Syiah dan Perannya Dalam Masuknya Islam di Nusantara

Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh

Pengantar
Tanggal 23 September 2013, LPPI Asuhan Said Samad memuat artikel yang ditulis oleh Ilham Kadir, bertajuk “Islamisasi Nusantara: Syiah Tidak Berperan”. Sebenarnya, tulisan itu “perluasan” dari artikel yang dimuat di harian Fajar Makassar tanggal 20 September 2013, dengan judul yang hanya “Islamisasi Nusantara”. Oleh penulisnya yang mungkin kurang afdol jika dalam setiap tulisannya tidak menyertakan celaan, di situs ini disisipkanlah beberapa paragraf tambahan yang sebelumnya tidak ada di koran. Di tambahan itulah, penulis yang mengaku peneliti ini kembali mencela Kang Jalal, seorang intelektual Islam Indonesia yang merupakan tokoh Syiah; sekalian menafikan Syiah yang banyak diakui tokoh berkompeten, dalam sejarah Islam di Indonesia. Untuk itu, kami menurunkan tulisan Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh disini tentang peranan pengikut mazhab Syiah di awal masuknya Islam di Nusantara. Dikutip dari buku beliau, tulisan ini sekalian menjawab tulisan emosional Ilham Kadir tersebut. [lppimakassar.net]


Dikutip dari buku “Aliran Syiah di Nusantara” karangan Prof Dr H Aboebakar Atjeh, terbitan Islamic Research Institute, Jakarta, 1977. Naskah dikirimkan oleh Muhammad Ruslailang Noertika.
****
Beberapa pendapat penulis-penulis Barat dan Timur tentang masuk agama Islam ke Nusantara, menyatakan bahwa di kalangan Mubaligh-mubaligh yang menyebarkan Islam di nusantara terdapat Ahlil Bait atau orang Syi’ah.

Persoalan ini sudah saya kupas waktu diadakan “Seminar mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia”, yang diadakan pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, dan pidato saya mengenai persoalan tersebut, yang berjudul “Berita tentang Perlak dan Pasai” dimuat dalam sebuah risalah besar yang diterbitkan oleh panitia Seminar, terutama dibawah pimpinan M . Said.

Selain dari saya bicarakan tentang mubaligh-mubaligh Islam di zaman purbakala itu, yang terdiri dari pada orang-orang Arab, Persia dan India saya jelaskan, bahwa kebanyakan dari pada mubaligh-mubaligh itu pada waktu tersebut memang berasal dari pada orang-orang, yang mengunjungi Aceh, dan Malaka, memasuki Nusantara dari Persia dan India, meskipun banyak diantaranya telah menggunakan nama-nama negeri-negeri tempat lahirnya di Persia dan di India itu.

Dalam uraian saya itu saya telah mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Islam ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin di daerah lain,
  2. Penyiar Islam pertama di Indonesia tidak hanya terdiri dari saudagar India dan Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab,
  3. Diantara mazhab pertama dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i,
  4. Pemeriksaan yang teliti dan jujur akan dapat menghasilkan tahun yang lebih tua untuk sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia.

Sebagai keterangan ad 1. ialah karena Aceh itu merupakan pelabuhan yang pertama disinggahi kapal-kapal layar yang masuk ke Nusantara dari Hadramaut dan Gujarat. dan kemudian meneruskan pelayarannya ke Malaka, diantaranya ada yang berlayar ke Cina, seperti Marcopolo, Ibn Batuthah, dan Soelaiman, seorang Arab pelancong yang terkenal, dan sebaliknya kapal-kapal ini mengangkut orang-orang dari Nusantara dari Aceh ke Mekkah, sehingga oleh karena itu Aceh itu dinamakan “Aceh Serambi Mekkah”(“Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh”, karangan Sayydd Alwi bin Thahir Al-Haddad, (Jakarta, 1957; hal. 9 dst.)  (Nama “Aceh tanah rencong” adalah nama yang diberikan pada daerah ini dalam masa peperangan dengan Belanda). Begitu juga jemaah Haji yang datang dari Jawa atau dari daerah Indonesia Timur, berkumpul dulu di Aceh, dan dari sana barulah berangkat dengan kapal-kapal Gujarat itu ke Arab. Di Kuala Aceh masih terdapat sebuah kampung yang bernama “Kampong Jawa”, yang didalamnya tidak terdapat seorangpun, yang berasal dari Jawa.

ad. 2. Mengenai keadaan mubaligh-mubaligh dari Arab ke Indonesia, diantara kitab-kitab sejarah yang dikarangkan oleh Nabi ketimuran Belanda, banyak juga diceritakan dalam kitab “De Hadramieten in Ned. — Indie”, karangan S.A. Al-Attas, dan kitab-kitab lain, yang saya ceriterakan kembali secara ringkas dalam kitab “Sejarah Hidup A.W Hasyim”, pada waktu saya membahas gerakan “Ar-Rabithah Al-Alawiyah” dan gerakan “Al-Irsyad”. Keterangan yang lebih tua mengenai kedatangan mubaligh dari Persia dan India ke Nusantara, dapat kita baca dalam penyelidikan, yang dilakukan oleh dua ahli sejarah, yaitu Sayyid Moestafa At-Thabathaba’I dan Sayyid Dhiya’ Shahab yang terjadi sekitar bulan November 1960, berjudul “Hubungan Kebudajaan Indonesia — Iran” (Haulal ‘Alaqatith Thaqafiyah Baina Iran wa Indonesia), yang diterbitkan dalam th. 1339 oleh “The Iranian Cultural Office Jalan Budi Kemuliaan 4 A Jakarta — Indonesia”.

Diantara lain ia berkata :

“Dekat Surabaya terdapat sebuah kota Gresik namanya, sebuah kota yang bersejarah di Jawa Timur. Di kota itu kami lihat bekasbekas yang sudah tidak terurus dan kuburan lama dari penyebar penyebar Islam dan Alim Ulama,  diantaranya kuburan Maulana Malik Ibrahim, yang wafat dalam th. 822 H. atau 1419 M. Beliau adalah boleh jadi seorang Iran asal dari Kashan.

Dr. H.J de Graaf dalam bukunya “Geschiedenis van Indonesia”, hal. S7, menulis a.1. : Malik Ibrahim dalam mulut rakyat disebut “Orang Barat” ia ternyata masih dipandang sebagai seorang asing sangat boleh jadi seorang pedagang Persia asal dari Gujarat, yang masih belum begitu menjadi kaula negara di Jawa, sehingga masih perlu didatangkan batu nesan dari negara asalnya seperti yang telah terjadi dengan raja-raja kecil di Sumatera Pantai Utara.

Ketika saya melihat-lihat dan jalan-jalan diantara kuburan- kuburan itu, sedang matahari akan masuk ke peraduannya disebelah Barat teringatlah saya akan kata-kata Imam Zainul Abidin, yang dalam bahasa Indonesianya kurang lebih seperti berikut “Tangan malaikat telah mencabut beberapa nyawa -dari abad ke-abad dan merobah dunia ini dan membenamkan dalam tanah dari’ mereka yang saya kenal. Bermacam-macam orang itu semua diantarkannya kedalam tanah. Hai jiwa, sampai kapankah kau bersandar atas kehidupan dan atas dunia ini dan kau perhaiikau kemakmurannya saya ? Apakah engkau tidak menarik pclajaran dari masa yang lalu dan ingat akan beribu-ribu orang yang; sudah tertutup oleh tanah dan sahabat-sahabatmu yang telah dipindahkan kedunia baka ? Lihatlah ummat-ummat yang lalu, zaman-zaman yang lampau» rajaraja yang kejam, dihancurkan oleh zaman, dihapus oleh mati, tanpa bekas didunia, dan hanya diceritanya saja yang masih ada. Mereka semua menjadi tulang, hancur lebur dalam tanah, rumah-rumah dan istana-istananya menjadi kosong….. ”

Di kota Gresik kami bertemu dengan salah seorang yang terkenal, yaitu Sayyid Hasyim Asegaff. Dengan beliau kami banyak berbicara tentang soal-soal Syi’ah dan buku-bukunya. Kuburan-kuburan penyebar Islam yang dulu dan ulama-ulama yang banyak terdapat di Indonesia. Di Sumatera Utara umpamanya dulu ada kuburan raja-raja dan penyebar Islam dll., tetapi banyak yang sudah hilang. Suatu pandangan yang menyedihkan.

Diantara ulama-ulama Iran yang ada kuburannya ialah Sayyid Syarif Khair bin Amir Ali Istrabadi, yang wafat dalam th. 833 H. dan Na’ina Husain al-Din. Diatas kuburan Na’ina Husain al-Din ini terdapat tulisan Persia, syair Muslihuddin Sa’id.

Setelah saya kembali dari Surabaya saya berniat untuk mempelajari soal-soal ini. Saya cari keterangan-keterangan di perpustakaan-perpustakaan dan dimuseum-museum dan saya mendapat tulisan Dr. H.K.J. Cowan tentang kuburan ini, yang membuktikan bekas-bekas kebudayaan Iran dan bahasa Iran dikepulauan ini. Karangan Dr. K.H.J. Cowan yang dimaksud oleh kedua penyelidik Islam Ath-Thabathaba’i dan Dhiya Shahab ini berjudul “A Persian Inscription in North Sumatra”, yang dimuat dalam Majalah “Tijdschrift voor Taal-, Land en Volkendunde, Deel LXXX, 1940”.

Pedagang-pedagang Iran dan India sering kali datang kenegeri Indonesia. Ahli sejarah juga menyebutkan bahwa dipasar-pasar Banten Lama banyak terdapat pedagang Iran dan Khorasan (bangsa Iran juga), yang mendagangkan batu-batu berharga dan obat-obat. Orang-orang Arab dan Iran melintasi lautan kepulau-pulau ini dalam abad ke-X untuk berdagang dan menyiarkan agama Islam. Pelayaran itu bertambah banyak ke Tiongkok pada zaman raja Chu Tsang, dan dipasar-pasar Pasai di Sumatra banyak terdapat pedagang-pedagang asing. diantaranya orang-orang Iran. Dalam sejarah disebutkan bahwa kapal-kapal dari Timur Jauh telah mengunjungi teluk Persia dan sudah tentu kapal-kapal itu menyinggahi kota-kota kedua pesisir pantai teluk itu.

Raja-Raja Dari Keturunan Ahlilbait di Nusantara

L.W.C van den Burg, dalam bukunya, “Le Hadramaut et les Arabs et India“, mengatakan : “Adapun hasil yang nyata dalam penyiaran agama Islam adalah dari orang-orang golongan Sayyid dan Syarif. Dengan perantaraan mereka, agama Islam tersiar diantara raja raja Hindu di Jawa dan suku-suku yang belum beragama. Selain dari mereka ini, ada juga penyiar-penyiar Islam itu datang dari Arab Hadramaut……”.

Sayed Alwi bin Tahir Al-Haddad, memberi komentar atas keterangan ini dalam kitabnya “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh” (Jakarta, 1957), bahwa agama Islam tersiar dan berkembang di Sumatera sedikit demi sedikit, sebagaimana tersiarnya Islam di Malabar dan Koromandel, dan diantara penyiar-penyiar agama Islam yang terkenal, banyak sekali diantara mereka adalah suku Sayid (Alawi). Pengarang ini mengemukakan, bahwa An-“Nihyatul Arab Fi Fununil Adab” dan Al-Dimasyqi, dalam kitabnya “Nuchbatuddahr Fi Ajaib el bar war bahr”, pernah menyebut tempat-tempatnya tersyiar agama Islam pada hari-hari pertama itu, yaitu dipulau-pulau “Hindia Timur” sampai ke India, dipulau Surandib (Sailan), antara Saribazah (Sri Wijaya) di Sumatera, dan Kelah (Kedah) di Semenanjung Melayu dan terus kepulau Zabaj atau Ranj (Kalimantan).

