepada Mu’awiyah dan Marwan tidak diketahui. Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. Dalam tarikhnya, al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi Muhammad saw tentang Ali: “Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu.” Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). Tentu saja kata “washi”dan “khalifah” mempunyai konotasi yang sangat jelas.

Kedua, membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu’awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. Mu’awiyah pun mengakuinya. Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas’udi (wafat 246 H).

Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan “supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya.” Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama.

Ketiga, memberikan makna lain (ta’wil) pada hadits. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis, ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu’awiyah, ia berkata, “hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi, semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu’awiyah.” Kata Al-Dzahabi: “Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu’awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah, siapa yang aku laknat atau aku kecam, jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya.”

Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi kesucian dan rahmat; tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. Al-Thabrani dalam Majma’ al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya, bukan untuk Khalifah.

Keempat, membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. “Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat
Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang,” kata Ibn Hisyam
dalam pengantarnya. Di antara yang dibuang itu adalah kisah “wa andzir ‘asyirataka al-aqrabin.” Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata; “Inilah saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu.”

Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal, dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. Pada bukunya, cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku, washiku dan Khalifahku untuk kamu. Pada Hayat Muhammad, cetakan kedua (tahun 1354), ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali.

Kelima, melarang penulisan hadits Nabi saw. Berkenaan dengan ini bagian “Fiqh al-Khulafa’ al-Rasyidin” di atas. Beberapa tabi’in juga melarang penulisan hadits.

Keenam, mendha’ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. Ibn Katsir mendha’ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai washi. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta, yang dibuat-buat oleh orang Syiah, atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat
Nabi oleh Imam Ahmad, Al-Thabari, Al-Thabrani, Abu Nu’aim al-Isbahani, Ibnu ‘Asakir dan lain-lain.

Al-Syu’bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits, salah seorang pendusta. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu’bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Karena itu, wallahu a’lam, Al-Syu’bi mendustakan Al-Harits; Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam.

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

(sumber: buku Dahulukan Akhlaq di Atas Fiqih, diterbitkan Mizan)

 

sumber : misykat

%d blogger menyukai ini: