Tahrif Quran dalam Ahlussunah

Entah akan sampai kapan orang takfiri Wahabi memfitnah Kaum Muslimin Syiah dengan isu yang tidak terbukti. Wahabi sebar isu mulai dari menyebut agama tersendiri sampai punya kitab suci sendiri dan mengubah Quran, hingga bilang menghina sahabat Nabi.

Agama Islam yang dipahami umatnya dalam sejarah telah melahirkan mazhab-mazhab seperti Syiah dan Ahlussunnah. Juga Wahabi masih lahir dari Islam, khususnya sempalan dari Ahlussunnah yang dipelopori Muhammad bin Abdul Wahab. Namun, ada sebagian orang Ahlussunnah yang menolak Wahabi sebagai Ahlussunnah karena Wahabi sering menyalahkan perilaku beragama umat Ahlussunnah.

Berkaitan dengan tahrif Quran dan menghina sahabat yang dituduhkan kepada Muslimin Syiah, berikut ini saya temukan riwayat dalam kitab-kitab Ahlussunah. Mohon kepada yang ahli untuk memberikan komentar dan analisanya.

 

Pertama, Khudzaifah berkata, “Pada masa Nabi, saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Qur’an yang ada saat ini.” [Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jil. 5, hal. 180]

Kedua, Ibn Mas’ud telah membuang surat Mu’awidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur’an. [Al-Haitsami, “Majma’ az-Zawa’id”, jil. 7, hal 149; Suyuthi, “Al-Itqan”, jil. 1, hal. 79]

Ketiga, Umar bin Khattab berkata, “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” [Shahih Bukhari, bab Syahadah ‘Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, “Al-Itqan”, jil. 2, hal. 25 dan 26;  Asy-Syaukani, “Nailul Authar”, jil. 5, hal. 105; “Tafsir Ibnu Katsir”, jil. 3, hal. 260].

Keempat, disebutkan dalam Buku Putih Mazhab Syiah bahwa pada kitab tafsir Ad-Durr Al-Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuthi, yang menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Sayyidina Umar ibn Al-Khaththab, yang berkata, “Rasulullah Saw bersabda:“Al-Quran itu terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa membacanya dengan niat mengharap pahala, maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.”

Kemudian dalam kitab Al-Itqân-nya As-Suyuthi menyebutkan riwayat di atas dalam pasal, Naw’ (macam) ke-19: Bilangan surat, ayat, kata-kata, dan hurufnya dari riwayat Ath-Thabarâni. As-Suyuthi mengomentarinya dengan kalimat, “Hadis ini seluruh perawinya tepercaya, kecuali guru Ath-Thabarâni; Muhammad ibn Ubaid ibn Adam ibn Abi Iyâs.”

As-Suyuthi menerima kesahihan dan ke-mu’tabar-an hadis di atas, dengan mengatakan, “Dan di antara hadis-hadis yang meng-i’tibar-kan masalah huruf Al-Quran adalah apa yang diriwayatkan At-Turmudzi (lalu dia menyebutkannya) dan apa yang diriwayatkan Ath-Thabarâni” (yang disebutkan di atas).

Hadis riwayat Khalifah Umar di atas telah diterima oleh para ulama Ahlus Sunnah, bahkan ada yang menyebutnya ketika menghitung jumlah huruf-huruf Al-Quran seperti yang dilakukan Doktor Muhammad Salim Muhaisin dalam kitabnya Rihâbul Qur’an Al- Karîm (halaman 132).

Az-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhân-nya menyebut beberapa hasil penghitungan para pakar Al-Quran tentang bilangan huruf Al-Quran, seperti di bawah ini:

  1. Dalam penghitungan Abu Bakar Ahmad ibn Hasan ibn Mihrân: 323.015 huruf.
  2. Dalam penghitungan Mujahid: 3.210.00 huruf.
  3. Dalam penghitungan para ulama atas perintah Hajjaj ibn Yusuf: 340.740 huruf.

Inilah pendapat yang disebutkan Az-Zarkasyi. Sengaja di sini disebutkan dengan beragam perbedaannya agar dapat dilihat langsung bahwa jumlah tertinggi yang disebutkan di atas tidak melebihi tiga ratus empat puluh satu ribu huruf. Itu artinya jumlah ayat Al-Quran yang hilang sebanyak lebih dari 686.260 huruf.

Sepertinya Khalifah Umar hendak memperkuat apa yang beliau riwayatkan dalam hadis di atas dengan penegasan lanjutan yang sangat tegas. Diriwayatkan dari Ibnu Abbâs, bahwa Umar memerintah agar umat Islam berkumpul.

Setelah berkumpul dia berpidato, setelah memuji Allah, dia berkata: “Hai sekalian manusia! Jangan ada orang yang sedih atas ayat rajam. Sesungguhnya ia adalah ayat yang diturunkan dalam Kitab Allah, kami semua membacanya, akan tetapi ia hilang bersama banyak ayat Al-Quran yang hilang bersama (wafatnya Nabi) Muhammad.” 

SUMBER :MISYKAT

%d blogger menyukai ini: