Syiah menurut Syiah (Penjelasan Para Imam Ahlul Bait as Kepada Para Nashibi Takfiri)

Selama ini, kita sering mendengarkan bahwa Syiah adalah mazhab yang sesat, kafir, dan tentu saja di luar Islam. Katanya, bagaimana tidak, Syiah adalah sebuah agama yang mengikuti seorang Yahudi yang pernah menyamar jadi orang Islam, lalu merusak Islam dari dalam. Syiah dituduh mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi Saw, mempercayai bahwa Alquran telah diubah, memiliki Alquran yang berbeda, menghalalkan nikah mut’ah yang setali tiga uang dengan perzinaan, memiliki rukun Iman dan pilar Islam yang berbeda, dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Mereka yang melemparkan tuduhan tersebut tidak jarang mengutip literatur-literatur Syiah sendiri untuk menjustifikasi tuduhannya. Hanya saja, selain memotong sumber informasi agar “sesuai” dengan yang diinginkan, sering pula mereka mengutip informasi yang di kalangan mayoritas Syiah sendiri ditolak.

Untuk itu, kami mengumpulkan beberapa hadis yang menjelaskan Syiah sebenarnya, Syiah menurut Syiah. Mazhab yang sering disebut mazhab ahlulbait ini juga adalah salah satu mazhab di antara mazhab-mazhab Islam lainnya. Kami akan mengumpulkan hadis-hadis dari kalangan Syiah sendiri untuk menjelaskan tuduhan-tuduhan di atas dalam beberapa seri. Tulisan pertama ini adalah tentang siapa Syiah dan sifat-sifatnya. Semoga bermanfaat.

Ciri-Ciri Pengikut Syiah

Imam Ali as berkata kepada Nauf Bakali, “Tahukah engkau wahai Nauf siapakah Syiahku?” Nauf menjawab, “Tidak, demi Allah”. Lalu Imam Ali menjelaskan, “Syiahku adalah orang-orang yang bibirnya kering dan perutnya kosong. Mereka adalah orang-orang yang dikenali dengan kezuhudan di wajahnya. Dan mereka adalah orang-orang yang banyak beribadah di malam hari dan seperti singa di siang hari” [Bihar al-Anwar, juz 78, hadis no. 95]

Imam Muhammad Baqir as berkata, “sesungguhnya Syiah kami hanyalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan menaatiNya, mereka adalah orang-orang yang terkenal dengan kerendahhatian, kekhusyuan, menyampaikan amanah, dan banyak berzikir kepada Allah” [Tuhaf al-‘Uqul hadis no. 295]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya Syiah ‘Ali itu adalah orang yang menjaga kesucian perut dan kemaluannya, kuat jihadnya, beramal untuk penciptaNya, mengharapkan pahalaNya dan takut kepada siksaNya. Maka jika engkau melihat mereka itu, mereka itulah Syiah Ja’far” [Al-Kafi, juz 2 hadis no. 9]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Ujilah Syiah kami pada tiga keadaan: pada waktu-waktu salat bagaimana mereka menjaganya, pada rahasia-rahasia mereka bagaimana mereka menjaganya untuk tidak membocorkannya kepada musuh-musuh kami, dan dalam harta mereka bagaimana mereka membantu saudara-saudaranya dengan harta itu” [Bihar al-Anwar, juz 83 hadis no. 40]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya Syiah kami itu adalah orang-orang yang memiliki empat mata: dua mata di kepalanya dan dua mata di hatinya. Ketahuilah, sesungguhnya seluruh manusia seperti itu, tetapi Allah Azza Wa Jalla membuka mata kalian (Syiahku) dan membutakan penglihatan mereka” [Al-Kafi, juz 8 hadis no. 260]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Bukanlah termasuk Syiah kami orang yang berbicara dengan lisannya dan bertentangan dengan kami dalam perbuatan dan sunnah kami” [Bihar al-Anwar, juz 68 hadis no. 13]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Bukanlah Syiah kami orang yang mengingkari empat perkara: mi’raj, pertanyaan di dalam kubur, penciptaan surga dan neraka, syafaat” [Bihar al-Anwar, juz 69 hadis no. 11]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as pernah bertanya kepada seorang laki-laki tentang orang-orang yang dia tinggalkan di kotanya (yang dianggap sebagai pengikut Syiah), lalu laki-laki itu menjawab dengan sanjungan yang baik, penyucian dan pujian. Lalu Imam Ja’far bertanya, “Bagaimana kunjungan orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?”, dijawab laki-laki itu, “jarang sekali”. Lalu Imam Ja’far bertanya lagi, “Bagaimana kehadiran orang-orang kaya mereka di tengah-tengah orang miskinnya?”, dijawab “jarang sekali”. Selanjutnya Imam Ja’far bertanya lagi, “Bagaimana pemberian orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?”, laki-laki itu kemudian menjawab, “Anda telah menyebutkan perilaku yang jarang kami lakukan”. Maka Imam Ja’far berkata, “Kalau begitu, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa mereka adalah Syiah kami?” [Al-Kafi, juz 2 hadis no. 10]

Imam Musa Kazhim as berkata, “Bukanlah Syiah kami orang yang sedang menyendiri, sementara hatinya tidak takut kepada Allah” [Bashair al-Darajat, juz 10 hal. 247]

Macam-Macam Syiah

Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Syiah kami terdiri dari tiga macam: mereka yang mencari makan kepada manusia dengan mengatasnamakan kami, mereka yang seperti kaca yang memperlihatkan apa saja, dan mereka yang seperti emas murni yang setiap kali dimasukkan ke dalam api ia bertambah baik” [Bihar al-Anwar, juz 78 hadis no. 24]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Syiah itu ada tiga macam: yang mencintai dan bersahabat dengan kami, mereka adalah golongan kami; yang menampakkan kebaikan kami, dan tentu saja kami berlaku baik kepada mereka yang menampakkan kebaikan kami; dan yang mencari makan kepada orang lain dengan mengatasnamakan kami, dan sesiapa yang mencari makan dengan mengatasnamakan kami, dia akan menjadi miskin” [Al-Kishal, pasal 61 hadis no. 103]

Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Wahai segenap Syiah keluarga Muhammad, jadilah kalian golongan yang pertengahan, yang kembali kepada kalian orang-orang yang melampaui batas (al-ghali) dan bergabung bersama kalian orang yang mondar-mandir mencari kebaikan (at-tali). Seorang dari kaum Ansar, namanya Sa’d bertanya kepada beliau, “Semoga diriku menjadi tebusan Anda, siapakah al-ghali itu?” Imam al-Baqir menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang mengatakan tentang kami apa yang tidak kami katakan tentang itu. Maka mereka itu bukanlah golongan kami dan kamipun bukan golongan mereka.” Orang itu bertanya lagi, “Siapa at-tali itu?” Imam al-Baqir menjawab, “Dialah orang yang mondar-mandir mencari kebaikan dan dia akan mencapai kebaikan itu dan diberi pahala atasnya” [al-Kafi, juz 2 hadis no. 6]

Akhlak Pengikut Syiah

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Wahai seluruh pengikut Syiah, jadilah kalian sebagai penghias bagi kami. Janganlah kalian memberikan aib kepada kami. Dan berbicaralah kepada orang lain dengan perkataan yang baik. Jagalah lidah kalian, hindarkanlah dari mencampuri urusan orang lain dan cegahlah dari perkataan yang buruk” [Amali al-Shaduq, jilid 17 hal. 327]

Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata kepada, “Hai Abdul A’la, sampaikanlah salam dan rahmat Allah kepada mereka, yakni orang-orang Syiah dan katakan pula kepada mereka ‘Dia (Imam Ja’far) berkata kepada kepada kalian, ‘Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menyebabkan manusia mencintai dirinya dan mencintai kami, yaitu yang memperlihatkan kepada manusia apa yang mereka ketahui dan menjauhkan diri terhadap apa yang mereka ingkari’” [Bihar al-Anwar, juz 2 hadis no. 62]

[SUMBER: www.majulah-ijabi.org] disadur oleh : Misykat
%d blogger menyukai ini: