Hukum Shalat Jumat

Hukum shalat Jumat pada masa kehadiran para Imam Maksum dan terpenuhinya syarat lainnya serta tidak adanya taqiyyah adalah jelas (yaitu wajib dilaksanakan). Pada masa ghaibah (okultasi) dijelaskan pelbagai ragam hukum yang boleh jadi dapat dikatakan bahwa yang paling popular adalah kewajiban dan keharusan yang bersifat opsional terkait dengan shalat Jumat.

Sebagian fukaha (juris) mengklaim adanya konsensus terkait dengan kewajiban shalat Jum’at yang bersifat ikhtiari (opsional). Namun tentu saja klaim ini tidak bersifat konstan dan permanen lantaran terdapat orang-orang yang tidak sejalan dengan klaim ini.

 

 

Continue reading “Hukum Shalat Jumat”

Iklan

Waspadai Al-Quran Terbitan Arab Saudi

Amati al-Quran berciri sampul seperti dalam foto. Tahukah Anda? Ya, ini adalah al-Quran terjemah yang disertai dengan tafsirnya pada catatan kaki (footnote). Al-Qur’an itu menggunakan terjemahan Bahasa Indonesia dari Departemen Agama RI, tetapi diterbitkan dan didistribusikan oleh Kerajaan Arab Saudi yang menganut paham Salafi Wahabi. Mushaf al-Qur’an tersebut biasanya dibagi-bagikan secara gratis kepada jama’ah muslim dari Indonesia.

Ada apakah gerangan dengan al-Qur’an terbitan Arab Saudi (Wahabi Salafi) itu? Coba Anda buka dan lihat kembali, perhatikan Surat al-Baqarah ayat 255, atau biasa kita kenal dengan Ayat Kursi. Dalam footnote tertuliskan:

Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassir mengartikan Ilmu Allah, ada juga yang mengartikan kekuasaanNya. Pendapat yang shahih terhadap makna “Kursi” adalah tempat letak telapak Kaki-Nya.

Perhatikan tulisan yang berbunyi “Pendapat yang shahih terhadap makna ‘Kursi’ adalah tempat letak telapak Kaki-Nya”. Lebih diperinci maksud tulisan tersebut kata “Kursi” dalam ayat itu diartikan sebagai“Tempat telapak kaki Allah SWT”. Ini jelas tafsiran yang membahayakan dan sangat berbahaya bagi aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Tafsir al-Qur’an tersebut menjerumuskan aqidah umat Islam kepada aqidahtasybih (penyerupaan Allah dengan makhlukNya). Apalagi dibumbui dengan klaim “Pendapat yang shahih”, padahal itu hanya akal-akalan saja. Maha Suci Allah dari penyifatan makhluk kepada DzatNya.

Continue reading “Waspadai Al-Quran Terbitan Arab Saudi”

Al-Quran dan Pengumpulannya

Lafadz Al-Quran adalah bentuk mashdar dari qara’a—yaqr’u—qirâ’atan—wa qur’ânan. Menurut bahasa berarti kumpulan, gabungan, himpunan. Nama Al-Quran merupakan istilah khusus bagi kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa As, dan Injil kepada Nabi Isa As, serta Zabur kepada Nabi Dawud As. Rahasia di balik penamaan kitab suci ini dengan nama Al-Quran, yang berarti gabungan dan himpunan, sebagian ulama berpendapat, karena kitab suci ini menghimpun seluruh inti sari dari beberapa kitab suci yang diturunkan sebelumnya, bahkan merupakan gabungan dari seluruh ilmu pengetahuan.

Sebagaimana firman Allah Swt: Dan kami turunkan untukmu Al-Kitab yang menerangkan segala sesuatu. Al-Quran menurut istilah adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantara malaikat Jibril, yang sampai kepada kita sekarang ini dengan cara mutawatir. Membacanya dihitung ibadah. Dimulai dengan surah al-Fâtihah dan ditutup dengan surah an-Nâs. Al-Quran mempunyai beberapa nama lain, yang kesemuanya menunjukkan ketinggian kedudukannya dan benar-benar merupakan kitab samawi. Di antara nama-nama tersebut adalah: Al-Furqân, Adz-Dzikr, Al-Kitâb, dan At-Tanzîl.

Akan tetapi yang lazim dipakai adalah lafadz Al-Quran atau Al-Kitab. Penamaan dengan dua istilah ini mengandung isyarat bahwa hak Al-Quran adalah untuk dipelihara di dua tempat dengan dua cara. Yaitu di dada, dalam bentuk hafalan, dan di mushaf, dalam bentuk tulisan. Bila salah satunya khilaf, maka akan diingatkan oleh yang lain.

Dengan demikian, hafalan seorang al-hâfizh dapat diterima bila sesuai dengan rasm yang telah ditulis oleh para sahabat hingga sampai kepada generasi sekarang ini, persis seperti pertama kali Al-Quran ditulis.

Pemeliharaan ganda ini menjamin keaslian Al-Quran dari segala perubahan, baik dalam bentuk pengurangan maupun penambahan. Hal tersebut sesuai dengan janji Allah yang selalu memelihara kemurnian Al-Quran.

 

 

 

Continue reading “Al-Quran dan Pengumpulannya”

Prof Quraish Shihab: Ulama Sunni Membolehkan Nikah Mutah

Sebuah berita dari situs Majulah IJABI bahwa di Makassar pada 15 November 2013 telah digelar kajian tahun baru hijriyah yang menghadirkan ahli tafsir Indonesia Prof.Dr.KH.Muhammad Quraish Shihab, MA.

Pembahasan kajian yang dihadiri lebih dari 150 peserta ini berjalan dengan lancar dan uraian Pak Quraish sangat mengena dengan momentun tahun baru Islam. Namun, dalam sesi tanya jawab tiba-tiba ada seseorang langsung menanyakan tentang Syiah. Mulai dari Quran yang berbeda hingga nikah mutah.

Sebagai seorang yang berilmu, Pak Quraish disebutkan menjawab bahwa isu pertentangan Sunni-Syiah sudah usang dan menghabiskan waktu saja.

Continue reading “Prof Quraish Shihab: Ulama Sunni Membolehkan Nikah Mutah”

Menyikapi Fatwa Tentang Fatwa

IMAM Ahmad bin Hanbal adalah imam besar, pendiri mazhab  besar.  Bagaimana ia menyikapi fatwa?  Ia berkata, “Barangsiapa yang melibatkan diri dalam fatwa, ia telah melibatkan diri dalam urusan besar; kecuali jika terpaksa. Al-Sya’bi –salah seorang ulama tabi’in- ditanya orang tentang satu masalah, ia menjawab:  Aku tidak tahu. Ia ditegur: Apakah Anda tidak malu berkata tidak tahu, padahal Anda adalah  faqih seluruh Iraq ? Al-Sya’bi menjawab: Malaikat saja tidak malu, ketika mereka berkata – Tidak ada ilmu pada kami kecuali yang telah Kauajarkan kepada kami (QS 2:32).

Sebagian ahli ilmu (agama) berkata: Belajarlah mengatakan “Aku tidak tahu” , karena jika kamu berkata –Aku tidak tahu- mereka akan mengajarimu. Jika kamu berkata –aku tahu- mereka akan bertanya kepadamu sampai kamu tidak tahu.

Uqbah bin Muslim berkata: Aku menemani Umar bin Khattab ra.  34 bulan, kebanyakan kali jika ia ditanya tentang masalah agama, ia menjawab: Aku tidak tahu. Ketika Imam Syafii ditanya satu masalah dan ia diam, orang bertanya: Mengapa tidak menjawab? Ia berkata: Aku tidak menjawab sampai aku mengetahui apakah yang baik itu diam atau menjawab.”

 

 

Ibnu Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in, 6: 133-135 menjelaskan aturan-aturan memberikan fatwa berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Ia tegaskan betapa para ulama salaf, sahabat dan tabiin,  merasa takut untuk memberikan fatwa, labih takut dari menghadapi singa.   Ada di antara mereka yang memilih penjara ketimbang  menjabat lembaga yang bertugas menetapkan fatwa.

Salman dipersaudarakan Nabi saw dengan Abu al-Darda. Abu al-Darda diangkat sebagai qadhi. Salman mengirimkan surat kepadanya: Aku mendengar engkau menjadi dokter. Janganlah memaksakan diri menjadi dokter nanti kamu bisa membunuh orang.

Fatwa salah yang disampaikan oleh lembaga yang mengklaim berhak memberikan fatwa, sama seperti obat yang salah yang diberikan kepada pasien. Alih-alih menyembuhkan, ia bisa membunuh.

Di antara fatwa yang telah ikut serta, atau menyertai terbunuhnya seorang muslim di Sampang, adalah fatwa MUI Sampang. Pengadilan Tinggi Jawa Timur yang menambahkan lagi hukuman dua tahun di atas dua tahun penjara sebelumnya yang diputuskan  Pengadilan Negeri Sampang  berkaitan dengan fatwa  MUI  Jawa Timur.

Mungkin karena itulah para ulama di  MUI Pusat tidak sepakat untuk menerbitkan  fatwanya. Kebanyakan memilih diam. Mereka tahu bahwa fatwa yang menganggap sekelompok umat Islam sesat dapat menghancurkan kehormatan, merusak harta kekayaan, dan menumpahkan darah.  Mereka perlu mengkaji secara mendalam dan tidak tergesa-gesa. Mereka juga perlu mengkaji fatwa-fatwa sebelumnya.

Fatwa Imam Malik: Tanya dulu yang lebih berilmu

Marilah kita belajar dari Imam Malik, salaf kita yang saleh.  Ia berkata, “Aku tidak akan memberi fatwa sebelum tujuh puluh orang (ulama) bersaksi bahwa aku ahli untuk memberikan fatwa.”  Kapan seseorang berhak  disebut ahli? “Seseorang tidak layak  menyebut dirinya ahli sebelum ia bertanya kepada orang yang lebih tahu dari dirinya. Aku tidak memberikan fatwa sebelum aku bertanya kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id”  kata ImamMalik  (lihat I’Lam al-Muwaqqi’in, 6:132).

Masih kata Imam Malik, “Apabila para sahabat menghadapi masalah yang berat, mereka tidak memberikan jawaban sebelum mereka mengambil jawaban sahabatnya yang lain, padahal mereka adalah generasi yang dianugrahi Tuhan kebenaran, taufiq, dan kesucian. Bayangkan diri kita yang tertutup dosa dan hati kita yang bergelimang kesalahan.”  Diriwayatkan bahwa bila Umar bin Khattab ditanya tentang satu masalah ia kumpulkan semua ahli Badar dan ia berkonsultasi dengan mereka lebih dahulu sebelum memberikan fatwa.

Apakah Anda lebih berilmu dari mereka?

Sekarang izinkan saya yang jahil ini bertanya kepada MUI Jatim yang memberikan fatwa tentang kesesatan Syiah dan kepada yang terhormat Dr K.H. Ma’ruf Amin yang mengeluarkan fatwa yang mendukung fatwa tersebut:  Apakah Bapak-bapak telah mengkaji fatwa para ulama seluruh dunia Islam yang hadir dalam Konferensi Islam Internasional di Amman, Yordania, pada 4-6 Juli 2005 (sebelas tahun setelah fatwa MUI tahun 1984?

Sebagai catatan kecil: dari Indonesia hadir antara lain K.H. Hasyim Muzadi dan Rozy Munir; dari Mesir, a.l  Prof  Dr Ali Jumu’a, mufti besar Mesir;  dari Syria, a.l. Prof. Dr Syaikh Wahbah Zuhaily (penulis al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh ); dari Arab Saudi, a.l. Dr Abd al-Aziz bin Utsman al-Touaijiri.  Salah satu dan nomor satu dari fatwa mereka yang lebih dikenal sebagai Deklarasi Amman   menyatakan:

“(1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Malik, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab  Ibadi dan  mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.”

Sebelum mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syiah, apakah menurut Bapak-bapak, tidak perlu mengkaji fatwa para ulama internasional itu, apalagi menyetujuinya, karena mereka tidak lebih alim dari Bapak-bapak?  Umar bin Khattab  ra mengumpulkan dahulu para sahabat ahli Badar sebelum memberi fatwa. Konferensi Islam Internasional mengumpulkan dulu ratusan ulama dari berbagai negeri sebelum mengeluarkan Deklarasi Amman.

Sekretaris Jenderal OKI, di bawah payung Akademi Fiqih Internasional (IIFA) mengumpulkan ulama Iraq, Sunni dan Syiah,  sebelum mengeluarkan fatwa yang dikenal sebagai Deklarasi Makkah.

Presiden SBY mengumpulkan ulama Sunni  dan Syiah internasional di istana Bogor sebelum mengeluarkan Deklarasi Bogor. Di situ dinyatakan bahwa para pemimpin Islam sedunia:

“Mendesak seluruh kaum Muslim, yang mengakui keyakinan mereka dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, untuk menjunjung prinsip-prinsip fundamental tersebut, yang berlaku sama bagi kaum Syiah maupun Sunni sebagai suatu landasan kesamaan bahwa setiap perbedaan keyakinan adalah semata-mata perbedaan pendapat dan penafsiran serta bukan merupakanperbedaan keyakinan yang mendasar atau menyangkut substansi Rukun Islam.”

Cukupkah bagi Bapak-bapak mengumpulkan anggota-anggota MUI seJatim plus beberapa orang ulama dari MUI Pusat, lalu mengeluarkan fatwa  bahwa Syiah itu sesat. Apakah para ulama di MUI Sampang yang berkumpul di Sampang dan para ulama MUI Jatim yang berkumpul di Surabaya itu memang lebih berilmu ketimbang ulama internasional yang berkumpul di Amman, Makkah, dan Bogor?

KH Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI

(Sumber: Harian Umum Republika, 10 Nopember 2012)

 

Pengumpulan As-Sunnah

Menurut sejarah, bangsa Arab pra-Islam merupakan bangsa yang buta huruf, yang tidak mengenal baca-tulis.

Berangkat dari realitas ini, Ali as-Sayis menganggap para sahabat hanya mengandalkan hafalan mereka dalam menyimpan hadis Nabi. Mereka tidak menulisnya. Karena Rasulullah Saw sendiri tidak pernah memerintahkan mereka menulis apa yang didengar, sebagaimana beliau memerintahkan menulis Al-Quran. Bahkan justru sebaliknya, Rasulullah Saw melarang menulis hadis.

Pendapat ini beliau sandarkan pada riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim: “Jangan kalian tulis apa yang berasal dariku. Barang siapa yang menulis selain Al-Quran hendaknya menghapusnya.”

Riwayat di atas, menurut As-Sayis, dengan jelas menunjukan larangan penulisan As-Sunnah semasa hidup Nabi.

 

Continue reading “Pengumpulan As-Sunnah”

Benarkah KH Hasyim Asyari Menolak Syiah?

Beberapa waktu lalu saya menulis artikel di kompasiana dengan judul: Orang NU Ditanya tentang Mazhab Syiah.

Kemudian muncul komentar:  “Mengenai Syiah sebetulnya sudah sedari awal ketika NU berdiri melalui salah satu pendiri NU telah mengingatkan bahaya Syiah sebagai paham di luar Ahlu sunnah wal jamaaah Adalah KH. Hasyim Asyari dalam Muqoddimah qonun asasi NU menjelaskan dengan gamblang bahwa di luar 4 Imam mazhab, seperti Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah.  Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti. Tak lupa, KH. Hasyim mengutip sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila\ntelah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia” (sumber).

SAYA hanya tertawa. Pasalnya ada keanehan: masa orang NU menolak Syiah dan sebut bidah pada mazhab selain Syafii, Hanbali, Maliki, dan Hanafi. Karena itu, saya tidak tertarik untuk telusuri lebih jauh datanya. Dari sana saja sudah jelas tidak akan sampai pada derajat valid dan akurat.

Apakah benar KH Hasyim Asyari bilang tidak boleh ikuti Syiah? Ini saya kira harus dikaji lagi dan  barangkali ada penjelasan dari teman-teman NU (Nahdlatul Ulama) karena beda dengan tokoh-tokoh NU sekarang yang pro Syiah.

 

Continue reading “Benarkah KH Hasyim Asyari Menolak Syiah?”

Sunnah Menurut Syiah

Sebagaimana madzhab Islam lainnya, sesungguhnya Syiah juga berpedoman kepada as-Sunnah dalam mengambil seluruh ajaran agama, baik dalam bidang ushul maupun furu.

Syiah menjadikan Sunnah Nabi sebagai sumber penetapan hukum yang kedua setelah Al-Quran.

Melihat pentingnya kedudukan as-Sunnah an-Nabawiyah dalam tasyri‘ al-Ahkâm (penetapan hukum), kaum Syi’ah sangat berhati-hati sekali dalam berpedoman dengan hadis yang menjadi rujukan mereka. Untuk itu, mereka telah menghimpun hadis-hadis Nabi yang datang melalui jalur Ahlulbait.

Banyak kitab hadis yang menjadi rujukan utama kaum Syiah. Empat di antaranya adalah yang paling terkenal, yaitu Al-Kâfi karangan Muhammad Ya‘kub al-Kulaini (w 381 H) yang memuat 16.099 hadis; Man lâ Yahdhuruh al-Faqîh oleh Muhammad Babwaih al-Qummi (w 381 H) berisi 9.044 hadis; At-Tahdzîb (berisi 13.095 hadis) dan Al-Ibtishâr (memuat 5.511 hadits Nabi), yang disusun oleh Muhammad Hussein ath-Thusi (w 461 H).

Dalam menjaga warisan Nabi dari segala bentuk penyelewengan, para ulama Syi’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh ulama Sunnah, telah membuat dasar dan kaidah yang dapat dijadikan pedoman untuk membedakan antara hadis sahih dengan hadis mauzhû‘ (palsu).

As-Sunnah an-Nabawiyyah al-Mu‘tabarah (hadits nabi yang diakui) menurut mereka ialah yang benar-benar berasal dari jalur Ahlulbait, yang diriwayatkan dari datuk-datuknya, yakni yang diriwayatkan oleh Imam ash-Shâdiq dari sang ayah, Imam al-Baqir, dari ayahnya, As-Sajjad, dari ayahnya Imam Husein, Amirul Mu’minin Imam Ali Kw, yang diambil dari Rasulullah Saw.

Untuk menyaring hadis dan menerangkan apa-apa yang harus dipegang dalam memilih mana hadis yang boleh diambil dan tidak, disusunlah ilmu dirayah dan ilmu rijal.

Hadis Nabi, menurut Syiah, terbagi menjadi hadis mutawatir dan ahad. Yang dimaksud dengan mutawatir ialah yang diriwayatkan oleh banyak perawi yang jujur, terjaga dari sifat dusta. Terhadap hadits jenis ini. Syi’ah menerimanya tanpa reserve.

Sedangkan hadis ahad ialah yang jalur periwayatannya tidak sampai pada derajat mutawatir; apakah hanya diriwayatkan oleh seorang saja atau lebih. Mayoritas ulama Syi’ah sepakat membolehkan berpegang pada khabar ahad dalam masalah-masalah hukum. Hadis jenis ini terbagi menjadi empat katagori.

Pertama, al-Shahîh, ialah bila perawinya seorang Imami (Syiah) dan terbukti ‘adalah-nya melalui jalan yang benar. Kedua, al-Hasan, ialah bila perawinya seorang Imami dan terbukti

tidak seorang pun yang memuji atau mencelanya. Ketiga, al-Mautsuq, ialah bila diriwayatkan oleh perawi yang bukan Imami, tetapi terkenal tsiqah dalam meriwayatkan hadits. Keempat, adh-Dha‘îf, ialah yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, seperti, bila perawi termasuk orang yang fasik dan tidak jujur.

Pembagian hadis ahad menjadi empat katagori di atas merupakan usaha Syi’ah dalam menyaring hadis Nabi Saw.

Meskipun telah sedemikian ketatnya dalam menetapkan yang benar dan menolak yang bathil, sebagai upaya memelihara Sunnah Nabi dari tangan-tangan jahil, justru dari titik ini bertolak berbagai tuduhan miring yang menghujat Syiah. Di antaranya, fitnah bahwa Syi’ah tidak mengakui hadis Nabi dan mengingkari seluruh hadis yang diriwayatkan melalui jalur sahabat. Bahkan lebih jauh dari itu bahwa Syi’ah dituduh mencaci-maki para perawi hadis yang—menurut pihak penentangnya—termasuk dalam ahli tsiqah (yang terpercaya dalam meriwayatkan hadis), seperti Abu Hurairah, dan Amr bin Ash.

Dengan demikian, konon, Syi’ah termasuk orang-orang kafir karena hadis Nabi Saw dapat sampai kepada generasi sekarang ini melalui jalur mereka. Di samping hadis merupakan warisan terbesar yang mencerminkan separuh dari agama, sebagai penafsir Al-Quran maka barang siapa mengingkarinya berarti telah kafir.

Itulah di antara tuduhan yang sering dilontarkan oleh para penentang Syi’ah, semenjak zaman dahulu hingga kiwari, baik di ranah Indonesia maupun di dunia Islam lainnya.

Di Indonesia, Athian Ali M. Dai menuduh seorang cendikiawan muslim Indonesia dengan tuduhan suka mempermainkan hadis-hadis Nabi dengan logika, yang menurutnya adalah logika Iblis. Sungguh sangat ironi sekali. Seorang Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) tidak menunjukkan kualitas dirinya sebagai seorang ulama pewaris Nabi yang bila berhujah dengan kaum kafir Quraisy Nabi selalu memberikan kesempatan kepada pihak lawan untuk mengungkapkan argumentasinya.

Setelah itu Nabi berkata, Wa inna au iyyâkum lâ ‘alâ hudâ au fî zhalâlim mubîn (sesungguhnya Kami atau Kalian yang berada di dalam petunjuk atau kesesatan yang nyata). Apa yang dilakukan oleh cendekiawan muslim itu tidak lain sebagai upaya untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang menyerang logika berpikir umat Islam, tidak terkecuali logikanya Athian. Upaya itu sebagai prasyarat utama menuju perubahan, bangsa kita pada khususnya, dan umat Manusia pada umumnya, kepada kondisi yang lebih baik, menuju masyarakat yang tercerahkan.

Maka agar kita tidak ikut-ikutan terjebak dalam ‘logika iblis’, ada baiknya bila kita simak pendapat ulama-ulama Syi’ah tentang hadis Nabi Saw. Merupakan sikap yang tidak adil bila kita menuduh mereka, tanpa memberikan kesempatan kepada para ulamanya untuk membela diri dan menjelaskan keyakinan mereka yang sesungguhnya.

Janganlah meniru orang yang aktif dalam diskusi ilmiyah perbedaan Sunnah-Syi’ah yang lebih pas disebut sebagai ajang pembantaian, dan bukan diskusi ilmiyah. Kalau mau berdiskusi tentang Syi’ah, mengapa tidak menghadirkan orang Syi’ah? Apakah karena takut dengan kekuatan logika yang dimiliki oleh Syi’ah? Jadilah kesatria sejati. Hadirkan Syi’ah. Jangan cuma menghakimi saja, tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk membela diri.

 

Sebagaimana telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, bahwa Syiah juga berpedoman dengan hadis Nabi dalam menetapkan hukum agama. Karenanya, pembagian hadis menjadi empat katagori tersebut merupakan sikap ihtiyath (kehati-hatian) mereka dalam menerima sesuatu yang datang dari Rasulullah Saw dan para Imam Ahlulbait sebagai penerus misi langit.

Sikap yang demikian itu bukan berarti Syiah menolak segala riwayat yang tidak melalui jalur mereka. Bahkan, bila memang dalam rangkaian sanad hadis tidak ada orang Syiah yang meriwayatkan hadis tersebut, baik sebagian atau keseluruhannya. Namun perawinya termasuk orang tsiqah (terpercaya dalam meriwayatkan dan tidak pernah dusta) maka Syiah akan menerima riwayat tersebut.

Dalam hal ini, Ash-Shaduq dalam kitabnya, Man Lâ Yahdhuruh al-Faqîh, berkata, “Sesungguhnya apa yang aku sebutkan dalam buku ini ialah apa yang aku fatwakan dan aku yakini kesahihannya. Dan bahwasannya merupakan hujjah antara aku dengan Tuhanku.”

Perlu ditegaskan bahwa riwayat yang terdapat dalam buku tersebut ada yang melalui jalur Imami dan ada pula yang tidak. Ungkapan Ash-Shadûq di atas cukup untuk menangkis serangan yang menuduh Syi’ah menolak riwayat yang datang melalui jalur saudaranya, Ahlussunah.

Meski tidak menolak jalur selain mereka, Syi’ah telah membuat persyaratan yang sedemikian ketat dalam menilai hadis sahih. Sikap seperti itu tidak bisa disalahkan begitu saja karena berangkat dari masa-masa sulit yang mereka lalui di masa dinasti Umayyah maupun dinasti Abbasiyah dan munculnya ribuan hadis palsu yang dinisbatkan kepada Ahlulbait.

Sedangkan penolakan Syi’ah terhadap sebagian riwayat Bukhari yang menurut para penentang Syi’ah sebagai kitab yang paling benar di kolong jagad ini setelah Kitabullah, salah seorang ulama Syi’ah yang diakui kredibilitasnya, Syafr ad-Din al-Mûsawi, mengungkap argumentasinya, “Karena Imam Bukhari menurut Syi’ah tidak memenuhi persyaratan yang telah mereka tetapkan. Imam Bukhari telah banyak menyembunyikan riwayat yang menerangkan keistimewaan Ahlulbait.”

Selain itu, Bukhari lebih banyak meninggalkan riwayat yang berasal dari Imam-imam Ahlulbait. Bukhari lebih mengandalkan Abu Hurairah, Marwan bin Hakam, Amr bin Ash dalam meriwayatkan Hadis Nabi. Padahal kredibilitas periwayatan mereka perlu dipertanyakan.

Perkataan Imam Ahlulbait, menurut Syi’ah, merupakan hujjah mereka. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw mewajibkan umat Islam untuk berpedoman dengan ucapan mereka, sebagaimana ditegaskan dalam hadis tsaqalayn.

Mengikuti Ahlulbait, menurut Syi’ah, berarti bukti melaksanakan wasiat Rasulullah Saw. Barang siapa memegang teguh tsaqalayn, berarti telah berpedoman dengan apa yang akan menyelamatkannya dari kesesatan.

Rasulullah Saw mengumpamakan mereka laksana kapal Nabi Nuh, selamat bagi yang menaiki dan tenggelam bagi yang berpaling. Itu semua, menurut Syi’ah, merupakan alasan memegang teguh ucapan Imam Ahlulbait yang telah disucikan.

Adapun penolakan Syiah terhadap riwayat Bukhari, sama sekali tidak mengurangi keislaman mereka. Tidak lantas mengeluarkan mereka dari lingkungan Islam selama Syi’ah masih berpedoman dengan hadis Nabi yang datang melalui jalur sanad selain yang dipakai oleh Bukhari.

Penolakan ini bukan berarti mengingkari hadis Nabi Saw, tetapi hanya menolak rijal (orang-orang) andalan Imam Bukhari. Penolakan seperti ini bukanlah suatu hal yang aneh bagi kalangan ahli hadis.

Berkenaan dengan hal di atas, Imam adz-Dzahabi, salah satu ulama hadis dari kalangan Ahlussunah, berpendapat bahwa “Sesungguhnya dua orang ulama di bidang ini (hadis) tidak pasti sepakat dalam menguatkan yang lemah, ataupun melemahkan yang kuat.”

Dengan demikian, tuduhan yang dialamatkan kepada Syi’ah bahwa mereka mengingkari hadis Nabi Saw dan tidak mengambil riwayat dari kaum Ahlussunah kemudian membuat berbagai isu bohong yang dinisbatkan kepada Syi’ah. Padahal, Syi’ah sama sekali bebas dari tuduhan tersebut. Dengan sendirinya tertolak dan bertentangan dengan kebenaran.

Tentang sikap Syi’ah terhadap sebagian sahabat Nabi Muhammad Saw yang acap kali menjadi mesiu para penyerang Syi’ah, insya Allah akan dibahas.

(SUMBER:  Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum. Penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

Sumber : Misykat

Hadza Min Ahlis Sunnah!

Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang pemuka Mazhab Ahlus Sunnah yang besar. Ia terkenal sebagai muhaddits. (periwayat hadis). Kedalaman ilmunya dan keluasan pengaruhnya di kalangan kaum Muslimin sangat disegani Khalifah al-Mutawakkil.

Imam Ahmad sering dimintai nasihat dalam menunjukkan hakim-hakim (qadhi) kerajaan. Ketika al-Mutawakkil hendak mengangkat Al-Tsalji sebagai qadhi, Imam Ahmad merasa keberatan. “Jangan angkat dia, kerana dia pembuat bid’ah dan penurut hawa nafsu,” kata Imam Ahmad. Al-Mutawakkil memperhatikan sarannya.

Kerana ketinggian martabatnya di hadapan raja, para ulama lain merasa irihati terhadapnya. (Ah! Betapa sering orang menutupi kerendahan akhlak dengan jubah ulama!). Mereka mencari jalan untuk mendiskreditkan Imam Ahmad.

Dikatakan kepada Al-Mutawakkil bahwa Imam Ahmad itu Syi’ah, membai’at pengikut Ali, dan melindungi seorang ’Alawi di rumahnya. Waktu itu, tidak ada tuduhan yang lebih berat daripada itu. Al-Mutawakkil mengirim tentera. Rumah Imam Ahmad dikepung. ”Tuduhan ini dibuat-buat. Aku tidak tahu-menahu,” kata Imam Ahmad, “Aku menaati raja dalam suka dan duka.”

Lalu disuruh bersumpah bahwa ia tidak melindungi pengikut Ali di rumahnya. Rumah Imam Ahmad kemudian digeledah kamar anak-anak, kamar wanita, bahkan sumur. Tidak ada bukti apa pun tentang keSyi’ahan Imam Ahmad.

Sejarah memang, tidak pernah mencatat Imam Ahmad sebagai Syi’ah. Ia pemuka Mazhab Hambali. Lalu apa salah beliau? Salahnya sedikit: dalam Musnadnya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlul-Bait dan keutamaan Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhah).

 

Continue reading “Hadza Min Ahlis Sunnah!”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