Ditempat-tempat tersebut berakarlah agama Islam itu, dan sebagai akibatnya tegaklah kerajaan-kerajaan kecil yang merupakan pemerintahan. Menurut sejarah keturunan sultan2 Brunai yang dimuat dalam the Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society di Singapore No. 1 sampai 5 thn. 1878 — 1880, yang disimpan di Raffles Library, dikatakan bahwa penyiar-penyiar agama Islam disana terdiri dari suku Sayid Syarif yang terikat dengan keluarga sultan-sultan di pulau-pulau Filipina.

Dalam sejarah Serawak juga dikatakan bahwa Sultan Barakat berasal dari keturunan Sayidina Hussein bin Ali (“A History of Serawak under two whit Rajabhs” S. Baring Gould, Raffles Library, Singapore). Demikianlah terdapat riwayat raja-raja disekitar Mindanau, di- Manila, dan di Sulu. Di Pontianak sampai sekarang masih terdapat keturunan raja-raja dari suku Al-Gadri. dalam silsilah, bahwa nenek moyang Sultan-sultan Brunei, Sulu dan Mindanau adalah kakak beradik dari pada keturunan Syarif Ali Zainal Abidin, keturunan Nabi Muhammad yang pindah dari Hadramaut, Arab Selatan ke Johor, Malaya Selatan dan berkembang disekitar daerah ini.

Diatas sudah diterangkan raja-raja di Aceh, yang nisannya menyebut gelar Al-Malik atau Raja, misalnya ada nisan yang terdapat di Blang Me, pada kuburan Al-Malik Al-Kamil (mgl. 7 Jumadil Awal 607 H/1210 M). Disampingnya terdapat kuburan Ya’cub, saudara misannya, yaitu seorang Panglima yang meng-Islamkan orang-orang Gayo dan beberapa suku di Sumatera Barat (mgl. 15 Muharram 630H/1237, M.)- Kemudian terdapat disana kuburan Al-Malik As-Salih, yang sudah dibicarakan diatas oleh Thabathaba’i dan Dr. Cowan, dengan nama Na’ina Husamuddin atau Husainnuddin (saya juga pernah melihat kuburan ini, dan saya tidak membaca “Naina”, tetapi huruf yang sudah rusak ini saya lebih yakin membaca “Maulana”, (mgl. 8 Ramaddan 696 H./1296 M). Maulana atau Malfi biasa digunakan di India untuk sahib-sahib atau orang-orang istimewa pengetahuan Islamnya atau kekuasaannya.

Al-Haddad, dan dalam terjemah Indonesia Dhiya Shahab, mengatakan dalam karangannya tersebut diatas, bahwa sesudah Sultan A l -Malik As-Salih ini memerintah pula anaknya Sultan Muhammad Al-Zahir (mgl. 12 Julhiyyah 726 H /1325 M ). Sesudah sultan ini memerintah pula anaknya bernama Sultan Ahmad bin Muhammad Al-Zahir. Kuburannya terdapat di Meunasah Meucet didesa Blang Me, yang pada waktu hidupnya bergelar Abi Zainal Abidin (mgl. 4 Jumadil akhir 809 H /1406 M.), dan kemudian anaknya pula yang bergelar Ali Zainal Abidin (mgl. 811 H/1408 M.), yang sesudah mangkat digantikan oleh Abdullah Salahuddin dan isterinya Buhaya binti Zainal Abidin. Kuburan-kuburan di Aceh terdapat bertabur pada beberapa tempat sekitar Gedung dan Baju, Meunasah Mancang, Blang Me, Pase, Samudra, dll.

Al-Haddad berpendapat, bahwa keluarga-keluarga inilah merupakan asal-usul raja-raja Brunei, Cermin Lama, Serawak dan negeri negeri yang takluk padanya, juga raja-raja Sulu, Sibuh (Sabah), Mindanau dan Kanawi yaitu pulau yang boleh jadi yang dinamakan dalam kitab-kitab lama dalam bahasa Arab “Al-Alawiyah” dan menurut paham kami dari karangan Dr. Nageeb Saliby dalam bahagian tentang kepulauan-kepulauan yang banyaknya kira-kira seribu tujuh ratus pulau dimana disebut negeri-negeri. Ia berkata : “Jajahan yang terbesar ialah pulau Kanawi dimana berdiam seorang Syarif Alawi yang terkuat dipulau itu”. Nama Al-Alawiyah dipulau itu disebut oleh pengarang “Nuchbatuddahr”.

Selain di Aceh, yang raja-rajanya dalam susunan sejarah Pemerintah Aceh terdapat juga, gelar-gelar Sayyid dan Syarif, seperti Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1699/1702 ML). Syarif Lam Tui (1702 – 1903 M), Syarif Syaiful Alam (1815 – 1820 M), juga terdapat didaerah-daerah lain di Sumatera golongan Ahlil Bait ini turut memerintah, misalnya di Palembang dengan silsilah yang panjang, seperti Tuan Fakih Jamaluddin yang bermakam di Talang Sura (1161 M.), yang ternyata, bahwa nama-namanya yang lengkap adalah Syayid Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad, seterusnya sampai kepada Syaidina Husain. Dalam silsilah ini disebut bahwa Jamaluddin Akbar. itu mempunyai tujuh orang anak, tetapi yang disebut keturunannya ialah dari Zainul Akbar, yang menurunkan raja-raja Palembang, Pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, Sunan Giri dan Sunan Ampel. Ada orang berpendapat bahwa raden itu berasal dari perkataan Arab “ruhuddin” (jiwa agama) yang kemudian menjadi gelar bangsawan dari orang Jawa.

Sebuah silsilah yang terdapat di Banyuwangi, Jawa, juga bersamaan dengan silsilah yang terdapat di Palembang. Dengan demikian, melalui penyiaran agama kita dapati darah darah Ahlil Bait ini bertabur dan bercampur dengan darah raja-raja Nusantara, baik diseluruh daerah Malaysia, termasuk yang terpenting Malaya, maupun di kepulauan Indonesia, baik di Ambon, dimana sampai sekarang terdengar nama Sayid Parintah, yang mengatur pemberontakan Patimura terhadap Belanda, maupun di Borneo dan Sulawesi, Halmahera, bahkan sampai ke Irian Barat, Terutama di Jawa, dalam masa da’wah Wali Sembilan (Wali songo), banyak sekali campuran darah Ahlil Bait ini dengan anak negeri dan sultan-sultan dan rajaraja dari zaman, Mataram Islam.

Catatan

Biografi Ringkas Prof Dr H Abubakar Aceh (1909-1979)

Riwayat hidupnya dikutip dari website NU (www.nu.or.id)

Cendekiawan terkenal dari Aceh, dan juga penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan. Di antaranya telah menghasilkan karya magnum opus berjudul Sedjarah H.H.A. Wachid Hasjim dan Karangan Tersiar, terdiri dari 975 halaman, terbit pada tahun 1957, khusus untuk memperingati empat tahun wafatnya Kiai Wahid Hasyim.

Lahir dengan nama Abu Bakar pada 18 April 1909 di Peureumeu, Kabupaten Aceh Barat, dari pasangan ulama. Ayahnya adalah Teungku Haji Syekh Abdurahman. Ibunya bernama Teungku Hajjah Naim. Wafat pada 18 Desember 1979 di Jakarta, dan dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta. Tambahan “Aceh” di belakang namanya merupakan pemberian Presiden Sukarno yang kagum akan keluasan ilmu putra Aceh ini. “Ensiklopedia Berjalan” adalah sebutan teman-temannya tentang hakikat ilmu pengetahuannya

Beberapa karya Abu Bakar Aceh lainnya: Sejarah Al-Qur’an, Tekhnik Khutbah, Sejarah Ka’bah, Perjuangan Wanita Islam, Kemerdekaan Beragama, Sejarah Mesjid, Pengantara Sejarah Sufi dan Tasawuf, Pengantar Ilmu Tharikat, Perbandingan Mazhab Ahlussunnah Waljamaah, Syiah: Rasionalisme Dalam Islam.

%d blogger menyukai ini: